2.8.09

CERPEN (Cintaku Jauh di Langit)


CINTAKU JAUH DI LANGIT
Oleh: S. Gegge Mappangewa

JAUH kulepaskan tatapan, terbang bebas di atas hamparan kebun teh dan lintasan Jakarta Bandung yang meliuk berliku, juga menukik. Di sini, di atas sebuah bukit, di areal perkebunan teh Puncak, Jawa Barat, kurapatkan duduk dari tadi. Ada rindu menyeruak di antara haru yang kurasakan sesak setiap kucoba mengingat kenangan setahun lalu, di sini, Ramadhan yang lalu, bersama Abraar.
Sengaja memang, kutinggalkan Jakarta menuju Puncak. Hanya untuk melihat kembali saksi kisah bahagia sekaligus kisah perih yang pernah terajut di sini. Kisah itu mengalun kembali seiring menggemanya nama Abraar memenuhi ruang hatiku, ketika kucoba mendesiskan namanya.

Aku tak boleh menangis meski haru menyeruak, aku tak mungkin mengikuti emosi jiwa yang ingin selalu meneriak¬kan namanya. Semua demi keabsahan puasaku, juga kerelaanku menerima takdir. Kisah lalu itu adalah perjalanan hidup, mungkin seperti lintasan Jakarta Bandung yang penuh liku.
"Hey!"
Seorang cowok datang menyapaku. Kubalas dengan senyum. Terlalu sibuk dengan kisah lalu, aku telah meng¬anggap diriku sebagai penghuni tunggal bukit ini. Padahal sejak siang tadi, pengunjung banyak berdatangan. Sekadar menikmati hawa dingin bukit ini, hijaunya hamparan teh atau aktraksi paralayang yang bertolak dari bukit ini sambil menunggu waktu berbuka puasa.
Paralayang? Aku menggeleng perlahan, tanpa sadar. Cowok di sampingku mengerutkan kening tanda tak mengerti dengan gelenganku.
"Namaku Kade,” ucapnya kemudian sambil mengulurkan tangan untukku.
“Vira !” balasku singkat tanpa meraih uluran tangannya.
“Kamu sepertinya ada masalah" ucapnya lagi sambil menarik kembali uluran tangannya yang tak kusambut.
Aku terdiam. Dingin yang semakin menusuk membuatku menarik ruslui¬ting jaket, lalu melipat tangan di dada. Kualihkan kembali tatapanku ke kaki bukit. Lintasan Jakarta Bandung, sepi. Hanya sesekali kendaraan melintas, membuat jalan beraspal itu seperti liukan anaconda raksasa yang sedang tertidur. Kade, cowok yang agak jauh di sampingku, nampaknya belum juga beringsut. Bahkan berceloteh sendiri.
"Dulu, setiap ada masalah, aku selalu melarikan diri ke sini,” ungkap¬nya. “Jarak Bandung ke sini, nggak kupeduli. Di sini aku bisa sendiri, bahkan terbang ke langit sana.” lanjut¬nya sambil menatap langit barat.
Aku yang dari tadi menganggapnya patung, kini terhipnotis untuk balik menatapnya. Kalimatnya membuat bayangan Abraar seperti utuh berada di depanku.
Dulu, Abraar selalu ke sini. Tiap minggu! Menunggu angin datang, lalu mengembangkan parasutnya. Terbang melintas di atas hamparan kebun teh, semua karena dia berambisi untuk menjadi atlet para¬layang.
Abraar, pemilik lesung pipit itu kurasa¬kan semakin nyata di depanku. Tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya yang rapi. Dan lesung pipinya, seolah memiliki magis yang mampu melesakkan aku masuk ke dalamnya. Namun semua kesempurnaan itu membuatku semakin tak bisa berharap banyak. Jalan bersama dia pun rasanya sudah anugerah besar buatku. Hanya keramahan, juga kerendahan hatinya yang membuatnya mau berteman denganku. Siapa sih yang mau berteman dengan gadis cacat sepertiku? Kalau pun banyak yang memujiku cantik, namun terlalu sedikit yang mau jalan dengan seorang cewek berkaki pincang sepertiku.
Tapi Abraar, awal kedekatannya denganku kuanggap sebuah hinaan. Aku salah sangka, aksi pedekate nya padaku kupikir hanya karena otakku yang encer. Karena kutahu betul, dia selalu berada di peringkat terakhir bahkan pernah terancam tidak naik kelas.
Namun ketika dia berhasil menak¬lukkan hatiku untuk menjadi temannya. Abraar lain dari yang kupikir. Dia tak pernah memberiku kesempatan untuk putus asa, tak pernah malu melangkah di sampingku, yang jalannya terseok-¬seok karena kaki kiriku yang tidak normal sejak lahir.
“Semua karena aku tahu, tak banyak yang mau berteman dengan kamu,” ungkapnya jujur ketika kutanya alasan kedekatannya denganku.
Beribu kalimat sumbang pun akhirnya terlontar. Abraar yang otaknya tumpul di kelas, ternyata juga berotak udang dalam mencari pacar. Vira, gadis cacat yang bukan hanya pintar di kelas tapi juga punya ilmu hitam yang bisa membuat cowok bertekuk lutut. Dan entah kalimat apalagi, yang semakin membuatku sadar dengan kekuranganku.
Aku tenang saja. Toh, Abraar juga tak menanggapinya. Tapi ketenangan itu akhirnya terusik juga. Terusik oleh mimpi seekor pungguk sepertiku yang merindukan bulan, jauh di langit sana. Kedekatanku dan banyak jalan bersa¬manya telah membuat hatiku dihinggapi penyakit cinta yang tidak seharusnya diidap oleh gadis cacat sepertiku.
Kusimpan cinta itu menjadi siksa jiwa. Aku tak peduli itu menyiksa, tak kuhiraukan meski sering membuatku menangis. Semua demi kelangsungan persahabatanku dengan Abraar.
Ya, persahabatan ! Aku tak boleh melewati garis batas itu. Sekali aku menyebut kata cinta buat Abraar, persahabatan itu akan hancur. Tak ingin kusesali ke-bodohanku kelak.
"Hey !"
Sapaan Kade membuat lamunanku buyar. Bahkan dia habis meninggalkan¬ku sendiri tanpa kusadari. Buktinya, sebuah careel berisi parasut telah bergantung di punggungnya. Dulu Abraar begitu gagah setiap membawa careel parasut seperti itu.
"Sori, aku ditugaskan untuk terbang. Untuk memberi aktraksi kepada para pengunjung di sini. Tapi aktraksi ini spesial kupersembahkan untukmu. Untuk awal perkenalan kita, " ujarnya sambil tersenyum.
Dia melebarkan parasutnya, memasang harness dan helm penga¬man. Entah berapa detik dia berdiri mematung, memperhatikan bendera kecil yang ditancapkan di salah satu tembereng bukit. Saat bendera itu berkibar pertanda ada angin, sejenak Kade melirikku sekali, lalu berlari mengambil awalan, dan di ujung ketinggian bukit, dia terbawa angin.
Seperti elang, Kade terbang mengitari perkebunan teh. Manarik dan mengulur tali parasutnya. Aku terpana melihatnya. Seolah Abraar yang sedang terbang di sana. Aku duduk kembali. Pengunjung yang lain masih terus menatapnya. Lain denganku, tadi ketika Kade terbang mengitari perkebunan teh, ada bahagia sekaligus ketakjuban melihatnya, tapi ketika dia memilih untuk terus menarik parasutnya, membuatnya, semakin tinggi. Di posisi terbangnya yang sejajar dengan matahari yang terhalang awan. Dia berhenti di situ. Berdiam diri! Lama sekali. Posisi seperti itu membuat kenanganku dengan Abraar datang mengiris.
Dua bulan terakhir kebersamaanku dengan Abraar, dia selalu terbang ke sana. Terbang hingga ketinggian yang sejajar dengan matahari sore. Padahal sebelumnya, dia tak pernah melakukan itu. Aku bisa menebak, jika dia. memen¬dam masalah berat dan melarikannya ke awan sana.
"Aku bahkan mau terbang hingga ke langit. Sayang nggak bisa! Meski kuyakin itu akan terjadi. Tak lama lagi!" ucapnya suatu sore, saat baru landing dari penerbangannya yang tinggi.
Sedikit pun aku tak menanggapi kalimat itu. Aku hanya memperhatikan dia sibuk melepaskan harness.
Kebiasaan Abraar terbang seperti itu, bermula saat dia dinyatakan gagal menjadi atlet nasional di olahraga paralayang. Jelas sekali ada kecewa, padahal sebelum mengikuti test dia sempat bercerita jika dia tak takut gagal. Toh, ini hanya kujadikan sebagai hobi sekaligus hiburan, katanya. Tapi akhirnya? Kegagalan itu membuatku menemukan Abraar yang lain dalam dirinya yang sebenarnya.
Aku mencoba belajar menghadapi kenyataan. Sedikit demi sedikit aku melangkah menjauh. Siapa tahu kedekatanku dengannya telah membuat dia bermasalah. Apalagi, akhir akhir ini sering kudengar dia menyebut nama Yuni di depanku. Kutahu dia mencintai¬nya, juga kuyakin jika Yuni tak akan menolak jika tahu perasaan Abraar.
Ketika kusadar bahwa aku menjadi penghalang, kucoba untuk beringsut. Bukankah mengharap terus cintanya, juga sebuah siksa bagiku? Jika aku menghindar, itu berarti aku telah memberi kebahagiaan buat Abraar yang juga pernah memberiku bahagia meski akhirnya aku melukai diriku sendiri dengan mimpi yang tak mungkin berwujud.
"Maukah kamu menerima cintaku?"
Seperti tak sadar ketika suatu hari, kudengar dia mengucapkan kalimat itu untukku.
"A..aku!" gugupku.
Dia mengangguk serius. Menatapku tanpa henti. Sayang sekali, tatapan yang sebelumnya selalu kuakui mendamai¬kan, saat itu malah membuat hatiku porak poranda. Bagaimana tidak, kalaupun aku pernah berani bermimpi untuk memilikinya, sedikit pun aku tak berani untuk mewujudkannya, Laksana terbang ke langit, saat untuk kedua kalinya dia mengucapkan cinta padaku. Aku melayang tanpa parasut. Terlebih, tanpa sayap! Karena aku memang bukan burung dara yang sempurna.
“Hey!”
Lagi lagi Kade datang melerai kenanganku bersama Abraar. "Kalau kamu mau, aku bisa memba¬wamu terbang seperti tadi. Aku biasa jadi pelatih untuk penerbang pemula." ucapnya sambil melirik jam di perge¬langannya. "Masih bisa untuk sekali penerbangan."
Aku menggeleng.
"Kenapa, takut? Sekali kamu terbang, kamu akan ketagihan. Yakinlah! Di atas sana kamu boleh membuang semua bebanmu. Bahkan melupakan semua masalahmu. Ketinggian selalu menjanjikan mimpi. Mimpi yang indah!" Kade memohon lagi.
Apapun alasannya. Aku tetap menggeleng! Aku pun tahu, ketinggian selalu memberi mimpi yang indah, tapi aku lebih tahu jika terkadang ngarai menunggu di bawah. Apa artinya melambung sejenak bersama mimpi sementara hati juga harus selalu siap untuk terluka saat harus terhempas?
"Okel Nggak apa apa. Tapi kamu mau jadi temanku, kan?"
Tatapanku lurus menancap ke bola mata Kade. Sedikit teriris hatiku mendengarnya. Bagaimana tidak? Kuyakin kalimat itu terucap darinya karena belum sadar jika gadis yang berada di depannya tak bisa berjalan normal.
"Apa untuk menjadi teman, aku harus menunggu lama?" lanjutnya lagi. "Padahal aku berharap lebih dari itu."
Tatapanku yang tadi menancap di bola matanya, kini kularikan ke kaki bukit. Sore semakin layu, kabut pun menebal. Di bawah sana, speaker Mesjid Atta'Awun mengalunkan kalimat suci. Sebentar lagi maghrib. Aku harus turun.
"Boleh, kan?" desaknya meminta jawaban.
Aku tetap diam. Gelap yang merambat membuat semua kendaraan yang melintas di jalan Jakarta Bandung harus menyalakan lampu sorotnya. Lintasan panjang berliku itu, yang tadi mirip anaconda raksasa yang sedang tertidur, kini kilatan kilatan lampu kendaraan yang melintasinya tak ubahnya barong¬sai raksasa yang sedang berjalan meliuk.
Pengunjung bukit mulai turun satu per satu. Kade berpindah ke depanku. Menatapku tajam! Tapi aku memilih untuk melangkah. Langkah pincang yang terseok. ¬Tersaruk saruk! Dan kuyakin, dengan melihat itu, Kade akan tercengang sekaligus mema¬tung. Tanpa pemah mau mengiringi langkahku.
Selangkah, dua dan tiga kali aku melangkah menuruni bukit. Tanpa berbalik pun kutahu, apa yang sedang Kade perbuat. Dia tak akan pernah mau berteman dengan gadis pincang sepertiku.
Ada haru yang menyeru¬ak ketika semakin kusadar bahwa Kade tak mengikuti langkahku. Bukan karena ingin dia bersamaku, sekali lagi bukan! Haru itu menye¬ruak karena mengingatkanku pada satu satunya orang yang mau melangkah bersamaku. Abraar!
Ramadhan tahun lalu pun aku masih sempat menuruni bukit ini bersama Abraar. Buka puasa dan shalat jama'ah di Mesjid Atta'Awun. Lalu pulang membawa moci dan peuyem sebagai oleh oleh.
Aku tak boleh menangis. Tekadku sambil menyeret langkah. Kuingin cepat tiba di mesjid. Menanti maghrib dan mengadukan semua bebanku pada Allah yang bersinggasana di langit yang jauh. Sekaligus mengirim doa buat Abraar di sana.
Aku tak pernah melupa¬kan selalu kupuji kemurahan hati Abraar yang mau berteman denganku. Meski untuk mencintaiku, belakang¬an kutahu jika itu hanyalah pelarian. Kepiawaian Abraar mempermainkan tali parasutnya, keberaniannya menan-tang angin, tak diragukan lagi untuk menjadi atlet nasional paralayang. Tapi, semua keahlian itu harus diabaikan karena dokter memvonisnya sebagai penderita kanker otak ketika ikut test kesehatan, dalam seleksi atlet nasional.
Lama sekali baru aku tahu penyakit Abraar itu, meski kulihat ada duka yang menggantung di setiap tatapannya. Meski kuarasakan ada keanehan dari sikapnya yang selalu menerbangkan parasut ke ketinggian yang sejajar dengan matahari. Barulah setelah dia terbaring lemas dan hendak menghembus¬kan napas terakhirnya, dia meminta maaf atas cinta semunya padaku.
Ada Yuni yang mengisi ruang hatinya. Begitu cintanya pada Yuni, Abraar tak ingin Yuni teruka dengan kehilangan dirinya kelak Aku pun jadi korban pelarian itu. Aku tak tahu perasaan apa yang berkeca¬muk di hatiku saat mendengar pengakuan Abraar. Aku ingin membenci tapi dia telah membuatku berarti.
Hanya sesaat setelah aku membasuh tubuhku dengan wudhu, adzan maghrib menggema. Segelas air putih kuteguk, tambah beberapa buah moci. Lalu meraih mukenah dan mengambil tempat di barisan jamaah yang hendak shalat.
Khusyu' sekali aku dalam shalat, lalu melantunkan doa untuk Abraar. Doa untuk ketenangannya di 'ketinggian' sana.
Ketika aku keluar mesjid, hendak membeli oleh-¬oleh khas Puncak. Kudapat-kan sosok Kade yang sedang menghampiri seorang cewek yang lumayan manis. Tentu saja aku tak cemburu apalagi terluka. Allah yang pemurah pernah mengirimkan Abraar untuk mencintaiku. Meski dengan cara lain. Kuyakin juga, Allah, kekasihku yang bersinggasana di langit sana, akan selalu hadir di hati. Untuk mendengar doaku!
***
(Termuat di Aneka Yess! Edisi Oktober 2003)



lanjutan cerita......

Belajar Bijak (Gerimis Ini Turun Untukmu)


GERIMIS INI TURUN UNTUKMU
OLEH : S. GEGGE MAPPANGEWA
Perpisahan adalah kesedihan yang teramat manis. Kalimat itu diucapkan Romeo pada Juliet, yang dituntun oleh William Shakespeare. Sungguhkah kesedihan itu teramat manis? Tentu saja tergantung jenis perpisahannya. Karena begitu banyak orang yang tak sudi menangisi perpisahan dan lebih menyesali pertemuan. Tragisnya lagi, terucap kata; tiada maaf bagimu!


Maaf! Andai semua orang terbiasa dengan kata itu, semua kesedihan akan teramat manis. Tapi bukan salah siapa jika kata maaf itu susah untuk terucapkan, karena memang ada salah yang tak bisa termaafkan. Padahal kata orang bijak, memaafkan kesalahan memang lebih baik, tapi melupakan kesalahan orang jauh lebih baik. Tapi yang jadi masalah, ada salah yang tak bisa termaafkan, yakni salah yang tak bisa terlupakan.
Seorang sahabat yang telah bertahun-tahun kukenal. Tak ada istimewa dengan hubungan kami. Bertemu paling sekali sepekan. Tahun-tahun yang terlewatkan tak ada istimewa. Hanya sekadar tertawa bersama saat bersua. Bertukar mimpi. Lalu, ketika perpisahan akan menjadi bagian dari hidup kami, seketika semua jadi istimewa.
Pada detik-detik kepergiannya, saya merasakan ada ikatan yang sulit terlerai. Ada rasa yang sulit kuurai. Melarut, menggumpal, lalu seakan ingin jadi derai. Masih mampu kutahan derai itu. Hingga yang ada adalah kabut menjelaga di mataku. Inikah kesedihan yang teramat manis itu? Saya teringat dengan salah seorang sahabat yang pernah mengirimkan sms untukku dan hingga kini ku save; JIKA SUATU SAAT….! MUNGKIN HARI INI, ESOK, LUSA, ATAU KAPAN. AKU TAK BERNAPAS LAGI. KETAHUILAH, SAUDARAKU! HADIAH TERINDAH YANG PERNAH KUDAPAT DARIMU ADALAH PERSAUDARAANMU KARENA ALLAH. SEMOGA KITA TETAP ISTIQAMAH DAN DIPERSAUDARAKAN DI JANNAH!
Mungkin selama ini memang tak ada yang istimewa di antara persahabatan kami, hanya sebuah cerita sederhana dari pertemuan yang biasanya hanya sekali sepekan. Tapi kesederhanaan itu telah memberikan hadiah terindah untuk kami; Persaudaraan karena Allah! Semoga hadiah itu benar, Persaudaraan Karena Allah! Persaudaraan yang menyimpan berjuta-juta maaf. Karena sekali lagi, kata maaf itu sangat-sangat susah untuk dilantunkan. Padahal dari situlah bermuara kesucian. Dan kesucian selalu ternoda oleh salah, masalah, dan masa lalu!*** (Saat kisah ini kutulis, di luar sana gerimis turun ragu, membekukan sedih yang teramat manis)

lanjutan cerita......

28.4.09

Mawar Melati Semua Indah


Nanda tak pernah menduga, juga tak mengerti jika dia akan menjadi korban idol hunt yang kini meminta semua orang menatap ke media. Sedikit pun dia tak punya keinginan untuk menjadi bintang, apalagi jika harus merelakan aurat menjadi aura keberuntungannya. Tapi ibunya, berawal dari membujuk, lalu setengah memaksa, namun kini menyuruh Nanda pergi dari rumah jika dia tetap mempertahankan jilbabnya.
Ibunya ingin semua orang berdecak kagum, janda ditinggal suami yang hidup sebagai tukang jahit tapi masih bisa menghidupi kedua anaknya dengan layak. Dira yang sulung telah sukses sebagai idola remaja. Uang dan popularitas telah didapatkan, dan ibunya menginginkan, Si bungsu Nanda mengikuti jejaknya.
***************************************************************************************************


MAWAR MELATI SEMUA INDAH
Oleh: S. Gegge Mappangewa

NANDA meraih pulpen. Perih mengikuti jejak cerita yang akan digoreskannya. Sedih, lelah! Membuatnya tak bisa menggoreskan satu kata pun. Air matanya luruh tiba-tiba, saat karang hati yang pernah dibiarkan terhempas badai apapun, tumbang akhirnya. Dia pun mengalah! Melangkah menemui ibunya, yang memang menginginkan kekalahan itu.
“Inikah yang ibu inginkan?” ucapnya sambil mengibaskan rambut hitamnya.
Mata wanita yang dipanggilnya ibu, berbinar sudah. Tidak lagi basah! Juga tak ada lagi kalimat badai yang keluar dari bibirnya.
Nanda ingin menangis, tapi tetap dipaksa menarik dua sudut bibirnya, minim sekali senyum itu, seminim busana yang kini dipakainya. Di balik senyum itu tersimpan dendam. Lalu dengan langkah dibikin menggoda, dia melenggang di depan ibunya.
“Aku minta doa restu ibu,” penuh kemunafikan dia mengucap kata itu.
Teringat jilbab lebar yang pernah menutupi auratnya, dia ingin menangis. Sangat ingin! Namun lebih ingin lagi, dia ingin membahagiakan ibunya, menuruti keinginannya untuk menjadi bintang idola remaja.
Nanda tak pernah menduga, juga tak mengerti jika dia akan menjadi korban idol hunt yang kini meminta semua orang menatap ke media. Sedikit pun dia tak punya keinginan untuk menjadi bintang, apalagi jika harus merelakan aurat menjadi aura keberuntungannya. Tapi ibunya, berawal dari membujuk, lalu setengah memaksa, namun kini menyuruh Nanda pergi dari rumah jika dia tetap mempertahankan jilbabnya.
Ibunya ingin semua orang berdecak kagum, janda ditinggal suami yang hidup sebagai tukang jahit tapi masih bisa menghidupi kedua anaknya dengan layak. Dira yang sulung telah sukses sebagai idola remaja. Uang dan popularitas telah didapatkan, dan ibunya menginginkan, Si bungsu Nanda mengikuti jejaknya.
“Ini bukan untuk ibu, Nanda. Apa kamu nggak sakit hati pada ayah yang meninggalkanmu? Kamu bisa saja bertahan dengan kesabaranmu, tapi tolong balaskan dendam ibu. Membuat lelaki bejat itu kembali dan mengemis di rumah ini.”
Nanda ingin menutup telinga, tapi dipilihnya berlaku manis. Menurutnya, ibu tak salah menaruh dendam pada ayah yang menikah lagi. Tapi yang membuatnya tak mengerti, meski harus diterima juga, permintaan ibunya yang menyuruhnya menjadi model.
Kebanggaan ibunya dulu, pada Nanda yang anggun dengan jilbabnya, pada Nanda yang sopan langkahnya, kini pudar. Bahkan profesi Nanda sebagai penulis fiksi, tak dipandangnya. Sebelah mata pun tidak!
“Sudah berapa tahun kamu jadi penulis, siapa yang memujimu? Kamu hanya pemain di balik layar. Kamu cantik, pintar. Anugerah Tuhan jangan disia-siakan!”
Dulu, saat kalimat itu terlontar untuknya, dia masih bisa berkilah, membela diri bahkan tak rela dirinya dibanding-bandingkan dengan Kak Dira, hanya karena profesi.
“Sebelum Kak Dira jadi model, aku nggak pernah merasa dinomorduakan. Tapi kenapa sekarang ibu perlakukan untukku…”
“Ibu ingin melihat kamu sukses seperti kakakmu,”
“Dengan memaksaku? Jilbabku yang ibu kagumi dulu pun ingin ibu lepas paksa dari tubuhku,” setengah menangis dia mengucap kalimatnya.
Tapi ibunya tetap pada pendiriannya. Nanda mencoba cara lain. Banyak diam, bahkan menghindar dari ibunya hingga berkesan perang dingin. Tapi hasilnya tetap mengecewakan. Nanda bahkan terusir dari rumah jika tetap mempertahankan prinsip. Bukan tak ada jalan lain, tapi Nanda merasa jika menuruti keinginan ibunya adalah jalan terbaik saat ini.
***
“Jilbaber kita berganti bikini,”
Sungguh! Gendang telinganya terasa pecah mendengar kalimat itu. Dia tetap melangkah, menelusuri koridor kampus yang penghuninya melayangkan mata ke arahnya. Dia memaksa tersenyum, menganggap koridor kampus sebagai cat walk yang akan ditempatinya melenggang saat jadi model kelak.
“Nanda?” suara tak percaya dengan apa yang dilihatnya itu, milik Fatah.
Nanda berhenti sejenak, menatap ke arah Fatah yang langsung tertunduk menerima tatapannya. Ini yang pertama kalinya dia menatap lama ke wajah Fatah. Sebelumnya, dia lebih banyak mendengar suaranya dari balik hijab mesjid. Kalaupun bertemu, tidak ‘sedekat’ ini.
“Jenggoter kita patah hati, nih!” teriak mahasiswa lain yang sedang melihat Nanda dan Fatah dalam kebekuan.
Nanda ingin bicara, tapi tak tahu harus mengucap apa. Fatah yang pergi darinya pun, tak mampu ditahan langkahnya. Kali ini dia menangis. Merasa kehilangan Fatah, teman setia di aktivis dakwah.
Sebenarnya Nanda tahu apa yang akan terjadi jika dia menuruti keinginan ibunya. Bahkan keberaniannya datang ke kampus dengan pakaian minim, semata karena ingin ‘uji nyali’ sekaligus membiasakan diri tampail funky.
Nanda telah membulatkan tekad untuk menjadi model! Di balik tekad itu, dia punya rencana tersendiri untuk ibunya. Mungkin semacam dendam tapi itu terpaksa dilakukan setelah tersiksa oleh paksaan dan amarah ibunya.
Padahal dia boleh saja tak serius di audisi model yang diikutinya kemarin, tapi demi dendam itu dia berusaha menjadi yang terbaik. Hasilnya tentu saja menggembirakan, buat ibunya! Meski buat dirinya sangat menyakitkan. Nanda terpilih sebagai nominasi model yang akan masuk karantina dan dibimbing ke jalan glamour.
Nanda menangis saat ibunya memberinya senyum bangga dengan prestasi yang diraihnya. Sekian lama hidup dengan ibunya, tanpa ayah, bahkan tanpa materi berlebih, namun Nanda bahagia. Tapi kini…? Keberhasilan Dira menjadi model, bukannya membuat ibunya puas. Padahal cari apa lagi? Rumah sederhana yang dulu ditempati hidup kekurangan, kini telah ‘disulap’ Dira menjadi istana. Bahkan usaha jahitan telah berubah menjadi konveksi besar. Puas tetap tak teraih. Nanda jadi korban, menggadai iman demi keinginan ibunya.
***
Nanda tahu dendam itu dosa, apalagi jika rasa itu untuk orang yang telah melahirkannya. Tapi Nanda telah meniatkannya sejak dia luluh untuk meluruhkan jilbab dari tubuhnya. Baginya, bayaran perih hati saat dia terpaksa melepas jilbab, haruslah setimpal. Paling tidak memberi teguran pada ibunya yang materialis.
Popularitas di tangan kini. Model agency tempatnya terdidik, bukan hanya memilihnya sebagai juara kedua, namun juga sebagai pemenang favorit pilihan penggemar. Tapi sedikit pun Nanda tak berbangga, bencinya malah semakin menjadi.
Dan benci pun membuncah kini. Saat wajahnya telah terpampang di lembaran majalah remaja sebagai idola, pada hampir tiap sudut kota di papan iklan yang dibintanginya. Apalagi di televisi, hampir semua peran sinetron dilakoninya. Seperti niatnya dari awal, saat namanya telah melambung dan terikat perjanjian kontrak Production House, dia pun kembali ke habitat semula, sebagai jilbaber!
“Kamu gila, Nanda! Bukankah kamu telah terikat kontrak dengan iklan shampo, gimana surat perjanjian yang telah kamu tanda tangani dengan rumah produksi, peran kamu di sinetron sebagai gadis funky, tanpa jilbab! ” ibunya panik.
“Tapi perjanjian antara ibu dan Nanda, cuma sebatas jadi model…”
Kalimat Nanda terpotong oleh tamparan keras ibunya.
“Jangan anggap sepele! Rumah produksi bisa saja nuntut kamu miliyaran,”
“Kan ada denda kurungan, itu jika ibu tak mau merelakan harta yang ibu peroleh dari Dira, untuk kebebasan Nanda.”
Ibunya memelas, memaksa, juga menampar lagi. Tapi Nanda bergeming. Bahkan mengadakan jumpa pers tentang keputusannya meninggalkan dunia selebritis.
Bukan tak ada perih. Iba telah berubah menjadi ujung pedang yang mengiris-iris saat rumah, mobil dan usaha konveksi ibunya tersegel demi membayar denda pelanggaran surat perjanjiannya dengan rumah produksi. Iba bukan karena tak punya apa-apa lagi, tapi karena ibunya yang tiba-tiba shock, tak kuat menerima kenyataan yang mendadak berubah arah.
“Kamu nggak punya perasaan!” cecar Dira. “Bukan begini caranya membalas sakit hati pada ibu. Sebesar apa pun salahnya, apa susahnya melupakan, memaafkan. Atau karena jiwa kecilmu tak mampu mengingat perjuangan ibu menghidupimu tanpa ayah?
Salahkah dia punya mimpi setelah tidurnya tak kau nyenyakkan dengan tangismu di tengah malam? Minta disusui, digantikan popok!”
Nanda diam. Ujung jilbabnya telah basah air mata. Sementara ibunya terkulai lemas berjuntaian selang infus.
“Sebenarnya bukan saat kamu memilih untuk jadi model, kamu harus melepas jilbab. Tapi saat kamu membangun kebencian pada ibu, di situlah jilbabmu tak pernah pantas! Nanda, bukan kamu yang harus memberi teguran pada ibu, tapi Tuhan!”
Mendengar Dira mengucap kata Tuhan, sesal semakin menyiksa. Sedikit pun dia tak pernah meminta persetujuan-Nya lewat istikharah, saat dia memilih menjadi model. Begitu juga saat melepaskan bencinya lewat dendam, tak pernah sekali pun dia meminta petunjuk lewat doa, dia bertindak sendiri!
“Maafkan Nanda, Bu!”
Tubuh ibunya yeng terkulai, dipeluk lekat. Dibasahi dengan air mata penyesalan. Tubuh itu masih juga bisu, mendekati beku.
“Permisi!”
Pelukan Nanda terlepas. Matanya yang beralih ke asal suara membuat detak jantungnya berirama keras. Dia ingin bicara, menjelaskan pada petugas kepolisian yang datang, jika utangnya pada rumah produksi telah lunas dari hasil pelelangan harta ibunya, tapi mata petugas itu menatap tajam ke arah Dira yang membalas tatapan itu dengan gugup.
“Bisa ikut kami ke kantor?”
Dira tampak tak bisa mengelak. Seolah tahu jika dirinya bersalah. Nanda bisu, bingung, tak mengerti dengan pemandangan yang kini disaksikannya.
“Kak Dira!” desisnya tapi tak dipeduli.
Nanda ingin mengikuti langkah Dira yang dikawal petugas kepolisian, tapi ibunya yang mulai menggerakkan jari, setelah seharian hilang dari kesan kehidupan, memaksanya tinggal dan menemani ibunya.
“Maafkan Nanda, Bu! Nanda menyesal. Aku keterlaluan! Ibu mau memaafkanku, kan?”
Pejaman mata ibunya terbuka sejenak lalu tertutup lagi. Dia ingin membuka mata untuk Nanda, tapi terlalu berat. Kelopaknya menyimpan tangis. Korneanya merindukan sosok Nanda yang anggun dengan jilbabnya. Tapi rindu itu tertahan oleh sesal yang telah membedakan kedua puterinya, hanya karena profesi. Kelopak basah kemudian! Jemarinya mengenggam jari Nanda yang menjabatnya. Erat sekali!
“Nanda, Ibu yang salah…” serangkai kalimat terucap akhirnya.
Nanda menggeleng. Tapi ibunya membuka mata, menatap layu pada Nanda yang masih dibasahi tangis. Tatapan yang meminta Nanda menyerahkan semua kesalahan padanya. Baginya, tak cukup dengan sesal. Harta dan dendam pada suaminya telah membuatnya berpaling dari Tuhan, bahkan memaksa puterinya merintis jalan setapak, di antara duri. Kenyataan kini membuatnya sadar, mengingat kematian yang sekian lama luput dari ingatannya.
“Dira ke mana?”
Bergetar bibir Nanda menerima pertanyaan itu. Tangisnya terhenti, berganti kemirisan. Tentu saja tak tepat menceritakan apa yang baru saja terjadi pada Dira, meski sebenarnya dia pun tak tahu apa yang membuat Dira dijemput petugas kepolisian.
“Kak Dira ada syuting katanya,”
“Ibu ingin memeluknya. Ibu rindu,” katanya sambil meraih remote tv dan meng-on-kan.
Wajah Dira memang ada di layar kaca, tapi tak seperti biasanya. Kali ini wajahnya hadir di acara infotainmen dan menampilkan sosoknya sebagai tersangka pengedar dan pengguna drugs.
Mata Nanda tak betah menatap layar tv. Tatapnya beralih ke arah ibunya. Dia takut, akan terjadi apa-apa pada ibunya menyaksikan kenyataan baru, yang jauh lebih pahit.
“Ibu sedih. Perih! Tapi tak rapuh. Kuharap Dira bisa mengambil hikmah dari kejadian yang menimpanya, seperti ibu yang kini tak bisa membedakan posisi kalian, hanya karena warna …”
Nanda melabuhkan peluknya, menumpahkan tangis di tubuh ibunya yang berusaha setegar mungkin. Dalam pelukan itu, meski perih yang akan mengikuti jejak goresan penanya, dia tetap tak sabar ingin meraih pulpen, lalu bercerita panjang.
Kutulis kisahku, pada karang dengan jari telanjang! batinnya membayangkan kalimat pembuka cerpennya, setelah sekian lama tak menulis.
***






lanjutan cerita......

SIMPAN UNTUKMU SENDIRI


SIMPAN UNTUKMU SENDIRI
Oleh: S. Gegge Mappangewa

SETIAP ke rumah Andien, benakku selalu dilumuti tanya. Tanya yang kusimpan sendiri karena tak ingin, juga takut jika setiap pertanyaanku berkesan menyelidik. Barang-barang mewah, foto keluarga, dan juga rumah megah, seolah sebuah jejak sidik masa lalu Andien.
Andien yang di sekolah periang, seolah tanpa beban apa pun, tapi setiap kudapatkan di rumah, dia tak lebih hanyalah mayat hidup. Kalau pun tertawa atau melayaniku cerita, itu tak lebih hanya peran yang harus dilakonkannya sebagai tuan rumah.

Tapi syukur, setahun berteman dengannya, aku sudah bisa menemukan satu jawaban dari seribu pertanyaan yang selalu hadir di benakku. jawaban itu diperdengarkan untukku tanpa kuminta. Mungkin curiga jika setiap kunjunganku berkesan cari tahu, akhirnya dia buka mulut jika rumah yang ditempatinya, cuma rumah kontrakan!
“Rumah kontrakan?”
Mataku terbelelak. Jelas saja aku heran, cewek seusia Andien. Kelas satu SMA! Memilih rumah kontrakan semegah ini? Taman yang luas, dua lantai, ruang tamu dipajangi foto keluarga, peralatan dapur yang komplit! Apa nggak sebaiknya, cukup dengan tinggal di tempat kost dengan kamar yang luas, lalu dipasangkan AC, plus home theater jika perlu! Daripada harus pilih rumah yang lebih cocok untuk orang berkeluarga seperti ini.
“Mama yang menginginkan ini, Ririn!” ucapnya saat membaca keherananku.
“Tapi kamu nggak takut tinggal sendiri di rumah luas seperti ini, kenapa nggak sekalian cari pembantu untuk membantumu merawatnya?”
Dia menggeleng pelan. Lalu bercerita jika sejak kecil dia ditempa menjadi cewek yang mandiri. Masa SD pun nggak pernah merepotkan harus diantar dan dijemput dari sekolah. Dia berangkat dengan tukang becak langganannya. Pernah tukang becak langganannya berhalangan, tanpa takut dia ikut menunggu di halte. Bertanya pada semua orang trayek bis menuju rumahnya.
Mendengar semua itu, giliranku menggeleng tak percaya. Aku pikir dia mengada-ada. Tapi pikiran salahku itu cepat dibenarkan oleh kenyataan yang kulihat selama ini. Andien yang bisa memimpin ratusan siswa sebagai ketua Osis, ketua panitia di setiap acara sekolah. Anehnya, sebagai pemimpin dia tak pernah mengandalkan telunjuknya untuk menyelesaikan tugas-tugasnya. Dia sendiri yang turun tangan, kalau pun harus menyuruh, kalimatnya tak lebih hanyalah permintaan. Bukan menyuruh apalagi memerintah!
Andien memang terkenal sopan. Bicara dengan teman sekolah pun, seolah berhadapan dengan guru. Bertutur sambil senyum, menunduk sesekali jika perlu!
Aku sendiri ngeri jika harus membayangkan diriku akan seperti Andien. Bukan takut tinggal sendiri di rumah semegah ini. Aku malah takut kehilangan masa yang seharusnya kunikmati. Andien yang seharusnya hanya ‘dibebankan’ oleh tugas sekolah demi mempertahankan peringkat kelas yang memang tak pernah dilepaskannya, juga harus berperan sebagai ‘ibu rumah tangga’ yang merawat rumah.
Andien seolah terkarbit. Meski usia dan wajahnya masih muda, tapi isi kepalanya terlalu tua. Pesta adalah foya-foya, menghambur uang, uang lebih baik ditabung demi keperluan mendadak daripada jalan ke mal tanpa tujuan yang jelas, dan entah prinsip apalagi yang selalu dipertahankannnya. Prinsip yang seharusnya ada pada wanita berkeluarga. Bukan pada Andien yang masih kelas satu SMA!
Meski begitu, Andien bukanlah pelit. Butuh uang berapa tinggal bilang, Andien tak pernah keberatan untuk meminjamkan. Bahkan kegiatan sosial yang diadakan sekolah pun, dia sering mengeluarkan uang pribadi untuk menambah besarnya dana yang akan disumbangkan. Ya, selama itu bukan urusan foya-foya, adalah sah-sah saja menurut Andien.
Belum sejam cerita dengannya, sebuah Nissan Terrano masuk di pekarangan.
“Mamaku datang, Rin!”
“Kamu baik-baik saja, Andien?”
Andien mengangguk! Kecupan wanita itu kemudian mendarat di kening Andien, tanpa sempat merapikan poninya dulu. Ya, tanpa sempat! Dengan langkah tergesa masuk ke dalam rumah. Dari pintu, kulihat dia masuk di kamar yang membelakangi ruang tamu. Andien membuntutinya setelah pamit sebentar denganku.
Saat pamit tadi, ada yang lain di tatapan Andien. Mungkin malu melihat perlakuan mamanya yang sedikit pun tidak menghargaiku sebagai tamu. Jangankan menyapaku, senyum pun tidak. Hanya ekor matanya yang tertuju padaku, melirik seolah mencari tahu, teman bergaul Andien seperti apa.
Tak cukup seperempat jam, Andien dan mamanya keluar. Masih dengan langkah tergesa.
“Kamu baik-baik ya, Sayang!”
Andien menerima kecupan lagi. Bukan sekali! Tubuh mungil Andien pun, didekapnya erat. Rindu di mata anak beranak itu jelas sekali kulihat. Aku berdiri menghampiri saat pelukan mereka terlerai, tapi yang kudapat hanya senyum tanda pamit. Hanya itu!
“Maaf jika mamaku kurang menganggapmu ada. Dia buru-buru sekali! Dia hanya transit di sini, pesawatnya akan berangkat lagi jam satu siang. Dia khawatir ketinggalan pesawat!”
“Memang dari mana?”
“Belum tahu, mama dan papaku tinggal di Yogya? Dia habis mengunjungi anak perusahaan yang ada di Kawasan Industri!”
Perlahan, akhirnya aku banyak tahu tentang Andien. Pikirku selama ini dia orang Makassar. Tapi entah kenapa, tetap saja ada yang mengganjal di pikiranku. Seolah Andien semakin menyembunyikan sesuatu untukku, setiap dia mengungkap cerita tentangnya.
“Itu foto waktu aku masih kelas enam SD,” ucapnya sambil mendekatiku yang sedang melihat foto keluarga yang tergantung di ruang tamu.
“Kamu anak tunggal?”
Kali ini Andien cuma mengangguk, padahal di mataku, ada yang ingin terucap di bibirnya. Saat seperti itulah aku merasa ada yang tersembunyi di balik diri Andien. Mungkin curiga aku melihat perubahan di wajahnya, dia kembali bercerita banyak tentang dirinya. Cerita yang semakin membuatku ingin tahu lebih banyak lagi tentangnya.
“Aku memang sering ingin punya saudara, tapi Mama dan Papa yang sibuk lebih mengutamakan karir. Jangankan berpikir untuk punya anak lagi, aku saja yang sudah ada seolah tak pernah terpikirkan!”
Aku menepuk bahunya. Meski tak menangis mengucap kalimat itu, kutahu ada yang tergores di balik dadanya. Menyesal juga, aku terlalu ingin tahu tentangnya.
Giliranku untuk bercerita. Memberinya semangat, memintanya bersyukur dengan keadaannya sekarang. Aku pun heran, aku tiba-tiba seperti orangtua yang menasihati anaknya, saat memintanya membuka mata jika dia masih lebih baik ditelantarkan dalam kemewahan. Ada bahkan banyak orangtua yang menelantarkan anaknya di jalanan karena memang tak punya materi untuk menyayangi mereka, atau mungkin juga memang tak ada kasih sayang. Semua harus disyukuri!
Andien menangis di pelukanku. Untuk pertama kalinya aku merasa sangat berarti buat Andien. Selama ini dia selalu merasa tak butuh bantuan. Segalanya bisa diatasi sendiri. Tapi kini tangis yang disimpannya sendiri selama ini, kini dibagi untukku.
***
Seharian di mal membuatku memilih istirahat di kafe lantai dasar. Baru saja kurapatkan duduk, suara anak kecil yang kira-kira masih di bangku SD, menggelitikku untuk balik ke meja yang ada di sampingku. Sejenak mataku terpaku di meja yang dikelilingi oleh beberapa orang, termasuk anak kecil yang merengek dan memanggil papa pada lelaki yang duduk di sampingnya.
Aku tak mungkin salah lihat, meski wajahnya hanya kusaksikan di foto, aku yakin lelaki itu papa Andien. Lalu anak kecil itu, juga wanita yang dipanggilnya mama? Aku mengerutkan kening, wanita itu bukan mama Andien yang kulihat kemarin.
Aku cepat keluar sebelum memesan apa-apa di pramusaji kafe. Andien harus tahu jika papanya punya wanita simpanan. Bukan sibuk kerja seperti alasannya selama ini. Pulsaku yang habis semalam dan belum sempat kuisi ulang memaksaku mencari wartel.
Selangkah sebelum masuk wartel, mataku mendapatkan pemandangan yang semakin ‘mengerikan’. Ini pasti mimpi buruk buat Andien. Mamanya sedang berpegang pada lengan seorang lelaki seusianya. Tak hanya itu, juga seorang anak kecil berada di antara mereka. Bahkan sedang melangkah menuju kafe yang tadi ditempati papa Andien dan keluarga simpanannya.
Beginikah kesibukan mereka selama ini? Tapi kenapa harus di sini, bukankah menurut pengakuan Andien, mama dan papanya tinggal di Yogya?
Andien harus tahu, aku tak boleh membiarkan dia dibohongi terus oleh orangtuanya. Tak peduli itu melukakan buat Andien, aku tak ingin menyimpan kenyataan ini sebagai rahasia.
“Ririn!”
Belum sempat aku berbalik memenuhi panggilan itu, lenganku telah ditarik menjauh.
“Andien?”
“Kamu sudah lihat semuanya, kan? Kuharap kamu jangan bercerita pada siapa pun di sekolah. Aku malu!”
Andien tertunduk menahan tangis karena sadar jika dia sedang di tengah keramaian mal.
“Aku bukan orang Yogya! Rumah yang kutempati bukan rumah kontrakan, Ririn. Rumah itu diwariskan untukku sejak lulus SD. Diwariskan karena mama dan papa memilih cerai.”
Kutarik lengan Andien, tangisnya semakin tak bisa ditahan. Lebih tak bisa ditahannnya lagi, beban yang kini menghimpit dadanya. Saat merapatkan duduk di jok mobilku, dia langsung melanjutkan ceritanya di antara isak.
Aku seperti kehilangan konsentrasi menyetir saat mendengar semuanya. Tentang Andien yang tiap hari Minggu ke mal mencari mama dan papanya. Dia tahu sekali jika mama dan papanya sengaja ke kafe tadi, untuk saling membuktikan bahwa mama maupun papanya bisa bahagia dengan keluarga barunya.
Andien hanya bisa melihat wajah mama dan papanya dari jauh. Bersebelahan meja tanpa tegur sapa! Ya, hanya untuk memanas-manasi, saling membuktikan kebahagiaan mereka! Dan tentu saja Andien tak boleh mendekat, karena keluarga mamanya, juga keluarga papanya tak pernah mengharapkan kehadirannya.
Hanya sebulan tinggal bersama mama tirinya, papa memintanya pulang ke rumah karena selalu menjadi penyebab pertengkaran dengan isteri barunya. Mamanya lebih parah, bukannya mengajak bergabung, malah menghadiahinya rumah warisan asal tak ikut dengannya, karena suami barunya tak ingin ada Andien dalam rumah.
Semua mencari kebahagiaan sendiri sejak Andien masih kelas satu SLTP. Andien harus sendiri! Sendiri menentukan hidup, sendiri mencari bahagia. Termasuk mengintip kebahagaiaan keluarga mama dan papanya yang baru. Karena melihat mama dan papanya, dari jauh pun, adalah kebahagiaan tersendiri buat Andien.
“Semua kusimpan sendiri, Ririn! Bahkan mencari pembantu pun di rumah aku nggak mau karena nggak ingin ada yang tahu rahasia ini. Sekarang kamu terlanjur tahu. Simpan rahasia itu demi aku, Ririn! Kumohon!”
Aku tak tega membiarkannya memelas seperti itu di depanku. Aku berjanji akan tetap menjadi Ririn yang dulu. Sahabat yang tak pernah tahu apa pun tentang Andien. Akan kubiarkan dia menyimpan rahasia itu untuknya tanpa pernah menyingkapnya. Tapi tangisnya, takkan kuijinkan dia menyimpannya sendiri.
***


lanjutan cerita......

Market Day


MARKET DAY
Oleh: S. Gegge Mappangewa
18 April 2009. Sekolah tempatku mengajar menggelar acara Market Day. Siswa membawa barang jualan dari rumah, kemudian digelar di bawah tenda biru yang dipasang di lapangan depan sekolah. Ramai sekali. Sepertinya mereka semua berbakat jadi pedagang!
Di tengah suasana Market Day, saya teringat pasar di kampungku, pasar Bilokka namanya. Karena kampung, tentulah pasar tak bisa buka tiap hari. Lalu muncullah istilah esso pasa atau market day. Hari pasar di kampungku adalah Senin, Rabu, Jumat. Sebagai pasar kecamatan, tentu saja pasar inilah yang paling ramai di antara pasar desa lainnya.


Dan ada hal yang tak akan pernah bisa kulupakan jika teringat dengan hari pasar di kampungku. Dulu, setiap pulang sekolah di hari Senin, Selasa dan Rabu, saya selalu didera penasaran sepanjang perjalanan. Mencoba menebak, apa menu makan siang hari ini? Paserre bale janggo’ (ikan janggo’ bakar) atau hanya tunu bale rakko (ikan asin bakar)? Kalau sayurnya, tak usah ditebak. Ibu tak pernah beli sayur-sayuran di pasar. Ibu selalu memanfaatkan pematang sawah untuk ditanami sayur-sayuran, jadi saya selalu bisa menikmati sayur hijau bening setiap harinya. Saking melimpahnya sayur, jenis sayur setiap sarapan, makan siang, dan makan malam, selalu berganti. Meski tidak berganti jenis tapi ibu selalu menghidangkan sayur hangat yang baru diangkat dari atas tungku perapian. Bukan dihangatkan, Tapi benar-benar hangat karena baru dimasak.
Back to esso pasa. Karena hari pasar hanya tiga kali sepekan, tentulah untuk menikmati menu ikan segar hanya di hari pasar. Apalagi saat itu di rumah panggung kami belum ada kulkas, bisa dipastikan di hari Selasa, Kamis, Sabtu, dan Ahad, ibu akan menghiasi nampang bundarnya dengan ikan asin atau bahkan hanya telor dadar penghasil protein satu-satunya.
Itu kenangan tentang hari pasar saat masih sekolah dulu. Sekarang…? Masih seperti itu. Hari pasar di kampungku masih tiga kali sepekan. Tapi tentu saja perjalanan pulang sekolahku tak lagi didera penasaran, bukan semata karena saya tidak berstatus pelajar lagi, tapi karena saya tak lagi tinggal di kampung. Bukan berarti tak ada lagi kenangan yang bisa kusimpan di memoriku tentang hari pasar. Banyak sekali! Setiap pulang kampung, saya masih selalu didera penasaran. Mencoba menebak menu apa yang akan dihidangkan ibu untukku? Meski ibu telah punya kulkas yang bisa dijadikan gudang untuk ‘menimbun’ sembako’ segar (terutama ikan), saya masih lebih senang dengan menu di hari H pasar. Ikannya segar sekali! Dan ibu tahu sekali jika saya senang sekali dengan ikan mujair. Setiap dia tahu saya akan pulang menemuinya, bisa dipastikan menunya adalah ikan mujair.
Biasanya, di hari H pasar, pagi-pagi sepulang pasar dia akan membakar ikan mujair! Dia memilihkan yang paling besar untukku. Lebarnya biasa sampai delapan jari orang dewasa. Dilepas sisiknya, kemudian bagian tubuh ikan diiris agar bumbunya meresap. Setelah matang, ibu membumbuinya dengan ulekan cabe, tomat campur kemiri atau kacang…. Hmmmm menu yang disebut paserre’ bale ini membuatku biasa lupa dengan siapa pun. Bahkan ayah yang belum pulang dari sawah biasa tak kusimpankan. Satu ekor utuh untukku! Yang tersisa tinggal tulang. Bahkan, insangnya pun kadang tak bisa lari menghindar dariku. Biar nggak kekenyangan, makan nasinya kukurangi.
Siangnya makan apa ya? Tentu saja ibu tahu kalau setiap pulag kampung, saya paling lama dua hari, jadi siangnya masih menghidangkan ikan mujair untukku. Tapi bukan paserre bale lagi. Kali ini saya akan ‘berhadap-hadapan’ dengan ikan masak. Masih dengan mujair berukuran all size. Saking besarnya kuah ikan masak ibu biasa berminyak. Karena ikan air tawar, jangan harap akan ada bau amis. Saat memasak ikan air tawar ibu menggunakan asam mangga, kalau untuk ikan laut dia menggunakan asam jawa. Kedua asam ini, ibu tak pernah beli. Setiap musim mangga, mangga kecil yang biasanya jatuh sebelum berbiji, ibu pungut kemudian dijadikan asam. Kalau asam jawa, kebetulan tak jauh dari rumah ada pohon asam yang selalu berbuah lebat.
Biasanya, kalau menunya ikan masak, ibu biasa mendampingkannya dengan ronto’, sejenis udang kecil yang masih mentah yang biasa dibuat ebi. Saking segarnya ronto’ nya biasa masih lompat-lompat di mangkok lauk di antara bumbu sambel yang dicampurkannya. Di restoran manapun, tak akan pernah mendapatkan menu seperti ini. Dan tentu saja kenikmatan seperti itu hanya bisa kudapatkan di meja makanku.
Sayurnya? Masih seperti dulu! Kalau bukan dapat di pematang sawah, ibu memetiknya dari halaman rumah yang selalu ditanaminya terong, pare, dan lain-lain. Biasanya, karena tak mau kekenyangan, bukan hanya nasinya yang kukurangi, makan sayurnya pun saya batasi. Nanti sejam setelah makan, baru saya mengambil semangkok sayur lalu memakannya seperti makan sup.
Ingat menu hidangan ibu, saya terkenang dengan sahabat-sahabat saya yang pernah mampir di rumah. Mereka semua ketagihan dengan menu ikan bakar ibu. Itu kalau mereka datang di hari pasar. Kalau nggak, ayah akan mengusulkan ayam kampungnya yang ada di kandang di bawah rumah panggung kami. Karena bagi ibu dan ayah, tamu adalah pembawa rejeki. Harus diistimewakan.
Saat mau kembali ke Makassar, kalau bukan hari pasar, pagi-pagi sekali ibu menyuruhku ke pasar kecamatan sebelah. Tentu saja untuk mencari ikan mujair. Dan ikan mujair itu akan dia pepes. Dibakar tanpa bersentuhan langsung dengan api, tanpa disisiki. Menu seperti ini namanya tapa bale. Biasanya bertahan lama karena tidak langsung diberi bumbu atau sambal. Biar nikmatnya tak berkurang, ibu tetap membuatkan sambal untukku kemudian dia bungkus dengan daun. Tiba di Makassar, buah tangan ibu akan menjadi santapan lezat. Warung dan restoran lainnya…? Nggak dapatt!!!
22 April 2009, SD Mulia Bakti, menunggu siswaku selesai Olimpiade Sains

lanjutan cerita......

BERAWAL DAN BERAKHIR DI MEJA MAKAN


BERAWAL DARI MEJA MAKAN
Oleh: S. Gegge Mapangewa
Jakarta, 17 Maret 2009. Bis bandara mengantarku ke terminal Lebak Bulus sekaligus mengantaku menelusuri sebuah lorong di hatiku. Lorong sunyi masa lalu. Lorong yang menyimpan memori saat enam tahun yang lalu saya menginjakkan kaki di ibukota ini. “Jakarta, I’m coming again!” Sebuah suara menggema di lorong sunyi itu.

Tak ada yang istimewa di bis ini. Meski David Chalik, sang bintang sinetron, hadir satu bis denganku. Dia boleh jadi tokoh utama di sinetron, tapi kali ini nasibku lebih mujur daripada dirinya yang berdiri di depanku karena tak mendapat tempat duduk.
***
Tiba di lokasi training menjelang maghrib. Penat. Lelah. Registrasi secepatnya lalu masuk kamar. Saya ingin sekali isitirahat tapi tentu saja itu tak mungkin, teman sekamar harus kusapa. Sekamar dengan peserta dari Maluku Utara dan Kalimantan Selatan.
Saatnya bergabung dengan peserta lain. Dari meja makan ini kisah berawal. Setelah dipertemukan dengan teman sekamar, kali ini dipertemukan dengan teman semeja makan. Jabat tangan sebut nama. Soleh dari Banten. Barma dari Lampung. Munawar dari Sulbar. Dan saya, Gegge dari Sulsel. Dan siapa sangka, breakfast, lunch dan dinner berikutnya, kami selalu saling mencari untuk satu meja makan. Bahkan untuk menerima materi pun, sering duduk bersebelahan. Hingga perpisahan itu datang merenggut kisah yang sering kami bagi di meja makan.
Soleh dan Munawar yang sudah beranak pinak selalu memberi motivasi menikah. Barma yang pelantun nasyid ternyata sebelumnya adalah penyanyi elekton yang biasa manggung di tempat terbuka. Dan saya yang ketahuan sebagai penulis, selalu dimintai ‘materi kepenulisan’ saat ngumpul. Saya dan Barma selalu jadi bulan-bulanan sindiran karena belum menikah. Bahkan beberapa nama sempat disebutkan untukku segampang itukah memiliih pasangan hidup?
***
Hari terakhir. 21 Maret 2009. Kami satu meja makan lagi. Saya membagikan novel terbaruku (Cupiderman 3G) untuk mereka bertiga. Ternyata keakraban yang berawal di meja makan itu akhirnya berakhir juga di meja makan. Saya, dan kuyakin juga mereka menyimpan rindu di hati masing-masing. Kesibukan membuat kami tak bisa mencurahkan rindu meski hanya sekadar smsan.
Semoga ada meja makan yang akan mempertemukan kami kembali. Amin! Ya, selain kami berempat, peserta dari semua propinsi itu kini terikat dalam ikatan GEMPITA (Generasi Muda Pembina Insan Berprestasi). Sebuah amanah yang tak ringan tapi insya Allah imbalannya juga tak ringan! Allahu Akbar!!!***(Kenangan Training Of Trainer Kebijakan Kepemudaan dalam rangka Penanggulangan Faktor Destruktif)






lanjutan cerita......

27.4.09

KUTERIMA KEKALAHAN INI

Kuterima Kekalahan Ini
Oleh : S. Gegge Mapangewa
Hari ini aku kalah lagi. Semakin aku mencari kekurangan Intan, dia semakin menampakkan kilauannya. Aku tanpa aksi. Menunggu reaksi otakku, untuk menyuruhku pergi meninggalkan tempatku berdiri. Tapi mataku semakin asyik melihat pemandangan yang begitu menakjubkan. Kuperhatikan lagi nomor dan blok-nya, tetap saja aku tak salah. Rumah megah yang kini di depanku adalah rumah Intan.
KUTERIMA KEKALAHAN INI
Oleh: S. Gegge Mappangewa

AKU benci Intan. Setiap sikapnya, semua ulahnya, seolah ingin menunjukkan padaku, jika dia yang terhebat di sekolah ini. Seakan dia tak pernah memperhitungkan keberadaanku. Atau dia memang tak tahu siapa aku sebenarnya? Rupanya dia harus kuberi tahu siapa aku sebenarnya, dengan caraku sendiri!
Aku memang banyak diam. Terlebih, Intan beda kelas denganku, hingga dia tak tahu jika pada setiap ulangan harian, untuk mata pelajaran apa pun, aku tak pernah dapat nilai di bawah sembilan. Dan itu bukan hasil nyontek. Setiap guru yang masuk, acungkan jempol untukku karena setiap pertanyaan yang tak terjawab oleh siswa lain, kuselesaikan dengan baik. Lalu, mengapa orang-orang di sekolah ini lebih menjagokan Intan?
Sekali lagi. Aku banyak diam! Dari hasil curi dengar, teman-teman kelasku enggan menggosipkan kehebatanku, apalagi membanding-bandingkanku dengan Intan, karena aku seolah tak butuh promosi kehebatan serupa itu. Awalnya memang tidak! Tapi melihat Intan yang selalu senyum penuh kemenangan, seolah menantang kehebatanku, membuatku tak bisa tinggal diam.
“Kalau bukan karena lupa menyamakan satuannya, ulangan Fisika-ku dapat sepuluh lagi,” ucap Intan tanpa ditanya, di tengah keramaian kantin.
Entah ingin memperdengarkan untukku atau tidak, yang jelas aku dengar dan merasa diri telah dipanas-panasi. Aku mencibir.
“Aku dapat delapan, sudah syukur!” timpal Arin tanpa pernah menghentikan aksinya menyantap bakso pesanannya. “Oh ya, kalo di kelas kamu, Put? Ada nggak yang dapat sepuluh?” lanjutnya, kali ini dengan menerbangkan tatapan ke arahku.
Kantin tiba-tiba sepi. Kuyakin semua mata ke arahku. Menunggu jawaban. Kubiarkan mereka dalam penasaran panjang, sambil meraih lembaran jawaban Fisika yang kebetulan kulipat dan kusimpan di saku bajuku.
“Tadi aku nggak sempat lihat, aku dapat berapa?” bohongku. Jelas-jelas bola mataku meloncat kegirangan saat kulihat angka sepuluh di lembar jawabanku tadi. ”Aku nggak permasalahkan mau dapat berapa, yang penting saat ulangan, aku merasa bisa menyelesaikan semua soal tanpa melakukan kesalahan kecil.”
Kesalahan kecil yang kumaksud itu, untuk memanas-manasi Intan yang lupa menyamakan satuan angka hitungannya. Kulihat muka Intan membiaskan kecewa. Kuharap dia sadar, jika di sekolah ini ada yang lebih hebat darinya, aku. Putri!
“Ternyata, aku dapat sepuluh!”
Beberapa siswa berkerumun ke arahku, untuk melihat lembar jawabanku. Intan tentu saja mematung. Selama ini aku memang banyak diam, membiarkan dia menikmati kemenangannya. Sekarang, giliran dia yang harus bungkam, jika itu untuk pamer prestasi di depanku.
Aku paling tak suka dengan kebanggaan yang berlebih, karena kupikir itu sinonim dengan kesombongan. Bagiku, biarkan orang lain yang menilai. Tak usah banyak bicara, hingga harus memamerkan semua keberhasilan.
Hingga detik ini, aku lebih percaya pada ungkapan bahwa; orang yang paling banyak bohongnya adalah orang yang banyak bicara tentang dirinya sendiri. Mungkin Intan orangnya. Hampir di setiap kesempatan mengkampanyekan diri. Aku jadi enek. Dan kuharap ini kali terakhir dia berulah. Jika tidak, untuk kesekiankalinya pula dia akan kupermalukan.
***
Rupanya, kejadian di kantin itu, bukannya membuat dia merasa kalah. Bahkan lebih menggila. Jujur saja, aku jadi gemetar! Merasa telah menemukan saingan, yakni aku, semangat Intan semakin menyala. Semangat untuk mengkampanyekan diri, sekaligus semangat belajar.
Setelah dua malam yang lalu aku kurang tidur karena PR Kimia yang menurutku tingkat kesulitannya tinggi, kini dia mengibas-ngibaskan buku PR-nya di kantin yang telah mendapat paraf dan nilai sepuluh dari Pak Hamran. Aku yakin, untuk kali ini nilai setinggi itu tak bisa kugapai. Untungnya, pelajaran Kimia di kelasku, nanti di jam terakhir. Aku masih punya waktu untuk menyembunyikan kekalahan.
Tak hanya sampai di situ. Begitu bel tanda masuk, Bu Dian mengawali pelajaran bahasa Inggris-nya dengan berita menyakitkan.
“Dari hasil seleksi, Intan dari kelas IB yang berhak ikut debat bahasa Inggris, mewakili sekolah kita.”
Semua mata tertuju ke arahku. Teman-teman kelas memang banyak menjagokan aku. Bu Dian seolah mengerti arti tatapan yang menghujan ke arahku.
“Memang, grammar dan vocabulary Putri sedikit lebih di atas dari Dian. Tapi Putri kalah jauh dalam hal pronunciation. Karena ini untuk lomba debat bahasa Inggris, pronunciation sangat dibutuhkan kefasihannya. Intan lebih bisa untuk itu!”
Tanpa sadar aku bersandar di bangku. Aku butuh penopang, tiba-tiba. Intan yang ingin kutaklukkan, kini disanjung-sanjung di depanku. Perjuanganku untuk menunjukkan pada Intan, tentang siapa aku sebenarnya, berakhir kini. Ya, inilah aku yang sebenarnya. Putri sang pecundang!
Di atas langit, masih ada langit. Aku sadar itu. Tapi aku seperti tak bisa menerima jika Intan yang ada di atasku. Aku tak suka dengan gayanya yang selalu pamer keunggulan. Andai saja, Intan tak sok pamer seperti itu, aku tak punya hak untuk iri, setinggi apa pun prestasinya.
Kekalahan kali ini, adalah sebuah PR untukku. Ini tak boleh dibiarkan berlanjut terus. Aku harus ubah strategi, setelah gagal menunjukkan siapa diriku yang sebenarnya di depan Intan. Giliran Intan yang harus kucari tahu, tentang siapa dia yang sebenarnya. Mungkin ada sisi negatif tentang dirinya, yang bisa kuangkat untuk mempermalukan dirinya. Bukan untuk melumpuhkan dia, bagaimana pun aku telah mengaku kalah dalam hal prestasi. Aku cuma ingin dia mengurangi kebanggaannya yang terlalu berlebih. Aku ingin dia menyadari dan mau mengakui kelemahannya, bukan hanya tahu pamer keunggulan.
Aku yakin, di balik keunggulan dan kehebatan yang selalu dipamerkannya, dia pasti menyembunyikan sebuah kelemahan. Orang sombong hanyalah orang yang menutup-nutupi kekurangannya. Aku yakin itu!
***
Hari ini aku kalah lagi. Semakin aku mencari kekurangan Intan, dia semakin menampakkan kilauannya. Aku tanpa aksi. Menunggu reaksi otakku, untuk menyuruhku pergi meninggalkan tempatku berdiri. Tapi mataku semakin asyik melihat pemandangan yang begitu menakjubkan. Kuperhatikan lagi nomor dan blok-nya, tetap saja aku tak salah. Rumah megah yang kini di depanku adalah rumah Intan.
Keunggulan Intan bertambah lagi. Cantik, pintar, dan detik ini harus kuakui kalau dia anak orang kaya. Padahal, saat mencari alamat rumahnya, aku berharap, akan mendapatkan gubuk reot dan kumuh. Lalu akan kuumumkan di sekolah jika Intan yang sok pamer itu, hanyalah orang comberan. Tas dan sepatu mahal yang dipakainya, hanya dari hasil mengemis orangtuanya, dan banyak bayangan hitam lagi tentang Intan, yang detik ini tak satu pun terbukti. Intan benar-benar intan yang tergosok sempurna.
“Cari siapa, Nak? Temannya Non Intan, ya?”
Aku mengangguk gugup. Pembantu itu membukakan pintu pagar, tanpa kuminta. Padahal aku ingin pergi.
“Mari silakan masuk. Non Intan lagi ikut lomba…”
Pembantu tua itu sedang mencari-cari kata untuk lanjutan kalimatnya. Dasar pembantu, dia pasti lupa dengan lomba debat bahasa Inggris yang diikuti Intan.
“Nggak tau deh lomba apa, yang jelas ada bahasa Inggris-nya.”
Aku tersenyum geli melihat tingkahnya. Aku ingin mengambil langkah pulang, tapi pembantu itu menarik lenganku. Memaksaku masuk.
“Tunggu aja! Non Intan nggak lama kok, katanya! Temanin saya cerita ya! Rumah lagi sepi.”
”Papa dan mama Intan ke mana?”
Wanita setengah baya itu, menarik napas panjang.
“Jadi kamu nggak tau kalau mama Non Intan sudah meninggal?”
Aku menggeleng. Kali ini napas wanita yang sudah membekaskan keriput di wajahnya, terasa berat. Mungkin seberat beban yang harus Intan pikul selama ini. Darinya, kutahu kisah yang tak seharusnya aku tahu. Kini aku mengerti, mengapa Intan selalu berkesan pamer keunggulan.
Di rumahnya, Intan hanya diberi tumpangan hidup. Tanpa kasih sayang. Papa dan ketiga kakaknya, tak pernah memperhatikan dia. Bahkan sesekali memperlakukannya kasar. Persoalannya sepele, bahkan bagiku tak masuk akal. Kelahiran Intan dianggap membawa sial karena mamanya meninggal bersamaan dengan kelahiran Intan.
Intan atau siapa pun pasti tak ingin mamanya meninggal, tak wajar memikulkan beban pada Intan hanya karena takdirnya yang lahir dengan membawa kematian buat mamanya.
“Intan dari kecil selalu cari perhatian. Tapi papanya cuek bahkan sering memarahinya. Rapor Intan, jika bukan untuk ditandatangani, jangan harap akan disentuh papanya. Padahal Intan ingin papanya tahu jika dia dapat nilai bagus.”
Aku pamit sebelum Intan datang. Bukan tak berani melihat wajah cerianya, pulang membawa keberhasilan dari lomba debat bahasa Inggris. Aku tak ingin Intan tahu kecemburuanku selama ini. Keluar dari pintu gerbang, aku menoleh lagi ke rumah Intan. Sulit dipercaya, di dalam rumah megah nan luas itu, ada penghuninya yang berpikir picik, dengan menganggap Intan sebagai anak pembawa sial.
Aku tak menemukan itu sebagai kekurangan pada diri Intan. Tapi sebaliknya, Intan memang pemenang yang tak pernah bisa terkalahkan. Tak banyak, bahkan mungkin hanya Intan seorang, yang mampu mengukir prestasi di antara orang-orang terdekat yang sama sekali tak pernah mendukungnya. Aku memang bukan sahabat, bukan teman dekat, tapi aku akan mengacungkan jempol untuk Intan, tanpa merasa dikalahkan.***



lanjutan cerita......