27.4.09

KUTERIMA KEKALAHAN INI

Kuterima Kekalahan Ini
Oleh : S. Gegge Mapangewa
Hari ini aku kalah lagi. Semakin aku mencari kekurangan Intan, dia semakin menampakkan kilauannya. Aku tanpa aksi. Menunggu reaksi otakku, untuk menyuruhku pergi meninggalkan tempatku berdiri. Tapi mataku semakin asyik melihat pemandangan yang begitu menakjubkan. Kuperhatikan lagi nomor dan blok-nya, tetap saja aku tak salah. Rumah megah yang kini di depanku adalah rumah Intan.
KUTERIMA KEKALAHAN INI
Oleh: S. Gegge Mappangewa

AKU benci Intan. Setiap sikapnya, semua ulahnya, seolah ingin menunjukkan padaku, jika dia yang terhebat di sekolah ini. Seakan dia tak pernah memperhitungkan keberadaanku. Atau dia memang tak tahu siapa aku sebenarnya? Rupanya dia harus kuberi tahu siapa aku sebenarnya, dengan caraku sendiri!
Aku memang banyak diam. Terlebih, Intan beda kelas denganku, hingga dia tak tahu jika pada setiap ulangan harian, untuk mata pelajaran apa pun, aku tak pernah dapat nilai di bawah sembilan. Dan itu bukan hasil nyontek. Setiap guru yang masuk, acungkan jempol untukku karena setiap pertanyaan yang tak terjawab oleh siswa lain, kuselesaikan dengan baik. Lalu, mengapa orang-orang di sekolah ini lebih menjagokan Intan?
Sekali lagi. Aku banyak diam! Dari hasil curi dengar, teman-teman kelasku enggan menggosipkan kehebatanku, apalagi membanding-bandingkanku dengan Intan, karena aku seolah tak butuh promosi kehebatan serupa itu. Awalnya memang tidak! Tapi melihat Intan yang selalu senyum penuh kemenangan, seolah menantang kehebatanku, membuatku tak bisa tinggal diam.
“Kalau bukan karena lupa menyamakan satuannya, ulangan Fisika-ku dapat sepuluh lagi,” ucap Intan tanpa ditanya, di tengah keramaian kantin.
Entah ingin memperdengarkan untukku atau tidak, yang jelas aku dengar dan merasa diri telah dipanas-panasi. Aku mencibir.
“Aku dapat delapan, sudah syukur!” timpal Arin tanpa pernah menghentikan aksinya menyantap bakso pesanannya. “Oh ya, kalo di kelas kamu, Put? Ada nggak yang dapat sepuluh?” lanjutnya, kali ini dengan menerbangkan tatapan ke arahku.
Kantin tiba-tiba sepi. Kuyakin semua mata ke arahku. Menunggu jawaban. Kubiarkan mereka dalam penasaran panjang, sambil meraih lembaran jawaban Fisika yang kebetulan kulipat dan kusimpan di saku bajuku.
“Tadi aku nggak sempat lihat, aku dapat berapa?” bohongku. Jelas-jelas bola mataku meloncat kegirangan saat kulihat angka sepuluh di lembar jawabanku tadi. ”Aku nggak permasalahkan mau dapat berapa, yang penting saat ulangan, aku merasa bisa menyelesaikan semua soal tanpa melakukan kesalahan kecil.”
Kesalahan kecil yang kumaksud itu, untuk memanas-manasi Intan yang lupa menyamakan satuan angka hitungannya. Kulihat muka Intan membiaskan kecewa. Kuharap dia sadar, jika di sekolah ini ada yang lebih hebat darinya, aku. Putri!
“Ternyata, aku dapat sepuluh!”
Beberapa siswa berkerumun ke arahku, untuk melihat lembar jawabanku. Intan tentu saja mematung. Selama ini aku memang banyak diam, membiarkan dia menikmati kemenangannya. Sekarang, giliran dia yang harus bungkam, jika itu untuk pamer prestasi di depanku.
Aku paling tak suka dengan kebanggaan yang berlebih, karena kupikir itu sinonim dengan kesombongan. Bagiku, biarkan orang lain yang menilai. Tak usah banyak bicara, hingga harus memamerkan semua keberhasilan.
Hingga detik ini, aku lebih percaya pada ungkapan bahwa; orang yang paling banyak bohongnya adalah orang yang banyak bicara tentang dirinya sendiri. Mungkin Intan orangnya. Hampir di setiap kesempatan mengkampanyekan diri. Aku jadi enek. Dan kuharap ini kali terakhir dia berulah. Jika tidak, untuk kesekiankalinya pula dia akan kupermalukan.
***
Rupanya, kejadian di kantin itu, bukannya membuat dia merasa kalah. Bahkan lebih menggila. Jujur saja, aku jadi gemetar! Merasa telah menemukan saingan, yakni aku, semangat Intan semakin menyala. Semangat untuk mengkampanyekan diri, sekaligus semangat belajar.
Setelah dua malam yang lalu aku kurang tidur karena PR Kimia yang menurutku tingkat kesulitannya tinggi, kini dia mengibas-ngibaskan buku PR-nya di kantin yang telah mendapat paraf dan nilai sepuluh dari Pak Hamran. Aku yakin, untuk kali ini nilai setinggi itu tak bisa kugapai. Untungnya, pelajaran Kimia di kelasku, nanti di jam terakhir. Aku masih punya waktu untuk menyembunyikan kekalahan.
Tak hanya sampai di situ. Begitu bel tanda masuk, Bu Dian mengawali pelajaran bahasa Inggris-nya dengan berita menyakitkan.
“Dari hasil seleksi, Intan dari kelas IB yang berhak ikut debat bahasa Inggris, mewakili sekolah kita.”
Semua mata tertuju ke arahku. Teman-teman kelas memang banyak menjagokan aku. Bu Dian seolah mengerti arti tatapan yang menghujan ke arahku.
“Memang, grammar dan vocabulary Putri sedikit lebih di atas dari Dian. Tapi Putri kalah jauh dalam hal pronunciation. Karena ini untuk lomba debat bahasa Inggris, pronunciation sangat dibutuhkan kefasihannya. Intan lebih bisa untuk itu!”
Tanpa sadar aku bersandar di bangku. Aku butuh penopang, tiba-tiba. Intan yang ingin kutaklukkan, kini disanjung-sanjung di depanku. Perjuanganku untuk menunjukkan pada Intan, tentang siapa aku sebenarnya, berakhir kini. Ya, inilah aku yang sebenarnya. Putri sang pecundang!
Di atas langit, masih ada langit. Aku sadar itu. Tapi aku seperti tak bisa menerima jika Intan yang ada di atasku. Aku tak suka dengan gayanya yang selalu pamer keunggulan. Andai saja, Intan tak sok pamer seperti itu, aku tak punya hak untuk iri, setinggi apa pun prestasinya.
Kekalahan kali ini, adalah sebuah PR untukku. Ini tak boleh dibiarkan berlanjut terus. Aku harus ubah strategi, setelah gagal menunjukkan siapa diriku yang sebenarnya di depan Intan. Giliran Intan yang harus kucari tahu, tentang siapa dia yang sebenarnya. Mungkin ada sisi negatif tentang dirinya, yang bisa kuangkat untuk mempermalukan dirinya. Bukan untuk melumpuhkan dia, bagaimana pun aku telah mengaku kalah dalam hal prestasi. Aku cuma ingin dia mengurangi kebanggaannya yang terlalu berlebih. Aku ingin dia menyadari dan mau mengakui kelemahannya, bukan hanya tahu pamer keunggulan.
Aku yakin, di balik keunggulan dan kehebatan yang selalu dipamerkannya, dia pasti menyembunyikan sebuah kelemahan. Orang sombong hanyalah orang yang menutup-nutupi kekurangannya. Aku yakin itu!
***
Hari ini aku kalah lagi. Semakin aku mencari kekurangan Intan, dia semakin menampakkan kilauannya. Aku tanpa aksi. Menunggu reaksi otakku, untuk menyuruhku pergi meninggalkan tempatku berdiri. Tapi mataku semakin asyik melihat pemandangan yang begitu menakjubkan. Kuperhatikan lagi nomor dan blok-nya, tetap saja aku tak salah. Rumah megah yang kini di depanku adalah rumah Intan.
Keunggulan Intan bertambah lagi. Cantik, pintar, dan detik ini harus kuakui kalau dia anak orang kaya. Padahal, saat mencari alamat rumahnya, aku berharap, akan mendapatkan gubuk reot dan kumuh. Lalu akan kuumumkan di sekolah jika Intan yang sok pamer itu, hanyalah orang comberan. Tas dan sepatu mahal yang dipakainya, hanya dari hasil mengemis orangtuanya, dan banyak bayangan hitam lagi tentang Intan, yang detik ini tak satu pun terbukti. Intan benar-benar intan yang tergosok sempurna.
“Cari siapa, Nak? Temannya Non Intan, ya?”
Aku mengangguk gugup. Pembantu itu membukakan pintu pagar, tanpa kuminta. Padahal aku ingin pergi.
“Mari silakan masuk. Non Intan lagi ikut lomba…”
Pembantu tua itu sedang mencari-cari kata untuk lanjutan kalimatnya. Dasar pembantu, dia pasti lupa dengan lomba debat bahasa Inggris yang diikuti Intan.
“Nggak tau deh lomba apa, yang jelas ada bahasa Inggris-nya.”
Aku tersenyum geli melihat tingkahnya. Aku ingin mengambil langkah pulang, tapi pembantu itu menarik lenganku. Memaksaku masuk.
“Tunggu aja! Non Intan nggak lama kok, katanya! Temanin saya cerita ya! Rumah lagi sepi.”
”Papa dan mama Intan ke mana?”
Wanita setengah baya itu, menarik napas panjang.
“Jadi kamu nggak tau kalau mama Non Intan sudah meninggal?”
Aku menggeleng. Kali ini napas wanita yang sudah membekaskan keriput di wajahnya, terasa berat. Mungkin seberat beban yang harus Intan pikul selama ini. Darinya, kutahu kisah yang tak seharusnya aku tahu. Kini aku mengerti, mengapa Intan selalu berkesan pamer keunggulan.
Di rumahnya, Intan hanya diberi tumpangan hidup. Tanpa kasih sayang. Papa dan ketiga kakaknya, tak pernah memperhatikan dia. Bahkan sesekali memperlakukannya kasar. Persoalannya sepele, bahkan bagiku tak masuk akal. Kelahiran Intan dianggap membawa sial karena mamanya meninggal bersamaan dengan kelahiran Intan.
Intan atau siapa pun pasti tak ingin mamanya meninggal, tak wajar memikulkan beban pada Intan hanya karena takdirnya yang lahir dengan membawa kematian buat mamanya.
“Intan dari kecil selalu cari perhatian. Tapi papanya cuek bahkan sering memarahinya. Rapor Intan, jika bukan untuk ditandatangani, jangan harap akan disentuh papanya. Padahal Intan ingin papanya tahu jika dia dapat nilai bagus.”
Aku pamit sebelum Intan datang. Bukan tak berani melihat wajah cerianya, pulang membawa keberhasilan dari lomba debat bahasa Inggris. Aku tak ingin Intan tahu kecemburuanku selama ini. Keluar dari pintu gerbang, aku menoleh lagi ke rumah Intan. Sulit dipercaya, di dalam rumah megah nan luas itu, ada penghuninya yang berpikir picik, dengan menganggap Intan sebagai anak pembawa sial.
Aku tak menemukan itu sebagai kekurangan pada diri Intan. Tapi sebaliknya, Intan memang pemenang yang tak pernah bisa terkalahkan. Tak banyak, bahkan mungkin hanya Intan seorang, yang mampu mengukir prestasi di antara orang-orang terdekat yang sama sekali tak pernah mendukungnya. Aku memang bukan sahabat, bukan teman dekat, tapi aku akan mengacungkan jempol untuk Intan, tanpa merasa dikalahkan.***



0 komentar: