27.4.09

MENANTANG ANDREA HIRATA


MENANTANG ANDREA HIRATA
Oleh: S. Gegge Mappangewa
Saya punya banyak koleksi buku yang lembar pertamanya ditandatangani oleh penulisnya. Mulai dari penulis-penulis teman FLP hingga buku Serial Cinta Anis Matta. Tapi usai membaca Maryama Karpoov, saya tidak pernah kepikiran untuk memburu tanda tangan Andrea Hirata. Halaman pertama yang biasa kupakai untuk meminta tanda tangan penulis, malah kuisi dengan tanda tanganku. Ya, tanda tanganku! Tapi di atas tanda tangan itu kutulis sebuah catatan untuk Andrea Hirata: Ayahku jauh lebih hebat, Boy! Paling hebat sedunia! Ya, kutulis seperti itu karena saya iri dengan Andrea Hirata yang banyak mengangkat ayahnya di Maryamah Karpoov.

MENANTANG ANDREA HIRATA
Saya punya banyak koleksi buku yang lembar pertamanya ditandatangani oleh penulisnya. Mulai dari penulis-penulis teman FLP hingga buku Serial Cinta Anis Matta. Tapi usai membaca Maryama Karpoov, saya tidak pernah kepikiran untuk memburu tanda tangan Andrea Hirata. Halaman pertama yang biasa kupakai untuk meminta tanda tangan penulis, malah kuisi dengan tanda tanganku. Ya, tanda tanganku! Tapi di atas tanda tangan itu kutulis sebuah catatan untuk Andrea Hirata: Ayahku jauh lebih hebat, Boy! Paling hebat sedunia! Ya, kutulis seperti itu karena saya iri dengan Andrea Hirata yang banyak mengangkat ayahnya di Maryamah Karpoov.
Tapi sekali lagi, ayahku jauh lebih hebat dari ayah Andrea Hirata. Akan kuceritakan kehebatan ayahku yang baru saja kulalui bersamanya. Bukan narsis, cuma ingin membuktikan bahwa ayahku benar-benar hebat! Sekali lagi, Paling hebat sedunia!
Kuawali ceritaku dengan menuliskan profesinya. Ayahku petani. Sebenarnya dia sudah pernah ‘pensiun’ dari profesinya itu. Tinggal di rumah, mengaji, menemani cucunya (anak dari kakak), dan tak lupa ke mesjid salat berjamaah. Aku sendiri tak tahu berapa umur ayah sebenarnya. Yang jelas sudah tua. Mungkin lebih tepatnya disebut renta. Gaji ‘pensiunnya’ sudah tentu dari ketujuh anaknya yang semuanya sudah bekerja, ditambah dengan hasil pertanian yang didapatkan dari orang yang menggarap sawahnya. Di bawah rumah panggung kami, tak pernah kosong dari tumpukan gabah. Tak pernah kurang dari sepuluh karung hingga masa panen tiba lagi.
Musim tanam kali ini, ayah turun sawah lagi. Dia ingin menggarap sendiri sawahnya. Meski semua anaknya melarang. Ayah tetap keukeuh untuk kerja sawah lagi. Saat melewati musim tanam, kakak saya sakit. Cukup parah, hingga harus dibawa ke rumah sakit. Baru beberapa hari di rumah sakit, ayah dapat kabar lagi dari Palu, Sulawesi Tengah, kalau adiknya (paman saya) sakit parah dan masuk rumah sakit. Di luar dugaan, ayah memilih meninggalkan sawahnya yang sedang antri menunggu untuk dialiri air dari pengusaha yang biasanya memompakan air dari sungai kampung, juga meninggalkan anaknya yang sedang terbaring berjuntaian selang infus rumah sakit.
Itu masih hal kecil untuk dianggap sebagai ayah yang hebat? Cerita memang belum berakhir. Sebagai petani, apalagi di kampung, ayah juga adalah petani yang buta bahasa. Bahasa Indonesia ayah pas-pasan. Saat bicara, bahasa Indonesia ayah terpatah-patah, sangat-sangat pasif! Meskipun bisa membaca, itu pun tersendat-sendat. Maklum, ayahku tak tamat SD. Hebatnya, begitu mendengar kabar adiknya sakit di Palu, dia tak berpikir dua kali untuk datang menemuinya. Padahal begitu banyak sebenarnya yang harus dipertimbangkan. Sawahnya yang sedang menunggu air, anaknya yang sedang di rumah sakit, perjalanan dari kampungku ke Makassar yang butuh waktu empat jam perjalanan bis cepat. Padahal, setiap naik mobil ayah pasti mabok perjalanan hingga muntah. Dan terlebih yang harus dia pertimbangkan, dia buta bahasa, bagaimana mungkin dia masuk bandara internasional Sultan Hasanuddin? Tapi sekali lagi, dia sangat hebat!
***
Di Bandara Sultan Hasanuddin, kulihat duduknya gelisah. Aku berusaha menenangkannya. Aku juga sempat mati akal. Bagaimana ayah yang buta bahasa bisa masuk untuk memeriksakan tiketnya. Dia memang sering ke Palu dengan pesawat, tapi selalu ditemani salah seorang anaknya. Untungnya, aku punya kenalan cleaning service di bandara. Dengan minta bantuan ke dia, ayah bisa bernapas lega untuk masuk checkin. Sehabis checkin, ayah kembali ke teras bandara. Duduknya sangat gelisah. Berkali-kali kutenangkan dengan kalimat bahwa jika pesawatnya akan berangkat, kenalan saya yang cleaning service akan datang menjemputnya. Saya memang tak mau kalau ayah menunggu di waiting room penumpang. Takutnya, begitu penumpang yang lain beranjak ke pesawat, dia ikut beranjak, padahal bukan pesawat ke Palu. Bahkan nomor kursinya pun dia tak tahu.
Beberapa menit sebelum pesawatnya boarding, kenalan saya yang cleaning service datang menjemputnya. Kucium tangannya! Selamat berjuang, Ayah! Dia sangat ragu, dia bahkan memintaku untuk membayar security, asalkan security loloskan saya masuk untuk mengantarnya masuk ke kabin pesawat. Tapi tentu saja itu tak mungkin.
Ada haru sekaligus bangga pada ayah. Tanpa pernah dia sadari, dia yang buta bahasa, telah melahirkan tujuh orang anak. Tiga di antaranya adalah sarjana sastra. Dan saya sendiri adalah sarjana teknik, meskipun bukan sarjana sastra tapi saya adalah penulis yang telah beberapa kali menang lomba menulis tingkat nasional, punya beberapa buku, semua kampus di Makassar, bahkan hampir semua kabupaten di Sulawesi Selatan telah kudatangi untuk memberikan materi kepenulisan. Dan ayah yang buta bahasa itu, tak sadar jika dia adalah ayah dari seorang penulis. Ayah dari tiga orang sarjana sastra. Dia hanya sadar, bahwa dia harus pergi menemui adiknya yang sakit di Palu.
Lalu bagaimana dengan saya? Hanya karena sibuk mengajar, kakakku yang masuk rumah sakit di kampung, yang untuk menemuinya hanya dengan perjalanan empat jam bis cepat, tak sempat pulang untuk membesuknya. Satu lagi pelajaran berharga yang ayah didikkan untukku! Jauh sebelum pelajaran ini dia antarkan untukku, telah kutulis di lembaran pertama buku Maryamah Karpoov: Ayahku jauh lebih hebat, Boy! Paling hebat sedunia! Dan lagi-lagi ayah membuktikan di bandara Sultan Hasanuddin malam itu, jika dia memang lebih hebat dari ayah Andrea Hirata!***





0 komentar: