28.4.09

SIMPAN UNTUKMU SENDIRI


SIMPAN UNTUKMU SENDIRI
Oleh: S. Gegge Mappangewa

SETIAP ke rumah Andien, benakku selalu dilumuti tanya. Tanya yang kusimpan sendiri karena tak ingin, juga takut jika setiap pertanyaanku berkesan menyelidik. Barang-barang mewah, foto keluarga, dan juga rumah megah, seolah sebuah jejak sidik masa lalu Andien.
Andien yang di sekolah periang, seolah tanpa beban apa pun, tapi setiap kudapatkan di rumah, dia tak lebih hanyalah mayat hidup. Kalau pun tertawa atau melayaniku cerita, itu tak lebih hanya peran yang harus dilakonkannya sebagai tuan rumah.

Tapi syukur, setahun berteman dengannya, aku sudah bisa menemukan satu jawaban dari seribu pertanyaan yang selalu hadir di benakku. jawaban itu diperdengarkan untukku tanpa kuminta. Mungkin curiga jika setiap kunjunganku berkesan cari tahu, akhirnya dia buka mulut jika rumah yang ditempatinya, cuma rumah kontrakan!
“Rumah kontrakan?”
Mataku terbelelak. Jelas saja aku heran, cewek seusia Andien. Kelas satu SMA! Memilih rumah kontrakan semegah ini? Taman yang luas, dua lantai, ruang tamu dipajangi foto keluarga, peralatan dapur yang komplit! Apa nggak sebaiknya, cukup dengan tinggal di tempat kost dengan kamar yang luas, lalu dipasangkan AC, plus home theater jika perlu! Daripada harus pilih rumah yang lebih cocok untuk orang berkeluarga seperti ini.
“Mama yang menginginkan ini, Ririn!” ucapnya saat membaca keherananku.
“Tapi kamu nggak takut tinggal sendiri di rumah luas seperti ini, kenapa nggak sekalian cari pembantu untuk membantumu merawatnya?”
Dia menggeleng pelan. Lalu bercerita jika sejak kecil dia ditempa menjadi cewek yang mandiri. Masa SD pun nggak pernah merepotkan harus diantar dan dijemput dari sekolah. Dia berangkat dengan tukang becak langganannya. Pernah tukang becak langganannya berhalangan, tanpa takut dia ikut menunggu di halte. Bertanya pada semua orang trayek bis menuju rumahnya.
Mendengar semua itu, giliranku menggeleng tak percaya. Aku pikir dia mengada-ada. Tapi pikiran salahku itu cepat dibenarkan oleh kenyataan yang kulihat selama ini. Andien yang bisa memimpin ratusan siswa sebagai ketua Osis, ketua panitia di setiap acara sekolah. Anehnya, sebagai pemimpin dia tak pernah mengandalkan telunjuknya untuk menyelesaikan tugas-tugasnya. Dia sendiri yang turun tangan, kalau pun harus menyuruh, kalimatnya tak lebih hanyalah permintaan. Bukan menyuruh apalagi memerintah!
Andien memang terkenal sopan. Bicara dengan teman sekolah pun, seolah berhadapan dengan guru. Bertutur sambil senyum, menunduk sesekali jika perlu!
Aku sendiri ngeri jika harus membayangkan diriku akan seperti Andien. Bukan takut tinggal sendiri di rumah semegah ini. Aku malah takut kehilangan masa yang seharusnya kunikmati. Andien yang seharusnya hanya ‘dibebankan’ oleh tugas sekolah demi mempertahankan peringkat kelas yang memang tak pernah dilepaskannya, juga harus berperan sebagai ‘ibu rumah tangga’ yang merawat rumah.
Andien seolah terkarbit. Meski usia dan wajahnya masih muda, tapi isi kepalanya terlalu tua. Pesta adalah foya-foya, menghambur uang, uang lebih baik ditabung demi keperluan mendadak daripada jalan ke mal tanpa tujuan yang jelas, dan entah prinsip apalagi yang selalu dipertahankannnya. Prinsip yang seharusnya ada pada wanita berkeluarga. Bukan pada Andien yang masih kelas satu SMA!
Meski begitu, Andien bukanlah pelit. Butuh uang berapa tinggal bilang, Andien tak pernah keberatan untuk meminjamkan. Bahkan kegiatan sosial yang diadakan sekolah pun, dia sering mengeluarkan uang pribadi untuk menambah besarnya dana yang akan disumbangkan. Ya, selama itu bukan urusan foya-foya, adalah sah-sah saja menurut Andien.
Belum sejam cerita dengannya, sebuah Nissan Terrano masuk di pekarangan.
“Mamaku datang, Rin!”
“Kamu baik-baik saja, Andien?”
Andien mengangguk! Kecupan wanita itu kemudian mendarat di kening Andien, tanpa sempat merapikan poninya dulu. Ya, tanpa sempat! Dengan langkah tergesa masuk ke dalam rumah. Dari pintu, kulihat dia masuk di kamar yang membelakangi ruang tamu. Andien membuntutinya setelah pamit sebentar denganku.
Saat pamit tadi, ada yang lain di tatapan Andien. Mungkin malu melihat perlakuan mamanya yang sedikit pun tidak menghargaiku sebagai tamu. Jangankan menyapaku, senyum pun tidak. Hanya ekor matanya yang tertuju padaku, melirik seolah mencari tahu, teman bergaul Andien seperti apa.
Tak cukup seperempat jam, Andien dan mamanya keluar. Masih dengan langkah tergesa.
“Kamu baik-baik ya, Sayang!”
Andien menerima kecupan lagi. Bukan sekali! Tubuh mungil Andien pun, didekapnya erat. Rindu di mata anak beranak itu jelas sekali kulihat. Aku berdiri menghampiri saat pelukan mereka terlerai, tapi yang kudapat hanya senyum tanda pamit. Hanya itu!
“Maaf jika mamaku kurang menganggapmu ada. Dia buru-buru sekali! Dia hanya transit di sini, pesawatnya akan berangkat lagi jam satu siang. Dia khawatir ketinggalan pesawat!”
“Memang dari mana?”
“Belum tahu, mama dan papaku tinggal di Yogya? Dia habis mengunjungi anak perusahaan yang ada di Kawasan Industri!”
Perlahan, akhirnya aku banyak tahu tentang Andien. Pikirku selama ini dia orang Makassar. Tapi entah kenapa, tetap saja ada yang mengganjal di pikiranku. Seolah Andien semakin menyembunyikan sesuatu untukku, setiap dia mengungkap cerita tentangnya.
“Itu foto waktu aku masih kelas enam SD,” ucapnya sambil mendekatiku yang sedang melihat foto keluarga yang tergantung di ruang tamu.
“Kamu anak tunggal?”
Kali ini Andien cuma mengangguk, padahal di mataku, ada yang ingin terucap di bibirnya. Saat seperti itulah aku merasa ada yang tersembunyi di balik diri Andien. Mungkin curiga aku melihat perubahan di wajahnya, dia kembali bercerita banyak tentang dirinya. Cerita yang semakin membuatku ingin tahu lebih banyak lagi tentangnya.
“Aku memang sering ingin punya saudara, tapi Mama dan Papa yang sibuk lebih mengutamakan karir. Jangankan berpikir untuk punya anak lagi, aku saja yang sudah ada seolah tak pernah terpikirkan!”
Aku menepuk bahunya. Meski tak menangis mengucap kalimat itu, kutahu ada yang tergores di balik dadanya. Menyesal juga, aku terlalu ingin tahu tentangnya.
Giliranku untuk bercerita. Memberinya semangat, memintanya bersyukur dengan keadaannya sekarang. Aku pun heran, aku tiba-tiba seperti orangtua yang menasihati anaknya, saat memintanya membuka mata jika dia masih lebih baik ditelantarkan dalam kemewahan. Ada bahkan banyak orangtua yang menelantarkan anaknya di jalanan karena memang tak punya materi untuk menyayangi mereka, atau mungkin juga memang tak ada kasih sayang. Semua harus disyukuri!
Andien menangis di pelukanku. Untuk pertama kalinya aku merasa sangat berarti buat Andien. Selama ini dia selalu merasa tak butuh bantuan. Segalanya bisa diatasi sendiri. Tapi kini tangis yang disimpannya sendiri selama ini, kini dibagi untukku.
***
Seharian di mal membuatku memilih istirahat di kafe lantai dasar. Baru saja kurapatkan duduk, suara anak kecil yang kira-kira masih di bangku SD, menggelitikku untuk balik ke meja yang ada di sampingku. Sejenak mataku terpaku di meja yang dikelilingi oleh beberapa orang, termasuk anak kecil yang merengek dan memanggil papa pada lelaki yang duduk di sampingnya.
Aku tak mungkin salah lihat, meski wajahnya hanya kusaksikan di foto, aku yakin lelaki itu papa Andien. Lalu anak kecil itu, juga wanita yang dipanggilnya mama? Aku mengerutkan kening, wanita itu bukan mama Andien yang kulihat kemarin.
Aku cepat keluar sebelum memesan apa-apa di pramusaji kafe. Andien harus tahu jika papanya punya wanita simpanan. Bukan sibuk kerja seperti alasannya selama ini. Pulsaku yang habis semalam dan belum sempat kuisi ulang memaksaku mencari wartel.
Selangkah sebelum masuk wartel, mataku mendapatkan pemandangan yang semakin ‘mengerikan’. Ini pasti mimpi buruk buat Andien. Mamanya sedang berpegang pada lengan seorang lelaki seusianya. Tak hanya itu, juga seorang anak kecil berada di antara mereka. Bahkan sedang melangkah menuju kafe yang tadi ditempati papa Andien dan keluarga simpanannya.
Beginikah kesibukan mereka selama ini? Tapi kenapa harus di sini, bukankah menurut pengakuan Andien, mama dan papanya tinggal di Yogya?
Andien harus tahu, aku tak boleh membiarkan dia dibohongi terus oleh orangtuanya. Tak peduli itu melukakan buat Andien, aku tak ingin menyimpan kenyataan ini sebagai rahasia.
“Ririn!”
Belum sempat aku berbalik memenuhi panggilan itu, lenganku telah ditarik menjauh.
“Andien?”
“Kamu sudah lihat semuanya, kan? Kuharap kamu jangan bercerita pada siapa pun di sekolah. Aku malu!”
Andien tertunduk menahan tangis karena sadar jika dia sedang di tengah keramaian mal.
“Aku bukan orang Yogya! Rumah yang kutempati bukan rumah kontrakan, Ririn. Rumah itu diwariskan untukku sejak lulus SD. Diwariskan karena mama dan papa memilih cerai.”
Kutarik lengan Andien, tangisnya semakin tak bisa ditahan. Lebih tak bisa ditahannnya lagi, beban yang kini menghimpit dadanya. Saat merapatkan duduk di jok mobilku, dia langsung melanjutkan ceritanya di antara isak.
Aku seperti kehilangan konsentrasi menyetir saat mendengar semuanya. Tentang Andien yang tiap hari Minggu ke mal mencari mama dan papanya. Dia tahu sekali jika mama dan papanya sengaja ke kafe tadi, untuk saling membuktikan bahwa mama maupun papanya bisa bahagia dengan keluarga barunya.
Andien hanya bisa melihat wajah mama dan papanya dari jauh. Bersebelahan meja tanpa tegur sapa! Ya, hanya untuk memanas-manasi, saling membuktikan kebahagiaan mereka! Dan tentu saja Andien tak boleh mendekat, karena keluarga mamanya, juga keluarga papanya tak pernah mengharapkan kehadirannya.
Hanya sebulan tinggal bersama mama tirinya, papa memintanya pulang ke rumah karena selalu menjadi penyebab pertengkaran dengan isteri barunya. Mamanya lebih parah, bukannya mengajak bergabung, malah menghadiahinya rumah warisan asal tak ikut dengannya, karena suami barunya tak ingin ada Andien dalam rumah.
Semua mencari kebahagiaan sendiri sejak Andien masih kelas satu SLTP. Andien harus sendiri! Sendiri menentukan hidup, sendiri mencari bahagia. Termasuk mengintip kebahagaiaan keluarga mama dan papanya yang baru. Karena melihat mama dan papanya, dari jauh pun, adalah kebahagiaan tersendiri buat Andien.
“Semua kusimpan sendiri, Ririn! Bahkan mencari pembantu pun di rumah aku nggak mau karena nggak ingin ada yang tahu rahasia ini. Sekarang kamu terlanjur tahu. Simpan rahasia itu demi aku, Ririn! Kumohon!”
Aku tak tega membiarkannya memelas seperti itu di depanku. Aku berjanji akan tetap menjadi Ririn yang dulu. Sahabat yang tak pernah tahu apa pun tentang Andien. Akan kubiarkan dia menyimpan rahasia itu untuknya tanpa pernah menyingkapnya. Tapi tangisnya, takkan kuijinkan dia menyimpannya sendiri.
***


lanjutan cerita......

Market Day


MARKET DAY
Oleh: S. Gegge Mappangewa
18 April 2009. Sekolah tempatku mengajar menggelar acara Market Day. Siswa membawa barang jualan dari rumah, kemudian digelar di bawah tenda biru yang dipasang di lapangan depan sekolah. Ramai sekali. Sepertinya mereka semua berbakat jadi pedagang!
Di tengah suasana Market Day, saya teringat pasar di kampungku, pasar Bilokka namanya. Karena kampung, tentulah pasar tak bisa buka tiap hari. Lalu muncullah istilah esso pasa atau market day. Hari pasar di kampungku adalah Senin, Rabu, Jumat. Sebagai pasar kecamatan, tentu saja pasar inilah yang paling ramai di antara pasar desa lainnya.


Dan ada hal yang tak akan pernah bisa kulupakan jika teringat dengan hari pasar di kampungku. Dulu, setiap pulang sekolah di hari Senin, Selasa dan Rabu, saya selalu didera penasaran sepanjang perjalanan. Mencoba menebak, apa menu makan siang hari ini? Paserre bale janggo’ (ikan janggo’ bakar) atau hanya tunu bale rakko (ikan asin bakar)? Kalau sayurnya, tak usah ditebak. Ibu tak pernah beli sayur-sayuran di pasar. Ibu selalu memanfaatkan pematang sawah untuk ditanami sayur-sayuran, jadi saya selalu bisa menikmati sayur hijau bening setiap harinya. Saking melimpahnya sayur, jenis sayur setiap sarapan, makan siang, dan makan malam, selalu berganti. Meski tidak berganti jenis tapi ibu selalu menghidangkan sayur hangat yang baru diangkat dari atas tungku perapian. Bukan dihangatkan, Tapi benar-benar hangat karena baru dimasak.
Back to esso pasa. Karena hari pasar hanya tiga kali sepekan, tentulah untuk menikmati menu ikan segar hanya di hari pasar. Apalagi saat itu di rumah panggung kami belum ada kulkas, bisa dipastikan di hari Selasa, Kamis, Sabtu, dan Ahad, ibu akan menghiasi nampang bundarnya dengan ikan asin atau bahkan hanya telor dadar penghasil protein satu-satunya.
Itu kenangan tentang hari pasar saat masih sekolah dulu. Sekarang…? Masih seperti itu. Hari pasar di kampungku masih tiga kali sepekan. Tapi tentu saja perjalanan pulang sekolahku tak lagi didera penasaran, bukan semata karena saya tidak berstatus pelajar lagi, tapi karena saya tak lagi tinggal di kampung. Bukan berarti tak ada lagi kenangan yang bisa kusimpan di memoriku tentang hari pasar. Banyak sekali! Setiap pulang kampung, saya masih selalu didera penasaran. Mencoba menebak menu apa yang akan dihidangkan ibu untukku? Meski ibu telah punya kulkas yang bisa dijadikan gudang untuk ‘menimbun’ sembako’ segar (terutama ikan), saya masih lebih senang dengan menu di hari H pasar. Ikannya segar sekali! Dan ibu tahu sekali jika saya senang sekali dengan ikan mujair. Setiap dia tahu saya akan pulang menemuinya, bisa dipastikan menunya adalah ikan mujair.
Biasanya, di hari H pasar, pagi-pagi sepulang pasar dia akan membakar ikan mujair! Dia memilihkan yang paling besar untukku. Lebarnya biasa sampai delapan jari orang dewasa. Dilepas sisiknya, kemudian bagian tubuh ikan diiris agar bumbunya meresap. Setelah matang, ibu membumbuinya dengan ulekan cabe, tomat campur kemiri atau kacang…. Hmmmm menu yang disebut paserre’ bale ini membuatku biasa lupa dengan siapa pun. Bahkan ayah yang belum pulang dari sawah biasa tak kusimpankan. Satu ekor utuh untukku! Yang tersisa tinggal tulang. Bahkan, insangnya pun kadang tak bisa lari menghindar dariku. Biar nggak kekenyangan, makan nasinya kukurangi.
Siangnya makan apa ya? Tentu saja ibu tahu kalau setiap pulag kampung, saya paling lama dua hari, jadi siangnya masih menghidangkan ikan mujair untukku. Tapi bukan paserre bale lagi. Kali ini saya akan ‘berhadap-hadapan’ dengan ikan masak. Masih dengan mujair berukuran all size. Saking besarnya kuah ikan masak ibu biasa berminyak. Karena ikan air tawar, jangan harap akan ada bau amis. Saat memasak ikan air tawar ibu menggunakan asam mangga, kalau untuk ikan laut dia menggunakan asam jawa. Kedua asam ini, ibu tak pernah beli. Setiap musim mangga, mangga kecil yang biasanya jatuh sebelum berbiji, ibu pungut kemudian dijadikan asam. Kalau asam jawa, kebetulan tak jauh dari rumah ada pohon asam yang selalu berbuah lebat.
Biasanya, kalau menunya ikan masak, ibu biasa mendampingkannya dengan ronto’, sejenis udang kecil yang masih mentah yang biasa dibuat ebi. Saking segarnya ronto’ nya biasa masih lompat-lompat di mangkok lauk di antara bumbu sambel yang dicampurkannya. Di restoran manapun, tak akan pernah mendapatkan menu seperti ini. Dan tentu saja kenikmatan seperti itu hanya bisa kudapatkan di meja makanku.
Sayurnya? Masih seperti dulu! Kalau bukan dapat di pematang sawah, ibu memetiknya dari halaman rumah yang selalu ditanaminya terong, pare, dan lain-lain. Biasanya, karena tak mau kekenyangan, bukan hanya nasinya yang kukurangi, makan sayurnya pun saya batasi. Nanti sejam setelah makan, baru saya mengambil semangkok sayur lalu memakannya seperti makan sup.
Ingat menu hidangan ibu, saya terkenang dengan sahabat-sahabat saya yang pernah mampir di rumah. Mereka semua ketagihan dengan menu ikan bakar ibu. Itu kalau mereka datang di hari pasar. Kalau nggak, ayah akan mengusulkan ayam kampungnya yang ada di kandang di bawah rumah panggung kami. Karena bagi ibu dan ayah, tamu adalah pembawa rejeki. Harus diistimewakan.
Saat mau kembali ke Makassar, kalau bukan hari pasar, pagi-pagi sekali ibu menyuruhku ke pasar kecamatan sebelah. Tentu saja untuk mencari ikan mujair. Dan ikan mujair itu akan dia pepes. Dibakar tanpa bersentuhan langsung dengan api, tanpa disisiki. Menu seperti ini namanya tapa bale. Biasanya bertahan lama karena tidak langsung diberi bumbu atau sambal. Biar nikmatnya tak berkurang, ibu tetap membuatkan sambal untukku kemudian dia bungkus dengan daun. Tiba di Makassar, buah tangan ibu akan menjadi santapan lezat. Warung dan restoran lainnya…? Nggak dapatt!!!
22 April 2009, SD Mulia Bakti, menunggu siswaku selesai Olimpiade Sains

lanjutan cerita......

BERAWAL DAN BERAKHIR DI MEJA MAKAN


BERAWAL DARI MEJA MAKAN
Oleh: S. Gegge Mapangewa
Jakarta, 17 Maret 2009. Bis bandara mengantarku ke terminal Lebak Bulus sekaligus mengantaku menelusuri sebuah lorong di hatiku. Lorong sunyi masa lalu. Lorong yang menyimpan memori saat enam tahun yang lalu saya menginjakkan kaki di ibukota ini. “Jakarta, I’m coming again!” Sebuah suara menggema di lorong sunyi itu.

Tak ada yang istimewa di bis ini. Meski David Chalik, sang bintang sinetron, hadir satu bis denganku. Dia boleh jadi tokoh utama di sinetron, tapi kali ini nasibku lebih mujur daripada dirinya yang berdiri di depanku karena tak mendapat tempat duduk.
***
Tiba di lokasi training menjelang maghrib. Penat. Lelah. Registrasi secepatnya lalu masuk kamar. Saya ingin sekali isitirahat tapi tentu saja itu tak mungkin, teman sekamar harus kusapa. Sekamar dengan peserta dari Maluku Utara dan Kalimantan Selatan.
Saatnya bergabung dengan peserta lain. Dari meja makan ini kisah berawal. Setelah dipertemukan dengan teman sekamar, kali ini dipertemukan dengan teman semeja makan. Jabat tangan sebut nama. Soleh dari Banten. Barma dari Lampung. Munawar dari Sulbar. Dan saya, Gegge dari Sulsel. Dan siapa sangka, breakfast, lunch dan dinner berikutnya, kami selalu saling mencari untuk satu meja makan. Bahkan untuk menerima materi pun, sering duduk bersebelahan. Hingga perpisahan itu datang merenggut kisah yang sering kami bagi di meja makan.
Soleh dan Munawar yang sudah beranak pinak selalu memberi motivasi menikah. Barma yang pelantun nasyid ternyata sebelumnya adalah penyanyi elekton yang biasa manggung di tempat terbuka. Dan saya yang ketahuan sebagai penulis, selalu dimintai ‘materi kepenulisan’ saat ngumpul. Saya dan Barma selalu jadi bulan-bulanan sindiran karena belum menikah. Bahkan beberapa nama sempat disebutkan untukku segampang itukah memiliih pasangan hidup?
***
Hari terakhir. 21 Maret 2009. Kami satu meja makan lagi. Saya membagikan novel terbaruku (Cupiderman 3G) untuk mereka bertiga. Ternyata keakraban yang berawal di meja makan itu akhirnya berakhir juga di meja makan. Saya, dan kuyakin juga mereka menyimpan rindu di hati masing-masing. Kesibukan membuat kami tak bisa mencurahkan rindu meski hanya sekadar smsan.
Semoga ada meja makan yang akan mempertemukan kami kembali. Amin! Ya, selain kami berempat, peserta dari semua propinsi itu kini terikat dalam ikatan GEMPITA (Generasi Muda Pembina Insan Berprestasi). Sebuah amanah yang tak ringan tapi insya Allah imbalannya juga tak ringan! Allahu Akbar!!!***(Kenangan Training Of Trainer Kebijakan Kepemudaan dalam rangka Penanggulangan Faktor Destruktif)






lanjutan cerita......

27.4.09

KUTERIMA KEKALAHAN INI

Kuterima Kekalahan Ini
Oleh : S. Gegge Mapangewa
Hari ini aku kalah lagi. Semakin aku mencari kekurangan Intan, dia semakin menampakkan kilauannya. Aku tanpa aksi. Menunggu reaksi otakku, untuk menyuruhku pergi meninggalkan tempatku berdiri. Tapi mataku semakin asyik melihat pemandangan yang begitu menakjubkan. Kuperhatikan lagi nomor dan blok-nya, tetap saja aku tak salah. Rumah megah yang kini di depanku adalah rumah Intan.
KUTERIMA KEKALAHAN INI
Oleh: S. Gegge Mappangewa

AKU benci Intan. Setiap sikapnya, semua ulahnya, seolah ingin menunjukkan padaku, jika dia yang terhebat di sekolah ini. Seakan dia tak pernah memperhitungkan keberadaanku. Atau dia memang tak tahu siapa aku sebenarnya? Rupanya dia harus kuberi tahu siapa aku sebenarnya, dengan caraku sendiri!
Aku memang banyak diam. Terlebih, Intan beda kelas denganku, hingga dia tak tahu jika pada setiap ulangan harian, untuk mata pelajaran apa pun, aku tak pernah dapat nilai di bawah sembilan. Dan itu bukan hasil nyontek. Setiap guru yang masuk, acungkan jempol untukku karena setiap pertanyaan yang tak terjawab oleh siswa lain, kuselesaikan dengan baik. Lalu, mengapa orang-orang di sekolah ini lebih menjagokan Intan?
Sekali lagi. Aku banyak diam! Dari hasil curi dengar, teman-teman kelasku enggan menggosipkan kehebatanku, apalagi membanding-bandingkanku dengan Intan, karena aku seolah tak butuh promosi kehebatan serupa itu. Awalnya memang tidak! Tapi melihat Intan yang selalu senyum penuh kemenangan, seolah menantang kehebatanku, membuatku tak bisa tinggal diam.
“Kalau bukan karena lupa menyamakan satuannya, ulangan Fisika-ku dapat sepuluh lagi,” ucap Intan tanpa ditanya, di tengah keramaian kantin.
Entah ingin memperdengarkan untukku atau tidak, yang jelas aku dengar dan merasa diri telah dipanas-panasi. Aku mencibir.
“Aku dapat delapan, sudah syukur!” timpal Arin tanpa pernah menghentikan aksinya menyantap bakso pesanannya. “Oh ya, kalo di kelas kamu, Put? Ada nggak yang dapat sepuluh?” lanjutnya, kali ini dengan menerbangkan tatapan ke arahku.
Kantin tiba-tiba sepi. Kuyakin semua mata ke arahku. Menunggu jawaban. Kubiarkan mereka dalam penasaran panjang, sambil meraih lembaran jawaban Fisika yang kebetulan kulipat dan kusimpan di saku bajuku.
“Tadi aku nggak sempat lihat, aku dapat berapa?” bohongku. Jelas-jelas bola mataku meloncat kegirangan saat kulihat angka sepuluh di lembar jawabanku tadi. ”Aku nggak permasalahkan mau dapat berapa, yang penting saat ulangan, aku merasa bisa menyelesaikan semua soal tanpa melakukan kesalahan kecil.”
Kesalahan kecil yang kumaksud itu, untuk memanas-manasi Intan yang lupa menyamakan satuan angka hitungannya. Kulihat muka Intan membiaskan kecewa. Kuharap dia sadar, jika di sekolah ini ada yang lebih hebat darinya, aku. Putri!
“Ternyata, aku dapat sepuluh!”
Beberapa siswa berkerumun ke arahku, untuk melihat lembar jawabanku. Intan tentu saja mematung. Selama ini aku memang banyak diam, membiarkan dia menikmati kemenangannya. Sekarang, giliran dia yang harus bungkam, jika itu untuk pamer prestasi di depanku.
Aku paling tak suka dengan kebanggaan yang berlebih, karena kupikir itu sinonim dengan kesombongan. Bagiku, biarkan orang lain yang menilai. Tak usah banyak bicara, hingga harus memamerkan semua keberhasilan.
Hingga detik ini, aku lebih percaya pada ungkapan bahwa; orang yang paling banyak bohongnya adalah orang yang banyak bicara tentang dirinya sendiri. Mungkin Intan orangnya. Hampir di setiap kesempatan mengkampanyekan diri. Aku jadi enek. Dan kuharap ini kali terakhir dia berulah. Jika tidak, untuk kesekiankalinya pula dia akan kupermalukan.
***
Rupanya, kejadian di kantin itu, bukannya membuat dia merasa kalah. Bahkan lebih menggila. Jujur saja, aku jadi gemetar! Merasa telah menemukan saingan, yakni aku, semangat Intan semakin menyala. Semangat untuk mengkampanyekan diri, sekaligus semangat belajar.
Setelah dua malam yang lalu aku kurang tidur karena PR Kimia yang menurutku tingkat kesulitannya tinggi, kini dia mengibas-ngibaskan buku PR-nya di kantin yang telah mendapat paraf dan nilai sepuluh dari Pak Hamran. Aku yakin, untuk kali ini nilai setinggi itu tak bisa kugapai. Untungnya, pelajaran Kimia di kelasku, nanti di jam terakhir. Aku masih punya waktu untuk menyembunyikan kekalahan.
Tak hanya sampai di situ. Begitu bel tanda masuk, Bu Dian mengawali pelajaran bahasa Inggris-nya dengan berita menyakitkan.
“Dari hasil seleksi, Intan dari kelas IB yang berhak ikut debat bahasa Inggris, mewakili sekolah kita.”
Semua mata tertuju ke arahku. Teman-teman kelas memang banyak menjagokan aku. Bu Dian seolah mengerti arti tatapan yang menghujan ke arahku.
“Memang, grammar dan vocabulary Putri sedikit lebih di atas dari Dian. Tapi Putri kalah jauh dalam hal pronunciation. Karena ini untuk lomba debat bahasa Inggris, pronunciation sangat dibutuhkan kefasihannya. Intan lebih bisa untuk itu!”
Tanpa sadar aku bersandar di bangku. Aku butuh penopang, tiba-tiba. Intan yang ingin kutaklukkan, kini disanjung-sanjung di depanku. Perjuanganku untuk menunjukkan pada Intan, tentang siapa aku sebenarnya, berakhir kini. Ya, inilah aku yang sebenarnya. Putri sang pecundang!
Di atas langit, masih ada langit. Aku sadar itu. Tapi aku seperti tak bisa menerima jika Intan yang ada di atasku. Aku tak suka dengan gayanya yang selalu pamer keunggulan. Andai saja, Intan tak sok pamer seperti itu, aku tak punya hak untuk iri, setinggi apa pun prestasinya.
Kekalahan kali ini, adalah sebuah PR untukku. Ini tak boleh dibiarkan berlanjut terus. Aku harus ubah strategi, setelah gagal menunjukkan siapa diriku yang sebenarnya di depan Intan. Giliran Intan yang harus kucari tahu, tentang siapa dia yang sebenarnya. Mungkin ada sisi negatif tentang dirinya, yang bisa kuangkat untuk mempermalukan dirinya. Bukan untuk melumpuhkan dia, bagaimana pun aku telah mengaku kalah dalam hal prestasi. Aku cuma ingin dia mengurangi kebanggaannya yang terlalu berlebih. Aku ingin dia menyadari dan mau mengakui kelemahannya, bukan hanya tahu pamer keunggulan.
Aku yakin, di balik keunggulan dan kehebatan yang selalu dipamerkannya, dia pasti menyembunyikan sebuah kelemahan. Orang sombong hanyalah orang yang menutup-nutupi kekurangannya. Aku yakin itu!
***
Hari ini aku kalah lagi. Semakin aku mencari kekurangan Intan, dia semakin menampakkan kilauannya. Aku tanpa aksi. Menunggu reaksi otakku, untuk menyuruhku pergi meninggalkan tempatku berdiri. Tapi mataku semakin asyik melihat pemandangan yang begitu menakjubkan. Kuperhatikan lagi nomor dan blok-nya, tetap saja aku tak salah. Rumah megah yang kini di depanku adalah rumah Intan.
Keunggulan Intan bertambah lagi. Cantik, pintar, dan detik ini harus kuakui kalau dia anak orang kaya. Padahal, saat mencari alamat rumahnya, aku berharap, akan mendapatkan gubuk reot dan kumuh. Lalu akan kuumumkan di sekolah jika Intan yang sok pamer itu, hanyalah orang comberan. Tas dan sepatu mahal yang dipakainya, hanya dari hasil mengemis orangtuanya, dan banyak bayangan hitam lagi tentang Intan, yang detik ini tak satu pun terbukti. Intan benar-benar intan yang tergosok sempurna.
“Cari siapa, Nak? Temannya Non Intan, ya?”
Aku mengangguk gugup. Pembantu itu membukakan pintu pagar, tanpa kuminta. Padahal aku ingin pergi.
“Mari silakan masuk. Non Intan lagi ikut lomba…”
Pembantu tua itu sedang mencari-cari kata untuk lanjutan kalimatnya. Dasar pembantu, dia pasti lupa dengan lomba debat bahasa Inggris yang diikuti Intan.
“Nggak tau deh lomba apa, yang jelas ada bahasa Inggris-nya.”
Aku tersenyum geli melihat tingkahnya. Aku ingin mengambil langkah pulang, tapi pembantu itu menarik lenganku. Memaksaku masuk.
“Tunggu aja! Non Intan nggak lama kok, katanya! Temanin saya cerita ya! Rumah lagi sepi.”
”Papa dan mama Intan ke mana?”
Wanita setengah baya itu, menarik napas panjang.
“Jadi kamu nggak tau kalau mama Non Intan sudah meninggal?”
Aku menggeleng. Kali ini napas wanita yang sudah membekaskan keriput di wajahnya, terasa berat. Mungkin seberat beban yang harus Intan pikul selama ini. Darinya, kutahu kisah yang tak seharusnya aku tahu. Kini aku mengerti, mengapa Intan selalu berkesan pamer keunggulan.
Di rumahnya, Intan hanya diberi tumpangan hidup. Tanpa kasih sayang. Papa dan ketiga kakaknya, tak pernah memperhatikan dia. Bahkan sesekali memperlakukannya kasar. Persoalannya sepele, bahkan bagiku tak masuk akal. Kelahiran Intan dianggap membawa sial karena mamanya meninggal bersamaan dengan kelahiran Intan.
Intan atau siapa pun pasti tak ingin mamanya meninggal, tak wajar memikulkan beban pada Intan hanya karena takdirnya yang lahir dengan membawa kematian buat mamanya.
“Intan dari kecil selalu cari perhatian. Tapi papanya cuek bahkan sering memarahinya. Rapor Intan, jika bukan untuk ditandatangani, jangan harap akan disentuh papanya. Padahal Intan ingin papanya tahu jika dia dapat nilai bagus.”
Aku pamit sebelum Intan datang. Bukan tak berani melihat wajah cerianya, pulang membawa keberhasilan dari lomba debat bahasa Inggris. Aku tak ingin Intan tahu kecemburuanku selama ini. Keluar dari pintu gerbang, aku menoleh lagi ke rumah Intan. Sulit dipercaya, di dalam rumah megah nan luas itu, ada penghuninya yang berpikir picik, dengan menganggap Intan sebagai anak pembawa sial.
Aku tak menemukan itu sebagai kekurangan pada diri Intan. Tapi sebaliknya, Intan memang pemenang yang tak pernah bisa terkalahkan. Tak banyak, bahkan mungkin hanya Intan seorang, yang mampu mengukir prestasi di antara orang-orang terdekat yang sama sekali tak pernah mendukungnya. Aku memang bukan sahabat, bukan teman dekat, tapi aku akan mengacungkan jempol untuk Intan, tanpa merasa dikalahkan.***



lanjutan cerita......

Cerpen Remaja


Hari ini aku kalah lagi. Semakin aku mencari kekurangan Intan, dia semakin menampakkan kilauannya. Aku tanpa aksi. Menunggu reaksi otakku, untuk menyuruhku pergi meninggalkan tempatku berdiri. Tapi mataku semakin asyik melihat pemandangan yang begitu menakjubkan. Kuperhatikan lagi nomor dan blok-nya, tetap saja aku tak salah. Rumah megah yang kini di depanku adalah rumah Intan.
*******************************************************************************
Kuterima Kekalahan Ini
Oleh : S. Gegge Mapangewa

AKU benci Intan. Setiap sikapnya, semua ulahnya, seolah ingin menunjukkan padaku, jika dia yang terhebat di sekolah ini. Seakan dia tak pernah memperhitungkan keberadaanku. Atau dia memang tak tahu siapa aku sebenarnya? Rupanya dia harus kuberi tahu siapa aku sebenarnya, dengan caraku sendiri!
Aku memang banyak diam. Terlebih, Intan beda kelas denganku, hingga dia tak tahu jika pada setiap ulangan harian, untuk mata pelajaran apa pun, aku tak pernah dapat nilai di bawah sembilan. Dan itu bukan hasil nyontek. Setiap guru yang masuk, acungkan jempol untukku karena setiap pertanyaan yang tak terjawab oleh siswa lain, kuselesaikan dengan baik. Lalu, mengapa orang-orang di sekolah ini lebih menjagokan Intan?
Sekali lagi. Aku banyak diam! Dari hasil curi dengar, teman-teman kelasku enggan menggosipkan kehebatanku, apalagi membanding-bandingkanku dengan Intan, karena aku seolah tak butuh promosi kehebatan serupa itu. Awalnya memang tidak! Tapi melihat Intan yang selalu senyum penuh kemenangan, seolah menantang kehebatanku, membuatku tak bisa tinggal diam.
“Kalau bukan karena lupa menyamakan satuannya, ulangan Fisika-ku dapat sepuluh lagi,” ucap Intan tanpa ditanya, di tengah keramaian kantin.
Entah ingin memperdengarkan untukku atau tidak, yang jelas aku dengar dan merasa diri telah dipanas-panasi. Aku mencibir.
“Aku dapat delapan, sudah syukur!” timpal Arin tanpa pernah menghentikan aksinya menyantap bakso pesanannya. “Oh ya, kalo di kelas kamu, Put? Ada nggak yang dapat sepuluh?” lanjutnya, kali ini dengan menerbangkan tatapan ke arahku.
Kantin tiba-tiba sepi. Kuyakin semua mata ke arahku. Menunggu jawaban. Kubiarkan mereka dalam penasaran panjang, sambil meraih lembaran jawaban Fisika yang kebetulan kulipat dan kusimpan di saku bajuku.
“Tadi aku nggak sempat lihat, aku dapat berapa?” bohongku. Jelas-jelas bola mataku meloncat kegirangan saat kulihat angka sepuluh di lembar jawabanku tadi. ”Aku nggak permasalahkan mau dapat berapa, yang penting saat ulangan, aku merasa bisa menyelesaikan semua soal tanpa melakukan kesalahan kecil.”
Kesalahan kecil yang kumaksud itu, untuk memanas-manasi Intan yang lupa menyamakan satuan angka hitungannya. Kulihat muka Intan membiaskan kecewa. Kuharap dia sadar, jika di sekolah ini ada yang lebih hebat darinya, aku. Putri!
“Ternyata, aku dapat sepuluh!”
Beberapa siswa berkerumun ke arahku, untuk melihat lembar jawabanku. Intan tentu saja mematung. Selama ini aku memang banyak diam, membiarkan dia menikmati kemenangannya. Sekarang, giliran dia yang harus bungkam, jika itu untuk pamer prestasi di depanku.
Aku paling tak suka dengan kebanggaan yang berlebih, karena kupikir itu sinonim dengan kesombongan. Bagiku, biarkan orang lain yang menilai. Tak usah banyak bicara, hingga harus memamerkan semua keberhasilan.
Hingga detik ini, aku lebih percaya pada ungkapan bahwa; orang yang paling banyak bohongnya adalah orang yang banyak bicara tentang dirinya sendiri. Mungkin Intan orangnya. Hampir di setiap kesempatan mengkampanyekan diri. Aku jadi enek. Dan kuharap ini kali terakhir dia berulah. Jika tidak, untuk kesekiankalinya pula dia akan kupermalukan.
***
Rupanya, kejadian di kantin itu, bukannya membuat dia merasa kalah. Bahkan lebih menggila. Jujur saja, aku jadi gemetar! Merasa telah menemukan saingan, yakni aku, semangat Intan semakin menyala. Semangat untuk mengkampanyekan diri, sekaligus semangat belajar.
Setelah dua malam yang lalu aku kurang tidur karena PR Kimia yang menurutku tingkat kesulitannya tinggi, kini dia mengibas-ngibaskan buku PR-nya di kantin yang telah mendapat paraf dan nilai sepuluh dari Pak Hamran. Aku yakin, untuk kali ini nilai setinggi itu tak bisa kugapai. Untungnya, pelajaran Kimia di kelasku, nanti di jam terakhir. Aku masih punya waktu untuk menyembunyikan kekalahan.
Tak hanya sampai di situ. Begitu bel tanda masuk, Bu Dian mengawali pelajaran bahasa Inggris-nya dengan berita menyakitkan.
“Dari hasil seleksi, Intan dari kelas IB yang berhak ikut debat bahasa Inggris, mewakili sekolah kita.”
Semua mata tertuju ke arahku. Teman-teman kelas memang banyak menjagokan aku. Bu Dian seolah mengerti arti tatapan yang menghujan ke arahku.
“Memang, grammar dan vocabulary Putri sedikit lebih di atas dari Dian. Tapi Putri kalah jauh dalam hal pronunciation. Karena ini untuk lomba debat bahasa Inggris, pronunciation sangat dibutuhkan kefasihannya. Intan lebih bisa untuk itu!”
Tanpa sadar aku bersandar di bangku. Aku butuh penopang, tiba-tiba. Intan yang ingin kutaklukkan, kini disanjung-sanjung di depanku. Perjuanganku untuk menunjukkan pada Intan, tentang siapa aku sebenarnya, berakhir kini. Ya, inilah aku yang sebenarnya. Putri sang pecundang!
Di atas langit, masih ada langit. Aku sadar itu. Tapi aku seperti tak bisa menerima jika Intan yang ada di atasku. Aku tak suka dengan gayanya yang selalu pamer keunggulan. Andai saja, Intan tak sok pamer seperti itu, aku tak punya hak untuk iri, setinggi apa pun prestasinya.
Kekalahan kali ini, adalah sebuah PR untukku. Ini tak boleh dibiarkan berlanjut terus. Aku harus ubah strategi, setelah gagal menunjukkan siapa diriku yang sebenarnya di depan Intan. Giliran Intan yang harus kucari tahu, tentang siapa dia yang sebenarnya. Mungkin ada sisi negatif tentang dirinya, yang bisa kuangkat untuk mempermalukan dirinya. Bukan untuk melumpuhkan dia, bagaimana pun aku telah mengaku kalah dalam hal prestasi. Aku cuma ingin dia mengurangi kebanggaannya yang terlalu berlebih. Aku ingin dia menyadari dan mau mengakui kelemahannya, bukan hanya tahu pamer keunggulan.
Aku yakin, di balik keunggulan dan kehebatan yang selalu dipamerkannya, dia pasti menyembunyikan sebuah kelemahan. Orang sombong hanyalah orang yang menutup-nutupi kekurangannya. Aku yakin itu!
***
Hari ini aku kalah lagi. Semakin aku mencari kekurangan Intan, dia semakin menampakkan kilauannya. Aku tanpa aksi. Menunggu reaksi otakku, untuk menyuruhku pergi meninggalkan tempatku berdiri. Tapi mataku semakin asyik melihat pemandangan yang begitu menakjubkan. Kuperhatikan lagi nomor dan blok-nya, tetap saja aku tak salah. Rumah megah yang kini di depanku adalah rumah Intan.
Keunggulan Intan bertambah lagi. Cantik, pintar, dan detik ini harus kuakui kalau dia anak orang kaya. Padahal, saat mencari alamat rumahnya, aku berharap, akan mendapatkan gubuk reot dan kumuh. Lalu akan kuumumkan di sekolah jika Intan yang sok pamer itu, hanyalah orang comberan. Tas dan sepatu mahal yang dipakainya, hanya dari hasil mengemis orangtuanya, dan banyak bayangan hitam lagi tentang Intan, yang detik ini tak satu pun terbukti. Intan benar-benar intan yang tergosok sempurna.
“Cari siapa, Nak? Temannya Non Intan, ya?”
Aku mengangguk gugup. Pembantu itu membukakan pintu pagar, tanpa kuminta. Padahal aku ingin pergi.
“Mari silakan masuk. Non Intan lagi ikut lomba…”
Pembantu tua itu sedang mencari-cari kata untuk lanjutan kalimatnya. Dasar pembantu, dia pasti lupa dengan lomba debat bahasa Inggris yang diikuti Intan.
“Nggak tau deh lomba apa, yang jelas ada bahasa Inggris-nya.”
Aku tersenyum geli melihat tingkahnya. Aku ingin mengambil langkah pulang, tapi pembantu itu menarik lenganku. Memaksaku masuk.
“Tunggu aja! Non Intan nggak lama kok, katanya! Temanin saya cerita ya! Rumah lagi sepi.”
”Papa dan mama Intan ke mana?”
Wanita setengah baya itu, menarik napas panjang.
“Jadi kamu nggak tau kalau mama Non Intan sudah meninggal?”
Aku menggeleng. Kali ini napas wanita yang sudah membekaskan keriput di wajahnya, terasa berat. Mungkin seberat beban yang harus Intan pikul selama ini. Darinya, kutahu kisah yang tak seharusnya aku tahu. Kini aku mengerti, mengapa Intan selalu berkesan pamer keunggulan.
Di rumahnya, Intan hanya diberi tumpangan hidup. Tanpa kasih sayang. Papa dan ketiga kakaknya, tak pernah memperhatikan dia. Bahkan sesekali memperlakukannya kasar. Persoalannya sepele, bahkan bagiku tak masuk akal. Kelahiran Intan dianggap membawa sial karena mamanya meninggal bersamaan dengan kelahiran Intan.
Intan atau siapa pun pasti tak ingin mamanya meninggal, tak wajar memikulkan beban pada Intan hanya karena takdirnya yang lahir dengan membawa kematian buat mamanya.
“Intan dari kecil selalu cari perhatian. Tapi papanya cuek bahkan sering memarahinya. Rapor Intan, jika bukan untuk ditandatangani, jangan harap akan disentuh papanya. Padahal Intan ingin papanya tahu jika dia dapat nilai bagus.”
Aku pamit sebelum Intan datang. Bukan tak berani melihat wajah cerianya, pulang membawa keberhasilan dari lomba debat bahasa Inggris. Aku tak ingin Intan tahu kecemburuanku selama ini. Keluar dari pintu gerbang, aku menoleh lagi ke rumah Intan. Sulit dipercaya, di dalam rumah megah nan luas itu, ada penghuninya yang berpikir picik, dengan menganggap Intan sebagai anak pembawa sial.
Aku tak menemukan itu sebagai kekurangan pada diri Intan. Tapi sebaliknya, Intan memang pemenang yang tak pernah bisa terkalahkan. Tak banyak, bahkan mungkin hanya Intan seorang, yang mampu mengukir prestasi di antara orang-orang terdekat yang sama sekali tak pernah mendukungnya. Aku memang bukan sahabat, bukan teman dekat, tapi aku akan mengacungkan jempol untuk Intan, tanpa merasa dikalahkan.***



lanjutan cerita......

Epos La Galigo (Termuat di Annida Edisi April 2009)


Kota I Lagaligo,
Latar Sastra Penuh Sejarah
Oleh: S. Gegge Mappangewa
Luwu biasa juga dikenal sebagai Bumi Sawerigading. Itu karena Sawerigading adalah salah seorang tokoh utama dalam epos I La Galigo. Seperti halnya, karya sastra yang lain, I La Galigo juga bertemakan cinta. Cinta Sawerigading yang jatuh pada ladang hati yang tak tepat, yaitu pada adik kembarnya We Tenriabeng. Karena ditentang adat, Sawerigading berlayar meninggalkan Tana Luwu menuju daratan Cina, untuk mencari gadis yang mirip dengan We Tenriabeng, yaitu We Cudai.

Semua orang pasti kenal dengan Tana Toraja. Tapi Tana Luwu, mungkin sangat sedikit yang mengenal keberadaan kabupaten yang berjarak sekitar 500 KM dari Makassar ini. Padahal di Tana Luwu yang berbatasan dengan Tana Toraja inilah, karya sastra terpanjang di dunia, I La Galigo, berasal. Kalo epos Mahabarata jumlah barisnya antara 160.000-200.000, I La Galigo bahkan mencapai 300.000 baris panjangnya. (Hmmmm, setebal bantal mungkin ya, kalo dibukukan).
Luwu biasa juga dikenal sebagai Bumi Sawerigading. Itu karena Sawerigading adalah salah seorang tokoh utama dalam epos I La Galigo. Seperti halnya, karya sastra yang lain, I La Galigo juga bertemakan cinta. Cinta Sawerigading yang jatuh pada ladang hati yang tak tepat, yaitu pada adik kembarnya We Tenriabeng. Karena ditentang adat, Sawerigading berlayar meninggalkan Tana Luwu menuju daratan Cina, untuk mencari gadis yang mirip dengan We Tenriabeng, yaitu We Cudai.
Wah, kalo mau berpanjang lebar tentang I La Galigo, bisa sampe 300.000 baris nih. Nggak kalah asyiknya kalo kita jalan-jalan menyusuri salah satu kota di Tana Luwu, yaitu Palopo. Awalnya sih, kabupaten di Luwu cuman satu dan berpusat di Palopo sebagai kota administratif. Sekarang, setelah pemekaran, udah terbagi menjadi empat kabupaten. Tapi tetap aja, Palopo menjadi kota yang paling ramai di Luwu.
Salah satu obyek wisata yang sering dikunjungi di kota ini adalah Tanjung Ringgit. Meskipun namanya mirip-mirip dengan Tanjung Pinang dan Tanjung Periok, Tanjung Ringgit bukanlah pelabuhan besar. Laut Tanjung Ringgit hanya menjadi dermaga yang menghubungkan Palopo dengan Malangke yang juga masih wilayah Luwu. Malangke ini sangat dikenal sebagai penghasil jeruk manis. Jeruk Malangke, begitu orang biasa menyebutnya. Tanjung Ringgit nggak hanya berfungsi sebagai dermaga menuju Malangke, tapi juga bisa ditempati mancing, sekaligus tempat yang indah untuk menikmati sunset. Nggak heran, mulai sore hingga malam, pantai ini akan berubah menjadi pusat tenda kafe yang menyajikan berbagai jajanan khas Palopo.
Selain ke Tanjung Ringgit, kita juga bisa melepas penat di permandian air terjun Latuppa. Di akhir pekan, tempat ini biasanya ramai dikunjungi warga Palopo yang ingin menikmati sejuknya air sungai Latuppa. Ada air terjunnya, lho! Apalagi, setelah puas mandi, pulang bisa bawa oleh-oleh durian. Tempat ini biasanya banyak dikunjungi oleh wisatawan lokal di Sulawesi Selatan kalo abis lebaran.
Jejak Sejarah di Kota Tua
Selain wisata alam Tanjung Ringgit dan air terjun Latuppa, Palopo punya tempat wisata bersejarah. Salah satunya adalah Mesjid Tua Palopo. Mesjid ini didirikan oleh Datu Payung Luwu XVI Pati Pasaung Toampanangi Sultan Abdullah Matinroe pada tahun 1604 M. Tiang utama mesjid ini menggunakan kayu Cinaduri, sedangkan dindingnya terbuat dari tembok yang masih berbahan perekat campuran putih telur. So, karena emang langka, mesjid ini udah dijadikan sebagai bangunan purbakala yang harus dilindungi. Jamaahnya banyak lho! Apalagi kalo Ramadhan, mesjid tua ini selalu ramai. Saking ramainya, jamaah biasa meluber sampai ke jalan raya. Orang yang berkunjung ke Palopo nggak dianggap ‘sah’ kunjungannya kalo belum ke mesjid tua ini.
Di jantung kota, terdapat tugu bergambarkan badik! Bukan melambangkan premanisme, tapi simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda. Namanya Tugu Toddopuli Temmalara! Masih selokasi dengan tugu ini, ada Rumah Datu dan Museum Palopo. Sesuai dengan namanya, Rumah Datu ini adalah Raja Luwu terdahulu. Bangunannya terbuat dari kayu jati dengan arsitek rumah adat Luwu. Sekarang ‘keraton’ ini dihuni oleh keluarga keturunan Raja Luwu. Karena ini rumah tinggal para keluarga Raja Luwu, jadi nggak terbuka untuk umum. Tapi halamannya sering dimanfaatkan untuk acara pegelaran seni. Spesial untuk acara adat, rumah yang sangat dijaga kelestariannya ini bisa dimanfaatkan keseluruhannya.
Di samping bangunan Rumah Datu terdapat Museum Palopo. Dari arsitekturnya, bangunan ini melukiskan jejak peninggalan jaman Belanda. Isinya banyak ‘bercerita’ tentang masa lalu. Mulai dari perlengkapan perang hingga peninggalan khas Tana Luwu seperti pelaminan, baju adat dan perabot rumah tangga. Sayangnya, untuk ngambil foto di museum ini harus ada ijin dari pihak pariwisata.
Kota Sejahtera
Palopo juga sangat dikenal sebagai penghasil buah. Durian, rambutan, langsat, dan jeruk, semua melimpah di kota ini! Nggak ketinggalan sagunya. Karena sagunya, Palopo dikenal sebagai Kota Kapurung. Kapurung adalah makanan khas Palopo yang terbuat dari sagu berkuah yang dicampur dengan sayuran hijau. Selain buah-buahan, Palopo dikenal sebagai penghasil cengkeh dan kakao. Jangan heran jika pertumbuhan ekonomi di kota ini sangat meningkat dibandingkan dengan kota lain di Sulawesi Selatan. So, sangat murah kalo ingin belanja buah. Tapi belanja pakaian dan sembako, harganya di atas rata-rata. Tapi itu tetap nggak ngaruh buat warganya yang punya penghasilan dari perkebunan.
Ya, meski Palopo nggak punya tempat wisata yang berkelas dunia seperti Tana Toraja, kota ini punya banyak jejak sejarah. Beberapa artikel menyebutkan, Islam pertama kali masuk di Sulawesi Selatan melalui bumi I Lagaligo ini. Sayangnya, sastra I Lagaligo yang masih banyak menganggapnya sebagai mitos ini, tak meninggalkan jejak kecuali cerita I Lagaligo yang berkembang di masyarakat. Karya sastra yang berbahasa Bugis dan ditulis dengan huruf Lontara’(aksara Bugis), naskah aslinya berada di Belanda. So, kalo mau melihat naskah asli I La Galigo jangan berlayar ke Palopo, tapi ke negeri kincir angin itu.*** Jazakillah to Ainil Rachimi di Palopo


















lanjutan cerita......

MENANTANG ANDREA HIRATA


MENANTANG ANDREA HIRATA
Oleh: S. Gegge Mappangewa
Saya punya banyak koleksi buku yang lembar pertamanya ditandatangani oleh penulisnya. Mulai dari penulis-penulis teman FLP hingga buku Serial Cinta Anis Matta. Tapi usai membaca Maryama Karpoov, saya tidak pernah kepikiran untuk memburu tanda tangan Andrea Hirata. Halaman pertama yang biasa kupakai untuk meminta tanda tangan penulis, malah kuisi dengan tanda tanganku. Ya, tanda tanganku! Tapi di atas tanda tangan itu kutulis sebuah catatan untuk Andrea Hirata: Ayahku jauh lebih hebat, Boy! Paling hebat sedunia! Ya, kutulis seperti itu karena saya iri dengan Andrea Hirata yang banyak mengangkat ayahnya di Maryamah Karpoov.

MENANTANG ANDREA HIRATA
Saya punya banyak koleksi buku yang lembar pertamanya ditandatangani oleh penulisnya. Mulai dari penulis-penulis teman FLP hingga buku Serial Cinta Anis Matta. Tapi usai membaca Maryama Karpoov, saya tidak pernah kepikiran untuk memburu tanda tangan Andrea Hirata. Halaman pertama yang biasa kupakai untuk meminta tanda tangan penulis, malah kuisi dengan tanda tanganku. Ya, tanda tanganku! Tapi di atas tanda tangan itu kutulis sebuah catatan untuk Andrea Hirata: Ayahku jauh lebih hebat, Boy! Paling hebat sedunia! Ya, kutulis seperti itu karena saya iri dengan Andrea Hirata yang banyak mengangkat ayahnya di Maryamah Karpoov.
Tapi sekali lagi, ayahku jauh lebih hebat dari ayah Andrea Hirata. Akan kuceritakan kehebatan ayahku yang baru saja kulalui bersamanya. Bukan narsis, cuma ingin membuktikan bahwa ayahku benar-benar hebat! Sekali lagi, Paling hebat sedunia!
Kuawali ceritaku dengan menuliskan profesinya. Ayahku petani. Sebenarnya dia sudah pernah ‘pensiun’ dari profesinya itu. Tinggal di rumah, mengaji, menemani cucunya (anak dari kakak), dan tak lupa ke mesjid salat berjamaah. Aku sendiri tak tahu berapa umur ayah sebenarnya. Yang jelas sudah tua. Mungkin lebih tepatnya disebut renta. Gaji ‘pensiunnya’ sudah tentu dari ketujuh anaknya yang semuanya sudah bekerja, ditambah dengan hasil pertanian yang didapatkan dari orang yang menggarap sawahnya. Di bawah rumah panggung kami, tak pernah kosong dari tumpukan gabah. Tak pernah kurang dari sepuluh karung hingga masa panen tiba lagi.
Musim tanam kali ini, ayah turun sawah lagi. Dia ingin menggarap sendiri sawahnya. Meski semua anaknya melarang. Ayah tetap keukeuh untuk kerja sawah lagi. Saat melewati musim tanam, kakak saya sakit. Cukup parah, hingga harus dibawa ke rumah sakit. Baru beberapa hari di rumah sakit, ayah dapat kabar lagi dari Palu, Sulawesi Tengah, kalau adiknya (paman saya) sakit parah dan masuk rumah sakit. Di luar dugaan, ayah memilih meninggalkan sawahnya yang sedang antri menunggu untuk dialiri air dari pengusaha yang biasanya memompakan air dari sungai kampung, juga meninggalkan anaknya yang sedang terbaring berjuntaian selang infus rumah sakit.
Itu masih hal kecil untuk dianggap sebagai ayah yang hebat? Cerita memang belum berakhir. Sebagai petani, apalagi di kampung, ayah juga adalah petani yang buta bahasa. Bahasa Indonesia ayah pas-pasan. Saat bicara, bahasa Indonesia ayah terpatah-patah, sangat-sangat pasif! Meskipun bisa membaca, itu pun tersendat-sendat. Maklum, ayahku tak tamat SD. Hebatnya, begitu mendengar kabar adiknya sakit di Palu, dia tak berpikir dua kali untuk datang menemuinya. Padahal begitu banyak sebenarnya yang harus dipertimbangkan. Sawahnya yang sedang menunggu air, anaknya yang sedang di rumah sakit, perjalanan dari kampungku ke Makassar yang butuh waktu empat jam perjalanan bis cepat. Padahal, setiap naik mobil ayah pasti mabok perjalanan hingga muntah. Dan terlebih yang harus dia pertimbangkan, dia buta bahasa, bagaimana mungkin dia masuk bandara internasional Sultan Hasanuddin? Tapi sekali lagi, dia sangat hebat!
***
Di Bandara Sultan Hasanuddin, kulihat duduknya gelisah. Aku berusaha menenangkannya. Aku juga sempat mati akal. Bagaimana ayah yang buta bahasa bisa masuk untuk memeriksakan tiketnya. Dia memang sering ke Palu dengan pesawat, tapi selalu ditemani salah seorang anaknya. Untungnya, aku punya kenalan cleaning service di bandara. Dengan minta bantuan ke dia, ayah bisa bernapas lega untuk masuk checkin. Sehabis checkin, ayah kembali ke teras bandara. Duduknya sangat gelisah. Berkali-kali kutenangkan dengan kalimat bahwa jika pesawatnya akan berangkat, kenalan saya yang cleaning service akan datang menjemputnya. Saya memang tak mau kalau ayah menunggu di waiting room penumpang. Takutnya, begitu penumpang yang lain beranjak ke pesawat, dia ikut beranjak, padahal bukan pesawat ke Palu. Bahkan nomor kursinya pun dia tak tahu.
Beberapa menit sebelum pesawatnya boarding, kenalan saya yang cleaning service datang menjemputnya. Kucium tangannya! Selamat berjuang, Ayah! Dia sangat ragu, dia bahkan memintaku untuk membayar security, asalkan security loloskan saya masuk untuk mengantarnya masuk ke kabin pesawat. Tapi tentu saja itu tak mungkin.
Ada haru sekaligus bangga pada ayah. Tanpa pernah dia sadari, dia yang buta bahasa, telah melahirkan tujuh orang anak. Tiga di antaranya adalah sarjana sastra. Dan saya sendiri adalah sarjana teknik, meskipun bukan sarjana sastra tapi saya adalah penulis yang telah beberapa kali menang lomba menulis tingkat nasional, punya beberapa buku, semua kampus di Makassar, bahkan hampir semua kabupaten di Sulawesi Selatan telah kudatangi untuk memberikan materi kepenulisan. Dan ayah yang buta bahasa itu, tak sadar jika dia adalah ayah dari seorang penulis. Ayah dari tiga orang sarjana sastra. Dia hanya sadar, bahwa dia harus pergi menemui adiknya yang sakit di Palu.
Lalu bagaimana dengan saya? Hanya karena sibuk mengajar, kakakku yang masuk rumah sakit di kampung, yang untuk menemuinya hanya dengan perjalanan empat jam bis cepat, tak sempat pulang untuk membesuknya. Satu lagi pelajaran berharga yang ayah didikkan untukku! Jauh sebelum pelajaran ini dia antarkan untukku, telah kutulis di lembaran pertama buku Maryamah Karpoov: Ayahku jauh lebih hebat, Boy! Paling hebat sedunia! Dan lagi-lagi ayah membuktikan di bandara Sultan Hasanuddin malam itu, jika dia memang lebih hebat dari ayah Andrea Hirata!***





lanjutan cerita......