16.12.09

Orkestra Dua Hati


Mello telah mencuri hatinya lewat pandangan, dan kini ditekuk dengan senyuman. Dia semakin yakin, jika dia tak bertepuk sebelah tangan karena saat lagu Purnama Merindu selesai, Mello memberi standing applause yang diikuti oleh penonton lainnya.
Inilah untuk yang pertama kalinya pertunjukan yang duiikuti Andry mendapat sambutan serupa itu. Entah karena memang telah memberikan pertunjukan yang terbaik, atau karena standing applause tadi dimulai oleh Mello.


ORKESTRA DUA HATI
Oleh: S. Gegge Mappangewa/Andi Tenri Dala F

Akhirnya Andry bisa mewujudkan mimpinya untuk mengunjungi Makasar. Bukan dari hasil tabungannya, yang selama ini selalu disisihkannya demi mengunjungi kota Anging Mammiri itu. Melainkan dari keseriusannya belajar musik. Bakat main biolanya, bermula dari kuartet gesek tempatnya bergabung, yang selalu pentas di setiap ada acara sekolah. Merasa sepi tanpa mendengar gesekan biola, dia bergabung dengan kelompok orkestra, tentu saja setelah audisi dan permainan biolanya dapat diperhitungkan.
Selain di biola, Andry juga sering memainkan alat musik tiup, entah itu flute, klarinet, ataupun terompet dan tuba. Tapi dari kelompok orkestranya, dia lebih dipercaya untuk bermain biola.
Kelompok orkestra itu yang kini menerbangkannya ke Makassar. Asyiknya lagi, dia punya waktu sebulan untuk mengitari setiap jengkal Makassar. Karena pertunjukan kali ini, akan bergabung dengan kelompok orkestra Makassar, sehingga butuh waktu untuk latihan bersama. Dan lagi-lagi, Andry mendapat keberuntungan karena dia yang bermain di biola satu, dipasangkan dengan Cenrani, pemain biola dari orkestra Makassar. Di setiap jeda waktu, entah itu saat latihan apalagi saat jam istirahat, Cenrani banyak memberinya cerita tentang Makassar.
“Orkestra di Makassar belum terlalu digilai. Penikmatnya masih kebanyakan dari kaum pejabat, ningrat, pokoknya kalangan atas!”
Andry membulatkan mata saat menerima kalimat Cenrani itu.
“Kesempatan dong buat aku dapat pangeran saat konser nanti,” candanya.
“Kamu serius mau dapat pangeran dari Makassar?”
“Aku cuma tertarik sama kotanya. Biasanya sih, cowok Makassar kasar-kasar. Apa itu karena pengaruh gelar Ayam Jantan dari Timur? Jadinya suka berantem!”
“Eh, Ayam Tantan dari Timur jangan cuma diartikan dengan keberanian. Ayam jantan juga melambangkan kesadaran akan waktu. Lihat aja, mana ada ayam jantan yang malas-malasan? Setiap subuh datang, dia yang duluan bangun dan memberi berita jika pagi telah datang.”
“Kalo gitu, kita liat aja nanti. kalo ada yang cakep, apalagi anak pejabat. Kenapa nggak?” balas Andry, masih dengan canda.
***
Di balik tirai panggung, para pemain orkestra telah duduk rapi dengan alat musik di tangan masing-masing. Andry dan Cenrani menggunakan stand music dan partitur yang sama, di barisan paling depan. Begitu tirai terbuka, para penonton memberi applause riuh. Dirigen beraksi, musik pun melantun asyik. Dengan didominasi suara gesekan biola, lagu Anging Mammiri yang di-arrangement untuk orkestra menjadi lagu pembuka pertunjukan.
Andry terpukau melihat seluruh kursi yang tersedia di baruga Andi Pangerang Pettarani, terisi. Meskipun di barisan paling depan, ada yang kosong, Andry yakin karena pemiliknya terlambat.
Dan benar adanya, saat lagu Anging Mammiri hendak usai, seorang cowok berkulit putih bersih, berjalan ke arah kursi kosong itu. Cenrani menyenggol kaki Andry yang dari tadi memainkan biolanya, tanpa perhatian penuh pada partitur yang di depannya.
Setiap ada tanda berhenti, Andry bukannya konsentrasi pada partitur atau memperhatikan dirigen, dia asyik beradu pandang dengan Mello, cowok yang duduk di barisan depan itu. Cenrani yang di sampingnya ikut buyar konsentrasinya karena mengkhawatirkan Andry. Dia tahu kepiawaian Andry main biola, tapi lagu Anging Mammiri ini baru kali ini dimainkannya. Bukan tak mungkin akan salah not, atau bahkan memainkan biola sebelum saatnya, setelah saat tanda istirahat beberapa bar.
Sementara di pihak hati Mello, cowok itu tak hanya salut pada kepaiawaian Andry menggesek senar biolanya, tapi juga pada bola mata Andry yang indah dan sesekali menyapu bersih wajahnya. Mello suka dengan tatapan itu, tapi dia tak kuasa untuk terus melayaninya dengan membalas tatapannya. Terkadang, dia lebih memilih tunduk jika Andry tak mau mengalah duluan.
“Kamu kenal cowok yang datang terlambat itu?” tanya Andry saat tirai panggung tertutup kembali, setelah memainkan beberapa lagu pembuka.
“Aku dari tadi menginginkan jam istrahat ini. Siapapun cowok itu, aku nggak mau pertunjukan malam ini gagal. Ingat Andry, kamu nggak hanya membawakan nama orkestra kamu, ataupun kelompok orkestraku. Kita memperkenalkan orkestra, Ndry! Selama ini hanya kalangan orang atas yang suka bahkan kenal dengan orkestra.”
“Jadi cowok yang itu tadi, juga kalangan orang atas?”
Cenrani menggeleng prihatin karena nasihatnya tak digubris. Andry masih saja bertanya tentang Mello.
“Aku udah sering konser di sini. Kursi itu selalu diduduki oleh Andi Sapada, seorang pejabat yang juga pengusaha sukses Makassar. Kalo cowok itu, aku nggak kenal, tapi aku yakin dia ada hubungan dekat dengan Andi Sapada, mungkin saja putranya.”
Senyum Andry semakin mengembang manis. Terlebih ketika sambutan panitia pelaksana telah usai dan tirai terbuka lagi, dan mendapatkan Mello sedang menancapkan tatapan ke arahnya. Jika saja tak takut kedapatan penonton, Cenrani sudah menegur Andry yang belum juga tunduk untuk mencermati partitur di depannya. Padahal alto, selo, dan kontrabas, telah masuk intro. Cenrani takut, Andry melambung terus dengan lamunannya.
Purnama Merindu milik Siti Nurhaliza, menjadi lagu pertama di sesi kedua ini. Saat masuk refrain, Andry mendapatkan bibir Mello bergerak mengikuti irama.
Purnama mengambang cuma berteman
Bintang berkelipan dan juga awan…
Akhh, andai aku purnama yang dirindukannya itu. Bisik hati Andry sambil tetap berusaha konsentrasi pada partitur di depannya. Dan tepat bisikan itu dilantunkan hatinya, Mello tersenyum untuknya, saat beberapa detik dia menyempatkan lagi untuk menatap wajah Mello.
Mello telah mencuri hatinya lewat pandangan, dan kini ditekuk dengan senyuman. Dia semakin yakin, jika dia tak bertepuk sebelah tangan karena saat lagu Purnama Merindu selesai, Mello memberi standing applause yang diikuti oleh penonton lainnya.
Inilah untuk yang pertama kalinya pertunjukan yang duiikuti Andry mendapat sambutan serupa itu. Entah karena memang telah memberikan pertunjukan yang terbaik, atau karena standing applause tadi dimulai oleh Mello.
Lagu berikutnya, mata Andry semakin berani meninggalkan partitur, demi melihat Mello yang juga menerbangkan tatapan ke arahnya. Canon in D Major, memang lagu kesukaan Andry, saat latihan di rumah dia selalu memainkan lagu gubahan Pachelbel, komponis dari Jerman itu. selama ini, Canon menjadi lagu terindah buat Andry. Tapi sayang, dirigen, bahkan dari kelompok musik tiup mendengarkan suara ‘aneh’ dari biola Andry.
Keseringan melirik ke arah Mello, membuatnya melakukan kesalahan fatal, karena menggesek biolanya di saat seharusnya dia memberi kesempatan untuk pemain biola alto memperdengarkan suara rendah.. Cenrani di sampingnya ingin menyenggol kakinya, tapi takut malah membuatnya semakin panik.
Kesalahan itu membuatnya tak berani menerbangkan mata seliar tadi. Paling tidak, dia telah yakin bahwa Mello pun tak pernah melepaskan tatapan dari arahnya. Dia hanya butuh waktu untuk lebih dekat dengan Mello setelah konser usai. Semoga waktu itu ada untukku! Bisik hatinya lagi.
***
Di back stage, saat konser usai, para pemain orkestra saling bersalaman, sambil tertawa lepas karena sukses memikat perhatian penonton. Mulai dari lagu Makassar, Bugis, Melayu, yang di-arrangement klasik, hingga lagu komponis dari jaman yang berbeda seperti, Bach, Vivaldi, Mozart, Beethoven, bahkan Strauss. Semua berhasil memukau penonton.
Andry dan Cenrani masih dengan seragam warna broken white yang tadi dipakainya konser, berlari keluar baruga dengan melewati pintu belakang. Andry tak ingin kehilangan jejak Mello. Dia harus bertemu dengan cowok itu. Adapun tentang kalimat yang akan diucapkannya saat bertemu dengan Mello nantinya, dia belum pikirkan. Yang ada di kepalanya, dia harus bicara dengan cowok itu.
“Itu dia, Ndry!”
Andry berlari ke arah koordinat yang ditunjuk Cenrani. Di koordinat itu dia mendapatkan Mello sedang berjalan ke arah sebuah mobil Pajero. Ketika tinggal beberapa langkah lagi kakinya akan bersebelahan dengan Mello, seorang sopir turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Mello.
Andry dan Cenrani mempercepat langkah. Sedetik saja mereka terlambat, Mello sudah menutup pintu mobil.
“Ma…maaf! Temanku ini…” kalimat Cenrani terputus. Bukan oleh tatapan tajam Mello, tapi dia memang tak tahu harus berucap apa lagi.
“Boleh kenalan?” Andry to the point.
“Gitu ya cara anak Jakarta kalo ketemu cowok cakep?” bisik Cenrani menggoda.
Andry tak menggubris godaan itu. Dia menunggu reaksi Mello selanjutnya. Tapi tak pernah diharapkannya, Mello menutup pintu mobil lalu memerintahkan sopir untuk melaju.
Bukan hanya Andry, Cenrani ikut tersinggung dengan ulah Mello.
“Jangan-jangan kamu emang benar, kalo Ayam Jantan dari Timur itu emang kasar-kasar?” ucap Cenrani sambil mengambil lengan Andry untuk dibawanya masuk kembali ke baruga.
“Aku tetap nggak mau sama ratakan semua cowok. Mungkin aku yang kecentilan. Aku terlalu ge-er. Aku terlalu…”
“Tapi aku yakin jika cowok itu menaruh hati padamu. Bisa kulihat dari tatapannya padamu saat konser tadi.”
Andry menggeleng. Dia ingin kenangan pahit ini, dikuburnya sebelum meninggalkan Makassar. Mello, cowok yang namanya pun belum dia tahu itu telah memberinya oleh-oleh yang mungkin akan membuatnya trauma untuk datang menikmati kembali indahnya Losari di senja hari.
***
Di sebuah kamar kos ukuran 3 x 3 meter, Mello berbaring di atas seprei tanpa corak. Dia teringat terus pada tatapan Andry di konser orkestra tadi. Dia bahkan ikut terluka saat mengambil keputusan untuk menutup pintu mobil dan berlalu pergi. Dia bukannya sombong apalagi bersikap kasar, tapi dia takut terluka jika berani menyimpan harap berlebihan pada Andry.
Dia yakin, Andry membuntutinya ke tempat parkir karena mengira dirinya anak seorang pejabat. Untuk beli tiket masuk pun dia tak mampu, apalagi dengan kelas VIP. Jika bukan karena kebaikan hati Andi Sapada yang memberinya kesempatan untuk nonton orkestra sekaligus menggunakan fasilitas mobil, dia takkan pernah bisa menyaksikan langsung konser orkestra.
Mello hanya seorang penulis yang tak punya apa-apa selain kerajaan imajinasi. Dia tak hanya bisa jadi raja ataupun pangeran di kerajaan itu, tapi juga Tuhan yang bisa membunuh dan membagi-bagikan takdir pada tokoh ceritanya. Tadi di alam nyata, dia punya kesempatan untuk berperan sebagai Romeo di depan Andry, tapi apa artinya jika kemudian dia harus terluka dan mati. Karena Andi Sapada, bukanlah siapa-siapa baginya. Kenal Andi Sapada pun baru minggu lalu, sejak dia dipercaya untuk menulis biografi Andi Sapada sebagai seorang pejabat dan pengusaha yang berpengaruh di Makassar.
Dia takkan pernah lupa dengan lagu Purnama Merindu. Dianggapnya itu sebagai kalimat Andry untuknya. Ya, purnama cuma berteman dengan bintang berkelipan. Bisik hatinya sambil mulai menghapus wajah Andry, yang namanya pun belum dia kenal.
Dia lebih memilih sendiri karena telah keliru menilai cinta. Membiarkan hatinya berbisik, berkhayal, bermimpi, berimajinasi, tanpa pernah bisa suaranya menembus udara. Ya, mungkin seumpama orkestrasi yang hanya mengandalkan instrumentalia.
Cinta tak kenal kasta, Mello! Andai dia tahu itu, dia dan Andry tak akan terluka seperti ini.
***



lanjutan cerita......