9.12.09

Berita Kehilangan


Seekor elang terbang mencari ranting untuk ditempati bertengger. Namun setiap hendak hinggap, ranting itu bergoyang tertiup angin, bahkan patah. Elang itu heran dan bertanya-tanya, apa ada yang salah pada dirinya? Sementara elang yang lain begitu mudahnya mendapat ranting. Elang itu lelah, lalu bersumpah tak akan mencari ranting lagi. Dia akan terbang sepanjang hidupnya, hingga kedua sayapnya patah, selamanya!
BERITA KEHILANGAN
Oleh: S. Gegge Mappangewa
07 Deseember 2009. Masih pagi. Saat sudah siap berangkat ngajar, kunci lemari tempatku menyimpan laptop, nggak ada di tempat. Bisa dipastikan, saya terlambat tiba di sekolah. Pusing tujuh keliling. Semua tempat yang biasa kutempati menyimpan kunci, nihil! Apesnya lagi, bahkan kunci serepnya pun hilang. Saya menghempaskan tubuh ke tempat tidur. Sejenak! Setelah itu, saya bangun membongkar semua yang bisa kubongkar…! Laci meja, karton, dan semua yang bisa kubongkar, berantakan di kamar. Sepertinya kuncinya semakin susah kudapatkan di antara kamar yang seperti baru saja reda dari badai.
Saya menenangkan pikiran yang juga sudah terombang badai. Kupungut kembali isi laci dan karton-karton yang tadi kuacak-acak. Satu hal yang membuatku tersenyum sendiri, tanpa kusadari saat membongkar tadi untuk mencari kunci, ternyata ada beberapa barang yang sudah bertahun-tahun bertumpuk tak pernah kulihat, kini berhamburan semua. Barang itu adalah beberapa majalah remaja yang pernah memuat cerpen-cerpenku saat masih produktif nulis.
Yang paling tua adalah majalah edisi tahun 2000. Di dalamnya ada cerpen pertamaku yang termuat di media nasional. Judulnya, Memanah Bintang di Tana Toraja. Ada kalimat yang sangat menusuk “Memilikimu, aku laksana memanah bintang. Nggak akan pernah sampai apalagi tepat sasaran.”
Majalah berikutnya juga ada memuat cerpenku yang judulnya PINALTI CINTA. Ada kalimat yang juga menusuk “Aku seperti tergilas kereta kencana yang ditarik seribu ekor kuda. Tak sadar aku meringis, sebelum merasakan panas di kelopak mataku.”
Dan yang lebih menohok di ulu hati, kalimat pada cerpen KISAH SEEKOR ELANG. “Seekor elang terbang mencari ranting untuk ditempati bertengger. Namun setiap hendak hinggap, ranting itu bergoyang tertiup angin, bahkan patah. Elang itu heran dan bertanya-tanya, apa ada yang salah pada dirinya? Sementara elang yang lain begitu mudahnya mendapat ranting. Elang itu lelah, lalu bersumpah tak akan mencari ranting lagi. Dia akan terbang sepanjang hidupnya, hingga kedua sayapnya patah, selamanya!”
Tanpa kusadari, beberapa cerpen telah kubaca dan melupakan kunciku yang hilang. Saya terjaga. Ternyata beberapa cerpen yang hanya bersumber dalam imajinasiku, kini hadir seperti karma pada hidup yang kulalui akhir-akhir ini.
Pagi semakin beranjak, saya harus berangkat ngajar meski tanpa laptop. Lemariku masih terlalu sayang untuk kucungkil. Tapi, saat hendak berangkat, seorang teman kos yang tahu kalau saya kehilangan kunci datang menawarkan bantuan. Bukan sulap, bukan sihir, lemariku terbuka meski tidak dengan kuncinya, padahal tadi saya sudah mencoba beberapa kunci, tapi tak ada yang bisa membukanya.
Hingga kini, kunci lemariku masih hilang! Dan saya tak ingin lagi mencarinya. Saya akan menggantinya dengan kunci yang baru. Alhamdulillah, kehilangan kunci membuatku menemukan barang-barang yang selama ini tak pernah lagi kulihat. Barang yang membuatku terjaga bahwa selama ini saya telah menjadi ‘tuhan’ kecil dalam cerpen-cerpenku, memberi derita dan bahagia pada tokoh-tokohnya. Dan jika Allah memberiku derita dan masih merasa kurang bahagia, itu adalah kehendak-Nya sebagai Sang Penulis Agung.***




lanjutan cerita......