
Oleh: S. Gegge Mappangewa
Lelaki selalu identik dengan kesempurnaan. Tegar, kekar, sangar, dan seluruh yang berhubungan dengan gagah-gagahan berakar pada lelaki. Hingga ada kesan bahwa telaga air mata yang ada di balik retina lelaki, kering! Atau mungkin, bahwa bendungan air mata milik lelaki telah dirancang sekokoh mungkin, tanpa ada celah yang bisa dirembesi cairan setitik pun. Atau bahkan air mata lelaki memang mengandung gas methane, yang bisa membahayakan jika keluar, hingga tak ada jalan lain kecuali harus menguap begitu saja?
Padahal, jangan salah, sudah banyak dilakukan penelitian ilmiah yang membuktikan bahwa menangis memiliki manfaat bagi kesehatan, baik manfaat fisik (jasmani) maupun manfaat psikis (ruhani). Dr Simon Moore, psikolog dari London Metropolitan University mengatakan, "Menangis adalah pelepasan emosi yang paling tepat saat kita tak bisa mengungkapkannya lewat kata-kata" . Menurut Profesor William Frey, ahli tangis dari AS, bahwa air mata yang dikeluarkan saat kita sedang emosional mengandung hormon endorphin atau stres sehingga bisa membuat perasaan lebih plong. Menangis juga diketahui bisa menurunkan tekanan darah dan denyut nadi.
No woman no cry! Dari ungkapan ini, seolah lelaki yang telah terlanjur kebobolan bendungan air matanya, bukanlah lelaki sejati. Saking tak ingin dianggap cengeng, beberapa lelaki mengaku lebih berani meneteskan darah di depan umum daripada meneteskan air mata. Tak heran, begitu banyak persoalan yang bisa diselesaikan dengan kata maaf, bahkan mungkin dengan setetes air mata tanda sesal, malah diselesaikan dengan kekerasan yang bukan tak mungkin menkucurkan darah, dan inilah yang disebutnya sebagai penyelesaian secara jantan. Sesat pastinya. Sesal nantinya!
Kalaupun ada lelaki yang menggunakan air mata sebagai pelarian untuk mengungkapkan kesedihannnya, air mata itu kembali disangsikan oleh orang yang melihatnya. Air mata buaya, begitu kata banyak orang! Boleh jadi, takut dianggap sebagai lelaki buaya beberapa lelaki lebih memilih menangis sendiri, atau bahkan berusaha muncul di permukaan setegar mungkin, padahal sebenarnya jiwanya tenggelam dalam lautan air mata yang tersembunyi di balik dada. Sesak tentunya!
Padahal air mata tak boleh menjadi ukuran, sejati atau matinya seorang lelaki. Pemain bola dunia yang begitu kekar, yang sedikit pun tak punya sisi feminin, toh banyak yang mengakui kekalahannya dengan air mata. Sahabat Rasulullah yang terkenal galak, Umar bin Khattab, ternyata sering menangis dalam shalatnya, hingga terdengar oleh makmun di shaf belakang.
Kebanyakan kita, lelaki tentunya, telah menganggap menangis itu aib. Tak peduli badai hampir merobohkan kita, kita tetap berusaha tegar. Untunglah kalau ketegaran itu tak menghanyutkan kita dalam arus deras yang semakin tak bisa dilawan saat kita telah mengalir di dalamnya. Jangan sampai air mata yang kita anggap aib tertampung dalam jarum suntik drug atau tersembunyi di dalam botol miras! Kedua pelarian ini hanya akan membawa kita terbang di atas angin–dan jelas-jelas bukan angin surga–bahkan akan membuat kita semakin menangis saat tiba waktunya untuk ‘turun angin’ alias terhempas.
Baik buruknya cuaca dalam hati, berpengaruh besar akan datangnya mendung yang akan membawa hujan air mata. Itu berarti, air mata itu bermuara dalam hati. Karena memang hati merupakan sumber inspirasi akal, ilmu, kesabaran, keberanian, kemuliaan, cinta, kehendak, dan seluruh sifat-sifat terpuji. Wanita ataupun lelaki, sama-sama punya hati. Lalu mengapa kita rela didiskriminasikan hanya gara-gara air mata yang tak ada dalil haramnya? Dalam urusan air mata, kita punya hak yang sama dengan wanita.
Jadi, menangislah! Tentu saja bukan dengan tangis yang berelebihan, apalagi diselingi dengan ratapan dan menyesali takdir. Jangan takut dianggap sebagai lelaki lemah, cengeng, atau bahkan lelaki buaya. Salah, masalah, dan masa lalu–yang selama ini menjadi hulu dari sungai air mata–adalah milik semua orang. Akui salah dengan maaf dan taubat, atasi masalah dengan berkisah pada orang-orang terdekat, dan lupakan masa lalu yang tak lain hanyalah kisah lalu yang memang harus diganti dengan cerita masa depan! Bahkan boleh jadi, obat hati itu bukan hanya lima perkara seperti yang kita kenal lewat ‘Tombo Ati’, melainkan enam perkara, di mana perkara keenam adalah menangis.
DR. ‘Aidh Al Qarni, penulis buku fenomenal La Tahzan (Jangan Bersedih) bahkan menuliskan jika “Rintih tangis orang yang bertaubat lebih dicintai Allah daripada gemuruh ujub suara orang yang beribadah. Penyesalan, kesedihan, dan rasa remuk redam hati orang yang berbuat dosa lebih baik daripada kesombongan seorang ahli ibadah terhadap amal-amalnya.” Jadi mengapa harus malu untuk menangis, apalagi jika itu menangis karena taubat?
Sekali lagi, menangislah! Sebelum Allah memaksa kita untuk menangis dengan ujian-ujiannya. Boleh jadi, bencana yang menimpa kita selama ini, akibat ulah kita yang malu menangis di depan Allah, malu mengakui kesalahan di depan Allah tapi sebaliknya, kita malah melarikan salah, masalah, dan masa lalu kita ke sebuah lembah yang disebut lembah hitam.
Saudaraku, jika menangis bisa membuatmu ‘tersenyum’, jangan simpan air mata itu. Alirkan padaku, lalu kita pertemukan air mata kita dalam sebuah muara yang di atasnya berdiri sebuah istana terapung. Di istana itu kita berbagi keluh, berbagi kisah. Kutunggu! Lalu kita bersama, mendaur ulang air mata itu menjadi kristal-kristal senyum.
*Tulisan ini kutulis empat tahun lalu dan kudapatkan lagi saat berusaha menyembunyikan air mata.
4.1.11
SALAHKAH AKU MENANGIS
Diposkan oleh
Gegge
di
13:28
1 komentar
22.4.10
MEMPERTAJAM FIRASAT

MEMPERTAJAM FIRASAT
Daripada mimpi buruk itu menjelma lagi. Mungkin, tak ada salahnya firasat yang menjelma.
Mungkin…? Semoga bukan apatis. Saya benar-benar takut dengan mimpi itu. Kematian itu milik semua orang. Tapi mimpi buruk itu? Mungkin hanya padaku. Jadi, semoga bukan apatis, mungkin firasat itu lebih baik menjelma. Wajahnya tak pernah bisa kukenali. Berganti rupa setiap datang. Kadang rupa monster, kadang rupa malaikat. Tapi bagiku semuanya adalah nightmare. Jika firasat itu datang menjelma, adakah bekalku telah cukup? Saya enggan berpikir bekal! Mimpi buruk itulah yang menguras semua bekalku selama ini. Saya takut, mimpi buruk itu datang menjelma, dan saya selalu rapuh untuk bisa melawannya.
Diposkan oleh
Gegge
di
09:13
1 komentar
17.4.10
SAAT MALAM
Kuyakin, malam ini saya tak bisa lagi tidur. Sampai pagi, mata ini tak akan bisa kubujuk untuk tidur. Dan yang paling kubenci, setiap mata tak bisa kompromi seperti ini, sesosok bayangan akan datang mempermainkanku. Jika kutepis, dia akan datang dalam mimpi burukku dalam tidurku esok hari.
Hhhhaahhhh…! Rongga dadaku sepertinya menyempit. Alveolusku sepertinya gagal melaksanakan tugasnya sebagai tempat pertukaran oksigen dan karbondioksida. Arteri pulmonalisku seperti melebar, sedangkan vena pulmonalisku menyempit, membuat oksigen di rongga dadaku kurasa berkurang. Hhhhhahhh….! Sekali lagi kuhempas napas. Masih tetap sesak! Ya, Allah! Aku ingin tidur malam ini. Ingin sekali! Ya, Allah…. Sudilah menukar mimpi burukku selama ini dengan mimpi harapan.
Kini, tak cukup dengan menghempas napas! Kucoba mengelus dada dengan istighfar, semoga menjadi mantra pengusir sosok yang selalu hadir di mimpi burukku! Allahku, hanya Engkau yang mampu mengusir mimpi buruk itu! Jangan pernah datangkan lagi mimpi serupa itu di malam-malamku!
Malam semakin menanjak. Sebentar lagi akan tergelincir di subuh yang dingin. Gerimis tipis perlahan menebal, sayup, lalu tipis kembali. Tak usah kubujuk, mataku memang tak bisa terpejam malam ini. Tak mengapa! Demi tak bertemu sosok-sosok yang selalu hadir dalam mimpi burukku. Biarlah! Akkhhh, sepertinya saya telah terbiasa dengan kata ‘biarlah’. Mengapa sedikit pun saya tak pernah berusaha melawan? Ahhh… biarlah! Buat apa melawan, ini adalah takdir, meski kutahu setengahnya adalah pilihanku!
Allahku…! Engkau seperti prasangkaku, kan? Dan saya akan selalu datang padamu dengan prasangka baik! Engkau akan mengusir sosok-sosok itu dari mimpi burukku! Engkau akan menggantinya dengan mimpi manis yang seumur hidupku belum pernah kurasakan! Belum pernah ya, Allah! Mungkinkah malam ini terkabul ya, Allah? Mungkin mustahil, karena saya telah yakin, malam ini saya takkan bisa tertidur! Kutunggu di malam-malam berikutnya, wahai Yang Tak Pernah Tidur! Kuakan selalu menunggu, wahai Yang Tak Beranak dan Tak Diperanakkan! Hanya Engkau!!!!!
Diposkan oleh
Gegge
di
22:47
0
komentar
29.3.10
Kolam Susu

KOLAM SUSU
Oleh: S. Gegge Mappangewa
Akhirnya Enal bisa tersenyum lega. Setelah tiga kali ditolak, proposal nikahnya akhirnya mendapat respon positif. Dasar Enal orangnya gigih, meski ditolak bahkan diceramahi soal pernikahan, tetap saja dia ajukan proposal serupa. Mamanya akhirnya angkat tangan, papanya membuka kedua belah tangan. Ningsih adiknya, juga ikutan pasrah. Padahal sebelumnya, dia yang paling ngotot melarang Enal menikah.
“Aku nggak setuju kalo Kak Enal cepat nikah,” begitu katanya dalam rapat keluarga.
“Karena takut nggak ada yang nganterin kan? Nggak ada lagi yang kiri kanan ngurus kamu? Itu namanya egois!”
Dibilangin begitu, Ningsih cepat menampik, meski sebenarnya memang itulah alasan utama menolak proposal Enal.
“Eh siapa juga yang takut kehilangan kakak seperti kamu. Aku tuh cuma kasihan. Ntar abis nikah mau kerja apa, ntar punya anak mau beli susu dari mana?”
“Kan ada ASI?”
“Kalo ASI istrimu nggak lancar? Anakmu mau nyosor sembarangan seperti kamu?”
“Hussh!” tegur mamanya, Ningsih langsung bisu.
Dibilangin nyosor sembarangan, muka Enal langsung digantungi kabut tebal. Memang sih, selama ini dia dan Ningsih hanyalah saudara sesusuan. Ibu Enal meninggal sejak dia masih bayi. Nggak ada ikatan darah antara orangtua mereka, cuma kebetulan saja, mama Ningsih saat itu satu kontrakan dengan ibu Enal, jadi dia yang mengulur tangan mengurus Enal.
Seperti pada ibunya, Enal juga nggak kenal ayahnya, karena meninggal saat Enal masih dalam kandungan. Untunglah orangtua Ningsih mau merawat dan memeliharanya seperti anak sendiri.
Orangtua Ningsih nggak pernah pilih kasih. Sejak kecil hingga Enal minta kawin seperti sekarang, setiap Ningsih dibelikan sesuatu, Enal dapat bagian yang sama. Dia nggak pernah kecewa, jika itu masalah pembagian kasih sayang. Hubungan dia dengan Ningsih pun, sebagaimana layaknya adik-kakak. Enal paling setia ngantar-jemput setiap Ningsih ada keperluan. Bahkan banyak di antara teman Ningsih, maupun teman Enal, nggak tahu jika mereka sebenarnya hanyalah saudara sesusuan.
Ningsih yang dulu ngotot melarang Enal nikah, sekarang melemah. Dia kasihan melihat Enal yang selalu merayu, merengek, bahkan sudah setengah memaksa pada mama dan papanya.
***
“Kapan bawa calonmu ke sini?”
Pertanyaan mamanya membuat Enal kaget. Ningsih yang melihat kekagetan itu, mengerutkan kening.
“Kenapa kaget? Pacar kamu nggak layak pamer ya?”
“Bukan gitu,”
“Terus kenapa?”
“Calonnya sementara dicari,” ucap Enal santai.
Giliran Ningsih dan mamanya yang kaget. Tentu saja bingung.
“Emang hilangnya di mana,” Ningsih nggak kuasa berlama-lama diserang penasaran.
“Bukan hilang,”
“Disambar orang?”
“Bukan...”
“Jangan-jangan kamu belum punya pacar. Nggak punya calon!”
“Yaa..gitu deh!”
Ningsih pukul jidat.
“Kamu gimana sih, Nal? Mama sama Papa tuh udah serius mau nikahin kamu. Papa bahkan udah nelpon temannya yang punya usaha percetakan buat cetak undangan kamu. Mama udah nelpon ke teman-teman arisan biar bantuin bikin kue. Tapi…” Mamanya geleng-geleng kepala.
“Mau nikah kok nggak ada calon. Emang ada dijual di mal, tinggal pilih, bayar, lalu bawa pulang? Ma, dia udah disunat belum? Jangan-jangan belum juga.”
“Ningsih!” bentak mamanya.
“Iya, bawel! Taunya ngeledek! Bantuin kek cari calonnya.”
Ningsih mempermainkan bola matanya. Cari calon buat Enal? Sepertinya itu pekerjaan asyik! Dia memang sudah lama promosikan Enal ke teman-teman kuliahnya.
“Tapi jangan pilih-pilih tebu, ya!”
“Ya, asal tebunya manis,”
Mamanya berlalu ke dapur sambil tertawa kecil.
“Mau yang kayak siapa? Temanku ada yang mirip selebritis…”
“Yang itu aja!” potong Enal cepat.
“Mirip Aming yang didandani ala banci. Mau?”
“Masa iya sih seperti itu. Pantes-pantesin dong! Aku kan cakep, berarti ceweknya harus cantik. Aku pintar, ceweknya tentulah nggak boleh yang bloon.”
“Makanya jangan langsung ngiler dengar mirip selebritis. Nanya dulu kek, hatinya gimana?”
“Oke deh, semuanya aku serahin ke kamu! Kamu, Mama, dan Papa yang audisi. Aku tinggal terima jadi!”
Enal bilang begitu karena dia tahu betul kalau Ningsih punya banyak teman yang cantik. Ningsih juga asyik-asyik aja terima pekerjaan itu. Toh, Enal cakep, pintar lagi! Dari dulu teman-temannya banyak yang nitip salam ke dia, tapi Ningsih cuekin karena takut nggak diperhatikan lagi kalau Enal sudah punya pacar.
***
Rara! Inilah finalis pertama yang Ningsih berhasil giring masuk rumah, setelah beberapa nama lain dicoret dalam daftar calon. Rara masih teman dekat Ningsih di kampus. Orangnya lembut, tuturnya nggak asal nyembur, dan juga sering kedapatan melirik Enal, saat Enal nganterin dia ke rumahnya.
Tapi Ningsih cuma ajak main ke rumah dulu. Dia belum to the point kalau Rara mau dijadikan adik ipar. Yang jelas, Ningsih sebagai penyeleksi pertama, menyatakan Rara sudah lolos seleksi. Berikutnya, giliran mama dan papanya sebagai eksekutor.
Biar mamanya leluasa mengajukan pertanyaan, dengan alasan ke kamar kecil, dia meninggalkan Rara di ruang tamu bersama mamanya.
“Aku boleh ngintip nggak?” tanya Enal saat Ningsih masuk kamarnya untuk memberi tahu kalau dia sudah dapat calonnya.
“Nggak usah! Yang jelas, kamu nggak akan kecewa!”
“Tapi aku kan penasaran. Kulitnya putih nggak, mulus nggak?”
“Eh, udah kubilang jangan pilih-pilih tebu!” sewot Ningsih, karena Rara yang dibawanya memang hitam manis.
“Bukan pilih tebu…”
“Sekali lagi kamu bicara, tanganmu kupatah tebu. Kalo mau yang persis seperti yang kamu suka, pilih sendiri! Kalo mau yang modis, carinya di mal. Mau yang kutu buku, carinya di perpus. Kalo mau yang alim, carinya di mesjid! Terserah!”
“Iya deh, kamu yang cariin. Tapi kamu tahu seleraku kan?”
Ningsih nyesal juga. Dia lupa sekali kalau Enal paling suka dengan cewek yang berkulit putih. Kalau ingat, dia pasti nggak akan bawa Rara. Dia takut, Enal akan kecewa, terpaksa menerima, lalu nggak bahagia. Enal memang super-care sama kulit, sering ribut pagi-pagi dengan Ningsih gara-gara dia paling betah ngurus daki di kamar mandi. Alasannya, malu kalau selesai kuliah, tapi surat lamaran kerja ditolak terus, gara-gara lebih banyak panu daripada berkas lamaran
“Kulitnya putih, kan? Kuning langsat, kan?” tanya Enal lagi.
“Iya, kuning langsat. Tapi langsat bonyok!“ ucap Ningsih lalu berlari keluar menemui Rara.
Tapi di ruang tamu, dia mendapatkan Rara dan mamanya saling berpelukan, menangis. Ningsih terpaku melihat adegan itu. Pikirnya, jangan-jangan Rara nggak lolos audisi, tereliminasi!
Enal yang diam-diam ngintip dari ventilasi kamar, memberanikan diri keluar saat melihat adegan menyedihkan itu.
“Enal…”
“Ya, Ma!” sahutnya pelan, menunduk.
Hanya sekali menyapu bersih wajah Rara dengan pandangan pertama tapi mendarat lama, Enal sudah jatuh suka. Dia nggak peduli kulitnya nggak putih, toh hitam manis. Tapi melihat Rara dan mamanya menangis, dia takut Rara bukanlah jodohnya.
“Rara ini saudara kamu!”
Enal. Ningsih. Mata mereka langsung membola, menyorot silih berganti ke wajah Rara dan mamanya.
“Tapi kata Mama, aku ini anak tunggal,”
“Iya, tapi Rara ini saudara sesusuan kamu. Sama seperti Ningsih,”
Mamanya akhirnya bernostalgia. Dulu, ASI mamanya nggak cukup untuk Ningsih sekaligus Enal, jadi mama Rara sering mengulurkan jasa, demi hidup Enal. Enal saat bayi, rewel! Jangankan mau minum pakai dot, sereal aja pilih-pilih!
***
Setelah Rara, kali ini Ningsih membawa Dian. Alasan diajak main ke rumah, padahal ingin diperkenalkan pada mamanya, sekaligus pada Enal. Harapnya sih, mama dan Enal suka. Ningsih selalu memastikan cewek manapun akan jatuh suka pada Enal karena cakepnya, juga pintarnya. Apalagi Ningsih selalu membawa cewek jomblo, termasuk Dian. Cuma persoalannya, Dian bersedia nikah dini atau nggak?
Ningsih juga heran, kok nikah dini sekarang lagi nge-trend. Ningsih sampai nggak mau sembarangan naksir di kampus, takut yang ditaksirnya malah sudah beranak istri. Dia yakin, keinginan Enal nikah, pasti karena teman-teman kuliahnya sebagian besar sudah pada nikah. Padahal menurut Ningsih, nggak berarti teman-teman sudah nikah, terus mau ikut-ikutan. Jangan sampai memang belum matang, atau malah nggak punya calon seperti yang dialami Enal.
Enal dan mamanya sedang ngobrol di ruang tamu, saat Ningsih datang membawa Dian. Saking terpesonanya pada Dian, Enal sampai nggak menjawab salam. Matanya menatap lurus, tanpa kedip ke arah Dian. Ningsih yang melihat itu, mengibaskan tatapan tajamnya ke arah Enal.
Usai menjinakkan tatapan nakal Enal, kali ini Ningsih menangkap sinyal aneh dari tatapan mamanya. Tatapan mama juga tanpa kedip dan ada kesan kenal pada wajah Dian. Pikirnya, jangan-jangan saudara sesusuan lagi! Akhh, cepat dia menepis pikiran itu. Nggak mungkin, lanjut batinnya. Dia sengaja membawa Dian, selain cantik dan ramah, Dian juga berasal dari Tangerang. Jauh dari Makassar! Jadi sangat kecil kemungkinan ada hubungan darah apalagi sampai saudara sesusuan dengan Enal.
“Jangan-jangan kamu anaknya Sri Wahyuni? Kamu mirip sekali,” ucap mamanya pelan.
Saat Dian mengangguk membenarkan kalimat itu, mamanya langsung memeluk Dian erat, sambil nangis. Ningsih, terlebih Enal, patah hati lagi!
“Enal, Ningsih ini saudara sesusuan kamu. Sebelum ke Tangerang, mamanya pernah di Makasar dan satu kontrakan dengan kami.”
Apa yang dikhawatirkan Ningsih, terjadi lagi. Dia jadi kesal mendengar cerita mamanya, tentang Enal yang hingga umur satu tahun masih juga minum ASI. Dan yang lebih membuat Ningsih trauma untuk mencarikan jodoh, ternyata Enal punya ibu susuan tujuh orang. Selama ini mamanya nggak pernah buka mulut karena nggak ingin Enal mengenang masa kecilnya yang tanpa ibu dan ayah.
Mamanya memang sangat menyayangi Enal. Alasan itu juga yang membuat mamanya bungkam pada semua masa kecil Enal. Dia takut, Enal meninggalkan rumah dan pergi mencari ibu susuannya yang lain. Mamanya juga yakin, kepintaran Enal yang luar biasa, karena percampuran ASI yang sempurna yang dikomsumsinya saat bayi.
“Eh kamu dari kecil emang rakus ya? Sampai tujuh ibu susuan. Rasain sekarang, mau nikah jadi susah!” serang Ningsih kesal saat Dian berlalu.
“Ya, mau gimana lagi. Masa iya mau nyesel, aku kan juga nggak ingat masa kecilku.” Enal berucap pelan.
Enal nggak bisa menyembunyikan kesedihannya. Secara nggak langsung, pertemuannya dengan saudara-saudara sesusuannya, membuat kenangan masa kecilnya, terkais. Meski mamanya punya kasih yang berlebih, tetaplah dia rindu pada sosok ayah dan ibu kandungnya.
“Aku nggak mau nikah dulu,” katanya dengan sedih yang mendalam.
Ya, Enal menangguhkan keinginannya untuk menikah. Dia merasa belum pernah membalas jasa pada orang-orang yang telah memberinya kehidupan selama ini. Pertemuannya dengan saudara sesusuannya, membuat dia terjaga. Dia punya utang budi yang banyak, mungkin lebih dari satu kolam susu. Dia nggak mau air susu itu dibalasnya dengan tuba, jika kelak dia menikah dan malah merepotkan mamanya, karena kuliahnya yang masih jauh dari skripsian. Dia nggak ingin kolam susu itu, tertetesi nila setitik pun!
“Aku ingin kuliah dulu,”
“Jadi tugas Mak Comblangku udah selesai?”
Enal mengangguk.
Tapi belum sempat dia berlalu meninggalkan Ningsih, seorang cewek berdiri di pintu dan memberi salam. Dia teman Ningsih. Lumayan cantik. Kulitnya putih, dan wajahnya terbingkai jilbab cokelat muda, yang membuat wajah putih itu semakin berkilau.
“Eh, Dinda. Tumben main ke sini,”
“Aku mau pinjam buku Sabotta kamu,”
“Boleh, ayo langsung ke kamarku!”
Sebelum masuk kamar, Enal menarik lengan Ningsih dan membisikkan sesuatu.
“Tanyain ke dia dong, dia waktu kecil minum ASI atau nge-dot!”
Ningsih mencubit pinggangnya.***
Diposkan oleh
Gegge
di
12:20
0
komentar
31.12.09
Hanya Pada-Mu

Ketika resah hati tanpa jeda
Menikam , menyiksa, mendera tanpa reda
Ke mana mengadu jika bukan pada-Mu
Bukankah segala urusan mudah di tangan-Mu
Ketika hati hitam bernoda
Menangis, menyesal telah terbujuk goda
Tak ada tempat mengadu kecuali pada-Mu
Karena segala ampunan hanya dari-Mu
Kutahu dosa silamku memang tak ringan
Tak akan terhapus hanya dengan tengadah tangan
Tapi pada-Mu kuminta waktu
Beri kesempatan untuk meluluhkan hati yang telah membatu
Hanya pada-Mu
Segala resahku
Tiada selain-Mu
Segala taubatku
Diposkan oleh
Gegge
di
10:37
0
komentar
17.12.09
INI KISAH SAYA

Kutulis kisahku, di sini. Pada karang dengan jari telanjang. Perih! Bukan hanya jari, namun seluruh persendianku, terasa dilumuri darah. Teramputasi! Seluruh ruang hatiku, porak-poranda oleh badai air mata yang sesamudera.
Bukan kurutuki takdir. Tak ingin menjadi pendosa dengan mengkufuri nikmat. Beginilah kenyataan. Inilah kisah yang harus kulakonkan, di antara para aktor lain yang begitu mudah mendapat peran jagoan, kaya, cakep… semua!! Saya tak boleh bermimpi, saya harus tetap terjaga bahwa saya hanyalah pecundang.
“Kamu pengecut!”
“Biarin!”
“Kamu tahunya menangis. Bahkan saat Tuhan memintamu tersenyum pun, kamu tetap merasa dicurangi takdir.”
“Kamu bukan saya, Sandi. Kamu hanya tahu bahwa saya telah betah dengan tangis. Kamu tak pernah merasa, betapa pedihnya luka yang membuatku menangis.”
Pffuihh…! Sandi membuang ludah tanpa melepaskan tatapan sinisnya ke arahku. Emosi!
INI KISAH SAYA
Oleh: S. Gegge Mappangewa
SAAT membaca kisah ini, bayangkan lagu Peterpan, Kukatakan, mengalun pelan, mengiringi sekaligus menjadi sound track kisah ini.
Kukatakan dengan indah
Dengan terluka, hatiku hampa
Sepertinya luka
… … …
***
Kutulis kisahku, di sini. Pada karang dengan jari telanjang. Perih! Bukan hanya jari, namun seluruh persendirianku, terasa dilumuri darah. Teramputasi! Seluruh ruang hatiku, porak-poranda oleh badai air mata yang sesamudera.
Bukan kurutuki takdir. Tak ingin menjadi pendosa dengan mengkufuri nikmat. Beginilah kenyataan. Inilah kisah yang harus kulakonkan, di antara para aktor lain yang begitu mudah mendapat peran jagoan, kaya, cakep… semua!! Saya tak boleh bermimpi, saya harus tetap terjaga bahwa saya hanyalah pecundang.
“Kamu pengecut!”
“Biarin!”
“Kamu tahunya menangis. Bahkan saat Tuhan memintamu tersenyum pun, kamu tetap merasa dicurangi takdir.”
“Kamu bukan saya, Sandi. Kamu hanya tahu bahwa saya telah betah dengan tangis. Kamu tak pernah merasa, betapa pedihnya luka yang membuatku menangis.”
Pffuihh…! Sandi membuang ludah tanpa melepaskan tatapan sinisnya ke arahku. Emosi!
“Jadi kamu pikir, kemiskinan yang kamu sandang adalah luka? Semua ketaksempurnaan yang kamu miliki adalah kesalahan Tuhan karena telah pilih kasih?”
“Cukup! Saya tidak pernah menyalahkan Tuhan,” potongku saat untuk yang kedua kalinya dia menyebut nama Tuhan di depanku.
“Lalu kenapa masih mau bersembunyi dari semua orang?”
Desah napas keras seolah mengakhiri napasku. Saya memilih bisu. Benakku tetap merangkai untaian kalimat, sekilau mutiara, saat tertuang dalam kisah puisi ataupun cerpen, semua akan kagum. Mataku tetap menatap wajah Sandi, sahabatku. Sesekali kuburu dan kucari tatapannya, saat dia membuangnya dariku. Sinis!
Sandi satu-satunya yang tahu, jika Rudi Wijaya, yang selama ini digilai penikmat puisi dan cerpen remaja, adalah saya. Dan saya tak ingin, ada yang lain tahu. Saya lebih betah menjadi seorang Safar, nama asliku, daripada seorang Rudi Wijaya, nama pena yang sering kugunakan di setiap tulisanku.
Ya, saya bangga dengan diriku sebagai Safar. Seorang pekerja keras, yang tak pernah puas meski orang telah memujanya. Saya hanya bisa tersenyum, menertawai, ketika semua orang memujiku dan menganggap novel yang kuterbitkan indie, dan terjual laris meski saya pemula, adalah keajaiban.
Bagiku, dunia ini tak lagi menyisakan keajaiban. Semua harus ditukar dengan kerja keras. Terlalu menghina, novel yang kutulis selama tiga tahun, dan mendapat predikat The Best Seller, disebutnya sebagai keajaiban.
Patutkah disebut sebagai keajaiban, jika novel itu awalnya kutulis dalam bentuk steno, di atas kertas buram? Bukan kurang kerjaan, meski memang kekurangan kertas. Juga kekurangan dana, hingga steno itu adalah paket hemat, yang membuat biaya rental komputerku menjadi irit. Saya pernah punya mimpi. Punya komputer, dalam sebuah kamar yang ber-AC. Menarikan jari di atas keyboard komputer, sambil sesekali meneguk kopi susu. Tapi benar-benar hanya mimpi!
Masihkah ada yang mau menyebutnya sebagai keajaiban, jika tahu bahwa novel yang kini di tangannya, membuatnya terkagum-kagum, tertunda terbit karena saya harus menunggu celengan ayamku penuh, lalu kupecahkan. Semua karena harus kuterbitkan indie dan kubiayai sendiri. Tak adakah yang bertanya, mengapa novel yang di tangannya begitu buram, hasil foto copy, dan terbit pada sebuah penerbitan yang sebelumnya belum pernah terdengar namanya?
Jika bukan keinginan yang keras seorang Safar, novel indie itu takkan pernah ada. Terlebih takkan ada seorang Rudi Wijaya, yang kini dielu-elukan. Karenanya, saya benci pada diriku sebagai seorang Rudi Wijaya. Tahunya hanya menangis, dan melarikan diri dalam negeri khayalannya.
“Apa lagi yang menghalangimu untuk memiliki Tania? Kamu tinggal bilang, kamu adalah Rudi Wijaya, yang selalu dielu-elukannya selama ini. Kamu tinggal mencopot nama Safar dari dirimu, lalu berganti menjadi Rudi wijaya.”
“Tania terlalu…”
Sandi memotong.”Terlalu tinggi untuk kau gapai? Begitu? Selamat datang di alam nyata, Safar. Kamu nggak sedang bermain di negeri khayalan yang sering kau ciptakan. Hanya negeri dongeng yang selalu menjadikan cowok tajir hanya sepadan dengan cewek tajir pula.”
Percuma saya jawab. Bicaraku hanya sia-sia. Sandi takkan pernah menyerah untuk memberiku semangat.
Dia benar. Mungkin terlalu lama larut dalam dunia fiksi, hingga saya tak pernah yakin bahwa ada dunia di luar imajinasiku. Dunia nyata. Dunia yang memungkinkan apa pun bisa terjadi. Seperti kejadian yang selalu kuangankan, bahwa Tania yang cantik, kaya, bisa dimiliki oleh seorang Safar yang…? Akh, saya takut melanjutkan kalimatku sendiri.
Tuhan, benarkah ada pungguk yang mewujudkan rindunya pada bulan? Tania bulan yang kumau. Hanya dia! Namanya bersarang di benakku. Sesekali terbang, namun akan selalu kembali dan hinggap di ranting hatiku yang rapuh.
“Saya yakin kamu telah ngaca, Safar. Tapi jangan karena dirimu cakep, lalu memberanikan diri mengirim surat untukku,” ucap Tania saat itu.
Tak hanya berucap. Tania juga membanting pintu mobil, lalu menghamburkan sobekan suratku yang telah dicabiknya, Sakit. Butuh perjalanan waktu yang panjang, butuh benang jahitan yang panjang untuk menyatukan kembali bekas sayatan luka yang Tania goreskan. Syukurku, saat itu tak ada yang melihatku. Tak sepasang mata pun menyaksikan saya tergeletak. Menggelepar seperti unggas yang terkena peluru.
Luka itu menjadi rahasia hidupku. Tapi tak kumengerti. Disakiti serupa itu, mengapa tetap saja saya mengharap. Tak adakah Tania yang lain, Tuhan? Tak adakah Tania lain yang pantas untukku? Saya tak butuh banyak. Satu saja!
Salahku mencinta pada rupa. Hingga tak bisa memuji, jika tak serupa Tania. Serupa cantiknya. Andai ada Tania lain, saya tak butuh dia berpunya ataupun bermewah-mewahan. Saya hanya butuh Tania yang setiap kudapatkan matanya, seperti kejatuhan bola salju. Luka lalu beku! Saya butuh Tania yang air mukanya selalu memancingku untuk tersenyum, meski telah dilukainya. Bahkan dibekukan!
“Kamu belum jera juga?” begitu kata Tania saat mendapatkan saya menatapnya di kantin yang sepi.
“Jangan karena saya nggak pernah jalan dengan cowok mana pun, hingga kamu dengan berani mau melangkah di sisiku sebagai pacar. Nggak akan, Safar! Saya punya cowok. Bukan di sekolah ini! Dia adalah…” kalimatnya terhenti.
Bukan saya yang memotong kalimat itu. Terhenti sendiri lalu melanjutkan langkah meninggalkanku. Cinta memberiku energi untuk memburunya.
“Siapa cowok itu, Tania? Katakan padaku, tunjukan dan suruh cowok itu menghajarku habis-habisan. Agar saya jera mencintaimu. Agar saya takut berharap pada mimpi manis yang nggak pernah bisa kukecap. Saya harus bertemu cowok itu. Saya butuh orang yang bisa membuatku terjaga bahwa kamu nggak bisa kumiliki. Siapa orang itu?”
Saya seperti tak sadar apa apa yang kututurkan. Inilah kalimat terpanjang yang kuungkapkan pada Tania selama ini. Bahkan dalam surat untuknya pun, saya cuma berani berkalimat:
Kamu pernah melihat pungguk? Kalaupun pungguk benar-benar ada, tapi bagiku burung itu hanyalah kiasan untuk memberi antonim pada bulan yang cantik. Pungguk itu berkaki dua, tak punya sayap, bagaimana mungkin terbang ke bulan. Pungguk itu bernama Safar, Tania! Saya tak mungkin menggapaimu, maka jatuhlah untukku!
“Jadi kamu mau kenal dengan cowokku?”
Tania membuka tas. Mungkin untuk mengambil HP, lalu memperkenalkanku dengan cowoknya, atau mengambil foto dari tasnya. Tapi apa yang keluar dari tas itu membuatku tersentak.
“Ini dia orangnya!” ucapnya membusung dada.
Mataku terbelalak. Sebuah novel indie berjudul Kubawa Senja Pulang, dihempaskannya di meja tepat di depan mataku. Di situ tertulis nama penulisnya, Rudi Wijaya!
Itu namaku, Tania! Bisaku hanya membatin. Nama penaku. Nama seekor burung yang sering disebut sebagai pungguk. Itu adalah saya. S-a-y-a! Safar, yang begitu banyak orang meliriknya karena cakep, tapi banyak juga yang terhenyak ketika tahu bahwa saya anak seorang pembantu rumah tangga yang sering dibentak oleh Tania, anak majikannya.
Harusnya giliran saya yang membusung dada, jika Rudi Wijaya itu adalah saya. Safar! Tapi saya takut, Tania hanya menertawaiku. Biarlah, dia memujaku sebagai Rudi Wijaya, mungkin hingga sebuah keajaiban menyatukan kami.
Keajaiban? Saya menggeleng. Keajaiban tiada ada.
Saya beranikan tersenyum untuk Tania. Meski dia balas dengan cibiran. Saya minta maaf atas salahku yang terlalu lancang mencintai Tania, anak majikan ibuku. Uluran tanganku tak disambutnya.
Saya bisa mengerti. Tania tak pernah menduga, perlakuannya untukku yang seolah bukan anak pembantu di rumahnya, membuatku salah menterjemahkan kebaikannya padaku.
***
Selesai membaca kisah ini, bayangkan lagu Peterpan, Kukatakan, tetap mengalun pelan, mengiringi sekaligus menjadi sound track kisah ini.
Kukatakan dengan indah
Dengan terluka, hatiku hampa
Sepertinya luka
Kau beri rasa yang berbeda
Mungkin kusalah
mengartikannya
Kau hancurkan hatiku…hancurkan lagi
Ntuk melihatku…
Ini kisah saya. Bukan sembarang saya mengambil lagu ini sebagai sound track kisahku. Bukan kesamaan kisah, tapi kesamaan rupa antara saya dan Ariel Peterpan. Ya, saya mirip Ariel. Sangat mirip! Esok atau lusa, kamu bertemu Ariel, hati-hati minta tanda tangan dan foto bareng. Jangan sampai salah orang, bukan tak mungkin itu saya, Safar. Penulis yang memakai nama pena, Rudi Wijaya!***
Diposkan oleh
Gegge
di
14:22
0
komentar
16.12.09
Orkestra Dua Hati

Mello telah mencuri hatinya lewat pandangan, dan kini ditekuk dengan senyuman. Dia semakin yakin, jika dia tak bertepuk sebelah tangan karena saat lagu Purnama Merindu selesai, Mello memberi standing applause yang diikuti oleh penonton lainnya.
Inilah untuk yang pertama kalinya pertunjukan yang duiikuti Andry mendapat sambutan serupa itu. Entah karena memang telah memberikan pertunjukan yang terbaik, atau karena standing applause tadi dimulai oleh Mello.
ORKESTRA DUA HATI
Oleh: S. Gegge Mappangewa/Andi Tenri Dala F
Akhirnya Andry bisa mewujudkan mimpinya untuk mengunjungi Makasar. Bukan dari hasil tabungannya, yang selama ini selalu disisihkannya demi mengunjungi kota Anging Mammiri itu. Melainkan dari keseriusannya belajar musik. Bakat main biolanya, bermula dari kuartet gesek tempatnya bergabung, yang selalu pentas di setiap ada acara sekolah. Merasa sepi tanpa mendengar gesekan biola, dia bergabung dengan kelompok orkestra, tentu saja setelah audisi dan permainan biolanya dapat diperhitungkan.
Selain di biola, Andry juga sering memainkan alat musik tiup, entah itu flute, klarinet, ataupun terompet dan tuba. Tapi dari kelompok orkestranya, dia lebih dipercaya untuk bermain biola.
Kelompok orkestra itu yang kini menerbangkannya ke Makassar. Asyiknya lagi, dia punya waktu sebulan untuk mengitari setiap jengkal Makassar. Karena pertunjukan kali ini, akan bergabung dengan kelompok orkestra Makassar, sehingga butuh waktu untuk latihan bersama. Dan lagi-lagi, Andry mendapat keberuntungan karena dia yang bermain di biola satu, dipasangkan dengan Cenrani, pemain biola dari orkestra Makassar. Di setiap jeda waktu, entah itu saat latihan apalagi saat jam istirahat, Cenrani banyak memberinya cerita tentang Makassar.
“Orkestra di Makassar belum terlalu digilai. Penikmatnya masih kebanyakan dari kaum pejabat, ningrat, pokoknya kalangan atas!”
Andry membulatkan mata saat menerima kalimat Cenrani itu.
“Kesempatan dong buat aku dapat pangeran saat konser nanti,” candanya.
“Kamu serius mau dapat pangeran dari Makassar?”
“Aku cuma tertarik sama kotanya. Biasanya sih, cowok Makassar kasar-kasar. Apa itu karena pengaruh gelar Ayam Jantan dari Timur? Jadinya suka berantem!”
“Eh, Ayam Tantan dari Timur jangan cuma diartikan dengan keberanian. Ayam jantan juga melambangkan kesadaran akan waktu. Lihat aja, mana ada ayam jantan yang malas-malasan? Setiap subuh datang, dia yang duluan bangun dan memberi berita jika pagi telah datang.”
“Kalo gitu, kita liat aja nanti. kalo ada yang cakep, apalagi anak pejabat. Kenapa nggak?” balas Andry, masih dengan canda.
***
Di balik tirai panggung, para pemain orkestra telah duduk rapi dengan alat musik di tangan masing-masing. Andry dan Cenrani menggunakan stand music dan partitur yang sama, di barisan paling depan. Begitu tirai terbuka, para penonton memberi applause riuh. Dirigen beraksi, musik pun melantun asyik. Dengan didominasi suara gesekan biola, lagu Anging Mammiri yang di-arrangement untuk orkestra menjadi lagu pembuka pertunjukan.
Andry terpukau melihat seluruh kursi yang tersedia di baruga Andi Pangerang Pettarani, terisi. Meskipun di barisan paling depan, ada yang kosong, Andry yakin karena pemiliknya terlambat.
Dan benar adanya, saat lagu Anging Mammiri hendak usai, seorang cowok berkulit putih bersih, berjalan ke arah kursi kosong itu. Cenrani menyenggol kaki Andry yang dari tadi memainkan biolanya, tanpa perhatian penuh pada partitur yang di depannya.
Setiap ada tanda berhenti, Andry bukannya konsentrasi pada partitur atau memperhatikan dirigen, dia asyik beradu pandang dengan Mello, cowok yang duduk di barisan depan itu. Cenrani yang di sampingnya ikut buyar konsentrasinya karena mengkhawatirkan Andry. Dia tahu kepiawaian Andry main biola, tapi lagu Anging Mammiri ini baru kali ini dimainkannya. Bukan tak mungkin akan salah not, atau bahkan memainkan biola sebelum saatnya, setelah saat tanda istirahat beberapa bar.
Sementara di pihak hati Mello, cowok itu tak hanya salut pada kepaiawaian Andry menggesek senar biolanya, tapi juga pada bola mata Andry yang indah dan sesekali menyapu bersih wajahnya. Mello suka dengan tatapan itu, tapi dia tak kuasa untuk terus melayaninya dengan membalas tatapannya. Terkadang, dia lebih memilih tunduk jika Andry tak mau mengalah duluan.
“Kamu kenal cowok yang datang terlambat itu?” tanya Andry saat tirai panggung tertutup kembali, setelah memainkan beberapa lagu pembuka.
“Aku dari tadi menginginkan jam istrahat ini. Siapapun cowok itu, aku nggak mau pertunjukan malam ini gagal. Ingat Andry, kamu nggak hanya membawakan nama orkestra kamu, ataupun kelompok orkestraku. Kita memperkenalkan orkestra, Ndry! Selama ini hanya kalangan orang atas yang suka bahkan kenal dengan orkestra.”
“Jadi cowok yang itu tadi, juga kalangan orang atas?”
Cenrani menggeleng prihatin karena nasihatnya tak digubris. Andry masih saja bertanya tentang Mello.
“Aku udah sering konser di sini. Kursi itu selalu diduduki oleh Andi Sapada, seorang pejabat yang juga pengusaha sukses Makassar. Kalo cowok itu, aku nggak kenal, tapi aku yakin dia ada hubungan dekat dengan Andi Sapada, mungkin saja putranya.”
Senyum Andry semakin mengembang manis. Terlebih ketika sambutan panitia pelaksana telah usai dan tirai terbuka lagi, dan mendapatkan Mello sedang menancapkan tatapan ke arahnya. Jika saja tak takut kedapatan penonton, Cenrani sudah menegur Andry yang belum juga tunduk untuk mencermati partitur di depannya. Padahal alto, selo, dan kontrabas, telah masuk intro. Cenrani takut, Andry melambung terus dengan lamunannya.
Purnama Merindu milik Siti Nurhaliza, menjadi lagu pertama di sesi kedua ini. Saat masuk refrain, Andry mendapatkan bibir Mello bergerak mengikuti irama.
Purnama mengambang cuma berteman
Bintang berkelipan dan juga awan…
Akhh, andai aku purnama yang dirindukannya itu. Bisik hati Andry sambil tetap berusaha konsentrasi pada partitur di depannya. Dan tepat bisikan itu dilantunkan hatinya, Mello tersenyum untuknya, saat beberapa detik dia menyempatkan lagi untuk menatap wajah Mello.
Mello telah mencuri hatinya lewat pandangan, dan kini ditekuk dengan senyuman. Dia semakin yakin, jika dia tak bertepuk sebelah tangan karena saat lagu Purnama Merindu selesai, Mello memberi standing applause yang diikuti oleh penonton lainnya.
Inilah untuk yang pertama kalinya pertunjukan yang duiikuti Andry mendapat sambutan serupa itu. Entah karena memang telah memberikan pertunjukan yang terbaik, atau karena standing applause tadi dimulai oleh Mello.
Lagu berikutnya, mata Andry semakin berani meninggalkan partitur, demi melihat Mello yang juga menerbangkan tatapan ke arahnya. Canon in D Major, memang lagu kesukaan Andry, saat latihan di rumah dia selalu memainkan lagu gubahan Pachelbel, komponis dari Jerman itu. selama ini, Canon menjadi lagu terindah buat Andry. Tapi sayang, dirigen, bahkan dari kelompok musik tiup mendengarkan suara ‘aneh’ dari biola Andry.
Keseringan melirik ke arah Mello, membuatnya melakukan kesalahan fatal, karena menggesek biolanya di saat seharusnya dia memberi kesempatan untuk pemain biola alto memperdengarkan suara rendah.. Cenrani di sampingnya ingin menyenggol kakinya, tapi takut malah membuatnya semakin panik.
Kesalahan itu membuatnya tak berani menerbangkan mata seliar tadi. Paling tidak, dia telah yakin bahwa Mello pun tak pernah melepaskan tatapan dari arahnya. Dia hanya butuh waktu untuk lebih dekat dengan Mello setelah konser usai. Semoga waktu itu ada untukku! Bisik hatinya lagi.
***
Di back stage, saat konser usai, para pemain orkestra saling bersalaman, sambil tertawa lepas karena sukses memikat perhatian penonton. Mulai dari lagu Makassar, Bugis, Melayu, yang di-arrangement klasik, hingga lagu komponis dari jaman yang berbeda seperti, Bach, Vivaldi, Mozart, Beethoven, bahkan Strauss. Semua berhasil memukau penonton.
Andry dan Cenrani masih dengan seragam warna broken white yang tadi dipakainya konser, berlari keluar baruga dengan melewati pintu belakang. Andry tak ingin kehilangan jejak Mello. Dia harus bertemu dengan cowok itu. Adapun tentang kalimat yang akan diucapkannya saat bertemu dengan Mello nantinya, dia belum pikirkan. Yang ada di kepalanya, dia harus bicara dengan cowok itu.
“Itu dia, Ndry!”
Andry berlari ke arah koordinat yang ditunjuk Cenrani. Di koordinat itu dia mendapatkan Mello sedang berjalan ke arah sebuah mobil Pajero. Ketika tinggal beberapa langkah lagi kakinya akan bersebelahan dengan Mello, seorang sopir turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Mello.
Andry dan Cenrani mempercepat langkah. Sedetik saja mereka terlambat, Mello sudah menutup pintu mobil.
“Ma…maaf! Temanku ini…” kalimat Cenrani terputus. Bukan oleh tatapan tajam Mello, tapi dia memang tak tahu harus berucap apa lagi.
“Boleh kenalan?” Andry to the point.
“Gitu ya cara anak Jakarta kalo ketemu cowok cakep?” bisik Cenrani menggoda.
Andry tak menggubris godaan itu. Dia menunggu reaksi Mello selanjutnya. Tapi tak pernah diharapkannya, Mello menutup pintu mobil lalu memerintahkan sopir untuk melaju.
Bukan hanya Andry, Cenrani ikut tersinggung dengan ulah Mello.
“Jangan-jangan kamu emang benar, kalo Ayam Jantan dari Timur itu emang kasar-kasar?” ucap Cenrani sambil mengambil lengan Andry untuk dibawanya masuk kembali ke baruga.
“Aku tetap nggak mau sama ratakan semua cowok. Mungkin aku yang kecentilan. Aku terlalu ge-er. Aku terlalu…”
“Tapi aku yakin jika cowok itu menaruh hati padamu. Bisa kulihat dari tatapannya padamu saat konser tadi.”
Andry menggeleng. Dia ingin kenangan pahit ini, dikuburnya sebelum meninggalkan Makassar. Mello, cowok yang namanya pun belum dia tahu itu telah memberinya oleh-oleh yang mungkin akan membuatnya trauma untuk datang menikmati kembali indahnya Losari di senja hari.
***
Di sebuah kamar kos ukuran 3 x 3 meter, Mello berbaring di atas seprei tanpa corak. Dia teringat terus pada tatapan Andry di konser orkestra tadi. Dia bahkan ikut terluka saat mengambil keputusan untuk menutup pintu mobil dan berlalu pergi. Dia bukannya sombong apalagi bersikap kasar, tapi dia takut terluka jika berani menyimpan harap berlebihan pada Andry.
Dia yakin, Andry membuntutinya ke tempat parkir karena mengira dirinya anak seorang pejabat. Untuk beli tiket masuk pun dia tak mampu, apalagi dengan kelas VIP. Jika bukan karena kebaikan hati Andi Sapada yang memberinya kesempatan untuk nonton orkestra sekaligus menggunakan fasilitas mobil, dia takkan pernah bisa menyaksikan langsung konser orkestra.
Mello hanya seorang penulis yang tak punya apa-apa selain kerajaan imajinasi. Dia tak hanya bisa jadi raja ataupun pangeran di kerajaan itu, tapi juga Tuhan yang bisa membunuh dan membagi-bagikan takdir pada tokoh ceritanya. Tadi di alam nyata, dia punya kesempatan untuk berperan sebagai Romeo di depan Andry, tapi apa artinya jika kemudian dia harus terluka dan mati. Karena Andi Sapada, bukanlah siapa-siapa baginya. Kenal Andi Sapada pun baru minggu lalu, sejak dia dipercaya untuk menulis biografi Andi Sapada sebagai seorang pejabat dan pengusaha yang berpengaruh di Makassar.
Dia takkan pernah lupa dengan lagu Purnama Merindu. Dianggapnya itu sebagai kalimat Andry untuknya. Ya, purnama cuma berteman dengan bintang berkelipan. Bisik hatinya sambil mulai menghapus wajah Andry, yang namanya pun belum dia kenal.
Dia lebih memilih sendiri karena telah keliru menilai cinta. Membiarkan hatinya berbisik, berkhayal, bermimpi, berimajinasi, tanpa pernah bisa suaranya menembus udara. Ya, mungkin seumpama orkestrasi yang hanya mengandalkan instrumentalia.
Cinta tak kenal kasta, Mello! Andai dia tahu itu, dia dan Andry tak akan terluka seperti ini.
***
Diposkan oleh
Gegge
di
14:38
0
komentar