<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8970134704959434086</id><updated>2011-12-28T12:26:21.397+08:00</updated><title type='text'>Mengarungi Lauh Mahfudz</title><subtitle type='html'>Dan Dengarlah aku bercerita!</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://masgege.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masgege.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Gegge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02227405124686698722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/S871hC3hv7I/AAAAAAAAAJw/pjsdP-TQAXw/S220/fb1.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>32</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8970134704959434086.post-8930983988582439675</id><published>2011-01-04T13:28:00.004+08:00</published><updated>2011-01-04T13:37:53.577+08:00</updated><title type='text'>SALAHKAH AKU MENANGIS</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/TSKw-NPTsDI/AAAAAAAAALI/AxDTx6ATQPg/s1600/AIR%2BMATA.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 276px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/TSKw-NPTsDI/AAAAAAAAALI/AxDTx6ATQPg/s400/AIR%2BMATA.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558199472880857138" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: S. Gegge Mappangewa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki   selalu identik dengan kesempurnaan. Tegar, kekar, sangar, dan seluruh yang berhubungan  dengan gagah-gagahan  berakar pada  lelaki. Hingga ada kesan bahwa telaga air mata yang ada di balik retina lelaki, kering! Atau mungkin, bahwa bendungan  air mata milik lelaki telah dirancang sekokoh mungkin, tanpa ada celah yang bisa dirembesi cairan setitik pun. Atau bahkan air mata lelaki memang mengandung gas methane, yang bisa membahayakan jika keluar, hingga tak ada jalan lain kecuali harus menguap begitu saja?&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Padahal, jangan salah, sudah banyak dilakukan penelitian ilmiah yang membuktikan bahwa menangis memiliki manfaat bagi kesehatan, baik manfaat fisik (jasmani) maupun manfaat psikis (ruhani). Dr Simon Moore, psikolog dari London Metropolitan University mengatakan, "Menangis adalah pelepasan emosi yang paling tepat saat kita tak bisa mengungkapkannya lewat kata-kata" .  Menurut Profesor William Frey, ahli tangis dari AS, bahwa air mata yang dikeluarkan saat kita sedang emosional mengandung hormon endorphin atau stres sehingga bisa membuat perasaan lebih plong. Menangis juga diketahui bisa menurunkan tekanan darah dan denyut nadi. &lt;br /&gt;No woman no cry! Dari ungkapan ini, seolah lelaki yang telah terlanjur  kebobolan bendungan  air matanya, bukanlah lelaki sejati. Saking tak ingin dianggap cengeng, beberapa lelaki mengaku lebih berani meneteskan darah di depan umum daripada meneteskan air mata. Tak heran, begitu banyak persoalan yang bisa  diselesaikan dengan kata maaf, bahkan mungkin dengan setetes air  mata tanda sesal, malah diselesaikan dengan kekerasan yang bukan tak mungkin menkucurkan darah, dan inilah yang disebutnya sebagai  penyelesaian secara jantan. Sesat pastinya. Sesal nantinya!&lt;br /&gt;Kalaupun ada  lelaki yang  menggunakan air mata sebagai  pelarian untuk mengungkapkan kesedihannnya, air mata itu kembali disangsikan oleh orang yang melihatnya. Air mata buaya, begitu kata banyak orang! Boleh jadi, takut dianggap sebagai lelaki buaya beberapa lelaki lebih memilih menangis sendiri, atau bahkan berusaha  muncul di permukaan setegar mungkin, padahal sebenarnya jiwanya tenggelam dalam lautan air  mata yang tersembunyi di balik dada. Sesak tentunya! &lt;br /&gt;Padahal air mata tak boleh menjadi  ukuran, sejati atau matinya seorang lelaki. Pemain bola dunia yang  begitu kekar,  yang sedikit pun tak punya sisi feminin, toh banyak yang mengakui kekalahannya dengan air  mata. Sahabat Rasulullah yang terkenal galak, Umar bin Khattab, ternyata sering menangis dalam shalatnya, hingga terdengar oleh makmun di shaf belakang. &lt;br /&gt;Kebanyakan kita, lelaki tentunya, telah menganggap  menangis itu aib. Tak peduli  badai  hampir merobohkan kita, kita tetap  berusaha tegar. Untunglah kalau ketegaran itu tak  menghanyutkan kita dalam arus deras yang semakin tak bisa dilawan saat kita telah mengalir di dalamnya. Jangan sampai  air mata yang kita anggap aib tertampung dalam jarum suntik drug atau tersembunyi di dalam botol miras! Kedua pelarian ini hanya akan membawa kita terbang di atas angin–dan jelas-jelas bukan angin surga–bahkan akan membuat kita  semakin menangis saat tiba waktunya untuk ‘turun angin’ alias terhempas.&lt;br /&gt;Baik buruknya cuaca dalam hati, berpengaruh besar akan datangnya mendung yang akan membawa hujan air mata. Itu berarti, air mata itu bermuara dalam hati. Karena memang hati merupakan sumber inspirasi akal, ilmu, kesabaran, keberanian, kemuliaan, cinta, kehendak, dan seluruh sifat-sifat terpuji. Wanita ataupun lelaki, sama-sama punya hati. Lalu mengapa kita rela didiskriminasikan hanya gara-gara air mata yang tak ada dalil haramnya? Dalam urusan air mata, kita punya hak yang sama  dengan wanita.&lt;br /&gt; Jadi, menangislah! Tentu saja bukan dengan tangis yang berelebihan, apalagi diselingi dengan ratapan dan menyesali takdir. Jangan takut dianggap sebagai lelaki lemah, cengeng, atau bahkan lelaki buaya. Salah, masalah, dan masa lalu–yang  selama ini menjadi hulu dari  sungai air mata–adalah  milik semua orang. Akui salah dengan maaf dan taubat, atasi masalah dengan berkisah pada orang-orang terdekat, dan lupakan masa lalu yang  tak lain hanyalah kisah lalu yang memang harus diganti dengan  cerita masa depan! Bahkan  boleh jadi, obat hati itu bukan hanya lima perkara seperti yang kita kenal lewat ‘Tombo Ati’,  melainkan enam perkara, di mana perkara keenam adalah menangis. &lt;br /&gt;DR. ‘Aidh Al Qarni,  penulis buku fenomenal La Tahzan (Jangan Bersedih) bahkan menuliskan jika “Rintih tangis orang yang bertaubat lebih dicintai Allah daripada gemuruh ujub suara orang yang beribadah. Penyesalan, kesedihan, dan rasa remuk redam hati orang yang  berbuat  dosa lebih baik daripada kesombongan seorang ahli ibadah  terhadap amal-amalnya.” Jadi mengapa harus malu untuk menangis, apalagi jika itu  menangis  karena taubat?&lt;br /&gt;Sekali lagi, menangislah! Sebelum Allah  memaksa kita untuk menangis  dengan ujian-ujiannya. Boleh jadi, bencana yang menimpa kita selama ini, akibat ulah kita yang  malu menangis di depan Allah, malu mengakui kesalahan di depan Allah tapi sebaliknya, kita malah melarikan salah, masalah, dan masa lalu kita  ke sebuah   lembah yang disebut lembah hitam. &lt;br /&gt;Saudaraku, jika menangis bisa membuatmu ‘tersenyum’, jangan simpan air mata itu. Alirkan  padaku, lalu kita pertemukan air mata kita dalam sebuah muara yang  di atasnya berdiri sebuah istana terapung. Di istana itu kita  berbagi keluh, berbagi kisah. Kutunggu! Lalu kita bersama, mendaur ulang air mata itu menjadi kristal-kristal senyum.&lt;br /&gt;*Tulisan ini kutulis empat tahun lalu dan kudapatkan lagi saat  berusaha menyembunyikan air mata.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8970134704959434086-8930983988582439675?l=masgege.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masgege.blogspot.com/feeds/8930983988582439675/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8970134704959434086&amp;postID=8930983988582439675' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/8930983988582439675'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/8930983988582439675'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masgege.blogspot.com/2011/01/salahkah-aku-menangis.html' title='SALAHKAH AKU MENANGIS'/><author><name>Gegge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02227405124686698722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/S871hC3hv7I/AAAAAAAAAJw/pjsdP-TQAXw/S220/fb1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/TSKw-NPTsDI/AAAAAAAAALI/AxDTx6ATQPg/s72-c/AIR%2BMATA.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8970134704959434086.post-8540516663016759880</id><published>2010-04-22T09:13:00.002+08:00</published><updated>2010-04-26T09:44:30.540+08:00</updated><title type='text'>MEMPERTAJAM  FIRASAT</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/S9Tv5DEVxpI/AAAAAAAAAKY/tBpxSR9KVFI/s1600/nightmare2.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 307px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/S9Tv5DEVxpI/AAAAAAAAAKY/tBpxSR9KVFI/s400/nightmare2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5464256011262346898" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;MEMPERTAJAM  FIRASAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daripada mimpi buruk itu menjelma lagi. Mungkin, tak ada salahnya firasat yang menjelma. &lt;br /&gt;Mungkin…? Semoga bukan apatis. Saya benar-benar takut dengan mimpi itu.  Kematian itu   milik semua orang. Tapi  mimpi buruk itu? Mungkin hanya padaku. &lt;span class="fullpost"&gt;Jadi, semoga bukan apatis, mungkin firasat itu lebih  baik menjelma. Wajahnya tak  pernah bisa kukenali. Berganti rupa setiap datang. Kadang  rupa monster, kadang rupa malaikat. Tapi bagiku semuanya adalah nightmare. Jika firasat itu datang menjelma, adakah bekalku telah cukup?  Saya enggan  berpikir  bekal! Mimpi buruk itulah yang menguras  semua bekalku selama ini. Saya takut, mimpi buruk itu datang menjelma, dan saya selalu rapuh untuk bisa melawannya. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8970134704959434086-8540516663016759880?l=masgege.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masgege.blogspot.com/feeds/8540516663016759880/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8970134704959434086&amp;postID=8540516663016759880' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/8540516663016759880'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/8540516663016759880'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masgege.blogspot.com/2010/04/mempertajam-firasat.html' title='MEMPERTAJAM  FIRASAT'/><author><name>Gegge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02227405124686698722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/S871hC3hv7I/AAAAAAAAAJw/pjsdP-TQAXw/S220/fb1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/S9Tv5DEVxpI/AAAAAAAAAKY/tBpxSR9KVFI/s72-c/nightmare2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8970134704959434086.post-5486879414954621355</id><published>2010-04-17T22:47:00.001+08:00</published><updated>2010-04-17T23:30:59.478+08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/S8nUIxmyLzI/AAAAAAAAAJo/jgUZjzDrWbo/s1600/tidur.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 264px; height: 241px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/S8nUIxmyLzI/AAAAAAAAAJo/jgUZjzDrWbo/s400/tidur.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5461129270383488818" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;SAAT MALAM &lt;br /&gt;Kuyakin, malam ini  saya tak bisa lagi tidur. Sampai pagi, mata ini tak akan bisa  kubujuk untuk tidur.  Dan yang paling kubenci, setiap mata  tak bisa kompromi seperti ini, sesosok bayangan akan datang mempermainkanku. Jika kutepis, dia akan datang dalam mimpi burukku dalam tidurku esok hari. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hhhhaahhhh…! Rongga dadaku sepertinya menyempit. Alveolusku  sepertinya gagal  melaksanakan tugasnya sebagai tempat pertukaran oksigen dan karbondioksida.  Arteri pulmonalisku seperti melebar, sedangkan vena pulmonalisku menyempit, membuat oksigen di rongga dadaku kurasa berkurang. Hhhhhahhh….! Sekali lagi kuhempas napas. Masih tetap sesak! Ya, Allah! Aku ingin tidur malam ini. Ingin sekali! Ya, Allah…. Sudilah menukar mimpi burukku selama ini dengan mimpi harapan.   &lt;br /&gt;Kini, tak cukup dengan menghempas napas! Kucoba mengelus dada dengan  istighfar, semoga  menjadi mantra pengusir sosok yang selalu hadir di mimpi burukku! Allahku, hanya Engkau yang mampu mengusir mimpi buruk itu! Jangan pernah datangkan lagi mimpi serupa itu di malam-malamku!&lt;br /&gt;Malam semakin menanjak. Sebentar lagi akan tergelincir di subuh yang dingin. Gerimis tipis perlahan menebal, sayup, lalu tipis kembali. Tak usah kubujuk, mataku  memang tak bisa terpejam malam ini. Tak mengapa! Demi tak  bertemu sosok-sosok yang selalu hadir dalam mimpi burukku. Biarlah! Akkhhh, sepertinya  saya telah terbiasa dengan kata ‘biarlah’. Mengapa sedikit pun saya tak pernah berusaha melawan? Ahhh… biarlah! Buat apa melawan, ini adalah takdir, meski kutahu setengahnya adalah pilihanku!&lt;br /&gt;Allahku…! Engkau seperti prasangkaku, kan? Dan saya akan selalu datang padamu dengan prasangka baik! Engkau akan mengusir sosok-sosok itu dari mimpi burukku! Engkau akan menggantinya dengan mimpi manis yang seumur hidupku belum pernah kurasakan! Belum pernah ya, Allah! Mungkinkah malam ini terkabul ya, Allah? Mungkin mustahil, karena saya telah yakin, malam ini saya takkan bisa tertidur! Kutunggu di malam-malam berikutnya, wahai Yang Tak Pernah Tidur! Kuakan selalu menunggu, wahai Yang Tak Beranak dan Tak Diperanakkan! Hanya Engkau!!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8970134704959434086-5486879414954621355?l=masgege.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masgege.blogspot.com/feeds/5486879414954621355/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8970134704959434086&amp;postID=5486879414954621355' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/5486879414954621355'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/5486879414954621355'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masgege.blogspot.com/2010/04/saat-malam-kuyakin-malam-ini-saya-tak.html' title=''/><author><name>Gegge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02227405124686698722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/S871hC3hv7I/AAAAAAAAAJw/pjsdP-TQAXw/S220/fb1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/S8nUIxmyLzI/AAAAAAAAAJo/jgUZjzDrWbo/s72-c/tidur.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8970134704959434086.post-3874080074221670464</id><published>2010-03-29T12:20:00.003+08:00</published><updated>2010-03-29T12:23:59.916+08:00</updated><title type='text'>Kolam Susu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/S7ArQaliIiI/AAAAAAAAAJg/6zT79j-KUHc/s1600/pernikahan-dini.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 398px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/S7ArQaliIiI/AAAAAAAAAJg/6zT79j-KUHc/s400/pernikahan-dini.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5453906709760320034" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;KOLAM  SUSU&lt;br /&gt;Oleh: S. Gegge Mappangewa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya  Enal  bisa tersenyum lega. Setelah tiga kali ditolak, proposal nikahnya akhirnya mendapat respon positif. Dasar Enal orangnya gigih, meski ditolak bahkan diceramahi soal pernikahan, tetap saja dia  ajukan proposal serupa. Mamanya akhirnya angkat tangan, papanya membuka kedua  belah tangan.  Ningsih adiknya, juga ikutan pasrah. Padahal sebelumnya, dia yang paling ngotot melarang Enal menikah.&lt;br /&gt;“Aku nggak setuju kalo Kak Enal  cepat nikah,” begitu katanya dalam rapat keluarga.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena takut nggak ada yang nganterin kan? Nggak ada lagi yang kiri kanan ngurus kamu? Itu namanya egois!”&lt;br /&gt;Dibilangin begitu, Ningsih cepat menampik, meski sebenarnya memang itulah alasan utama menolak proposal Enal.&lt;br /&gt;“Eh siapa juga yang takut kehilangan kakak seperti kamu. Aku tuh cuma kasihan. Ntar abis nikah mau  kerja apa, ntar punya anak mau beli susu  dari mana?”&lt;br /&gt;“Kan  ada ASI?”&lt;br /&gt;“Kalo ASI istrimu nggak lancar? Anakmu mau nyosor sembarangan seperti kamu?” &lt;br /&gt;“Hussh!” tegur mamanya, Ningsih langsung bisu.&lt;br /&gt;Dibilangin nyosor sembarangan, muka Enal langsung digantungi kabut  tebal. Memang sih, selama ini dia dan Ningsih hanyalah saudara sesusuan. Ibu Enal  meninggal sejak dia masih bayi. Nggak ada ikatan darah  antara orangtua mereka,  cuma kebetulan saja,  mama Ningsih saat itu satu kontrakan dengan ibu Enal, jadi dia  yang mengulur tangan mengurus  Enal.&lt;br /&gt;Seperti pada ibunya, Enal juga nggak  kenal ayahnya, karena meninggal saat Enal masih dalam kandungan. Untunglah orangtua Ningsih mau merawat dan memeliharanya seperti anak sendiri.&lt;br /&gt;Orangtua Ningsih nggak pernah pilih kasih. Sejak kecil hingga Enal minta kawin seperti sekarang, setiap Ningsih dibelikan sesuatu, Enal dapat bagian yang sama. Dia nggak pernah kecewa, jika itu masalah  pembagian kasih sayang. Hubungan dia dengan Ningsih pun, sebagaimana layaknya adik-kakak. Enal paling setia ngantar-jemput setiap Ningsih ada keperluan. Bahkan banyak di antara teman Ningsih, maupun   teman Enal, nggak tahu jika mereka sebenarnya  hanyalah saudara sesusuan.&lt;br /&gt;Ningsih yang dulu ngotot melarang Enal nikah, sekarang melemah. Dia kasihan  melihat Enal yang selalu merayu, merengek, bahkan sudah setengah  memaksa pada mama dan papanya.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;“Kapan  bawa calonmu ke sini?”&lt;br /&gt;Pertanyaan mamanya   membuat Enal kaget. Ningsih yang  melihat kekagetan itu, mengerutkan kening. &lt;br /&gt;“Kenapa kaget? Pacar kamu nggak layak pamer ya?”&lt;br /&gt;“Bukan gitu,”&lt;br /&gt;“Terus kenapa?”&lt;br /&gt;“Calonnya sementara dicari,” ucap Enal santai.&lt;br /&gt;Giliran Ningsih dan mamanya yang kaget. Tentu saja bingung.&lt;br /&gt;“Emang hilangnya di mana,” Ningsih  nggak kuasa berlama-lama diserang penasaran.&lt;br /&gt;“Bukan hilang,”&lt;br /&gt;“Disambar orang?”&lt;br /&gt;“Bukan...”&lt;br /&gt;“Jangan-jangan kamu belum punya pacar. Nggak punya calon!”&lt;br /&gt;“Yaa..gitu deh!”&lt;br /&gt;Ningsih pukul  jidat.&lt;br /&gt;“Kamu gimana sih, Nal? Mama sama Papa tuh udah serius mau nikahin kamu. Papa bahkan udah nelpon temannya yang punya usaha percetakan buat cetak undangan kamu. Mama udah nelpon ke teman-teman arisan biar bantuin  bikin kue. Tapi…” Mamanya  geleng-geleng kepala.&lt;br /&gt;“Mau nikah kok nggak ada calon. Emang  ada dijual di mal, tinggal pilih, bayar, lalu bawa pulang? Ma, dia udah disunat belum? Jangan-jangan  belum juga.”&lt;br /&gt;“Ningsih!” bentak mamanya.&lt;br /&gt;“Iya, bawel! Taunya ngeledek! Bantuin kek cari calonnya.”&lt;br /&gt;Ningsih mempermainkan bola  matanya. Cari calon buat Enal? Sepertinya itu pekerjaan  asyik! Dia memang sudah lama promosikan  Enal ke teman-teman kuliahnya.&lt;br /&gt;“Tapi jangan pilih-pilih tebu, ya!”&lt;br /&gt;“Ya, asal  tebunya manis,”&lt;br /&gt;Mamanya berlalu ke dapur sambil tertawa kecil. &lt;br /&gt;“Mau yang kayak siapa? Temanku ada yang mirip selebritis…”&lt;br /&gt;“Yang itu aja!” potong Enal cepat.&lt;br /&gt;“Mirip Aming  yang didandani ala banci. Mau?”&lt;br /&gt;“Masa iya sih seperti itu. Pantes-pantesin dong! Aku kan cakep, berarti ceweknya harus cantik. Aku pintar, ceweknya tentulah nggak boleh yang bloon.”&lt;br /&gt;“Makanya jangan langsung ngiler dengar mirip selebritis. Nanya dulu kek,  hatinya gimana?”&lt;br /&gt;“Oke deh, semuanya aku serahin ke kamu! Kamu, Mama, dan Papa  yang audisi. Aku tinggal terima jadi!” &lt;br /&gt;Enal bilang begitu karena dia tahu betul kalau Ningsih punya banyak teman yang cantik. Ningsih juga asyik-asyik aja terima pekerjaan  itu. Toh, Enal cakep, pintar lagi! Dari dulu teman-temannya banyak yang nitip salam ke dia, tapi Ningsih cuekin karena takut nggak diperhatikan lagi  kalau  Enal  sudah punya pacar. &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Rara! Inilah finalis pertama  yang Ningsih berhasil giring masuk rumah, setelah beberapa nama lain dicoret dalam daftar calon. Rara masih teman dekat Ningsih di kampus. Orangnya lembut, tuturnya nggak asal nyembur, dan   juga sering kedapatan  melirik Enal, saat Enal nganterin dia ke rumahnya. &lt;br /&gt;Tapi  Ningsih  cuma ajak main ke rumah dulu. Dia  belum  to the point  kalau  Rara mau dijadikan adik ipar. Yang jelas, Ningsih sebagai  penyeleksi pertama, menyatakan  Rara sudah lolos seleksi. Berikutnya, giliran mama dan papanya sebagai eksekutor.&lt;br /&gt;Biar mamanya leluasa mengajukan pertanyaan, dengan alasan ke kamar kecil, dia meninggalkan   Rara di ruang tamu bersama mamanya.&lt;br /&gt;“Aku boleh ngintip  nggak?” tanya Enal saat Ningsih masuk kamarnya untuk memberi tahu kalau dia sudah dapat calonnya.&lt;br /&gt;“Nggak usah! Yang jelas, kamu  nggak akan kecewa!”&lt;br /&gt;“Tapi aku kan penasaran. Kulitnya putih nggak, mulus nggak?”&lt;br /&gt;“Eh, udah kubilang jangan pilih-pilih tebu!” sewot Ningsih, karena Rara yang dibawanya memang hitam manis.&lt;br /&gt;“Bukan pilih tebu…”&lt;br /&gt;“Sekali lagi kamu bicara, tanganmu  kupatah tebu. Kalo mau yang  persis seperti yang kamu suka, pilih sendiri! Kalo mau yang modis, carinya di mal. Mau yang kutu buku, carinya di perpus. Kalo mau yang alim, carinya di mesjid! Terserah!”&lt;br /&gt;“Iya deh, kamu yang cariin. Tapi kamu tahu seleraku kan?”&lt;br /&gt;Ningsih nyesal juga. Dia lupa sekali  kalau Enal paling suka dengan cewek yang berkulit putih. Kalau ingat, dia pasti nggak akan bawa Rara. Dia takut, Enal akan kecewa, terpaksa menerima, lalu nggak bahagia. Enal memang super-care sama kulit, sering ribut pagi-pagi dengan Ningsih gara-gara dia paling betah ngurus daki di kamar mandi. Alasannya, malu kalau  selesai kuliah, tapi surat lamaran  kerja ditolak terus, gara-gara lebih banyak  panu daripada berkas  lamaran &lt;br /&gt;“Kulitnya  putih, kan? Kuning langsat, kan?” tanya Enal lagi.&lt;br /&gt;“Iya, kuning langsat. Tapi  langsat bonyok!“ ucap Ningsih  lalu berlari keluar menemui Rara.&lt;br /&gt;Tapi di ruang tamu,  dia mendapatkan Rara dan mamanya  saling berpelukan, menangis. Ningsih terpaku melihat adegan itu. Pikirnya, jangan-jangan Rara  nggak lolos audisi, tereliminasi! &lt;br /&gt;Enal yang diam-diam ngintip dari ventilasi kamar, memberanikan diri keluar saat melihat  adegan menyedihkan itu.&lt;br /&gt;“Enal…”&lt;br /&gt;“Ya, Ma!” sahutnya pelan, menunduk.&lt;br /&gt;Hanya sekali menyapu bersih wajah Rara dengan pandangan pertama tapi mendarat lama, Enal  sudah jatuh suka. Dia nggak peduli kulitnya nggak putih, toh hitam manis. Tapi melihat Rara dan mamanya menangis, dia takut Rara bukanlah jodohnya.&lt;br /&gt;“Rara ini saudara kamu!”&lt;br /&gt;Enal. Ningsih. Mata mereka langsung membola, menyorot  silih berganti ke wajah Rara dan mamanya.&lt;br /&gt;“Tapi kata Mama, aku ini anak tunggal,”&lt;br /&gt;“Iya, tapi Rara ini saudara sesusuan kamu. Sama seperti  Ningsih,”&lt;br /&gt; Mamanya akhirnya bernostalgia. Dulu, ASI mamanya nggak cukup untuk Ningsih sekaligus Enal, jadi mama Rara sering mengulurkan jasa, demi hidup Enal. Enal saat bayi, rewel! Jangankan mau minum pakai dot, sereal aja pilih-pilih!&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Setelah Rara, kali ini Ningsih membawa Dian. Alasan diajak main ke rumah, padahal ingin diperkenalkan pada mamanya, sekaligus pada Enal. Harapnya sih, mama dan Enal suka. Ningsih selalu memastikan cewek manapun akan jatuh suka pada Enal  karena cakepnya, juga pintarnya. Apalagi Ningsih selalu membawa cewek jomblo, termasuk Dian. Cuma persoalannya, Dian bersedia nikah dini atau nggak?&lt;br /&gt;Ningsih juga heran, kok nikah dini sekarang lagi nge-trend. Ningsih sampai nggak mau sembarangan naksir di kampus, takut yang ditaksirnya malah sudah beranak istri. Dia yakin, keinginan Enal nikah, pasti karena  teman-teman kuliahnya sebagian besar sudah pada nikah. Padahal menurut Ningsih, nggak berarti teman-teman sudah nikah, terus mau ikut-ikutan. Jangan sampai memang belum matang, atau malah nggak punya calon seperti yang dialami  Enal.&lt;br /&gt;Enal dan mamanya sedang ngobrol di ruang tamu, saat Ningsih datang membawa Dian. Saking terpesonanya pada Dian, Enal sampai nggak menjawab salam. Matanya  menatap lurus, tanpa kedip ke arah  Dian. Ningsih yang melihat itu, mengibaskan  tatapan tajamnya ke arah Enal. &lt;br /&gt;Usai menjinakkan tatapan nakal Enal, kali ini Ningsih menangkap  sinyal aneh dari tatapan  mamanya. Tatapan mama juga tanpa kedip dan ada  kesan kenal pada  wajah Dian. Pikirnya, jangan-jangan saudara sesusuan lagi! Akhh, cepat dia menepis pikiran itu. Nggak mungkin, lanjut batinnya. Dia sengaja membawa Dian, selain cantik dan ramah, Dian juga berasal dari Tangerang. Jauh dari Makassar! Jadi sangat kecil kemungkinan ada hubungan darah apalagi sampai saudara sesusuan dengan Enal.&lt;br /&gt;“Jangan-jangan kamu anaknya  Sri Wahyuni? Kamu mirip sekali,” ucap mamanya pelan.&lt;br /&gt;Saat Dian mengangguk membenarkan kalimat itu, mamanya langsung memeluk Dian erat, sambil nangis. Ningsih, terlebih  Enal, patah hati lagi!&lt;br /&gt;“Enal,  Ningsih  ini saudara sesusuan kamu. Sebelum ke Tangerang, mamanya  pernah  di Makasar dan satu kontrakan dengan kami.”&lt;br /&gt;Apa yang dikhawatirkan Ningsih, terjadi lagi. Dia jadi kesal mendengar cerita mamanya, tentang Enal yang hingga umur satu tahun masih juga minum ASI. Dan yang lebih membuat Ningsih trauma untuk mencarikan jodoh, ternyata Enal punya ibu susuan tujuh orang. Selama ini mamanya nggak pernah buka mulut karena nggak ingin  Enal mengenang masa kecilnya yang tanpa ibu dan ayah. &lt;br /&gt;Mamanya memang sangat menyayangi Enal. Alasan itu juga yang membuat mamanya bungkam pada semua masa kecil Enal. Dia takut, Enal meninggalkan rumah dan pergi mencari  ibu susuannya yang lain. Mamanya juga yakin, kepintaran Enal yang luar biasa, karena percampuran ASI  yang  sempurna  yang dikomsumsinya saat  bayi.&lt;br /&gt;“Eh kamu dari kecil emang rakus ya? Sampai tujuh ibu susuan. Rasain  sekarang, mau nikah jadi susah!” serang Ningsih kesal saat Dian berlalu.&lt;br /&gt;“Ya, mau gimana lagi. Masa iya mau  nyesel, aku kan juga nggak ingat  masa kecilku.” Enal  berucap pelan.&lt;br /&gt;Enal nggak bisa menyembunyikan kesedihannya. Secara nggak langsung, pertemuannya dengan saudara-saudara sesusuannya, membuat   kenangan masa kecilnya, terkais. Meski mamanya punya kasih yang berlebih, tetaplah dia rindu pada sosok ayah dan ibu kandungnya.&lt;br /&gt;“Aku nggak mau nikah dulu,” katanya   dengan sedih yang mendalam.&lt;br /&gt;Ya, Enal menangguhkan keinginannya untuk menikah. Dia merasa belum pernah   membalas jasa pada orang-orang yang telah  memberinya kehidupan selama ini. Pertemuannya dengan saudara sesusuannya, membuat dia  terjaga. Dia  punya utang budi yang banyak, mungkin lebih dari satu kolam susu. Dia nggak mau air susu itu dibalasnya dengan tuba, jika kelak dia menikah dan malah merepotkan mamanya, karena  kuliahnya yang  masih jauh dari skripsian. Dia nggak ingin kolam susu itu, tertetesi nila setitik pun!&lt;br /&gt;“Aku ingin kuliah dulu,”&lt;br /&gt;“Jadi tugas Mak Comblangku  udah selesai?”&lt;br /&gt;Enal mengangguk.&lt;br /&gt;Tapi belum sempat dia berlalu meninggalkan Ningsih, seorang cewek  berdiri di pintu dan memberi salam. Dia teman Ningsih. Lumayan cantik. Kulitnya putih, dan wajahnya terbingkai jilbab cokelat  muda, yang membuat wajah putih itu semakin berkilau.&lt;br /&gt;“Eh, Dinda. Tumben main ke sini,”&lt;br /&gt;“Aku mau pinjam buku Sabotta kamu,”&lt;br /&gt;“Boleh, ayo langsung ke kamarku!”&lt;br /&gt;Sebelum masuk kamar, Enal menarik lengan  Ningsih dan membisikkan sesuatu.&lt;br /&gt;“Tanyain ke dia  dong, dia waktu kecil minum ASI atau nge-dot!”&lt;br /&gt;Ningsih mencubit pinggangnya.***  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8970134704959434086-3874080074221670464?l=masgege.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masgege.blogspot.com/feeds/3874080074221670464/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8970134704959434086&amp;postID=3874080074221670464' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/3874080074221670464'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/3874080074221670464'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masgege.blogspot.com/2010/03/kolam-susu.html' title='Kolam Susu'/><author><name>Gegge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02227405124686698722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/S871hC3hv7I/AAAAAAAAAJw/pjsdP-TQAXw/S220/fb1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/S7ArQaliIiI/AAAAAAAAAJg/6zT79j-KUHc/s72-c/pernikahan-dini.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8970134704959434086.post-339116885777809115</id><published>2009-12-31T10:37:00.005+08:00</published><updated>2009-12-31T11:09:46.138+08:00</updated><title type='text'>Hanya Pada-Mu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SzwV6nXiWpI/AAAAAAAAAJI/Zj-uqBq1iYY/s1600-h/Snapshot_20090827_6.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SzwV6nXiWpI/AAAAAAAAAJI/Zj-uqBq1iYY/s400/Snapshot_20090827_6.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5421232148191533714" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika  resah hati  tanpa jeda&lt;br /&gt;Menikam , menyiksa, mendera tanpa reda&lt;br /&gt;Ke mana mengadu jika bukan pada-Mu&lt;br /&gt;Bukankah segala urusan mudah di tangan-Mu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika hati  hitam bernoda&lt;br /&gt;Menangis, menyesal  telah terbujuk goda&lt;br /&gt;Tak ada tempat mengadu kecuali pada-Mu&lt;br /&gt;Karena segala ampunan hanya dari-Mu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutahu dosa silamku memang tak  ringan&lt;br /&gt;Tak akan  terhapus hanya dengan tengadah  tangan&lt;br /&gt;Tapi pada-Mu kuminta waktu&lt;br /&gt;Beri kesempatan  untuk meluluhkan hati yang telah membatu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya pada-Mu&lt;br /&gt;Segala resahku&lt;br /&gt;Tiada selain-Mu&lt;br /&gt;Segala taubatku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8970134704959434086-339116885777809115?l=masgege.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masgege.blogspot.com/feeds/339116885777809115/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8970134704959434086&amp;postID=339116885777809115' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/339116885777809115'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/339116885777809115'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masgege.blogspot.com/2009/12/hanya-pada-mu-ketika-resah-hati-tanpa.html' title='Hanya Pada-Mu'/><author><name>Gegge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02227405124686698722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/S871hC3hv7I/AAAAAAAAAJw/pjsdP-TQAXw/S220/fb1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SzwV6nXiWpI/AAAAAAAAAJI/Zj-uqBq1iYY/s72-c/Snapshot_20090827_6.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8970134704959434086.post-6053372513775054854</id><published>2009-12-17T14:22:00.000+08:00</published><updated>2009-12-17T14:29:45.192+08:00</updated><title type='text'>INI KISAH SAYA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SynOf2Pp1VI/AAAAAAAAAIk/hZcW3BGlpFs/s1600-h/pungguk.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 248px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SynOf2Pp1VI/AAAAAAAAAIk/hZcW3BGlpFs/s320/pungguk.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5416087073422169426" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kutulis kisahku, di sini. Pada karang dengan jari telanjang. Perih! Bukan hanya jari, namun seluruh persendianku, terasa dilumuri darah. Teramputasi!  Seluruh  ruang hatiku, porak-poranda oleh badai  air mata yang sesamudera. &lt;br /&gt;Bukan kurutuki takdir.  Tak ingin menjadi pendosa dengan mengkufuri nikmat.   Beginilah  kenyataan. Inilah  kisah  yang harus kulakonkan, di antara para aktor lain yang begitu mudah mendapat peran jagoan, kaya, cakep… semua!! Saya  tak boleh bermimpi, saya harus tetap terjaga bahwa saya  hanyalah  pecundang.&lt;br /&gt;“Kamu pengecut!”&lt;br /&gt;“Biarin!”&lt;br /&gt;“Kamu tahunya menangis. Bahkan saat Tuhan memintamu tersenyum pun, kamu tetap merasa dicurangi  takdir.”&lt;br /&gt;“Kamu bukan saya, Sandi. Kamu hanya tahu bahwa saya telah betah dengan tangis. Kamu tak pernah merasa, betapa pedihnya luka yang membuatku menangis.”&lt;br /&gt;Pffuihh…! Sandi membuang ludah tanpa melepaskan tatapan sinisnya ke arahku. Emosi!&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;INI  KISAH  SAYA&lt;br /&gt;Oleh: S. Gegge Mappangewa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAAT membaca kisah ini, bayangkan lagu Peterpan, Kukatakan, mengalun pelan, mengiringi sekaligus  menjadi sound track  kisah ini. &lt;br /&gt;               Kukatakan dengan indah&lt;br /&gt;Dengan terluka, hatiku hampa&lt;br /&gt;Sepertinya luka&lt;br /&gt;… … … &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; Kutulis kisahku, di sini. Pada karang dengan jari telanjang. Perih! Bukan hanya jari, namun seluruh persendirianku, terasa dilumuri darah. Teramputasi!  Seluruh  ruang hatiku, porak-poranda oleh badai  air mata yang sesamudera. &lt;br /&gt;Bukan kurutuki takdir.  Tak ingin menjadi pendosa dengan mengkufuri nikmat.   Beginilah  kenyataan. Inilah  kisah  yang harus kulakonkan, di antara para aktor lain yang begitu mudah mendapat peran jagoan, kaya, cakep… semua!! Saya  tak boleh bermimpi, saya harus tetap terjaga bahwa saya  hanyalah  pecundang.&lt;br /&gt;“Kamu pengecut!”&lt;br /&gt;“Biarin!”&lt;br /&gt;“Kamu tahunya menangis. Bahkan saat Tuhan memintamu tersenyum pun, kamu tetap merasa dicurangi  takdir.”&lt;br /&gt;“Kamu bukan saya, Sandi. Kamu hanya tahu bahwa saya telah betah dengan tangis. Kamu tak pernah merasa, betapa pedihnya luka yang membuatku menangis.”&lt;br /&gt;Pffuihh…! Sandi membuang ludah tanpa melepaskan tatapan sinisnya ke arahku. Emosi!&lt;br /&gt;“Jadi kamu pikir, kemiskinan yang kamu sandang adalah luka? Semua ketaksempurnaan yang kamu miliki  adalah  kesalahan Tuhan karena telah pilih kasih?”&lt;br /&gt;“Cukup! Saya tidak pernah menyalahkan Tuhan,” potongku saat untuk yang kedua kalinya dia menyebut nama Tuhan di depanku.&lt;br /&gt;“Lalu kenapa masih mau bersembunyi dari semua orang?”&lt;br /&gt;Desah napas keras  seolah mengakhiri  napasku. Saya memilih bisu. Benakku  tetap merangkai untaian kalimat, sekilau mutiara, saat tertuang dalam  kisah puisi ataupun cerpen, semua akan kagum. Mataku tetap  menatap wajah Sandi, sahabatku. Sesekali kuburu dan kucari  tatapannya, saat dia membuangnya  dariku.  Sinis!&lt;br /&gt;Sandi satu-satunya yang tahu, jika  Rudi Wijaya, yang selama ini digilai penikmat puisi dan cerpen remaja, adalah saya. Dan saya tak ingin, ada yang lain tahu. Saya lebih betah  menjadi  seorang Safar, nama asliku, daripada seorang Rudi Wijaya, nama pena yang sering kugunakan di setiap tulisanku.  &lt;br /&gt;Ya, saya  bangga dengan  diriku sebagai Safar. Seorang pekerja keras, yang tak  pernah puas  meski orang telah memujanya. Saya hanya bisa tersenyum, menertawai, ketika semua orang memujiku dan menganggap novel yang kuterbitkan indie, dan terjual laris meski saya pemula, adalah keajaiban.  &lt;br /&gt;Bagiku, dunia ini tak lagi menyisakan keajaiban. Semua harus ditukar  dengan kerja keras.  Terlalu menghina, novel yang kutulis  selama tiga tahun, dan mendapat predikat The Best Seller, disebutnya sebagai keajaiban.&lt;br /&gt;Patutkah disebut sebagai keajaiban, jika  novel itu awalnya kutulis dalam bentuk steno, di atas kertas buram? Bukan kurang kerjaan, meski memang kekurangan kertas. Juga  kekurangan dana, hingga steno itu adalah paket hemat, yang membuat biaya rental komputerku  menjadi irit.  Saya pernah  punya mimpi. Punya komputer, dalam sebuah kamar yang ber-AC. Menarikan jari di atas keyboard komputer, sambil sesekali meneguk  kopi susu. Tapi benar-benar hanya mimpi!&lt;br /&gt;Masihkah ada yang mau menyebutnya sebagai keajaiban, jika tahu bahwa novel  yang kini di tangannya, membuatnya terkagum-kagum, tertunda terbit karena saya harus menunggu celengan ayamku penuh, lalu kupecahkan. Semua karena harus kuterbitkan indie dan kubiayai sendiri. Tak adakah yang bertanya, mengapa novel yang di tangannya  begitu buram, hasil foto copy, dan terbit pada sebuah penerbitan yang  sebelumnya belum pernah terdengar namanya?&lt;br /&gt;Jika bukan keinginan yang  keras seorang Safar, novel indie itu takkan pernah ada. Terlebih takkan ada seorang Rudi Wijaya, yang kini  dielu-elukan. Karenanya, saya benci pada diriku sebagai seorang Rudi Wijaya. Tahunya  hanya menangis, dan melarikan diri dalam  negeri khayalannya. &lt;br /&gt;“Apa lagi yang menghalangimu untuk memiliki Tania? Kamu tinggal bilang, kamu adalah Rudi Wijaya, yang selalu dielu-elukannya selama ini. Kamu tinggal mencopot nama Safar dari dirimu, lalu berganti menjadi Rudi wijaya.”&lt;br /&gt;“Tania terlalu…”&lt;br /&gt;Sandi memotong.”Terlalu  tinggi untuk kau gapai? Begitu? Selamat datang di alam nyata, Safar. Kamu nggak sedang bermain di negeri khayalan yang sering kau ciptakan. Hanya  negeri dongeng yang selalu menjadikan  cowok tajir hanya sepadan dengan cewek tajir pula.”&lt;br /&gt;Percuma  saya jawab. Bicaraku hanya sia-sia. Sandi  takkan pernah menyerah untuk memberiku semangat. &lt;br /&gt;Dia benar. Mungkin  terlalu lama larut dalam dunia fiksi, hingga  saya tak pernah yakin bahwa ada dunia di luar  imajinasiku. Dunia nyata. Dunia yang  memungkinkan apa pun  bisa terjadi. Seperti kejadian yang selalu kuangankan, bahwa Tania yang cantik, kaya, bisa dimiliki oleh seorang Safar yang…? Akh, saya takut melanjutkan kalimatku sendiri.&lt;br /&gt;Tuhan, benarkah ada   pungguk yang  mewujudkan rindunya pada bulan? Tania bulan yang kumau. Hanya dia! Namanya bersarang di benakku. Sesekali  terbang, namun akan selalu kembali dan hinggap di  ranting hatiku yang rapuh. &lt;br /&gt;“Saya yakin kamu telah ngaca, Safar. Tapi jangan karena dirimu cakep, lalu memberanikan diri mengirim surat untukku,” ucap Tania saat itu.&lt;br /&gt;Tak hanya berucap. Tania juga membanting pintu mobil, lalu menghamburkan sobekan suratku yang telah dicabiknya,  Sakit. Butuh perjalanan waktu yang panjang, butuh benang jahitan yang panjang untuk menyatukan kembali bekas sayatan luka yang Tania goreskan. Syukurku, saat itu tak ada yang melihatku. Tak sepasang mata pun menyaksikan saya tergeletak. Menggelepar seperti unggas yang terkena peluru.&lt;br /&gt;Luka itu menjadi rahasia hidupku. Tapi tak kumengerti. Disakiti serupa itu, mengapa tetap saja saya mengharap. Tak adakah Tania yang lain, Tuhan? Tak adakah Tania lain yang pantas untukku? Saya tak butuh banyak. Satu saja! &lt;br /&gt;Salahku mencinta  pada rupa. Hingga tak bisa memuji, jika tak serupa Tania. Serupa cantiknya. Andai ada Tania lain, saya tak butuh dia berpunya ataupun bermewah-mewahan. Saya hanya butuh Tania yang  setiap  kudapatkan matanya, seperti kejatuhan bola salju. Luka lalu beku! Saya butuh  Tania yang  air mukanya selalu memancingku untuk tersenyum, meski telah dilukainya. Bahkan dibekukan!&lt;br /&gt;“Kamu belum jera juga?” begitu kata Tania saat mendapatkan saya menatapnya di kantin yang sepi. &lt;br /&gt;“Jangan karena saya nggak pernah jalan dengan cowok mana pun, hingga kamu dengan berani mau melangkah di sisiku sebagai pacar. Nggak akan, Safar! Saya punya cowok. Bukan di sekolah ini! Dia  adalah…” kalimatnya terhenti. &lt;br /&gt; Bukan saya yang memotong kalimat itu. Terhenti sendiri  lalu melanjutkan langkah meninggalkanku. Cinta memberiku energi untuk memburunya.&lt;br /&gt;“Siapa cowok itu, Tania? Katakan padaku, tunjukan dan suruh cowok itu  menghajarku habis-habisan. Agar saya jera mencintaimu. Agar saya takut berharap pada  mimpi manis yang nggak pernah bisa kukecap. Saya harus bertemu cowok itu.  Saya butuh orang yang bisa membuatku terjaga bahwa kamu nggak bisa kumiliki. Siapa  orang itu?”&lt;br /&gt;Saya  seperti tak sadar apa apa yang kututurkan. Inilah kalimat terpanjang yang kuungkapkan pada Tania selama ini.  Bahkan dalam surat untuknya pun, saya cuma berani berkalimat:&lt;br /&gt;Kamu pernah melihat pungguk? Kalaupun pungguk benar-benar ada, tapi bagiku burung itu  hanyalah kiasan untuk memberi antonim pada bulan yang cantik. Pungguk itu berkaki dua, tak punya sayap, bagaimana mungkin  terbang ke bulan. Pungguk itu bernama Safar, Tania! Saya  tak mungkin menggapaimu, maka jatuhlah untukku!&lt;br /&gt;“Jadi kamu mau kenal dengan cowokku?” &lt;br /&gt;Tania membuka tas. Mungkin untuk mengambil HP, lalu memperkenalkanku dengan cowoknya, atau mengambil foto dari tasnya. Tapi apa yang keluar dari tas itu membuatku tersentak. &lt;br /&gt;“Ini dia orangnya!” ucapnya membusung dada.&lt;br /&gt;Mataku terbelalak.  Sebuah novel indie berjudul Kubawa Senja Pulang, dihempaskannya di meja tepat di depan mataku. Di situ tertulis nama penulisnya, Rudi Wijaya! &lt;br /&gt;Itu namaku, Tania! Bisaku hanya membatin. Nama penaku. Nama seekor burung yang sering disebut sebagai pungguk. Itu adalah saya. S-a-y-a! Safar, yang begitu banyak orang meliriknya karena cakep, tapi banyak juga yang terhenyak ketika tahu bahwa saya anak seorang pembantu rumah tangga yang  sering dibentak  oleh Tania, anak majikannya.&lt;br /&gt;Harusnya  giliran saya yang membusung dada, jika Rudi Wijaya  itu adalah saya. Safar! Tapi saya takut, Tania  hanya menertawaiku. Biarlah, dia memujaku sebagai Rudi Wijaya, mungkin  hingga sebuah keajaiban  menyatukan kami.&lt;br /&gt;Keajaiban?  Saya menggeleng. Keajaiban tiada ada. &lt;br /&gt;Saya beranikan tersenyum untuk  Tania. Meski dia balas dengan cibiran. Saya minta maaf atas salahku yang terlalu lancang mencintai Tania, anak majikan ibuku. Uluran tanganku tak disambutnya.&lt;br /&gt;Saya bisa mengerti. Tania tak pernah menduga, perlakuannya untukku yang seolah bukan anak pembantu di rumahnya, membuatku salah menterjemahkan kebaikannya padaku. &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Selesai membaca kisah ini, bayangkan lagu Peterpan, Kukatakan, tetap mengalun pelan, mengiringi sekaligus  menjadi sound track  kisah ini.&lt;br /&gt;Kukatakan dengan indah&lt;br /&gt;Dengan terluka, hatiku hampa&lt;br /&gt;Sepertinya luka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau beri rasa yang berbeda&lt;br /&gt;Mungkin kusalah &lt;br /&gt;mengartikannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau  hancurkan hatiku…hancurkan lagi&lt;br /&gt;Ntuk melihatku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini kisah saya. Bukan sembarang saya mengambil lagu ini sebagai sound track kisahku. Bukan kesamaan kisah, tapi kesamaan rupa antara saya dan Ariel Peterpan. Ya, saya mirip Ariel. Sangat mirip! Esok atau lusa, kamu bertemu Ariel, hati-hati  minta tanda tangan dan foto bareng. Jangan sampai salah orang, bukan tak mungkin itu saya, Safar. Penulis yang memakai nama pena, Rudi Wijaya!***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8970134704959434086-6053372513775054854?l=masgege.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masgege.blogspot.com/feeds/6053372513775054854/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8970134704959434086&amp;postID=6053372513775054854' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/6053372513775054854'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/6053372513775054854'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masgege.blogspot.com/2009/12/ini-kisah-saya_16.html' title='INI KISAH SAYA'/><author><name>Gegge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02227405124686698722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/S871hC3hv7I/AAAAAAAAAJw/pjsdP-TQAXw/S220/fb1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SynOf2Pp1VI/AAAAAAAAAIk/hZcW3BGlpFs/s72-c/pungguk.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8970134704959434086.post-3552794580937883263</id><published>2009-12-16T14:38:00.000+08:00</published><updated>2009-12-16T15:11:27.885+08:00</updated><title type='text'>Orkestra  Dua  Hati</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SyiH4Py4BrI/AAAAAAAAAIM/6mTQdVDcfOo/s1600-h/violin-01.gif"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SyiH4Py4BrI/AAAAAAAAAIM/6mTQdVDcfOo/s320/violin-01.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5415727952295364274" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mello telah mencuri hatinya lewat pandangan, dan kini ditekuk dengan senyuman. Dia semakin yakin, jika dia  tak bertepuk sebelah tangan karena saat  lagu Purnama Merindu selesai, Mello memberi standing applause  yang diikuti  oleh penonton lainnya. &lt;br /&gt;Inilah untuk yang pertama kalinya pertunjukan yang duiikuti Andry mendapat sambutan  serupa itu. Entah karena memang telah memberikan pertunjukan yang  terbaik, atau karena  standing applause  tadi dimulai oleh Mello.  &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ORKESTRA DUA HATI&lt;br /&gt;Oleh: S. Gegge Mappangewa/Andi Tenri Dala F&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya   Andry  bisa mewujudkan mimpinya untuk  mengunjungi  Makasar. Bukan dari hasil tabungannya, yang selama ini selalu disisihkannya demi mengunjungi kota Anging Mammiri itu. Melainkan  dari  keseriusannya  belajar musik. Bakat main biolanya, bermula dari kuartet gesek tempatnya bergabung, yang selalu pentas di setiap ada acara sekolah. Merasa sepi tanpa  mendengar gesekan biola, dia bergabung dengan kelompok orkestra, tentu saja setelah audisi dan permainan biolanya dapat diperhitungkan.&lt;br /&gt;Selain di biola, Andry juga  sering  memainkan  alat musik tiup, entah itu flute, klarinet, ataupun terompet dan tuba. Tapi  dari kelompok orkestranya, dia lebih dipercaya untuk bermain  biola.&lt;br /&gt;Kelompok orkestra itu yang kini menerbangkannya ke Makassar. Asyiknya lagi, dia punya waktu sebulan untuk mengitari setiap jengkal Makassar. Karena pertunjukan kali ini,  akan bergabung dengan kelompok orkestra Makassar, sehingga butuh waktu untuk latihan bersama. Dan lagi-lagi,  Andry mendapat keberuntungan karena  dia  yang bermain di biola satu, dipasangkan dengan  Cenrani, pemain  biola  dari orkestra Makassar. Di setiap jeda waktu, entah itu saat latihan apalagi saat  jam istirahat, Cenrani banyak  memberinya cerita tentang Makassar.&lt;br /&gt;“Orkestra di Makassar belum terlalu digilai. Penikmatnya masih kebanyakan dari kaum  pejabat, ningrat, pokoknya kalangan atas!”&lt;br /&gt;Andry membulatkan mata saat menerima kalimat Cenrani itu.&lt;br /&gt;“Kesempatan dong buat aku dapat pangeran saat konser nanti,” candanya.&lt;br /&gt;“Kamu serius mau dapat pangeran dari Makassar?”&lt;br /&gt;“Aku cuma tertarik sama kotanya. Biasanya sih, cowok Makassar kasar-kasar. Apa itu karena pengaruh gelar Ayam Jantan dari Timur? Jadinya suka berantem!”&lt;br /&gt;“Eh,  Ayam Tantan dari Timur jangan cuma diartikan dengan  keberanian. Ayam jantan  juga melambangkan kesadaran akan waktu. Lihat aja, mana ada ayam jantan yang malas-malasan? Setiap subuh datang, dia yang duluan bangun dan memberi berita jika pagi telah datang.”&lt;br /&gt;“Kalo gitu, kita liat aja nanti. kalo ada yang cakep, apalagi anak pejabat. Kenapa nggak?” balas Andry, masih dengan canda.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Di balik tirai panggung, para pemain orkestra telah  duduk rapi dengan alat musik di tangan masing-masing. Andry dan Cenrani  menggunakan  stand music  dan partitur yang sama, di barisan paling depan. Begitu tirai terbuka, para penonton memberi applause riuh. Dirigen  beraksi, musik pun melantun asyik. Dengan didominasi  suara gesekan biola, lagu Anging Mammiri yang  di-arrangement untuk orkestra  menjadi lagu pembuka pertunjukan.&lt;br /&gt;Andry  terpukau melihat seluruh kursi yang tersedia di baruga Andi Pangerang Pettarani,  terisi. Meskipun di barisan paling depan, ada yang kosong, Andry yakin  karena  pemiliknya terlambat.&lt;br /&gt;Dan benar adanya, saat lagu Anging Mammiri   hendak usai, seorang cowok berkulit putih bersih, berjalan  ke arah kursi kosong itu.  Cenrani menyenggol kaki Andry yang  dari tadi memainkan biolanya, tanpa perhatian penuh  pada partitur yang di depannya. &lt;br /&gt;Setiap ada  tanda berhenti, Andry bukannya konsentrasi pada partitur atau memperhatikan dirigen, dia asyik beradu pandang dengan  Mello, cowok yang duduk di  barisan depan itu. Cenrani yang di sampingnya ikut buyar konsentrasinya karena mengkhawatirkan  Andry. Dia tahu  kepiawaian Andry main biola, tapi  lagu Anging Mammiri ini  baru kali ini dimainkannya. Bukan tak mungkin akan salah not, atau bahkan memainkan biola sebelum saatnya, setelah saat tanda istirahat  beberapa bar.&lt;br /&gt;Sementara di  pihak hati Mello, cowok itu tak hanya  salut pada kepaiawaian Andry menggesek senar biolanya, tapi juga  pada bola mata Andry  yang  indah dan sesekali menyapu bersih wajahnya. Mello suka dengan tatapan itu, tapi dia tak kuasa untuk terus  melayaninya dengan membalas tatapannya. Terkadang, dia lebih memilih tunduk jika Andry tak mau mengalah duluan. &lt;br /&gt;“Kamu kenal cowok yang  datang terlambat itu?”  tanya Andry saat  tirai panggung tertutup kembali, setelah memainkan beberapa lagu pembuka.&lt;br /&gt;“Aku dari tadi menginginkan jam istrahat ini. Siapapun cowok itu,  aku nggak mau pertunjukan malam ini gagal. Ingat  Andry,  kamu nggak hanya membawakan nama orkestra kamu, ataupun kelompok orkestraku. Kita memperkenalkan orkestra, Ndry! Selama ini hanya  kalangan  orang atas yang  suka  bahkan kenal dengan orkestra.”&lt;br /&gt;“Jadi cowok  yang itu tadi, juga kalangan orang  atas?”&lt;br /&gt;Cenrani menggeleng prihatin karena nasihatnya tak digubris. Andry masih saja bertanya tentang Mello.&lt;br /&gt;“Aku udah sering  konser di sini. Kursi itu selalu diduduki oleh Andi Sapada, seorang  pejabat yang  juga  pengusaha  sukses  Makassar.  Kalo cowok itu, aku nggak kenal, tapi aku yakin dia ada hubungan dekat dengan Andi Sapada, mungkin saja putranya.”&lt;br /&gt;Senyum  Andry semakin mengembang  manis. Terlebih ketika sambutan panitia pelaksana telah usai dan tirai terbuka lagi, dan mendapatkan Mello sedang menancapkan tatapan ke arahnya. Jika saja  tak takut kedapatan  penonton, Cenrani sudah menegur Andry yang belum juga  tunduk untuk mencermati  partitur di depannya. Padahal alto, selo, dan kontrabas, telah masuk intro. Cenrani takut, Andry  melambung  terus dengan lamunannya.&lt;br /&gt;  Purnama Merindu milik Siti Nurhaliza,  menjadi lagu  pertama di sesi kedua ini. Saat masuk refrain, Andry mendapatkan  bibir  Mello bergerak mengikuti irama.&lt;br /&gt;Purnama mengambang cuma berteman&lt;br /&gt;Bintang berkelipan dan juga awan…&lt;br /&gt;Akhh, andai aku purnama yang dirindukannya itu. Bisik  hati Andry sambil tetap berusaha konsentrasi pada partitur di depannya. Dan tepat bisikan itu dilantunkan hatinya, Mello tersenyum untuknya,  saat  beberapa detik dia menyempatkan  lagi untuk menatap wajah   Mello.&lt;br /&gt;Mello telah mencuri hatinya lewat pandangan, dan kini ditekuk dengan senyuman. Dia semakin yakin, jika dia  tak bertepuk sebelah tangan karena saat  lagu Purnama Merindu selesai, Mello memberi standing applause  yang diikuti  oleh penonton lainnya. &lt;br /&gt;Inilah untuk yang pertama kalinya pertunjukan yang duiikuti Andry mendapat sambutan  serupa itu. Entah karena memang telah memberikan pertunjukan yang  terbaik, atau karena  standing applause  tadi dimulai oleh Mello.  &lt;br /&gt;Lagu berikutnya, mata Andry semakin berani meninggalkan partitur, demi melihat Mello yang juga  menerbangkan tatapan ke arahnya. Canon in D Major, memang lagu kesukaan Andry, saat latihan di rumah   dia selalu memainkan  lagu  gubahan Pachelbel, komponis dari Jerman itu. selama ini, Canon menjadi  lagu terindah buat Andry. Tapi sayang,  dirigen, bahkan dari kelompok musik tiup mendengarkan suara ‘aneh’ dari biola Andry. &lt;br /&gt;Keseringan melirik ke arah Mello, membuatnya  melakukan kesalahan fatal, karena menggesek biolanya  di saat seharusnya dia memberi kesempatan untuk pemain biola alto memperdengarkan suara rendah..  Cenrani di sampingnya ingin menyenggol kakinya, tapi  takut malah membuatnya semakin panik. &lt;br /&gt;Kesalahan itu membuatnya  tak berani menerbangkan mata seliar tadi. Paling tidak, dia telah yakin  bahwa Mello pun  tak pernah melepaskan tatapan dari arahnya. Dia hanya butuh waktu untuk lebih dekat  dengan Mello setelah konser usai. Semoga waktu itu ada untukku! Bisik hatinya lagi.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Di back stage, saat konser usai, para pemain orkestra saling bersalaman, sambil tertawa lepas karena  sukses  memikat perhatian penonton.  Mulai  dari lagu Makassar, Bugis, Melayu, yang di-arrangement  klasik, hingga  lagu  komponis dari jaman yang berbeda seperti, Bach, Vivaldi, Mozart, Beethoven, bahkan Strauss. Semua  berhasil memukau penonton.&lt;br /&gt;Andry dan Cenrani masih dengan  seragam  warna broken white yang tadi dipakainya konser, berlari keluar baruga dengan melewati  pintu belakang.  Andry tak ingin kehilangan jejak Mello. Dia harus  bertemu dengan cowok  itu. Adapun tentang kalimat yang akan  diucapkannya saat bertemu dengan Mello nantinya, dia belum pikirkan. Yang ada di kepalanya, dia harus bicara dengan cowok itu. &lt;br /&gt;“Itu dia, Ndry!”&lt;br /&gt;Andry berlari ke arah  koordinat yang ditunjuk Cenrani. Di koordinat itu dia mendapatkan Mello sedang berjalan ke arah sebuah mobil Pajero. Ketika tinggal beberapa langkah lagi  kakinya akan  bersebelahan dengan Mello, seorang sopir turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Mello.&lt;br /&gt;Andry dan Cenrani mempercepat langkah. Sedetik saja mereka terlambat, Mello sudah menutup pintu mobil.&lt;br /&gt;“Ma…maaf! Temanku ini…” kalimat Cenrani terputus. Bukan oleh tatapan tajam Mello, tapi dia memang tak tahu harus berucap apa lagi.&lt;br /&gt;“Boleh kenalan?” Andry to the point.&lt;br /&gt;“Gitu ya cara anak Jakarta kalo ketemu cowok cakep?” bisik Cenrani menggoda. &lt;br /&gt;Andry tak menggubris godaan itu. Dia  menunggu reaksi Mello selanjutnya. Tapi tak pernah diharapkannya, Mello menutup pintu mobil lalu memerintahkan sopir untuk melaju.&lt;br /&gt;Bukan hanya Andry, Cenrani ikut tersinggung dengan ulah Mello.&lt;br /&gt;“Jangan-jangan kamu emang benar, kalo Ayam Jantan dari Timur itu emang kasar-kasar?”  ucap Cenrani sambil mengambil lengan Andry untuk dibawanya masuk kembali ke baruga.&lt;br /&gt;“Aku tetap nggak mau sama ratakan semua cowok. Mungkin aku yang kecentilan. Aku terlalu ge-er.  Aku terlalu…”&lt;br /&gt;“Tapi aku   yakin jika cowok itu menaruh hati padamu. Bisa kulihat dari tatapannya padamu saat konser tadi.”&lt;br /&gt;Andry  menggeleng. Dia  ingin kenangan pahit ini, dikuburnya sebelum meninggalkan Makassar.  Mello, cowok yang namanya pun belum dia tahu itu telah memberinya oleh-oleh  yang  mungkin akan membuatnya trauma untuk datang  menikmati kembali indahnya Losari di senja hari.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Di sebuah kamar kos  ukuran  3 x 3 meter, Mello berbaring di atas seprei tanpa corak. Dia teringat terus pada tatapan Andry di konser orkestra tadi. Dia bahkan ikut terluka saat mengambil keputusan untuk  menutup pintu mobil dan berlalu pergi. Dia bukannya sombong apalagi bersikap kasar, tapi dia takut terluka jika   berani  menyimpan harap berlebihan pada Andry.&lt;br /&gt;Dia yakin, Andry  membuntutinya  ke tempat parkir karena mengira dirinya  anak seorang pejabat.  Untuk beli tiket masuk pun dia tak mampu, apalagi dengan kelas VIP. Jika bukan karena kebaikan hati Andi Sapada yang memberinya kesempatan untuk nonton orkestra sekaligus  menggunakan fasilitas mobil, dia takkan pernah  bisa menyaksikan langsung konser orkestra.&lt;br /&gt;Mello hanya seorang penulis yang tak punya apa-apa selain kerajaan imajinasi. Dia tak hanya bisa jadi raja ataupun pangeran di kerajaan itu, tapi juga Tuhan yang bisa membunuh dan membagi-bagikan takdir pada tokoh ceritanya.  Tadi di alam nyata, dia punya kesempatan untuk berperan sebagai Romeo di depan Andry, tapi apa artinya  jika kemudian dia harus terluka dan mati. Karena Andi Sapada, bukanlah siapa-siapa baginya.  Kenal Andi Sapada pun baru minggu lalu, sejak dia dipercaya untuk menulis biografi Andi Sapada sebagai seorang pejabat dan pengusaha yang berpengaruh di Makassar.&lt;br /&gt;Dia  takkan pernah lupa dengan lagu Purnama Merindu. Dianggapnya itu sebagai kalimat Andry untuknya. Ya, purnama  cuma berteman dengan bintang berkelipan. Bisik hatinya sambil mulai menghapus wajah Andry, yang namanya pun belum dia kenal. &lt;br /&gt;Dia lebih memilih sendiri karena telah keliru menilai cinta. Membiarkan hatinya berbisik, berkhayal, bermimpi, berimajinasi, tanpa pernah  bisa suaranya menembus udara. Ya, mungkin seumpama  orkestrasi yang hanya mengandalkan instrumentalia.&lt;br /&gt;Cinta tak kenal kasta, Mello! Andai  dia tahu itu, dia dan Andry   tak akan terluka seperti ini.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8970134704959434086-3552794580937883263?l=masgege.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masgege.blogspot.com/feeds/3552794580937883263/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8970134704959434086&amp;postID=3552794580937883263' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/3552794580937883263'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/3552794580937883263'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masgege.blogspot.com/2009/12/orkestra-dua-hati.html' title='Orkestra  Dua  Hati'/><author><name>Gegge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02227405124686698722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/S871hC3hv7I/AAAAAAAAAJw/pjsdP-TQAXw/S220/fb1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SyiH4Py4BrI/AAAAAAAAAIM/6mTQdVDcfOo/s72-c/violin-01.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8970134704959434086.post-4244786551732902945</id><published>2009-12-09T09:57:00.000+08:00</published><updated>2009-12-09T11:01:33.102+08:00</updated><title type='text'>Berita Kehilangan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/Sx8TAfrSPGI/AAAAAAAAAIE/AS6zhke7Wuk/s1600-h/elang.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 256px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/Sx8TAfrSPGI/AAAAAAAAAIE/AS6zhke7Wuk/s320/elang.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5413066176346602594" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Seekor elang terbang mencari ranting  untuk ditempati bertengger. Namun setiap hendak hinggap, ranting itu  bergoyang tertiup angin, bahkan patah. Elang itu heran dan bertanya-tanya, apa ada yang salah pada dirinya? Sementara elang yang lain begitu mudahnya mendapat ranting. Elang itu lelah, lalu bersumpah tak akan mencari ranting lagi. Dia akan terbang sepanjang hidupnya, hingga kedua sayapnya patah, selamanya!&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;BERITA  KEHILANGAN&lt;br /&gt;Oleh: S. Gegge Mappangewa&lt;br /&gt;07 Deseember 2009.  Masih pagi. Saat sudah siap berangkat ngajar, kunci lemari tempatku menyimpan laptop, nggak ada di tempat.  Bisa dipastikan, saya terlambat tiba di sekolah. Pusing  tujuh keliling. Semua tempat yang biasa kutempati menyimpan kunci, nihil! Apesnya lagi, bahkan kunci serepnya pun hilang. Saya menghempaskan tubuh ke tempat tidur. Sejenak! Setelah itu, saya bangun membongkar semua yang bisa kubongkar…! Laci meja, karton,  dan semua yang bisa kubongkar, berantakan di kamar. Sepertinya kuncinya semakin  susah kudapatkan di antara kamar yang seperti baru saja reda dari badai.&lt;br /&gt;Saya menenangkan  pikiran yang juga sudah  terombang badai. Kupungut kembali isi laci dan karton-karton yang  tadi kuacak-acak. Satu hal yang membuatku  tersenyum sendiri, tanpa kusadari saat membongkar tadi untuk mencari kunci, ternyata ada beberapa barang yang sudah bertahun-tahun bertumpuk tak pernah kulihat, kini berhamburan semua. Barang itu adalah beberapa majalah remaja yang pernah memuat cerpen-cerpenku saat masih produktif nulis.&lt;br /&gt;Yang paling tua adalah majalah edisi tahun 2000. Di dalamnya ada cerpen  pertamaku yang termuat di media nasional. Judulnya, Memanah Bintang di Tana Toraja. Ada kalimat  yang sangat menusuk “Memilikimu, aku  laksana memanah bintang. Nggak akan pernah sampai apalagi tepat sasaran.”&lt;br /&gt;Majalah berikutnya juga ada memuat cerpenku yang judulnya PINALTI CINTA. Ada kalimat yang juga menusuk “Aku seperti tergilas kereta kencana yang ditarik seribu ekor kuda. Tak sadar  aku meringis,  sebelum merasakan panas di kelopak mataku.”&lt;br /&gt;Dan yang lebih menohok di ulu hati, kalimat pada cerpen KISAH SEEKOR ELANG. “Seekor elang terbang mencari ranting  untuk ditempati bertengger. Namun setiap hendak hinggap, ranting itu  bergoyang tertiup angin, bahkan patah. Elang itu heran dan bertanya-tanya, apa ada yang salah pada dirinya? Sementara elang yang lain begitu mudahnya mendapat ranting. Elang itu lelah, lalu bersumpah tak akan mencari ranting lagi. Dia akan terbang sepanjang hidupnya, hingga kedua sayapnya patah, selamanya!”&lt;br /&gt;Tanpa kusadari, beberapa cerpen telah kubaca dan melupakan   kunciku yang hilang. Saya terjaga. Ternyata  beberapa cerpen yang  hanya bersumber dalam imajinasiku, kini hadir seperti karma  pada hidup yang  kulalui akhir-akhir ini.&lt;br /&gt;Pagi semakin beranjak, saya harus berangkat  ngajar  meski tanpa laptop. Lemariku masih terlalu sayang untuk kucungkil. Tapi, saat hendak berangkat, seorang teman kos yang  tahu kalau saya kehilangan kunci datang menawarkan bantuan. Bukan sulap, bukan sihir, lemariku terbuka meski tidak dengan kuncinya, padahal tadi  saya sudah mencoba beberapa kunci, tapi tak ada yang bisa membukanya.&lt;br /&gt;Hingga kini, kunci  lemariku masih hilang! Dan  saya tak ingin lagi mencarinya. Saya akan menggantinya dengan  kunci yang baru. Alhamdulillah, kehilangan kunci membuatku menemukan  barang-barang yang selama ini tak pernah lagi kulihat. Barang yang membuatku terjaga bahwa selama ini saya telah menjadi ‘tuhan’ kecil dalam cerpen-cerpenku, memberi derita dan bahagia pada tokoh-tokohnya. Dan jika Allah memberiku derita dan masih merasa kurang bahagia, itu adalah kehendak-Nya sebagai Sang Penulis Agung.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8970134704959434086-4244786551732902945?l=masgege.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masgege.blogspot.com/feeds/4244786551732902945/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8970134704959434086&amp;postID=4244786551732902945' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/4244786551732902945'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/4244786551732902945'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masgege.blogspot.com/2009/12/berita-kehilangan.html' title='Berita Kehilangan'/><author><name>Gegge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02227405124686698722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/S871hC3hv7I/AAAAAAAAAJw/pjsdP-TQAXw/S220/fb1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/Sx8TAfrSPGI/AAAAAAAAAIE/AS6zhke7Wuk/s72-c/elang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8970134704959434086.post-4505115059463937728</id><published>2009-08-31T16:19:00.000+08:00</published><updated>2009-08-31T16:24:06.799+08:00</updated><title type='text'>Belajar Bijak (Pernahkah Kau Merasa)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SpuIcmRt2oI/AAAAAAAAAH8/CgEAECLVXuY/s1600-h/meranggas.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 212px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SpuIcmRt2oI/AAAAAAAAAH8/CgEAECLVXuY/s320/meranggas.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5376040605089389186" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;PERNAHKAH KAU MERASA?&lt;br /&gt;OLEH: S. GEGGE MAPANGEWA&lt;br /&gt;Pernahkah kau merasa  kesusahan, kesulitan, tersiksa, terdera  derita? Sepertinya rasa ini telah dikecap oleh hati siapa pun. Tak perduli kaya  apalagi miskin, yang namanya masalah, seolah telah menjadi  asam garam kehidupan.  Jangan pikir hanya orang miskin yang mengenal namanya  derita lalu didera putus asa lalu memilih mati! Jangan heran jika banyak orang kaya  yang  mati  mendadak! Andai semua kita tersadar, atau paling tidak terbiasa dengan kalimat; “Sesungguhnya di balik kesulitan, akan ada kemudahan!”  Mungkin tak  ada yang akan  ‘mati percuma’.  Sejenak kita  renungkan,   masalah apa yang  pernah kita  alami, masalah apa yang sekarang membebani pikiran kita.   Seberat apapun, CUKUPLAH ALLAH SEBAGAI PENOLONGMU DAN DIALAH SEBAIK-BAIK PENOLONG!  &lt;br /&gt;Pernahkah kau merasa sedih yang berlebih, kecewa yang mendalam?  Dua rasa ini memang adalah masalah. Tapi  seberat apapun  sedih dan kecewa itu, itu bukanlah masalah berat.  Hanya butuh rawat jalan dan akan sembuh sendiri seiring waktu. Ingatlah, waktu adalah obat yang paling mujarab untuk  dua rasa ini.  Tentu saja dengan satu syarat, jangan menyimpan dendam  pada  orang yang menghadiahkan sedih dan kecewa. Jika dendam bersarang, maka penyakit baru akan muncul dan  susah  menemukan obat yang tepat.  Sang pemberi sedih dan kecewa itu biasanya adalah orang yang terdekat dengan kita. Semakin dekat, semakin  dalam sedih dan kecewa yang didampakkannya. Tapi sedalam apapun sedih itu, CUKUPLAH MENJADI PELAJARAN UNTUKMU!  &lt;br /&gt;Pernahkah kau merasa, semua mata yang menatapmu seolah menghakimi, mencela, bahkan menyumpahimu? Karena rasa  ini cukup mematikan, CUKUPLAH AKU YANG MERASA!***&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8970134704959434086-4505115059463937728?l=masgege.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masgege.blogspot.com/feeds/4505115059463937728/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8970134704959434086&amp;postID=4505115059463937728' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/4505115059463937728'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/4505115059463937728'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masgege.blogspot.com/2009/08/belajar-bijak-pernahkah-kau-merasa.html' title='Belajar Bijak (Pernahkah Kau Merasa)'/><author><name>Gegge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02227405124686698722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/S871hC3hv7I/AAAAAAAAAJw/pjsdP-TQAXw/S220/fb1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SpuIcmRt2oI/AAAAAAAAAH8/CgEAECLVXuY/s72-c/meranggas.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8970134704959434086.post-8224164798643318694</id><published>2009-08-16T21:38:00.000+08:00</published><updated>2009-08-16T21:41:58.831+08:00</updated><title type='text'>Belajar Bijak (Hati-Hati Membanting Pintu!)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SogMkoqAmlI/AAAAAAAAAH0/k1Ih4Owq-Pw/s1600-h/jabat+tangan.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 184px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SogMkoqAmlI/AAAAAAAAAH0/k1Ih4Owq-Pw/s320/jabat+tangan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5370556379167758930" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;HATI-HATI  MEMBANTING  PINTU&lt;br /&gt;OLEH: S. GEGGE MAPPANGEWA&lt;br /&gt;Ramadhan datang mengetuk pintu. Kesempatan untuk membersihkan hati sekaligus melembutkannya. Karena begitu banyak  di antara kita yang merasa telah memiliki hati yang sebersih-bersihnya, tapi  ternyata tak bisa melembutkannya. Setahun perjalanan sejak Ramadhan yang lalu,  adalah mustahil  hati kita masih   sebersih Syawal yang lalu. Tingkah, lisan   hingga prasangka pasti  pernah menyesatkan langkah kita, entah itu sengaja atau tidak. &lt;br /&gt;Sejenak, mari kita renungkan, pada siapa kita pernah khilaf dalam tingkah dan  lisan, pada siapa kita pernah berprasangka. Tingkah, lisan, dan prasangka yang  mungkin  telah membuat   keakraban terlerai. Terlerai setelah terbakar amarah.&lt;br /&gt;Sengaja ataupun tidak, entah  mengapa,  banyak sekali orang yang suka membanting pintu saat marah. Andai pintu bisa bicara,  dia akan  terheran-heran; “Lho, apa salah  dan dosaku?”  Dan  andai pintu benar-benar  bicara, dan mengucapkan kalimat itu, orang yang marah dan membanting pintu juga akan lebih heran; ”Lho, kok pintu bisa bicara?” :) &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Biasanya, semakin  besar kemarahan, semakin besar pula energi yang dikeluarkan untuk membanting pintu. Ingin kuingatkan, hati-hati membanting pintu! Jangan mentang-mentang pintu tak bisa bicara, tak bisa melawan, lalu meluapkan kemarahan pada pintu.  Bukan  takut   salah banting lalu terjepit tangan sendiri.&lt;br /&gt;Sekali lagi, hati-hati membanting pintu! Jangan sampai pintu yang telah kamu banting itu, kamu datangi kembali untuk kamu ketuk! Inilah peran yang paling  susah dilakoni, mengetuk kembali pintu yang telah dibanting.  Bukan keberanian, tapi kelembutan hatilah yang dibutuhkan untuk  peran ini. Apalagi jika kita  adalah manusia yang merasa harga diri premium, jangan harap kamu bisa  datang lagi untuk mengetuk pintu itu! Bahkan  dengan harga diri yang berkelas medium  hingga kelas low pun akan  ragu untuk melakukan peran ini.  Ya,  hampir tak ada yang pernah berani datang untuk mengetuk kembali pintu yang telah dibantingnya. Makanya, kuingatkan sekali lagi, hati-hati membanting pintu! Jangan sampai pintu yang kamu banting itu akan kamu datangi  untuk kamu ketuk kembali!&lt;br /&gt;Sebenarnya,  meskipun susah, ada  beberapa orang yang  mampu melakukan ‘adegan berbahaya’ ini. Mereka adalah orang-orang yang  harga dirinya berkelas no price. Tapi maukah kita disebut   orang yang tak  punya harga diri, no price? Karena selama ini,  hampir di mata  semua orang, meminta maaf adalah sebuah kehinaan. Dan ingin kukatakan, jika kamu mampu melakukannya,  kamu bukanlah orang yang harga dirinya berkelas no price, tapi low profile. Bahkan hingga maafmu pun tak diterima,  lalu kamu datang mengetuknya beribu-ribu kali,  grafik harga dirimu akan semakin naik dan kamu sesungguhnya yang berkelas  premium itu!&lt;br /&gt;  Ramadhan datang mengetuk pintu.  Jika esok atau lusa, seseorang datang  mengetuk pintu hatimu yang telah dia banting, dia bukanlah orang yang harga dirinya   berkelas no price.&lt;br /&gt;Ramadhan datang mengetuk pintu. Jangan tunggu besok, mari mencari pintu yang telah kita banting untuk kita ketuk. Untuk memperbaiki kelas harga diri kita! Dan kamu jangan pernah merasa kelas premium kalau kamu belum pernah mengetuk pintu yang telah kamu banting! Jika kamu telah mampu melakukannya, jangan pernah lagi mengulangi membanting  pintu! Semarah apapun kamu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8970134704959434086-8224164798643318694?l=masgege.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masgege.blogspot.com/feeds/8224164798643318694/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8970134704959434086&amp;postID=8224164798643318694' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/8224164798643318694'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/8224164798643318694'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masgege.blogspot.com/2009/08/belajar-bijak-hati-hati-membanting.html' title='Belajar Bijak (Hati-Hati Membanting Pintu!)'/><author><name>Gegge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02227405124686698722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/S871hC3hv7I/AAAAAAAAAJw/pjsdP-TQAXw/S220/fb1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SogMkoqAmlI/AAAAAAAAAH0/k1Ih4Owq-Pw/s72-c/jabat+tangan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8970134704959434086.post-3233781348264347905</id><published>2009-08-16T21:27:00.000+08:00</published><updated>2009-08-16T21:37:01.748+08:00</updated><title type='text'>Belajar Bijak (Proudly Present)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SogLTwyVMXI/AAAAAAAAAHs/-irk5lyU_yA/s1600-h/mabuk.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 295px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SogLTwyVMXI/AAAAAAAAAHs/-irk5lyU_yA/s320/mabuk.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5370554989780742514" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : S. Gegge Mappangewa&lt;br /&gt;Beberapa  bulan yang lalu, saya kehilangan ATM dan STNK. Sebenarnya saya sudah lama ingin mengganti dompetku yang umurnya telah lebih sepuluh tahun, tapi saya selalu berpikir, toh masih bagus, belum ada  cacat. Hanya ukurannya yang kekecilan karena  kartu-kartu semakin bertambah menghiasi dompet. Akhirnya, apa yang kukhawatirkan terjadi, ATM dan STNK  tercecer entah kapan dan di mana. Saya bahkan baru sadar kalau ATM dan STNK itu hilang,  setelah saya membeli dompet baru dan memindahkan semua isi dompet yang lama.&lt;br /&gt;Pikiran mumet. Terbayang susahnya birokrasi jika kehilangan sesuatu. Harus ke kepolisian  mengambil surat keterangan hilang, ke samsat urus STNK baru, bayar lagi, dan …. Ahhhh, saya mengambil napas panjang. ATM kublokir, selesai! Saya menunggu-nunggu, suatu saat ada orang yang menemukan  barang-barang itu dan menghubungiku. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tak cukup sepekan, doaku terkabul. Seseorang datang ke alamat yang tertera di STNK, alamatku saat masih kuliah dulu. Sayangnya, dia nggak mau menyerahkan STNK itu tanpa bertemu denganku. Bisa kutebak, dia meminta imbalan. Tapi nggak apa, bukankah memberi hadiah itu perlu. Apalagi, ini sebuah prestasi kejujuran!&lt;br /&gt;Berbekal nomor telepon yang dia titipkan, saya mulai menyusuri keberadaan sang penemu, yang menurut tetangga yang bertemu dengannya, adalah seorang wanita paruh baya yang saat datang, membawa dua anaknya yang  masih kecil-kecil.  Saat nomor itu kuhubungi, tepat ketika selesai shalat maghrib, yang mengangkatnya adalah seorang lelaki. Dan tahu apa jawabnya? Dengan bangganya dia berucap: &lt;br /&gt;“Oooh, ATM dan STNK nya ditemukan istriku.”  &lt;br /&gt;“Kapan saya bisa  ketemu, Pak!”&lt;br /&gt;“Jangan sekarang, saya lagi di pesta minum!” ucapnya bangga.&lt;br /&gt;Pesta minum? Saya kehabisan kata. Bisu. Meski kemudian  saya bisa berucap lagi, itu dengan kalimat gugup. Bukan gugup karena takut pada dia yang ternyata  “Dewa Mabuk”. Saya sangat-sangat tidak terbiasa dengan orang yang  penuh rasa bangga  menceritakan dosa-dosanya.  Akhhhh… yang penting  ATM dan STNK ku kembali.&lt;br /&gt;Saya mulai melobi lagi. Bisa dibayangkan, melobi orang yang lagi mabuk? Tapi syukurlah, entah sadar atau tidak, dia memberitahukan  alamatnya. Dan tanpa pikir panjang, saya ke rumahnya untuk menemui istrinya di sebuah perkampungan yang, maaf saja kalau saya sebut  sebagai perkampungan kumuh.&lt;br /&gt;Tiba di  sana, saya mencoba menanyakan alamat  lelaki yang  malam itu tengah menikmati pesta minumnya.  Tapi apa kata  tetangganya?&lt;br /&gt;“Ooohh, jangan cari dia kalo jam-jam begini, dia masih  di tempat minumnya.”&lt;br /&gt;Ternyata semua tetangganya sudah  kenal  dia sebagai “Dewa Mabuk”.  Bagaimana tidak, saya saja yang baru  dikenalnya lewat telepon, langsung memperkenalkan dirinya dengan bangga sebagai peminum. Semua bisa  dibanggakan rupanya, termasuk dosa-dosa. Teringat pada lagu Ebit G. Ade; Mungkin Tuhan mulai enggan, melihat  tingkah kita yang  selalu bangga dengan dosa-dosa.&lt;br /&gt;Ditemani seseorang, saya menyusuri lorong-lorong sempit menuju rumahnya. Di sana-sini terdengar  irama dangdut. Dan langkahku tertahan di sebuah rumah berpintu kayu  lapuk, tanpa perabot, sempit. Dadaku ikut menyempit! Seorang wanita muda dengan dua anaknya, menyambutku ramah. Kepala keluarga rumah tangga ini, sedang asyik mabuk-mabukkan. Dan sang istri menunggu di rumah, mungkin akan dibawakan oleh-oleh tamparan saat terlambat membukakan pintu, seperti yang selama ini dipersembahkan sinetron-sinetron. Yang penting ATM dan STNK ku  kembali.  Batinku lalu memberinya imbalan. Awalnya dia menolak, tapi saat uangnya kuberikan pada anaknya, anak itu menyambarnya lalu berlari masuk kamar. &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Rupanya  kisah belum berakhir meski STNK dan ATM ku sudah di tangan. Saat kuceritakan ke teman-teman tentang pengalaman itu, ternyata  daerah  yang kumasuki malam itu adalah wilayah abu-abu, lokalisasi terselubung, katanya! Benarkah…? Itu masih katanya….  Saya tak ingin dengan bangga men-judge!***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8970134704959434086-3233781348264347905?l=masgege.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masgege.blogspot.com/feeds/3233781348264347905/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8970134704959434086&amp;postID=3233781348264347905' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/3233781348264347905'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/3233781348264347905'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masgege.blogspot.com/2009/08/belajar-bijak-proudly-present.html' title='Belajar Bijak (Proudly Present)'/><author><name>Gegge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02227405124686698722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/S871hC3hv7I/AAAAAAAAAJw/pjsdP-TQAXw/S220/fb1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SogLTwyVMXI/AAAAAAAAAHs/-irk5lyU_yA/s72-c/mabuk.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8970134704959434086.post-390041727633032855</id><published>2009-08-02T16:23:00.002+08:00</published><updated>2010-05-04T09:40:07.267+08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>KESEMPATAN KEDUA&lt;br /&gt;Oleh: S. Gegge Mappangewa&lt;br /&gt;Beberapa  bulan terakhir, saya merasa dimata-matai seseorang. Merasa tak  tenang. Semua  orang di sekelilingku kucurigai, meski tak satu pun mata bisa kutangkap  sebagai pelakunya.   Saya selalu membujuk hati; itu hanya perasaanku!  Tapi semakin kubujuk, semakin kurasa ada sebuah hidden camera yang mengintaiku. Dan mungkin ini bukan lagi curiga, tapi phobia  akut.   Saking akutnya, getar sms pun kadang membuat dadaku bergemuruh-gemuruh. Beberapa teman yang kutempati  sharing  malah menganggapku suspect jin. Sungguh terlalu&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat dengan seorang sahabat saat kuliah dulu. Dia pernah merasakan phobia seperti ini. Hingga suara langkah kaki di luar rumah pun, kadang membuatnya lari sembunyi ke kolong ranjang. Tapi saya tak separah itu. Penyebabnya pun berbeda. Dia phobia karena  drug. Semua yang di sekitarnya dianggap sebagai mata-mata yang siap  menjebloskannya ke penjara. &lt;br /&gt;Padahal penjara tak sekejam  yang ada di benaknya. Hanya persoalan  reputasi  yang tercemar sebagai napi.   Dan napi pun tak selamanya bernoda. Setahun lalu (April 2008)  saya  diundang  untuk berbagi ilmu kepenulisan di Lapastika (Lembaga Pemasyarakatan Narkotika) di Bolangi. Di benakku, saya akan berhadap-hadapan  dengan wajah-wajah sangar. Tapi setelah bertemu dengan mereka, ada keinginan  untuk  memperpanjang tangan, melebarkan bahu, untuk merangkul mereka semua. Beberapa di antaranya bahkan pernah jadi ‘korbanku’. Korban dalam arti penggemar, pernah terbuai dengan cerpen-cerpenku di majalah  remaja. &lt;br /&gt;Dan pekan lalu, saya dapat kesempatan lagi untuk  masuk di Lapas itu. Masih sebagai pemateri kepenulisan, dan mudah-mudahan tidak akan pernah  masuk sebagai napi Pesertanya berbeda dengan  setahun lalu. Tapi semua masih tak sesangar yang kubayangkan. Saat sesi istirahat, saya ke mushalla, beberapa napi datang menyalamiku. Ternyata,  mereka adalah peserta setahun lalu. Semua penuh senyum!&lt;br /&gt;“Kak, saya  masih di sini! Tiga tahun lagi saya akan bebas!”&lt;br /&gt;Tiga tahun? Ya, tiga tahun dari enam tahun masa hukuman yang harus dilaluinya. Tapi semua masih penuh senyum.  Betah Mungkin?&lt;br /&gt;Saat materiku selesai, seorang peserta datang menghampiriku. Dari tatapannya,  dan gerak bibirnya yang susah  berucap, kutahu dia  ingin berahasia denganku. Saya mengerti, lalu mengambil langkah menghindar dari napi yang lain yang cerita denganku. Saya punya waktu  tak cukup lima menit dengannya. Karena jam tiga tengngng, saya harus meninggalkan Lapas. Begitu aturannya!&lt;br /&gt;Ternyata dari biodataku, dia tahu kalo saya satu kabupaten dengannya, meski  tak satu kampung!&lt;br /&gt;“Kak, minta tolong, hubungi keluargaku! Mereka nggak tahu kalo saya di sini.”&lt;br /&gt;“Sudah berapa lama kamu di sini?”&lt;br /&gt;“Setahun lebih! Saya tertangkap saat ke Makassar untuk jalan-jalan. Awalnya saya  nggak ingin keluargaku tahu kalo saya  ada di sini. Tapi, saya harus jujur, saya tetap membutuhkan mereka!”&lt;br /&gt;Deggg!!! Seolah ada pukulan keras yang menghantam dadaku. Setahun  raib dari keluarga? Bisa kubayangkan, meski tak ingin kurasakan, bagaimana dahsyatnya perasaan sedih  yang menjeram di balik dadanya. &lt;br /&gt;Saya mengangguk, mengiyakan permintaannya, lalu mengambil langkah pergi darinya.  Kurasakan  tatapannya masih menancap di punggungku, tapi  saya tak berbalik  membalas tatapan itu.  Dan ketika langkahku tiba di luar Lapas, di balik dinding-dinding kokoh itu, hatiku merapuh. Di balik dinding kokoh yang baru  saja  kumasuki, begitu banyak hati yang menyesali masa lalunya. Allah memberiku lagi kesempatan  bertemu dengan orang-orang yang  pernah melalaikan  waktu luangnya. Ya, kesempatan sering datang mengetuk pintu, tapi tak ada orang yang membukakan pintu untuknya.  Mungkin saya pun  pernah mendengar ketukan  pintu itu, tapi saya pura-pura tuli, tak mau mendengar, dan ketika kesempatan emas itu berlalu, mungkinkah ada kesempatan kedua?***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8970134704959434086-390041727633032855?l=masgege.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masgege.blogspot.com/feeds/390041727633032855/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8970134704959434086&amp;postID=390041727633032855' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/390041727633032855'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/390041727633032855'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masgege.blogspot.com/2009/08/kesempatan-kedua-oleh-s.html' title=''/><author><name>Gegge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02227405124686698722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/S871hC3hv7I/AAAAAAAAAJw/pjsdP-TQAXw/S220/fb1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8970134704959434086.post-2279529755581178202</id><published>2009-08-02T16:23:00.001+08:00</published><updated>2009-08-02T16:36:14.181+08:00</updated><title type='text'>Belajar  Bijak (Kesempatan Kedua)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SnVPlwbuqcI/AAAAAAAAAHk/BvSVhFOqxEk/s1600-h/drugs.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SnVPlwbuqcI/AAAAAAAAAHk/BvSVhFOqxEk/s320/drugs.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5365282041156774338" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;KESEMPATAN KEDUA&lt;br /&gt;Oleh: S. Gegge Mappangewa&lt;br /&gt;Beberapa  bulan terakhir, saya merasa dimata-matai seseorang. Merasa tak  tenang. Semua  orang di sekelilingku kucurigai, meski tak satu pun mata bisa kutangkap  sebagai pelakunya.   Saya selalu membujuk hati; itu hanya perasaanku!  Tapi semakin kubujuk, semakin kurasa ada sebuah hidden camera yang mengintaiku. Dan mungkin ini bukan lagi curiga, tapi phobia  akut.   Saking akutnya, getar sms pun kadang membuat dadaku bergemuruh-gemuruh. Beberapa teman yang kutempati  sharing  malah menganggapku suspect jin. Sungguh terlalu:)&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat dengan seorang sahabat saat kuliah dulu. Dia pernah merasakan phobia seperti ini. Hingga suara langkah kaki di luar rumah pun, kadang membuatnya lari sembunyi ke kolong ranjang. Tapi saya tak separah itu. Penyebabnya pun berbeda. Dia phobia karena  drug. Semua yang di sekitarnya dianggap sebagai mata-mata yang siap  menjebloskannya ke penjara. &lt;br /&gt;Padahal penjara tak sekejam  yang ada di benaknya. Hanya persoalan  reputasi  yang tercemar sebagai napi.   Dan napi pun tak selamanya bernoda. Setahun lalu (April 2008)  saya  diundang  untuk berbagi ilmu kepenulisan di Lapastika (Lembaga Pemasyarakatan Narkotika) di Bolangi. Di benakku, saya akan berhadap-hadapan  dengan wajah-wajah sangar. Tapi setelah bertemu dengan mereka, ada keinginan  untuk  memperpanjang tangan, melebarkan bahu, untuk merangkul mereka semua. Beberapa di antaranya bahkan pernah jadi ‘korbanku’. Korban dalam arti penggemar, pernah terbuai dengan cerpen-cerpenku di majalah  remaja. &lt;br /&gt;Dan pekan lalu, saya dapat kesempatan lagi untuk  masuk di Lapas itu. Masih sebagai pemateri kepenulisan, dan mudah-mudahan tidak akan pernah  masuk sebagai napi:) Pesertanya berbeda dengan  setahun lalu. Tapi semua masih tak sesangar yang kubayangkan. Saat sesi istirahat, saya ke mushalla, beberapa napi datang menyalamiku. Ternyata,  mereka adalah peserta setahun lalu. Semua penuh senyum!&lt;br /&gt;“Kak, saya  masih di sini! Tiga tahun lagi saya akan bebas!”&lt;br /&gt;Tiga tahun? Ya, tiga tahun dari enam tahun masa hukuman yang harus dilaluinya. Tapi semua masih penuh senyum.  Betah Mungkin?&lt;br /&gt;Saat materiku selesai, seorang peserta datang menghampiriku. Dari tatapannya,  dan gerak bibirnya yang susah  berucap, kutahu dia  ingin berahasia denganku. Saya mengerti, lalu mengambil langkah menghindar dari napi yang lain yang cerita denganku. Saya punya waktu  tak cukup lima menit dengannya. Karena jam tiga tengngng, saya harus meninggalkan Lapas. Begitu aturannya!&lt;br /&gt;Ternyata dari biodataku, dia tahu kalo saya satu kabupaten dengannya, meski  tak satu kampung!&lt;br /&gt;“Kak, minta tolong, hubungi keluargaku! Mereka nggak tahu kalo saya di sini.”&lt;br /&gt;“Sudah berapa lama kamu di sini?”&lt;br /&gt;“Setahun lebih! Saya tertangkap saat ke Makassar untuk jalan-jalan. Awalnya saya  nggak ingin keluargaku tahu kalo saya  ada di sini. Tapi, saya harus jujur, saya tetap membutuhkan mereka!”&lt;br /&gt;Deggg!!! Seolah ada pukulan keras yang menghantam dadaku. Setahun  raib dari keluarga? Bisa kubayangkan, meski tak ingin kurasakan, bagaimana dahsyatnya perasaan sedih  yang menjeram di balik dadanya. &lt;br /&gt;Saya mengangguk, mengiyakan permintaannya, lalu mengambil langkah pergi darinya.  Kurasakan  tatapannya masih menancap di punggungku, tapi  saya tak berbalik  membalas tatapan itu.  Dan ketika langkahku tiba di luar Lapas, di balik dinding-dinding kokoh itu, hatiku merapuh. Di balik dinding kokoh yang baru  saja  kumasuki, begitu banyak hati yang menyesali masa lalunya. Allah memberiku lagi kesempatan  bertemu dengan orang-orang yang  pernah melalaikan  waktu luangnya. Ya, kesempatan sering datang mengetuk pintu, tapi tak ada orang yang membukakan pintu untuknya.  Mungkin saya pun  pernah mendengar ketukan  pintu itu, tapi saya pura-pura tuli, tak mau mendengar, dan ketika kesempatan emas itu berlalu, mungkinkah ada kesempatan kedua?***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8970134704959434086-2279529755581178202?l=masgege.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masgege.blogspot.com/feeds/2279529755581178202/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8970134704959434086&amp;postID=2279529755581178202' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/2279529755581178202'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/2279529755581178202'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masgege.blogspot.com/2009/08/belajar-bijak-kesempatan-kedua.html' title='Belajar  Bijak (Kesempatan Kedua)'/><author><name>Gegge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02227405124686698722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/S871hC3hv7I/AAAAAAAAAJw/pjsdP-TQAXw/S220/fb1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SnVPlwbuqcI/AAAAAAAAAHk/BvSVhFOqxEk/s72-c/drugs.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8970134704959434086.post-6064883780728169543</id><published>2009-08-02T16:15:00.000+08:00</published><updated>2009-08-02T16:20:46.278+08:00</updated><title type='text'>CERPEN (Cintaku Jauh di Langit)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SnVML7fwScI/AAAAAAAAAHc/jrUPCPBuQMM/s1600-h/Puncak_pas.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 207px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SnVML7fwScI/AAAAAAAAAHc/jrUPCPBuQMM/s320/Puncak_pas.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5365278298914965954" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;CINTAKU  JAUH  DI  LANGIT &lt;br /&gt;Oleh: S. Gegge Mappangewa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAUH kulepaskan tatapan, terbang bebas di atas hamparan kebun teh dan lintasan Jakarta Bandung yang meliuk berliku, juga menukik. Di sini, di atas sebuah bukit, di areal perkebunan teh Puncak, Jawa Barat, kurapatkan duduk dari tadi. Ada rindu menyeruak di antara haru yang kurasakan sesak setiap kucoba mengingat kenangan setahun lalu, di sini, Ramadhan yang lalu, bersama Abraar.&lt;br /&gt;Sengaja memang, kutinggalkan Jakarta menuju Puncak. Hanya untuk melihat kembali saksi kisah bahagia sekaligus kisah perih yang pernah terajut di sini. Kisah itu mengalun kembali seiring menggemanya nama Abraar memenuhi ruang hatiku, ketika kucoba mendesiskan namanya. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Aku tak boleh menangis meski haru menyeruak, aku tak mungkin mengikuti emosi jiwa yang ingin selalu meneriak¬kan namanya. Semua demi keabsahan puasaku, juga kerelaanku menerima takdir. Kisah lalu itu adalah perjalanan hidup, mungkin seperti lintasan Jakarta Bandung yang penuh liku.&lt;br /&gt;"Hey!"&lt;br /&gt;Seorang cowok datang menyapaku. Kubalas dengan senyum. Terlalu sibuk dengan kisah lalu, aku telah meng¬anggap diriku sebagai penghuni tunggal bukit ini. Padahal sejak siang tadi, pengunjung banyak berdatangan. Sekadar menikmati hawa dingin bukit ini, hijaunya hamparan teh atau aktraksi paralayang yang bertolak dari bukit ini sambil menunggu waktu berbuka puasa.&lt;br /&gt;Paralayang? Aku menggeleng perlahan, tanpa sadar. Cowok di sampingku mengerutkan kening tanda tak mengerti dengan gelenganku.&lt;br /&gt;"Namaku Kade,” ucapnya kemudian sambil mengulurkan tangan untukku.&lt;br /&gt;“Vira !” balasku singkat tanpa meraih uluran tangannya.&lt;br /&gt;“Kamu sepertinya ada masalah" ucapnya lagi sambil menarik kembali uluran tangannya yang tak kusambut.&lt;br /&gt;Aku terdiam. Dingin yang semakin menusuk membuatku menarik ruslui¬ting jaket, lalu melipat tangan di dada. Kualihkan kembali tatapanku ke kaki bukit. Lintasan Jakarta Bandung, sepi. Hanya sesekali kendaraan melintas, membuat jalan beraspal itu seperti liukan anaconda raksasa yang sedang tertidur. Kade, cowok yang agak jauh di sampingku, nampaknya belum juga beringsut. Bahkan berceloteh sendiri.&lt;br /&gt;"Dulu, setiap ada masalah, aku selalu melarikan diri ke sini,” ungkap¬nya. “Jarak Bandung ke sini, nggak kupeduli. Di sini aku bisa sendiri, bahkan terbang ke langit sana.” lanjut¬nya sambil menatap langit barat. &lt;br /&gt;Aku yang dari tadi menganggapnya patung, kini terhipnotis untuk balik menatapnya. Kalimatnya membuat bayangan Abraar seperti utuh berada di depanku.&lt;br /&gt;Dulu, Abraar selalu ke sini. Tiap minggu! Menunggu angin datang, lalu mengembangkan parasutnya. Terbang melintas di atas hamparan kebun teh, semua karena dia berambisi untuk  menjadi atlet para¬layang. &lt;br /&gt;Abraar, pemilik lesung pipit itu kurasa¬kan semakin nyata di depanku. Tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya yang rapi. Dan lesung pipinya, seolah memiliki magis yang mampu melesakkan aku masuk ke dalamnya. Namun semua kesempurnaan itu membuatku semakin tak bisa berharap banyak. Jalan bersama dia pun rasanya sudah  anugerah besar buatku. Hanya keramahan, juga kerendahan hatinya yang membuatnya mau berteman denganku. Siapa sih yang mau berteman dengan gadis cacat sepertiku? Kalau pun banyak yang memujiku cantik, namun terlalu sedikit yang mau jalan dengan seorang cewek berkaki pincang sepertiku.&lt;br /&gt;Tapi Abraar, awal kedekatannya denganku kuanggap sebuah hinaan. Aku salah sangka, aksi pedekate nya padaku kupikir hanya karena otakku yang encer. Karena kutahu betul, dia selalu berada di peringkat terakhir bahkan pernah terancam tidak naik kelas.&lt;br /&gt;Namun ketika dia berhasil menak¬lukkan hatiku untuk menjadi temannya. Abraar lain dari yang kupikir. Dia tak pernah memberiku kesempatan untuk putus asa, tak pernah malu melangkah di sampingku, yang jalannya terseok-¬seok karena kaki kiriku yang tidak normal sejak lahir. &lt;br /&gt;“Semua karena aku tahu, tak banyak yang mau berteman dengan kamu,” ungkapnya jujur ketika kutanya alasan kedekatannya denganku.&lt;br /&gt;Beribu kalimat sumbang pun akhirnya terlontar. Abraar yang otaknya tumpul di kelas, ternyata juga berotak udang dalam mencari pacar. Vira, gadis cacat yang bukan hanya pintar di kelas tapi juga punya ilmu hitam yang bisa membuat cowok bertekuk lutut. Dan entah kalimat apalagi, yang semakin membuatku sadar dengan kekuranganku.&lt;br /&gt;Aku tenang saja. Toh, Abraar juga tak menanggapinya. Tapi ketenangan itu akhirnya terusik juga. Terusik oleh mimpi seekor pungguk sepertiku yang merindukan bulan, jauh di langit sana. Kedekatanku dan banyak jalan bersa¬manya telah membuat hatiku dihinggapi penyakit cinta yang tidak seharusnya diidap oleh gadis cacat sepertiku.&lt;br /&gt;Kusimpan cinta itu menjadi siksa jiwa. Aku tak peduli itu menyiksa, tak kuhiraukan meski sering membuatku menangis. Semua demi kelangsungan persahabatanku dengan Abraar. &lt;br /&gt;Ya, persahabatan ! Aku tak boleh melewati garis batas itu. Sekali aku menyebut kata cinta buat Abraar, persahabatan itu akan hancur. Tak ingin kusesali ke-bodohanku kelak.&lt;br /&gt;"Hey !"&lt;br /&gt;Sapaan Kade membuat lamunanku buyar. Bahkan dia habis meninggalkan¬ku sendiri tanpa kusadari. Buktinya, sebuah careel berisi parasut telah bergantung di punggungnya. Dulu Abraar begitu gagah setiap membawa careel parasut seperti itu.&lt;br /&gt;"Sori, aku ditugaskan untuk terbang. Untuk memberi aktraksi kepada para pengunjung di sini. Tapi aktraksi ini spesial kupersembahkan untukmu. Untuk awal perkenalan kita, " ujarnya sambil tersenyum.&lt;br /&gt;Dia melebarkan parasutnya, memasang harness dan helm penga¬man. Entah berapa detik dia berdiri mematung, memperhatikan bendera kecil yang ditancapkan di salah satu tembereng bukit. Saat bendera itu berkibar pertanda ada angin, sejenak Kade melirikku sekali, lalu berlari mengambil awalan, dan di ujung ketinggian bukit, dia terbawa angin.&lt;br /&gt;Seperti elang, Kade terbang mengitari perkebunan teh. Manarik dan mengulur tali parasutnya. Aku terpana melihatnya. Seolah Abraar yang sedang terbang di sana. Aku duduk kembali. Pengunjung yang lain masih terus menatapnya. Lain denganku, tadi ketika Kade terbang mengitari perkebunan teh, ada bahagia sekaligus ketakjuban melihatnya, tapi ketika dia memilih untuk terus menarik parasutnya, membuatnya, semakin tinggi. Di posisi terbangnya yang sejajar dengan matahari yang terhalang awan. Dia berhenti di situ. Berdiam diri! Lama  sekali. Posisi seperti itu membuat kenanganku dengan Abraar datang mengiris.&lt;br /&gt;Dua bulan terakhir kebersamaanku dengan Abraar, dia selalu terbang ke sana. Terbang hingga ketinggian yang sejajar dengan matahari sore. Padahal sebelumnya, dia  tak pernah melakukan itu. Aku bisa menebak, jika dia. memen¬dam masalah berat dan melarikannya ke awan sana. &lt;br /&gt;"Aku bahkan mau terbang hingga ke langit. Sayang nggak bisa! Meski kuyakin itu akan terjadi. Tak lama lagi!" ucapnya suatu sore, saat baru landing dari penerbangannya yang tinggi.&lt;br /&gt;Sedikit pun aku tak menanggapi kalimat itu. Aku hanya memperhatikan dia sibuk  melepaskan harness. &lt;br /&gt;Kebiasaan Abraar terbang seperti itu, bermula saat dia dinyatakan gagal  menjadi atlet nasional di olahraga paralayang. Jelas sekali ada kecewa, padahal sebelum mengikuti test dia sempat bercerita jika dia tak takut gagal. Toh, ini hanya kujadikan sebagai hobi sekaligus hiburan, katanya. Tapi akhirnya? Kegagalan itu membuatku menemukan Abraar yang lain dalam dirinya yang sebenarnya.&lt;br /&gt;Aku mencoba belajar menghadapi kenyataan. Sedikit demi sedikit aku melangkah menjauh. Siapa tahu kedekatanku dengannya telah membuat dia bermasalah. Apalagi, akhir akhir ini sering kudengar dia menyebut nama Yuni di depanku. Kutahu dia mencintai¬nya, juga kuyakin jika Yuni tak akan menolak jika tahu perasaan Abraar.&lt;br /&gt;Ketika kusadar bahwa aku menjadi penghalang, kucoba untuk beringsut. Bukankah mengharap terus cintanya, juga sebuah siksa bagiku? Jika aku menghindar, itu berarti aku telah memberi kebahagiaan buat Abraar yang juga pernah memberiku bahagia meski akhirnya aku melukai diriku sendiri dengan mimpi yang tak mungkin berwujud.&lt;br /&gt;"Maukah kamu menerima cintaku?"&lt;br /&gt;Seperti tak sadar ketika suatu hari, kudengar dia mengucapkan kalimat itu untukku.&lt;br /&gt;"A..aku!" gugupku.&lt;br /&gt;Dia mengangguk serius. Menatapku tanpa henti. Sayang sekali, tatapan yang sebelumnya selalu kuakui mendamai¬kan, saat itu malah membuat hatiku porak poranda. Bagaimana tidak, kalaupun aku pernah berani bermimpi untuk memilikinya, sedikit pun aku tak berani untuk mewujudkannya, Laksana terbang ke langit, saat untuk kedua kalinya dia mengucapkan cinta padaku. Aku melayang tanpa parasut. Terlebih, tanpa sayap! Karena aku memang bukan burung dara yang sempurna.&lt;br /&gt;“Hey!”&lt;br /&gt;Lagi lagi Kade datang melerai kenanganku bersama Abraar. "Kalau kamu mau, aku bisa memba¬wamu terbang seperti tadi. Aku biasa jadi pelatih untuk penerbang pemula." ucapnya sambil melirik jam di perge¬langannya. "Masih bisa untuk sekali penerbangan." &lt;br /&gt;Aku menggeleng. &lt;br /&gt;"Kenapa, takut? Sekali kamu terbang, kamu akan ketagihan. Yakinlah! Di atas sana kamu boleh membuang semua bebanmu. Bahkan melupakan semua masalahmu. Ketinggian selalu menjanjikan mimpi. Mimpi yang indah!" Kade memohon lagi.&lt;br /&gt;Apapun alasannya. Aku tetap menggeleng! Aku pun tahu, ketinggian selalu memberi mimpi yang indah, tapi aku lebih tahu jika terkadang ngarai menunggu di bawah. Apa artinya melambung sejenak bersama mimpi sementara hati juga harus selalu siap untuk terluka saat harus terhempas?&lt;br /&gt;"Okel Nggak apa apa. Tapi kamu mau jadi temanku, kan?"&lt;br /&gt;Tatapanku lurus menancap ke bola mata Kade. Sedikit teriris hatiku mendengarnya. Bagaimana tidak? Kuyakin kalimat itu terucap darinya karena belum sadar jika gadis yang berada di depannya tak bisa berjalan normal.&lt;br /&gt;"Apa untuk menjadi teman, aku harus menunggu lama?" lanjutnya lagi. "Padahal aku berharap lebih dari itu."&lt;br /&gt;Tatapanku yang tadi menancap di bola matanya, kini kularikan ke kaki bukit. Sore semakin layu, kabut pun menebal. Di bawah sana, speaker Mesjid Atta'Awun mengalunkan kalimat suci. Sebentar lagi maghrib. Aku harus turun.&lt;br /&gt;"Boleh, kan?" desaknya meminta jawaban.&lt;br /&gt;Aku tetap diam. Gelap yang merambat membuat semua kendaraan yang melintas di jalan Jakarta Bandung harus menyalakan lampu sorotnya. Lintasan panjang berliku itu, yang tadi mirip anaconda raksasa yang sedang tertidur, kini kilatan kilatan lampu kendaraan yang melintasinya tak ubahnya  barong¬sai raksasa yang sedang berjalan meliuk.&lt;br /&gt;Pengunjung bukit mulai turun satu per satu. Kade berpindah ke depanku. Menatapku tajam! Tapi aku memilih untuk melangkah. Langkah pincang yang terseok. ¬Tersaruk saruk! Dan kuyakin, dengan melihat itu, Kade akan tercengang sekaligus mema¬tung. Tanpa pemah mau mengiringi langkahku.&lt;br /&gt;Selangkah, dua dan tiga kali aku melangkah menuruni bukit. Tanpa berbalik pun kutahu, apa yang sedang Kade perbuat. Dia tak akan pernah mau berteman dengan gadis pincang sepertiku.&lt;br /&gt;Ada haru yang menyeru¬ak ketika semakin kusadar bahwa Kade tak mengikuti langkahku. Bukan karena ingin dia bersamaku, sekali lagi bukan! Haru itu menye¬ruak karena mengingatkanku pada satu satunya orang yang mau melangkah bersamaku. Abraar!&lt;br /&gt;Ramadhan tahun lalu pun aku masih sempat menuruni bukit ini bersama Abraar. Buka puasa dan shalat jama'ah di Mesjid Atta'Awun. Lalu pulang membawa moci dan peuyem sebagai oleh oleh.&lt;br /&gt;Aku tak boleh menangis. Tekadku sambil menyeret langkah. Kuingin cepat tiba di mesjid. Menanti maghrib dan mengadukan semua bebanku pada Allah yang bersinggasana di langit yang jauh. Sekaligus mengirim doa buat Abraar di sana.&lt;br /&gt;Aku tak pernah melupa¬kan selalu kupuji kemurahan hati Abraar yang mau berteman denganku. Meski untuk mencintaiku, belakang¬an kutahu jika itu hanyalah pelarian. Kepiawaian Abraar mempermainkan tali parasutnya, keberaniannya menan-tang angin, tak diragukan lagi untuk menjadi atlet nasional paralayang. Tapi, semua keahlian itu harus diabaikan karena dokter memvonisnya sebagai penderita kanker otak ketika ikut test kesehatan, dalam seleksi atlet nasional.&lt;br /&gt;Lama sekali baru aku tahu penyakit Abraar itu, meski kulihat ada duka yang menggantung di setiap tatapannya. Meski kuarasakan ada keanehan dari sikapnya yang selalu menerbangkan parasut ke ketinggian yang sejajar dengan matahari. Barulah setelah dia terbaring lemas dan hendak menghembus¬kan napas terakhirnya, dia meminta maaf atas cinta semunya padaku.&lt;br /&gt;Ada Yuni yang mengisi ruang hatinya. Begitu cintanya pada Yuni, Abraar tak ingin Yuni teruka dengan kehilangan dirinya kelak Aku pun jadi korban pelarian itu. Aku tak tahu perasaan apa yang berkeca¬muk di hatiku saat mendengar pengakuan Abraar. Aku ingin membenci tapi dia telah membuatku berarti.&lt;br /&gt;Hanya sesaat setelah aku membasuh tubuhku dengan wudhu, adzan maghrib menggema. Segelas air putih kuteguk, tambah beberapa buah moci. Lalu meraih mukenah dan mengambil tempat di barisan jamaah yang hendak shalat.&lt;br /&gt;Khusyu' sekali aku dalam shalat, lalu melantunkan doa untuk Abraar. Doa untuk ketenangannya di 'ketinggian' sana.&lt;br /&gt;Ketika aku keluar mesjid, hendak membeli oleh-¬oleh khas Puncak. Kudapat-kan sosok Kade yang sedang menghampiri seorang cewek yang lumayan manis. Tentu saja aku tak cemburu apalagi terluka. Allah yang pemurah pernah mengirimkan Abraar untuk mencintaiku. Meski dengan cara lain. Kuyakin juga, Allah, kekasihku yang bersinggasana di langit sana, akan selalu hadir di hati. Untuk mendengar doaku!&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;(Termuat di Aneka Yess! Edisi Oktober 2003)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8970134704959434086-6064883780728169543?l=masgege.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masgege.blogspot.com/feeds/6064883780728169543/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8970134704959434086&amp;postID=6064883780728169543' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/6064883780728169543'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/6064883780728169543'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masgege.blogspot.com/2009/08/cerpen-cintaku-jauh-di-langit.html' title='CERPEN (Cintaku Jauh di Langit)'/><author><name>Gegge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02227405124686698722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/S871hC3hv7I/AAAAAAAAAJw/pjsdP-TQAXw/S220/fb1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SnVML7fwScI/AAAAAAAAAHc/jrUPCPBuQMM/s72-c/Puncak_pas.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8970134704959434086.post-6373426807368021362</id><published>2009-08-02T15:58:00.000+08:00</published><updated>2009-08-02T16:08:19.679+08:00</updated><title type='text'>Belajar Bijak  (Gerimis Ini Turun Untukmu)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SnVJFsVZPPI/AAAAAAAAAHU/GpARCTOydaM/s1600-h/bye.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SnVJFsVZPPI/AAAAAAAAAHU/GpARCTOydaM/s320/bye.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5365274893230882034" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;GERIMIS INI TURUN UNTUKMU&lt;br /&gt;OLEH : S. GEGGE MAPPANGEWA&lt;br /&gt;Perpisahan  adalah kesedihan yang teramat manis. Kalimat itu diucapkan Romeo pada Juliet, yang dituntun oleh William Shakespeare.  Sungguhkah  kesedihan itu teramat manis? Tentu saja tergantung  jenis  perpisahannya. Karena begitu banyak  orang yang tak sudi menangisi perpisahan dan lebih menyesali pertemuan. Tragisnya lagi, terucap kata; tiada maaf  bagimu!&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf!  Andai semua orang terbiasa dengan kata itu, semua  kesedihan akan teramat manis. Tapi bukan salah siapa jika kata maaf itu susah untuk terucapkan, karena memang ada salah yang tak bisa  termaafkan. Padahal kata orang bijak,  memaafkan kesalahan memang lebih baik, tapi melupakan kesalahan orang jauh lebih baik. Tapi yang jadi masalah, ada  salah yang tak  bisa termaafkan, yakni salah  yang tak bisa terlupakan. &lt;br /&gt;Seorang sahabat yang  telah bertahun-tahun  kukenal. Tak ada istimewa dengan hubungan kami. Bertemu paling sekali sepekan. Tahun-tahun yang  terlewatkan tak ada istimewa. Hanya sekadar tertawa bersama saat bersua.  Bertukar mimpi. Lalu, ketika perpisahan akan menjadi bagian dari hidup kami, seketika semua jadi istimewa.&lt;br /&gt;Pada detik-detik kepergiannya, saya merasakan ada ikatan yang sulit terlerai. Ada rasa yang sulit kuurai. Melarut, menggumpal, lalu seakan  ingin jadi derai. Masih mampu kutahan derai itu. Hingga yang ada adalah kabut menjelaga di mataku. Inikah kesedihan yang teramat manis itu? Saya teringat dengan  salah seorang sahabat yang pernah  mengirimkan sms untukku dan hingga kini ku save; JIKA  SUATU SAAT….! MUNGKIN HARI  INI, ESOK, LUSA, ATAU KAPAN. AKU TAK BERNAPAS LAGI. KETAHUILAH, SAUDARAKU! HADIAH TERINDAH YANG PERNAH KUDAPAT DARIMU ADALAH PERSAUDARAANMU KARENA ALLAH. SEMOGA KITA TETAP ISTIQAMAH DAN DIPERSAUDARAKAN DI JANNAH!&lt;br /&gt;Mungkin  selama ini memang tak ada yang istimewa di antara persahabatan kami, hanya sebuah cerita sederhana dari pertemuan  yang  biasanya hanya sekali sepekan. Tapi kesederhanaan itu telah memberikan hadiah terindah untuk kami; Persaudaraan karena Allah! Semoga hadiah itu benar, Persaudaraan Karena Allah! Persaudaraan yang menyimpan berjuta-juta maaf. Karena  sekali lagi, kata maaf itu  sangat-sangat susah untuk dilantunkan. Padahal dari situlah bermuara kesucian. Dan kesucian selalu ternoda oleh salah, masalah, dan masa lalu!*** (Saat kisah ini kutulis, di luar sana gerimis turun ragu, membekukan sedih yang  teramat manis)   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8970134704959434086-6373426807368021362?l=masgege.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masgege.blogspot.com/feeds/6373426807368021362/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8970134704959434086&amp;postID=6373426807368021362' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/6373426807368021362'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/6373426807368021362'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masgege.blogspot.com/2009/08/belajar-bijak-gerimis-ini-turun-untukmu.html' title='Belajar Bijak  (Gerimis Ini Turun Untukmu)'/><author><name>Gegge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02227405124686698722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/S871hC3hv7I/AAAAAAAAAJw/pjsdP-TQAXw/S220/fb1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SnVJFsVZPPI/AAAAAAAAAHU/GpARCTOydaM/s72-c/bye.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8970134704959434086.post-2713854877555942478</id><published>2009-04-28T21:58:00.000+08:00</published><updated>2009-06-07T13:35:12.073+08:00</updated><title type='text'>Mawar Melati Semua Indah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SitRgiByL7I/AAAAAAAAAHM/IxO0O54rUQY/s1600-h/MAWAR.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SitRgiByL7I/AAAAAAAAAHM/IxO0O54rUQY/s320/MAWAR.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5344455002137178034" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Nanda tak pernah  menduga, juga tak mengerti jika dia akan menjadi korban idol hunt yang kini  meminta semua orang menatap ke media. Sedikit pun  dia tak punya keinginan  untuk menjadi bintang, apalagi jika harus  merelakan aurat  menjadi aura keberuntungannya. Tapi ibunya,  berawal dari membujuk, lalu setengah memaksa, namun kini menyuruh Nanda  pergi dari rumah jika dia tetap mempertahankan jilbabnya.&lt;br /&gt;Ibunya ingin semua orang berdecak kagum,  janda ditinggal suami yang hidup sebagai tukang jahit tapi masih bisa menghidupi kedua anaknya dengan layak.  Dira  yang sulung telah sukses sebagai  idola remaja. Uang  dan popularitas telah didapatkan, dan ibunya menginginkan, Si bungsu Nanda mengikuti jejaknya.&lt;br /&gt;***************************************************************************************************&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MAWAR  MELATI  SEMUA  INDAH&lt;br /&gt;Oleh: S. Gegge Mappangewa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NANDA   meraih pulpen. Perih mengikuti jejak cerita yang  akan digoreskannya. Sedih, lelah! Membuatnya tak bisa menggoreskan satu kata pun. Air matanya  luruh tiba-tiba,  saat  karang hati yang pernah  dibiarkan terhempas  badai apapun, tumbang akhirnya. Dia pun mengalah! Melangkah menemui ibunya, yang memang menginginkan  kekalahan itu.&lt;br /&gt;“Inikah yang ibu inginkan?” ucapnya sambil mengibaskan rambut hitamnya. &lt;br /&gt;Mata wanita yang dipanggilnya ibu, berbinar sudah. Tidak lagi basah! Juga tak ada lagi kalimat badai yang keluar dari  bibirnya.&lt;br /&gt;Nanda ingin menangis, tapi  tetap  dipaksa menarik  dua sudut bibirnya, minim sekali  senyum itu, seminim busana yang kini dipakainya. Di balik senyum itu tersimpan dendam. Lalu dengan langkah  dibikin menggoda, dia melenggang di depan ibunya.&lt;br /&gt;“Aku minta doa restu ibu,” penuh kemunafikan dia mengucap kata  itu.&lt;br /&gt;Teringat jilbab  lebar yang pernah menutupi auratnya, dia ingin menangis. Sangat ingin! Namun lebih ingin lagi, dia ingin membahagiakan ibunya, menuruti keinginannya untuk menjadi bintang idola remaja.&lt;br /&gt;Nanda tak pernah  menduga, juga tak mengerti jika dia akan menjadi korban idol hunt yang kini  meminta semua orang menatap ke media. Sedikit pun  dia tak punya keinginan  untuk menjadi bintang, apalagi jika harus  merelakan aurat  menjadi aura keberuntungannya. Tapi ibunya,  berawal dari membujuk, lalu setengah memaksa, namun kini menyuruh Nanda  pergi dari rumah jika dia tetap mempertahankan jilbabnya.&lt;br /&gt;Ibunya ingin semua orang berdecak kagum,  janda ditinggal suami yang hidup sebagai tukang jahit tapi masih bisa menghidupi kedua anaknya dengan layak.  Dira  yang sulung telah sukses sebagai  idola remaja. Uang  dan popularitas telah didapatkan, dan ibunya menginginkan, Si bungsu Nanda mengikuti jejaknya.&lt;br /&gt;“Ini bukan untuk  ibu, Nanda. Apa kamu nggak sakit hati pada ayah yang  meninggalkanmu?  Kamu bisa saja bertahan dengan kesabaranmu, tapi tolong balaskan dendam ibu. Membuat lelaki bejat itu kembali dan mengemis di rumah ini.”&lt;br /&gt;Nanda ingin menutup telinga, tapi dipilihnya berlaku manis. Menurutnya, ibu tak salah menaruh dendam pada ayah yang menikah lagi. Tapi  yang membuatnya tak mengerti, meski harus diterima juga, permintaan ibunya yang menyuruhnya menjadi model. &lt;br /&gt;Kebanggaan ibunya dulu, pada Nanda yang  anggun dengan jilbabnya, pada Nanda yang  sopan langkahnya, kini pudar. Bahkan profesi Nanda sebagai penulis fiksi, tak  dipandangnya. Sebelah mata pun tidak!&lt;br /&gt;“Sudah berapa tahun kamu jadi penulis, siapa yang memujimu? Kamu  hanya pemain di balik layar. Kamu cantik, pintar. Anugerah Tuhan jangan disia-siakan!” &lt;br /&gt;Dulu, saat  kalimat itu  terlontar untuknya, dia masih bisa berkilah, membela diri bahkan tak rela dirinya dibanding-bandingkan dengan Kak Dira, hanya karena profesi.&lt;br /&gt;“Sebelum Kak Dira  jadi model, aku nggak pernah merasa dinomorduakan. Tapi kenapa sekarang ibu perlakukan untukku…”&lt;br /&gt;“Ibu ingin  melihat kamu sukses seperti kakakmu,”&lt;br /&gt;“Dengan memaksaku? Jilbabku yang ibu kagumi dulu pun ingin  ibu lepas paksa dari tubuhku,” setengah menangis dia mengucap kalimatnya. &lt;br /&gt;Tapi ibunya tetap pada pendiriannya. Nanda mencoba cara lain.  Banyak diam, bahkan menghindar dari ibunya hingga  berkesan perang dingin. Tapi hasilnya tetap mengecewakan. Nanda bahkan terusir dari rumah jika  tetap  mempertahankan  prinsip. Bukan tak ada jalan lain, tapi Nanda merasa jika menuruti keinginan ibunya  adalah jalan  terbaik  saat ini. &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;“Jilbaber kita berganti bikini,”&lt;br /&gt;Sungguh! Gendang telinganya terasa pecah mendengar kalimat itu. Dia tetap melangkah, menelusuri koridor kampus yang  penghuninya melayangkan mata ke arahnya. Dia memaksa  tersenyum, menganggap koridor kampus sebagai cat walk yang akan ditempatinya melenggang saat jadi model kelak.&lt;br /&gt;“Nanda?” suara tak percaya dengan apa yang dilihatnya itu, milik Fatah.&lt;br /&gt;Nanda berhenti sejenak, menatap  ke arah Fatah yang langsung tertunduk menerima tatapannya. Ini yang pertama kalinya dia menatap lama ke wajah Fatah. Sebelumnya, dia lebih banyak mendengar suaranya dari balik hijab mesjid. Kalaupun bertemu, tidak  ‘sedekat’ ini.&lt;br /&gt;“Jenggoter kita patah hati, nih!” teriak mahasiswa lain yang sedang melihat Nanda dan Fatah  dalam kebekuan.&lt;br /&gt;Nanda ingin bicara, tapi tak tahu harus mengucap apa.  Fatah yang pergi darinya pun, tak mampu ditahan langkahnya. Kali  ini dia menangis. Merasa kehilangan Fatah, teman setia di aktivis dakwah. &lt;br /&gt;  Sebenarnya Nanda tahu apa yang akan terjadi  jika dia menuruti keinginan ibunya. Bahkan keberaniannya datang ke kampus dengan pakaian minim, semata  karena ingin ‘uji nyali’ sekaligus membiasakan diri tampail funky. &lt;br /&gt;Nanda telah membulatkan tekad untuk  menjadi model!  Di  balik tekad itu, dia  punya  rencana tersendiri untuk ibunya. Mungkin semacam dendam tapi  itu terpaksa dilakukan setelah  tersiksa oleh paksaan dan amarah ibunya.&lt;br /&gt;Padahal dia boleh saja tak serius di audisi model yang diikutinya kemarin, tapi demi dendam itu dia   berusaha  menjadi yang terbaik. Hasilnya tentu saja menggembirakan, buat ibunya! Meski buat dirinya sangat menyakitkan. Nanda terpilih sebagai nominasi model yang akan masuk karantina dan dibimbing ke  jalan glamour. &lt;br /&gt;Nanda   menangis saat ibunya memberinya senyum bangga dengan prestasi yang diraihnya. Sekian lama hidup dengan ibunya, tanpa ayah, bahkan  tanpa materi berlebih, namun Nanda bahagia. Tapi kini…? Keberhasilan  Dira menjadi model, bukannya membuat  ibunya puas. Padahal cari apa lagi? Rumah sederhana yang dulu ditempati hidup kekurangan, kini telah ‘disulap’ Dira menjadi istana. Bahkan usaha jahitan  telah berubah menjadi konveksi  besar. Puas tetap  tak teraih. Nanda jadi korban, menggadai iman demi keinginan ibunya.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; Nanda tahu dendam itu  dosa, apalagi  jika rasa itu untuk  orang yang telah melahirkannya. Tapi Nanda telah meniatkannya sejak dia luluh untuk meluruhkan jilbab dari tubuhnya. Baginya, bayaran  perih hati saat dia terpaksa melepas jilbab, haruslah setimpal. Paling tidak memberi teguran pada ibunya  yang   materialis.&lt;br /&gt;Popularitas di tangan kini. Model agency tempatnya terdidik, bukan hanya memilihnya sebagai juara kedua, namun juga sebagai pemenang favorit pilihan  penggemar. Tapi sedikit pun Nanda tak berbangga, bencinya malah semakin menjadi. &lt;br /&gt; Dan benci    pun membuncah kini. Saat wajahnya telah terpampang di  lembaran majalah remaja sebagai idola, pada hampir  tiap sudut kota di papan  iklan    yang dibintanginya. Apalagi di  televisi, hampir semua  peran sinetron dilakoninya. Seperti  niatnya dari awal,  saat namanya telah melambung dan terikat perjanjian kontrak Production House,  dia pun kembali ke habitat semula, sebagai jilbaber!&lt;br /&gt;“Kamu gila, Nanda! Bukankah kamu telah terikat kontrak dengan iklan shampo, gimana surat perjanjian yang telah kamu tanda tangani dengan  rumah produksi, peran kamu di sinetron  sebagai gadis funky,  tanpa jilbab! ”  ibunya panik.&lt;br /&gt;“Tapi  perjanjian antara ibu dan Nanda, cuma sebatas jadi model…”&lt;br /&gt;Kalimat Nanda terpotong oleh tamparan keras ibunya.&lt;br /&gt;“Jangan anggap sepele! Rumah produksi bisa saja nuntut kamu miliyaran,”&lt;br /&gt;“Kan ada  denda kurungan, itu jika ibu tak mau merelakan harta yang ibu peroleh dari Dira, untuk kebebasan Nanda.”&lt;br /&gt;Ibunya memelas, memaksa, juga menampar lagi. Tapi Nanda  bergeming. Bahkan  mengadakan jumpa pers tentang keputusannya meninggalkan  dunia selebritis.&lt;br /&gt;Bukan tak ada perih. Iba telah berubah menjadi ujung pedang yang mengiris-iris saat  rumah, mobil dan usaha konveksi ibunya tersegel demi membayar denda pelanggaran surat perjanjiannya dengan rumah produksi. Iba  bukan karena tak punya apa-apa lagi, tapi karena ibunya yang tiba-tiba shock, tak kuat menerima kenyataan yang  mendadak   berubah arah.&lt;br /&gt;“Kamu nggak punya perasaan!” cecar Dira. “Bukan begini caranya membalas sakit hati pada ibu. Sebesar apa pun salahnya, apa susahnya melupakan, memaafkan. Atau karena  jiwa kecilmu tak mampu mengingat perjuangan ibu menghidupimu tanpa ayah? &lt;br /&gt;Salahkah dia punya mimpi setelah tidurnya tak kau nyenyakkan dengan tangismu di tengah malam? Minta disusui, digantikan popok!”&lt;br /&gt;Nanda diam. Ujung jilbabnya telah basah air mata. Sementara ibunya  terkulai lemas berjuntaian selang infus.&lt;br /&gt;“Sebenarnya bukan saat kamu memilih untuk jadi model, kamu harus  melepas jilbab. Tapi saat kamu membangun kebencian pada ibu, di situlah jilbabmu tak pernah pantas!  Nanda, bukan kamu yang harus memberi teguran pada ibu, tapi Tuhan!”&lt;br /&gt;Mendengar  Dira mengucap kata Tuhan, sesal semakin menyiksa. Sedikit pun dia tak pernah meminta persetujuan-Nya lewat istikharah, saat dia memilih  menjadi model. Begitu juga saat  melepaskan bencinya lewat dendam, tak pernah sekali pun dia meminta petunjuk lewat doa, dia bertindak sendiri!&lt;br /&gt;“Maafkan Nanda, Bu!”&lt;br /&gt;Tubuh  ibunya yeng terkulai, dipeluk lekat. Dibasahi dengan air mata penyesalan. Tubuh itu masih juga bisu, mendekati beku.&lt;br /&gt;“Permisi!”&lt;br /&gt;Pelukan Nanda terlepas. Matanya yang beralih ke asal suara membuat detak jantungnya berirama keras. Dia  ingin bicara,  menjelaskan pada  petugas kepolisian yang datang, jika  utangnya pada rumah produksi telah lunas dari hasil pelelangan harta ibunya, tapi mata petugas itu  menatap tajam ke arah Dira yang  membalas tatapan itu dengan gugup.&lt;br /&gt;“Bisa ikut kami ke kantor?”&lt;br /&gt;Dira tampak tak bisa mengelak. Seolah tahu jika dirinya  bersalah. Nanda bisu, bingung, tak mengerti dengan  pemandangan yang  kini disaksikannya. &lt;br /&gt;“Kak Dira!” desisnya tapi  tak dipeduli.&lt;br /&gt;Nanda ingin mengikuti langkah Dira yang dikawal  petugas kepolisian, tapi  ibunya  yang mulai menggerakkan jari, setelah seharian hilang dari kesan kehidupan, memaksanya  tinggal dan menemani ibunya.&lt;br /&gt;“Maafkan Nanda, Bu! Nanda menyesal. Aku keterlaluan! Ibu mau memaafkanku, kan?”&lt;br /&gt;Pejaman mata ibunya terbuka sejenak lalu tertutup lagi. Dia  ingin membuka mata  untuk Nanda, tapi terlalu berat. Kelopaknya menyimpan tangis.  Korneanya merindukan sosok Nanda yang anggun dengan jilbabnya. Tapi rindu itu tertahan oleh sesal  yang telah membedakan kedua puterinya, hanya karena profesi. Kelopak basah kemudian! Jemarinya mengenggam   jari Nanda yang menjabatnya. Erat sekali!&lt;br /&gt;“Nanda, Ibu yang salah…” serangkai kalimat terucap akhirnya.&lt;br /&gt;Nanda menggeleng. Tapi ibunya membuka mata, menatap layu pada Nanda yang  masih dibasahi tangis.  Tatapan yang meminta Nanda menyerahkan semua kesalahan padanya. Baginya, tak cukup dengan sesal. Harta dan dendam pada suaminya telah membuatnya berpaling dari  Tuhan, bahkan memaksa puterinya merintis jalan setapak, di antara duri. Kenyataan kini membuatnya sadar, mengingat kematian yang sekian lama luput dari ingatannya.&lt;br /&gt;“Dira  ke mana?”&lt;br /&gt;Bergetar bibir Nanda menerima pertanyaan itu. Tangisnya terhenti, berganti  kemirisan. Tentu saja tak tepat menceritakan apa yang baru saja terjadi pada  Dira, meski sebenarnya dia pun tak tahu apa yang membuat Dira dijemput petugas kepolisian.&lt;br /&gt;“Kak Dira ada syuting katanya,”&lt;br /&gt;“Ibu ingin memeluknya. Ibu rindu,” katanya sambil meraih remote tv dan meng-on-kan.&lt;br /&gt;Wajah Dira memang ada di layar kaca, tapi tak seperti biasanya. Kali ini wajahnya hadir  di acara infotainmen dan menampilkan sosoknya sebagai tersangka  pengedar dan pengguna drugs.&lt;br /&gt;Mata Nanda  tak betah menatap  layar tv.  Tatapnya beralih ke arah ibunya. Dia takut, akan terjadi apa-apa pada ibunya menyaksikan kenyataan baru, yang jauh lebih pahit.&lt;br /&gt;“Ibu sedih. Perih! Tapi  tak rapuh. Kuharap Dira  bisa mengambil hikmah dari kejadian yang menimpanya, seperti ibu yang kini  tak bisa membedakan posisi kalian, hanya karena warna …”&lt;br /&gt;Nanda melabuhkan peluknya, menumpahkan tangis di tubuh ibunya yang  berusaha setegar mungkin. Dalam pelukan itu, meski perih yang akan mengikuti jejak goresan penanya, dia tetap tak sabar ingin meraih pulpen, lalu bercerita panjang.&lt;br /&gt;Kutulis kisahku, pada karang dengan jari telanjang! batinnya membayangkan kalimat pembuka cerpennya, setelah sekian lama tak menulis.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8970134704959434086-2713854877555942478?l=masgege.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masgege.blogspot.com/feeds/2713854877555942478/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8970134704959434086&amp;postID=2713854877555942478' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/2713854877555942478'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/2713854877555942478'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masgege.blogspot.com/2009/04/mawar-melati-semua-indah.html' title='Mawar Melati Semua Indah'/><author><name>Gegge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02227405124686698722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/S871hC3hv7I/AAAAAAAAAJw/pjsdP-TQAXw/S220/fb1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SitRgiByL7I/AAAAAAAAAHM/IxO0O54rUQY/s72-c/MAWAR.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8970134704959434086.post-7593607499373794641</id><published>2009-04-28T21:41:00.000+08:00</published><updated>2009-04-28T21:47:29.222+08:00</updated><title type='text'>SIMPAN UNTUKMU SENDIRI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SfcI4k7eH4I/AAAAAAAAAGY/uNGOBlSRiVU/s1600-h/sendiri.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SfcI4k7eH4I/AAAAAAAAAGY/uNGOBlSRiVU/s320/sendiri.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5329738452095082370" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;SIMPAN   UNTUKMU  SENDIRI&lt;br /&gt;Oleh:  S. Gegge Mappangewa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SETIAP  ke rumah Andien,  benakku selalu dilumuti tanya. Tanya yang kusimpan sendiri karena tak ingin, juga takut jika setiap pertanyaanku berkesan menyelidik. Barang-barang mewah, foto keluarga, dan juga  rumah megah, seolah  sebuah  jejak sidik  masa lalu  Andien.&lt;br /&gt;Andien yang  di sekolah periang, seolah tanpa beban apa pun, tapi setiap kudapatkan  di rumah, dia tak lebih hanyalah mayat hidup. Kalau pun  tertawa  atau  melayaniku  cerita, itu  tak lebih hanya   peran yang harus dilakonkannya sebagai tuan rumah. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tapi syukur, setahun berteman dengannya, aku sudah bisa menemukan satu jawaban dari seribu pertanyaan yang selalu hadir di benakku. jawaban itu diperdengarkan untukku tanpa kuminta. Mungkin curiga jika setiap kunjunganku berkesan cari tahu, akhirnya dia buka mulut jika  rumah yang ditempatinya, cuma rumah kontrakan!  &lt;br /&gt;“Rumah  kontrakan?”&lt;br /&gt;Mataku terbelelak. Jelas saja aku heran, cewek seusia Andien. Kelas satu SMA! Memilih rumah kontrakan semegah  ini? Taman yang luas, dua lantai, ruang tamu dipajangi foto keluarga, peralatan dapur yang komplit! Apa nggak sebaiknya, cukup dengan tinggal di tempat kost dengan kamar  yang luas, lalu dipasangkan AC, plus home theater  jika perlu! Daripada harus pilih rumah yang lebih cocok untuk orang berkeluarga seperti ini.&lt;br /&gt;“Mama yang menginginkan ini, Ririn!” ucapnya saat membaca keherananku.&lt;br /&gt;“Tapi kamu nggak takut tinggal sendiri di rumah luas seperti ini, kenapa nggak sekalian cari pembantu untuk membantumu merawatnya?” &lt;br /&gt;Dia menggeleng pelan. Lalu bercerita jika sejak kecil dia ditempa menjadi cewek yang mandiri. Masa SD pun nggak pernah merepotkan harus diantar dan dijemput dari  sekolah. Dia berangkat dengan tukang becak langganannya. Pernah tukang becak langganannya berhalangan, tanpa   takut dia  ikut menunggu di halte. Bertanya pada semua orang  trayek bis menuju rumahnya. &lt;br /&gt;Mendengar semua itu, giliranku menggeleng tak percaya. Aku pikir dia mengada-ada. Tapi pikiran salahku itu cepat dibenarkan oleh kenyataan yang kulihat selama ini. Andien yang bisa memimpin ratusan siswa sebagai ketua Osis, ketua panitia di setiap acara sekolah. Anehnya, sebagai pemimpin dia tak pernah mengandalkan telunjuknya untuk menyelesaikan tugas-tugasnya. Dia sendiri yang turun tangan, kalau pun  harus menyuruh, kalimatnya tak lebih hanyalah permintaan. Bukan menyuruh apalagi memerintah!&lt;br /&gt;Andien memang terkenal sopan. Bicara dengan  teman sekolah pun, seolah  berhadapan dengan guru.  Bertutur sambil senyum, menunduk  sesekali jika perlu!&lt;br /&gt;Aku sendiri ngeri jika harus membayangkan diriku akan seperti Andien. Bukan takut tinggal sendiri di rumah semegah ini. Aku malah takut kehilangan masa yang seharusnya kunikmati. Andien yang seharusnya hanya ‘dibebankan’ oleh tugas sekolah demi mempertahankan peringkat kelas yang memang tak pernah dilepaskannya, juga harus berperan sebagai ‘ibu rumah tangga’ yang merawat rumah.&lt;br /&gt;Andien seolah terkarbit. Meski   usia dan wajahnya masih muda, tapi isi  kepalanya terlalu tua. Pesta adalah foya-foya, menghambur uang,   uang lebih baik  ditabung  demi keperluan mendadak daripada jalan ke mal tanpa tujuan yang jelas, dan entah prinsip apalagi  yang selalu dipertahankannnya. Prinsip yang seharusnya ada pada wanita berkeluarga. Bukan pada Andien yang masih kelas satu SMA!&lt;br /&gt;Meski begitu, Andien bukanlah pelit. Butuh uang berapa tinggal bilang, Andien tak pernah keberatan untuk meminjamkan. Bahkan kegiatan sosial yang diadakan sekolah pun, dia sering mengeluarkan uang pribadi untuk menambah besarnya dana yang akan disumbangkan. Ya, selama itu bukan urusan foya-foya, adalah sah-sah saja menurut Andien.&lt;br /&gt;Belum sejam cerita dengannya, sebuah  Nissan Terrano masuk  di pekarangan.&lt;br /&gt;“Mamaku datang, Rin!”&lt;br /&gt;“Kamu baik-baik saja, Andien?”&lt;br /&gt;Andien mengangguk! Kecupan wanita itu kemudian mendarat  di kening Andien, tanpa  sempat merapikan poninya dulu. Ya, tanpa sempat! Dengan langkah tergesa masuk ke dalam rumah. Dari pintu, kulihat dia masuk di kamar  yang membelakangi ruang tamu. Andien membuntutinya setelah pamit sebentar denganku.&lt;br /&gt;Saat pamit  tadi, ada  yang lain di tatapan Andien. Mungkin malu melihat perlakuan mamanya yang sedikit pun tidak menghargaiku sebagai tamu. Jangankan menyapaku, senyum pun tidak. Hanya ekor matanya yang tertuju padaku, melirik seolah mencari tahu, teman bergaul Andien seperti apa.&lt;br /&gt;Tak cukup seperempat jam, Andien dan mamanya keluar. Masih dengan langkah tergesa. &lt;br /&gt;“Kamu baik-baik ya, Sayang!”&lt;br /&gt;Andien menerima kecupan lagi. Bukan sekali! Tubuh mungil Andien pun, didekapnya erat. Rindu di mata anak beranak itu jelas sekali kulihat. Aku berdiri menghampiri saat pelukan mereka terlerai, tapi yang kudapat hanya senyum tanda pamit. Hanya itu!&lt;br /&gt;“Maaf jika mamaku kurang menganggapmu ada. Dia  buru-buru sekali! Dia hanya transit di sini, pesawatnya akan  berangkat lagi  jam satu siang. Dia khawatir ketinggalan pesawat!”&lt;br /&gt;“Memang dari mana?”&lt;br /&gt;“Belum tahu, mama dan papaku tinggal di Yogya? Dia habis mengunjungi anak perusahaan yang ada di Kawasan Industri!”&lt;br /&gt;Perlahan, akhirnya aku banyak tahu tentang Andien. Pikirku selama ini dia orang Makassar. Tapi entah kenapa, tetap saja ada yang mengganjal di  pikiranku. Seolah  Andien semakin menyembunyikan sesuatu untukku, setiap dia  mengungkap cerita tentangnya.&lt;br /&gt;“Itu foto waktu aku masih kelas enam SD,” ucapnya  sambil mendekatiku yang sedang melihat foto keluarga yang tergantung di ruang tamu.&lt;br /&gt;“Kamu anak tunggal?”&lt;br /&gt;Kali ini Andien cuma mengangguk, padahal di mataku, ada yang ingin terucap di bibirnya. Saat  seperti itulah aku merasa ada yang tersembunyi di balik diri Andien. Mungkin curiga aku  melihat perubahan di wajahnya, dia kembali bercerita banyak tentang dirinya. Cerita yang semakin membuatku ingin tahu lebih banyak lagi tentangnya.&lt;br /&gt;“Aku memang sering ingin punya saudara, tapi  Mama dan Papa yang sibuk lebih mengutamakan karir. Jangankan berpikir untuk punya anak lagi, aku saja yang sudah ada seolah tak  pernah terpikirkan!”&lt;br /&gt;Aku menepuk   bahunya. Meski tak menangis mengucap kalimat itu, kutahu ada yang tergores di  balik dadanya. Menyesal juga, aku terlalu ingin tahu tentangnya.  &lt;br /&gt;Giliranku untuk bercerita. Memberinya semangat, memintanya bersyukur dengan keadaannya sekarang. Aku pun heran, aku tiba-tiba seperti orangtua yang menasihati anaknya, saat memintanya membuka mata jika dia masih lebih baik ditelantarkan dalam kemewahan. Ada  bahkan banyak  orangtua yang menelantarkan anaknya di jalanan karena memang tak punya  materi untuk menyayangi mereka, atau mungkin juga memang tak ada kasih sayang. Semua harus disyukuri!&lt;br /&gt;Andien menangis di  pelukanku. Untuk pertama kalinya aku merasa sangat berarti buat Andien. Selama ini dia selalu merasa tak butuh bantuan. Segalanya bisa diatasi sendiri. Tapi kini tangis  yang disimpannya sendiri selama ini, kini dibagi untukku.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Seharian  di mal membuatku memilih istirahat di  kafe lantai dasar. Baru saja kurapatkan duduk, suara anak kecil yang kira-kira masih di bangku SD, menggelitikku untuk balik ke meja yang ada di sampingku. Sejenak mataku terpaku di meja  yang dikelilingi oleh beberapa orang, termasuk anak kecil  yang merengek dan memanggil papa pada  lelaki yang duduk di sampingnya.&lt;br /&gt;Aku tak mungkin salah lihat, meski wajahnya hanya  kusaksikan di foto, aku yakin  lelaki itu  papa Andien. Lalu anak kecil itu, juga wanita yang dipanggilnya mama? Aku mengerutkan kening, wanita itu bukan mama Andien yang kulihat kemarin.&lt;br /&gt;Aku cepat keluar sebelum memesan apa-apa di pramusaji kafe. Andien harus tahu jika papanya punya wanita simpanan. Bukan sibuk  kerja seperti  alasannya selama ini. Pulsaku yang habis semalam dan belum sempat kuisi ulang memaksaku mencari wartel.&lt;br /&gt;Selangkah sebelum masuk  wartel, mataku mendapatkan pemandangan yang semakin ‘mengerikan’. Ini pasti mimpi buruk buat Andien. Mamanya sedang  berpegang pada lengan seorang lelaki  seusianya. Tak hanya itu, juga seorang anak kecil  berada di antara mereka. Bahkan sedang melangkah menuju kafe yang tadi ditempati papa Andien dan keluarga simpanannya.&lt;br /&gt;Beginikah kesibukan mereka selama ini? Tapi kenapa harus di sini, bukankah menurut pengakuan Andien, mama dan papanya tinggal di Yogya?&lt;br /&gt;Andien harus tahu, aku tak boleh membiarkan dia dibohongi terus  oleh  orangtuanya. Tak peduli itu melukakan buat Andien, aku tak ingin menyimpan kenyataan ini sebagai rahasia.&lt;br /&gt;“Ririn!”&lt;br /&gt;Belum sempat aku berbalik memenuhi panggilan itu, lenganku telah ditarik menjauh.&lt;br /&gt;“Andien?” &lt;br /&gt;“Kamu sudah lihat semuanya, kan? Kuharap kamu jangan  bercerita pada siapa  pun di sekolah. Aku malu!”&lt;br /&gt;Andien tertunduk menahan tangis karena sadar  jika dia sedang di tengah keramaian mal.&lt;br /&gt;“Aku bukan orang Yogya! Rumah  yang kutempati bukan  rumah kontrakan, Ririn. Rumah itu diwariskan untukku sejak lulus SD. Diwariskan karena  mama dan papa memilih cerai.”&lt;br /&gt;Kutarik lengan Andien, tangisnya semakin tak bisa ditahan.  Lebih  tak bisa ditahannnya lagi, beban yang kini menghimpit dadanya. Saat  merapatkan  duduk di jok  mobilku, dia langsung melanjutkan ceritanya di antara isak.&lt;br /&gt;Aku seperti kehilangan konsentrasi menyetir saat mendengar semuanya. Tentang Andien yang tiap hari Minggu ke  mal mencari mama dan papanya.  Dia tahu sekali jika mama dan papanya  sengaja ke   kafe tadi, untuk saling  membuktikan bahwa  mama maupun papanya bisa  bahagia dengan keluarga barunya.  &lt;br /&gt;Andien hanya bisa melihat wajah mama dan papanya dari jauh. Bersebelahan meja tanpa tegur sapa! Ya, hanya untuk memanas-manasi, saling membuktikan kebahagiaan mereka! Dan tentu saja Andien tak boleh mendekat, karena keluarga mamanya, juga keluarga papanya tak pernah mengharapkan kehadirannya. &lt;br /&gt;Hanya sebulan tinggal bersama mama tirinya, papa memintanya pulang ke rumah karena selalu menjadi penyebab pertengkaran dengan isteri barunya. Mamanya lebih parah, bukannya mengajak bergabung, malah menghadiahinya  rumah warisan asal tak ikut dengannya, karena suami barunya tak ingin ada Andien dalam rumah.&lt;br /&gt;Semua mencari kebahagiaan sendiri sejak Andien masih kelas satu SLTP. Andien harus sendiri! Sendiri menentukan hidup, sendiri mencari bahagia. Termasuk mengintip kebahagaiaan keluarga mama dan papanya yang baru. Karena melihat mama dan papanya, dari jauh pun, adalah kebahagiaan tersendiri buat Andien.&lt;br /&gt;“Semua kusimpan sendiri, Ririn! Bahkan mencari pembantu pun di rumah aku nggak mau karena nggak ingin ada yang tahu rahasia ini. Sekarang kamu terlanjur tahu. Simpan rahasia itu demi aku, Ririn! Kumohon!”&lt;br /&gt;Aku  tak tega membiarkannya memelas seperti itu di depanku. Aku berjanji akan tetap menjadi Ririn yang dulu. Sahabat yang tak pernah tahu apa pun tentang Andien. Akan kubiarkan dia menyimpan  rahasia itu untuknya tanpa pernah menyingkapnya. Tapi tangisnya, takkan  kuijinkan dia menyimpannya sendiri.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8970134704959434086-7593607499373794641?l=masgege.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masgege.blogspot.com/feeds/7593607499373794641/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8970134704959434086&amp;postID=7593607499373794641' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/7593607499373794641'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/7593607499373794641'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masgege.blogspot.com/2009/04/simpan-untukmu-sendiri_28.html' title='SIMPAN UNTUKMU SENDIRI'/><author><name>Gegge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02227405124686698722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/S871hC3hv7I/AAAAAAAAAJw/pjsdP-TQAXw/S220/fb1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SfcI4k7eH4I/AAAAAAAAAGY/uNGOBlSRiVU/s72-c/sendiri.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8970134704959434086.post-7375599367715438514</id><published>2009-04-28T21:18:00.000+08:00</published><updated>2009-04-28T21:21:46.943+08:00</updated><title type='text'>Market Day</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SfcCy-dgh5I/AAAAAAAAAGQ/-gS4gEwxt8M/s1600-h/mujair.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SfcCy-dgh5I/AAAAAAAAAGQ/-gS4gEwxt8M/s320/mujair.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5329731758799751058" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;MARKET DAY&lt;br /&gt;Oleh: S. Gegge Mappangewa&lt;br /&gt;18 April 2009.  Sekolah tempatku mengajar menggelar acara Market Day.  Siswa membawa barang jualan  dari  rumah, kemudian digelar di bawah tenda  biru yang dipasang di lapangan depan sekolah. Ramai sekali. Sepertinya mereka semua berbakat jadi pedagang!&lt;br /&gt;Di tengah suasana Market Day, saya teringat pasar di kampungku, pasar Bilokka namanya.  Karena  kampung, tentulah pasar  tak bisa buka tiap hari.  Lalu muncullah istilah esso pasa   atau  market day. Hari pasar di kampungku adalah Senin, Rabu, Jumat. Sebagai pasar kecamatan, tentu saja pasar inilah yang paling ramai di antara pasar  desa lainnya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ada hal yang  tak  akan pernah bisa kulupakan  jika  teringat dengan hari pasar di kampungku. Dulu, setiap pulang sekolah di hari Senin, Selasa dan Rabu, saya selalu didera  penasaran sepanjang perjalanan.  Mencoba menebak, apa menu makan siang hari   ini? Paserre bale  janggo’  (ikan  janggo’ bakar)  atau hanya tunu bale rakko (ikan asin bakar)? Kalau   sayurnya, tak usah ditebak. Ibu tak pernah beli sayur-sayuran  di pasar.  Ibu selalu memanfaatkan pematang sawah untuk ditanami sayur-sayuran, jadi saya selalu bisa menikmati sayur hijau bening setiap harinya.  Saking melimpahnya sayur,    jenis sayur setiap sarapan, makan siang, dan makan malam, selalu berganti. Meski tidak berganti jenis tapi  ibu selalu menghidangkan sayur hangat yang baru diangkat dari atas  tungku perapian. Bukan dihangatkan, Tapi benar-benar  hangat karena baru dimasak. &lt;br /&gt;Back to  esso pasa. Karena hari pasar hanya tiga kali sepekan,  tentulah untuk menikmati menu ikan segar hanya di hari  pasar. Apalagi saat itu di rumah panggung kami belum ada kulkas, bisa dipastikan di hari  Selasa, Kamis,  Sabtu, dan Ahad,   ibu akan menghiasi  nampang bundarnya dengan  ikan  asin atau bahkan hanya  telor dadar penghasil protein satu-satunya. &lt;br /&gt;Itu kenangan  tentang  hari  pasar saat masih sekolah dulu. Sekarang…? Masih seperti itu. Hari pasar di kampungku masih tiga kali sepekan. Tapi  tentu saja perjalanan pulang sekolahku tak lagi didera penasaran, bukan semata karena saya  tidak berstatus pelajar lagi, tapi karena saya tak lagi  tinggal di kampung.   Bukan berarti tak ada lagi kenangan yang  bisa kusimpan di memoriku tentang hari pasar. Banyak sekali! Setiap pulang  kampung, saya masih  selalu didera penasaran. Mencoba menebak  menu apa yang akan dihidangkan ibu untukku?  Meski ibu telah punya kulkas yang  bisa dijadikan gudang untuk ‘menimbun’ sembako’ segar (terutama ikan), saya  masih lebih senang dengan menu di   hari H pasar. Ikannya segar sekali! Dan ibu tahu sekali  jika saya senang sekali dengan ikan mujair. Setiap dia tahu saya akan pulang menemuinya, bisa dipastikan menunya adalah ikan mujair. &lt;br /&gt;Biasanya, di hari H  pasar, pagi-pagi  sepulang pasar dia akan membakar ikan mujair! Dia memilihkan yang paling besar untukku. Lebarnya biasa sampai  delapan jari orang dewasa. Dilepas sisiknya, kemudian bagian tubuh ikan diiris agar bumbunya meresap.   Setelah matang, ibu membumbuinya dengan ulekan  cabe, tomat campur kemiri atau kacang…. Hmmmm   menu yang disebut paserre’ bale ini membuatku biasa lupa dengan siapa pun. Bahkan ayah yang belum pulang dari sawah biasa tak kusimpankan. Satu ekor utuh untukku! Yang tersisa tinggal tulang. Bahkan, insangnya pun kadang tak  bisa lari menghindar dariku. Biar nggak kekenyangan, makan nasinya kukurangi.&lt;br /&gt;Siangnya makan apa ya?  Tentu saja ibu tahu kalau setiap pulag kampung, saya  paling lama dua hari, jadi  siangnya masih menghidangkan ikan mujair untukku. Tapi bukan paserre bale lagi. Kali ini saya akan ‘berhadap-hadapan’ dengan  ikan masak. Masih dengan   mujair berukuran all  size.  Saking besarnya kuah ikan masak ibu biasa berminyak. Karena ikan air tawar, jangan harap akan ada  bau amis.   Saat  memasak ikan air tawar ibu menggunakan asam mangga, kalau untuk ikan laut dia menggunakan asam jawa. Kedua asam ini, ibu tak pernah beli. Setiap musim mangga, mangga kecil  yang biasanya jatuh  sebelum  berbiji, ibu pungut kemudian dijadikan asam. Kalau asam jawa, kebetulan  tak jauh dari rumah ada pohon asam yang  selalu berbuah lebat.&lt;br /&gt;Biasanya, kalau menunya ikan masak, ibu biasa mendampingkannya dengan ronto’, sejenis udang kecil yang masih mentah yang biasa dibuat ebi.  Saking segarnya ronto’ nya biasa masih lompat-lompat di mangkok lauk di antara bumbu sambel yang dicampurkannya. Di restoran manapun, tak akan pernah mendapatkan menu seperti ini. Dan tentu saja kenikmatan seperti itu hanya bisa kudapatkan di meja makanku. &lt;br /&gt;Sayurnya?    Masih seperti dulu!  Kalau bukan dapat di pematang sawah, ibu memetiknya dari  halaman rumah yang selalu ditanaminya terong, pare, dan lain-lain.  Biasanya, karena tak mau kekenyangan, bukan hanya  nasinya yang kukurangi,  makan sayurnya pun saya batasi. Nanti sejam setelah makan, baru  saya mengambil semangkok sayur lalu memakannya seperti makan sup.&lt;br /&gt;Ingat menu hidangan ibu, saya terkenang dengan sahabat-sahabat saya yang pernah mampir di rumah. Mereka semua ketagihan dengan menu ikan bakar ibu. Itu kalau mereka datang di hari pasar. Kalau nggak,  ayah akan mengusulkan ayam kampungnya yang ada di kandang di bawah rumah panggung kami.  Karena bagi  ibu dan ayah, tamu adalah pembawa rejeki. Harus  diistimewakan. &lt;br /&gt;Saat mau kembali ke Makassar, kalau bukan hari pasar, pagi-pagi sekali   ibu menyuruhku ke pasar kecamatan sebelah. Tentu saja untuk mencari ikan mujair. Dan ikan mujair itu akan  dia pepes.  Dibakar tanpa bersentuhan langsung dengan api, tanpa disisiki. Menu seperti ini namanya tapa bale.  Biasanya bertahan   lama karena tidak langsung diberi bumbu atau sambal. Biar nikmatnya tak berkurang,  ibu tetap membuatkan   sambal untukku kemudian dia bungkus dengan daun. Tiba di Makassar,   buah tangan ibu akan menjadi santapan lezat.  Warung dan restoran lainnya…? Nggak dapatt!!! &lt;br /&gt; 22 April 2009, SD Mulia Bakti, menunggu siswaku selesai Olimpiade Sains &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8970134704959434086-7375599367715438514?l=masgege.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masgege.blogspot.com/feeds/7375599367715438514/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8970134704959434086&amp;postID=7375599367715438514' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/7375599367715438514'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/7375599367715438514'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masgege.blogspot.com/2009/04/market-day_28.html' title='Market Day'/><author><name>Gegge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02227405124686698722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/S871hC3hv7I/AAAAAAAAAJw/pjsdP-TQAXw/S220/fb1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SfcCy-dgh5I/AAAAAAAAAGQ/-gS4gEwxt8M/s72-c/mujair.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8970134704959434086.post-9157314922440389478</id><published>2009-04-28T20:29:00.000+08:00</published><updated>2009-04-28T20:41:00.903+08:00</updated><title type='text'>BERAWAL  DAN BERAKHIR DI MEJA MAKAN</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/Sfb4-tnsFaI/AAAAAAAAAGI/cSD79czvpuE/s1600-h/meja+makan.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/Sfb4-tnsFaI/AAAAAAAAAGI/cSD79czvpuE/s320/meja+makan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5329720965321201058" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; BERAWAL DARI MEJA MAKAN&lt;br /&gt;Oleh: S. Gegge Mapangewa&lt;br /&gt;Jakarta, 17 Maret 2009.  Bis bandara   mengantarku ke  terminal Lebak Bulus sekaligus mengantaku menelusuri  sebuah lorong di hatiku. Lorong sunyi masa lalu. Lorong yang menyimpan memori saat  enam tahun yang lalu saya menginjakkan kaki di ibukota ini. “Jakarta,  I’m  coming again!”   Sebuah suara menggema di lorong sunyi itu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang istimewa di bis ini. Meski  David Chalik, sang bintang sinetron, hadir satu bis denganku. Dia boleh jadi tokoh utama di sinetron, tapi kali ini nasibku lebih mujur daripada dirinya yang berdiri di depanku karena tak mendapat tempat duduk. &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Tiba di lokasi training menjelang maghrib. Penat. Lelah. Registrasi secepatnya lalu masuk kamar. Saya ingin sekali isitirahat tapi tentu saja itu tak mungkin, teman sekamar harus kusapa. Sekamar dengan peserta dari  Maluku Utara dan Kalimantan Selatan. &lt;br /&gt;Saatnya bergabung dengan peserta lain.  Dari meja makan ini kisah  berawal.  Setelah dipertemukan dengan teman sekamar, kali ini dipertemukan dengan teman semeja makan. Jabat tangan sebut nama. Soleh dari Banten. Barma dari Lampung. Munawar dari Sulbar. Dan saya, Gegge dari  Sulsel. Dan siapa sangka, breakfast, lunch dan dinner   berikutnya, kami selalu saling mencari untuk satu meja makan. Bahkan untuk menerima materi pun, sering duduk bersebelahan. Hingga perpisahan itu datang merenggut kisah yang sering kami bagi di meja makan.&lt;br /&gt;Soleh dan Munawar yang sudah beranak pinak selalu memberi motivasi menikah. Barma yang pelantun nasyid ternyata sebelumnya adalah penyanyi elekton yang biasa manggung di  tempat terbuka.  Dan saya yang ketahuan sebagai penulis, selalu dimintai ‘materi kepenulisan’ saat ngumpul. Saya dan Barma selalu jadi bulan-bulanan  sindiran karena belum menikah. Bahkan beberapa nama sempat  disebutkan untukku segampang itukah memiliih pasangan hidup?&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Hari terakhir. 21 Maret 2009. Kami satu meja makan lagi. Saya membagikan novel terbaruku (Cupiderman 3G) untuk mereka bertiga.   Ternyata keakraban  yang berawal di meja makan itu akhirnya berakhir juga di meja makan. Saya, dan kuyakin juga mereka menyimpan rindu di hati masing-masing. Kesibukan  membuat kami tak bisa mencurahkan rindu meski hanya sekadar smsan. &lt;br /&gt;Semoga ada meja makan yang akan mempertemukan kami kembali. Amin! Ya, selain kami berempat, peserta dari semua propinsi itu kini terikat dalam ikatan GEMPITA (Generasi Muda Pembina Insan Berprestasi). Sebuah amanah yang tak ringan tapi insya Allah imbalannya juga tak ringan! Allahu Akbar!!!***(Kenangan Training Of Trainer Kebijakan Kepemudaan dalam rangka Penanggulangan Faktor Destruktif) &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8970134704959434086-9157314922440389478?l=masgege.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masgege.blogspot.com/feeds/9157314922440389478/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8970134704959434086&amp;postID=9157314922440389478' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/9157314922440389478'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/9157314922440389478'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masgege.blogspot.com/2009/04/berawal-dan-berakhir-di-meja-makan.html' title='BERAWAL  DAN BERAKHIR DI MEJA MAKAN'/><author><name>Gegge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02227405124686698722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/S871hC3hv7I/AAAAAAAAAJw/pjsdP-TQAXw/S220/fb1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/Sfb4-tnsFaI/AAAAAAAAAGI/cSD79czvpuE/s72-c/meja+makan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8970134704959434086.post-4893675710907285708</id><published>2009-04-27T22:31:00.002+08:00</published><updated>2010-05-04T09:39:30.845+08:00</updated><title type='text'>KUTERIMA KEKALAHAN INI</title><content type='html'>Kuterima Kekalahan Ini&lt;br /&gt;Oleh : S. Gegge Mapangewa&lt;br /&gt;Hari ini  aku kalah lagi. Semakin aku mencari kekurangan Intan, dia semakin menampakkan kilauannya. Aku  tanpa  aksi.  Menunggu reaksi otakku, untuk menyuruhku  pergi meninggalkan  tempatku berdiri. Tapi mataku semakin asyik melihat pemandangan yang  begitu menakjubkan. Kuperhatikan lagi nomor  dan  blok-nya, tetap saja aku tak salah. Rumah megah yang  kini di depanku adalah rumah Intan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;KUTERIMA KEKALAHAN INI&lt;br /&gt;Oleh: S. Gegge Mappangewa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU  benci Intan. Setiap sikapnya, semua ulahnya, seolah ingin menunjukkan padaku, jika dia yang terhebat di sekolah ini. Seakan dia tak pernah memperhitungkan keberadaanku. Atau dia memang tak  tahu  siapa aku sebenarnya? Rupanya dia harus kuberi tahu siapa aku  sebenarnya, dengan caraku sendiri!&lt;br /&gt;Aku memang banyak diam. Terlebih, Intan beda kelas denganku, hingga dia tak tahu jika pada setiap ulangan harian, untuk mata pelajaran apa pun, aku tak pernah dapat nilai di bawah sembilan. Dan itu bukan hasil nyontek. Setiap guru yang masuk, acungkan jempol untukku karena setiap pertanyaan yang tak terjawab oleh siswa lain, kuselesaikan dengan  baik. Lalu, mengapa orang-orang di sekolah ini lebih menjagokan Intan?&lt;br /&gt;Sekali lagi. Aku  banyak diam!   Dari hasil curi dengar, teman-teman kelasku enggan menggosipkan kehebatanku, apalagi membanding-bandingkanku dengan Intan, karena aku  seolah tak butuh promosi kehebatan serupa itu.  Awalnya memang tidak! Tapi melihat Intan yang selalu senyum penuh kemenangan, seolah menantang kehebatanku, membuatku  tak bisa tinggal diam.&lt;br /&gt;“Kalau bukan karena lupa menyamakan satuannya, ulangan Fisika-ku dapat sepuluh lagi,”  ucap Intan tanpa ditanya, di tengah keramaian kantin.&lt;br /&gt;Entah ingin memperdengarkan untukku atau tidak, yang jelas aku dengar dan  merasa diri telah dipanas-panasi. Aku mencibir.&lt;br /&gt;“Aku dapat delapan, sudah syukur!” timpal Arin   tanpa pernah  menghentikan aksinya menyantap bakso pesanannya. “Oh ya, kalo di kelas kamu, Put? Ada nggak yang dapat sepuluh?” lanjutnya, kali ini dengan menerbangkan tatapan ke arahku.&lt;br /&gt;Kantin tiba-tiba sepi. Kuyakin semua mata ke arahku. Menunggu jawaban. Kubiarkan mereka dalam  penasaran panjang, sambil meraih lembaran jawaban Fisika yang kebetulan kulipat dan kusimpan di saku bajuku.&lt;br /&gt;“Tadi aku nggak sempat lihat, aku dapat berapa?” bohongku. Jelas-jelas bola mataku meloncat kegirangan saat  kulihat angka sepuluh di lembar jawabanku tadi. ”Aku nggak permasalahkan mau dapat berapa, yang penting  saat ulangan, aku merasa bisa menyelesaikan  semua soal tanpa  melakukan kesalahan kecil.”&lt;br /&gt;Kesalahan kecil yang kumaksud  itu, untuk memanas-manasi Intan yang lupa menyamakan satuan  angka  hitungannya. Kulihat muka Intan membiaskan kecewa. Kuharap dia  sadar, jika di sekolah ini ada yang lebih hebat darinya, aku. Putri!&lt;br /&gt;“Ternyata, aku dapat sepuluh!” &lt;br /&gt;Beberapa siswa  berkerumun ke arahku, untuk melihat lembar jawabanku. Intan tentu saja mematung. Selama ini aku memang banyak diam, membiarkan dia menikmati kemenangannya. Sekarang,  giliran dia yang harus bungkam, jika itu untuk pamer prestasi di depanku. &lt;br /&gt;Aku  paling tak suka dengan kebanggaan yang berlebih, karena kupikir itu sinonim dengan   kesombongan. Bagiku, biarkan orang lain yang  menilai. Tak usah banyak bicara, hingga harus  memamerkan semua keberhasilan. &lt;br /&gt;Hingga detik ini, aku lebih percaya pada ungkapan bahwa; orang yang paling banyak bohongnya adalah orang yang  banyak  bicara tentang dirinya sendiri. Mungkin Intan  orangnya. Hampir di setiap kesempatan mengkampanyekan diri. Aku jadi enek. Dan kuharap  ini kali terakhir dia berulah. Jika tidak, untuk kesekiankalinya pula dia akan kupermalukan.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Rupanya, kejadian di kantin itu, bukannya membuat dia  merasa kalah. Bahkan lebih menggila. Jujur saja, aku jadi gemetar! Merasa telah menemukan saingan, yakni aku, semangat Intan semakin menyala. Semangat untuk mengkampanyekan diri, sekaligus semangat belajar.&lt;br /&gt;Setelah dua malam yang lalu  aku kurang tidur karena PR  Kimia yang menurutku tingkat kesulitannya tinggi, kini dia mengibas-ngibaskan buku PR-nya di kantin yang  telah mendapat paraf dan  nilai sepuluh dari Pak Hamran. Aku yakin, untuk kali ini nilai setinggi itu tak bisa  kugapai. Untungnya, pelajaran Kimia di kelasku, nanti di jam terakhir. Aku masih punya waktu  untuk  menyembunyikan kekalahan.&lt;br /&gt;Tak hanya sampai di situ. Begitu bel  tanda masuk,  Bu Dian  mengawali pelajaran bahasa  Inggris-nya dengan  berita  menyakitkan.&lt;br /&gt;“Dari hasil seleksi, Intan  dari kelas IB  yang berhak ikut debat bahasa Inggris, mewakili sekolah kita.”&lt;br /&gt;Semua mata tertuju ke arahku. Teman-teman kelas memang banyak  menjagokan aku. Bu Dian seolah mengerti arti tatapan yang menghujan ke arahku.&lt;br /&gt;“Memang, grammar dan vocabulary Putri sedikit lebih di atas dari Dian. Tapi Putri  kalah jauh dalam hal pronunciation. Karena ini untuk lomba debat  bahasa Inggris, pronunciation  sangat dibutuhkan kefasihannya. Intan lebih bisa untuk itu!”&lt;br /&gt;Tanpa sadar aku bersandar di bangku. Aku butuh  penopang, tiba-tiba. Intan yang ingin kutaklukkan,  kini disanjung-sanjung di depanku.  Perjuanganku untuk menunjukkan pada Intan, tentang siapa aku sebenarnya,  berakhir kini. Ya, inilah aku yang sebenarnya. Putri sang pecundang!&lt;br /&gt;Di atas langit, masih ada langit. Aku sadar  itu. Tapi aku seperti  tak bisa menerima jika Intan yang ada di atasku. Aku tak suka dengan gayanya yang selalu pamer keunggulan. Andai saja, Intan tak sok pamer seperti itu, aku tak punya hak untuk iri, setinggi apa pun prestasinya. &lt;br /&gt;Kekalahan kali ini, adalah sebuah PR untukku. Ini tak boleh dibiarkan berlanjut terus.  Aku harus ubah strategi, setelah gagal menunjukkan siapa diriku yang sebenarnya di depan Intan. Giliran Intan yang  harus kucari tahu, tentang  siapa dia yang sebenarnya. Mungkin ada sisi negatif tentang dirinya, yang bisa kuangkat  untuk mempermalukan dirinya. Bukan untuk melumpuhkan dia, bagaimana pun aku telah mengaku kalah dalam hal prestasi. Aku cuma ingin dia  mengurangi  kebanggaannya yang terlalu berlebih. Aku ingin dia menyadari dan mau mengakui  kelemahannya, bukan hanya  tahu pamer keunggulan.&lt;br /&gt;Aku  yakin, di balik  keunggulan dan kehebatan yang selalu dipamerkannya, dia pasti menyembunyikan  sebuah kelemahan. Orang sombong hanyalah orang yang menutup-nutupi kekurangannya. Aku yakin itu!&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Hari ini  aku kalah lagi. Semakin aku mencari kekurangan Intan, dia semakin menampakkan kilauannya. Aku  tanpa  aksi.  Menunggu reaksi otakku, untuk menyuruhku  pergi meninggalkan  tempatku berdiri. Tapi mataku semakin asyik melihat pemandangan yang  begitu menakjubkan. Kuperhatikan lagi nomor  dan  blok-nya, tetap saja aku tak salah. Rumah megah yang  kini di depanku adalah rumah Intan.&lt;br /&gt;Keunggulan Intan bertambah lagi. Cantik, pintar, dan  detik ini harus kuakui kalau dia anak orang kaya. Padahal, saat mencari alamat rumahnya, aku berharap, akan mendapatkan gubuk reot dan kumuh. Lalu akan  kuumumkan di sekolah jika Intan  yang sok pamer itu, hanyalah orang comberan. Tas dan sepatu mahal yang dipakainya, hanya dari hasil mengemis orangtuanya, dan banyak  bayangan  hitam lagi tentang Intan, yang detik ini tak satu pun terbukti. Intan benar-benar intan yang tergosok sempurna.&lt;br /&gt;“Cari siapa, Nak? Temannya  Non Intan, ya?”&lt;br /&gt;Aku mengangguk gugup. Pembantu itu membukakan pintu pagar, tanpa kuminta. Padahal aku ingin pergi. &lt;br /&gt;“Mari silakan masuk.  Non Intan lagi ikut  lomba…”&lt;br /&gt;Pembantu tua itu sedang mencari-cari kata untuk lanjutan kalimatnya. Dasar pembantu, dia pasti lupa  dengan lomba  debat bahasa Inggris  yang diikuti  Intan.&lt;br /&gt;“Nggak tau deh lomba apa, yang jelas ada bahasa Inggris-nya.”&lt;br /&gt;Aku tersenyum geli melihat tingkahnya. Aku ingin mengambil langkah pulang, tapi pembantu itu menarik lenganku. Memaksaku masuk.&lt;br /&gt;“Tunggu aja! Non Intan nggak lama kok, katanya! Temanin saya cerita ya! Rumah lagi sepi.”&lt;br /&gt;”Papa dan mama Intan ke mana?”&lt;br /&gt;Wanita setengah baya itu, menarik napas  panjang.&lt;br /&gt;“Jadi kamu nggak tau kalau mama Non Intan sudah meninggal?”&lt;br /&gt;Aku menggeleng. Kali ini napas wanita  yang  sudah membekaskan keriput di wajahnya, terasa berat. Mungkin seberat beban yang harus Intan pikul selama ini. Darinya, kutahu kisah yang tak seharusnya aku tahu. Kini aku mengerti, mengapa Intan selalu berkesan pamer keunggulan.&lt;br /&gt;Di rumahnya, Intan hanya diberi tumpangan  hidup. Tanpa kasih sayang. Papa dan ketiga kakaknya, tak pernah memperhatikan dia. Bahkan sesekali memperlakukannya kasar. Persoalannya sepele, bahkan bagiku tak masuk akal. Kelahiran Intan  dianggap  membawa sial karena mamanya meninggal bersamaan dengan kelahiran Intan.&lt;br /&gt;Intan atau siapa pun pasti tak ingin mamanya meninggal, tak wajar  memikulkan beban pada Intan hanya karena takdirnya yang lahir dengan membawa kematian  buat mamanya.&lt;br /&gt;“Intan  dari  kecil  selalu cari perhatian. Tapi papanya cuek bahkan sering memarahinya. Rapor Intan, jika bukan untuk ditandatangani, jangan harap akan disentuh papanya. Padahal Intan ingin papanya tahu jika dia dapat nilai bagus.”     &lt;br /&gt;Aku pamit sebelum  Intan datang. Bukan  tak berani melihat wajah cerianya, pulang membawa keberhasilan dari lomba debat bahasa Inggris.  Aku tak ingin Intan  tahu kecemburuanku selama ini. Keluar dari pintu gerbang, aku  menoleh  lagi ke rumah  Intan. Sulit  dipercaya, di dalam rumah megah nan luas itu, ada penghuninya  yang berpikir picik, dengan menganggap Intan sebagai anak pembawa sial. &lt;br /&gt; Aku tak menemukan itu sebagai kekurangan pada diri Intan. Tapi sebaliknya, Intan memang pemenang yang tak pernah bisa terkalahkan. Tak banyak, bahkan mungkin hanya Intan seorang, yang mampu mengukir prestasi di antara orang-orang terdekat yang  sama sekali tak pernah mendukungnya. Aku memang bukan sahabat, bukan teman dekat, tapi aku akan mengacungkan jempol untuk Intan, tanpa merasa dikalahkan.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8970134704959434086-4893675710907285708?l=masgege.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masgege.blogspot.com/feeds/4893675710907285708/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8970134704959434086&amp;postID=4893675710907285708' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/4893675710907285708'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/4893675710907285708'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masgege.blogspot.com/2009/04/kuterima-kekalahan-ini.html' title='KUTERIMA KEKALAHAN INI'/><author><name>Gegge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02227405124686698722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/S871hC3hv7I/AAAAAAAAAJw/pjsdP-TQAXw/S220/fb1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8970134704959434086.post-963560287040443053</id><published>2009-04-27T22:31:00.001+08:00</published><updated>2009-04-27T22:43:06.422+08:00</updated><title type='text'>Cerpen Remaja</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SfXEanaXEUI/AAAAAAAAAGA/CyQ15_d1j5w/s1600-h/sahabat.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 242px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SfXEanaXEUI/AAAAAAAAAGA/CyQ15_d1j5w/s320/sahabat.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5329381695598039362" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hari ini  aku kalah lagi. Semakin aku mencari kekurangan Intan, dia semakin menampakkan kilauannya. Aku  tanpa  aksi.  Menunggu reaksi otakku, untuk menyuruhku  pergi meninggalkan  tempatku berdiri. Tapi mataku semakin asyik melihat pemandangan yang  begitu menakjubkan. Kuperhatikan lagi nomor  dan  blok-nya, tetap saja aku tak salah. Rumah megah yang  kini di depanku adalah rumah Intan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;*******************************************************************************&lt;br /&gt;Kuterima Kekalahan Ini&lt;br /&gt;Oleh : S. Gegge Mapangewa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU  benci Intan. Setiap sikapnya, semua ulahnya, seolah ingin menunjukkan padaku, jika dia yang terhebat di sekolah ini. Seakan dia tak pernah memperhitungkan keberadaanku. Atau dia memang tak  tahu  siapa aku sebenarnya? Rupanya dia harus kuberi tahu siapa aku  sebenarnya, dengan caraku sendiri!&lt;br /&gt;Aku memang banyak diam. Terlebih, Intan beda kelas denganku, hingga dia tak tahu jika pada setiap ulangan harian, untuk mata pelajaran apa pun, aku tak pernah dapat nilai di bawah sembilan. Dan itu bukan hasil nyontek. Setiap guru yang masuk, acungkan jempol untukku karena setiap pertanyaan yang tak terjawab oleh siswa lain, kuselesaikan dengan  baik. Lalu, mengapa orang-orang di sekolah ini lebih menjagokan Intan?&lt;br /&gt;Sekali lagi. Aku  banyak diam!   Dari hasil curi dengar, teman-teman kelasku enggan menggosipkan kehebatanku, apalagi membanding-bandingkanku dengan Intan, karena aku  seolah tak butuh promosi kehebatan serupa itu.  Awalnya memang tidak! Tapi melihat Intan yang selalu senyum penuh kemenangan, seolah menantang kehebatanku, membuatku  tak bisa tinggal diam.&lt;br /&gt;“Kalau bukan karena lupa menyamakan satuannya, ulangan Fisika-ku dapat sepuluh lagi,”  ucap Intan tanpa ditanya, di tengah keramaian kantin.&lt;br /&gt;Entah ingin memperdengarkan untukku atau tidak, yang jelas aku dengar dan  merasa diri telah dipanas-panasi. Aku mencibir.&lt;br /&gt;“Aku dapat delapan, sudah syukur!” timpal Arin   tanpa pernah  menghentikan aksinya menyantap bakso pesanannya. “Oh ya, kalo di kelas kamu, Put? Ada nggak yang dapat sepuluh?” lanjutnya, kali ini dengan menerbangkan tatapan ke arahku.&lt;br /&gt;Kantin tiba-tiba sepi. Kuyakin semua mata ke arahku. Menunggu jawaban. Kubiarkan mereka dalam  penasaran panjang, sambil meraih lembaran jawaban Fisika yang kebetulan kulipat dan kusimpan di saku bajuku.&lt;br /&gt;“Tadi aku nggak sempat lihat, aku dapat berapa?” bohongku. Jelas-jelas bola mataku meloncat kegirangan saat  kulihat angka sepuluh di lembar jawabanku tadi. ”Aku nggak permasalahkan mau dapat berapa, yang penting  saat ulangan, aku merasa bisa menyelesaikan  semua soal tanpa  melakukan kesalahan kecil.”&lt;br /&gt;Kesalahan kecil yang kumaksud  itu, untuk memanas-manasi Intan yang lupa menyamakan satuan  angka  hitungannya. Kulihat muka Intan membiaskan kecewa. Kuharap dia  sadar, jika di sekolah ini ada yang lebih hebat darinya, aku. Putri!&lt;br /&gt;“Ternyata, aku dapat sepuluh!” &lt;br /&gt;Beberapa siswa  berkerumun ke arahku, untuk melihat lembar jawabanku. Intan tentu saja mematung. Selama ini aku memang banyak diam, membiarkan dia menikmati kemenangannya. Sekarang,  giliran dia yang harus bungkam, jika itu untuk pamer prestasi di depanku. &lt;br /&gt;Aku  paling tak suka dengan kebanggaan yang berlebih, karena kupikir itu sinonim dengan   kesombongan. Bagiku, biarkan orang lain yang  menilai. Tak usah banyak bicara, hingga harus  memamerkan semua keberhasilan. &lt;br /&gt;Hingga detik ini, aku lebih percaya pada ungkapan bahwa; orang yang paling banyak bohongnya adalah orang yang  banyak  bicara tentang dirinya sendiri. Mungkin Intan  orangnya. Hampir di setiap kesempatan mengkampanyekan diri. Aku jadi enek. Dan kuharap  ini kali terakhir dia berulah. Jika tidak, untuk kesekiankalinya pula dia akan kupermalukan.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Rupanya, kejadian di kantin itu, bukannya membuat dia  merasa kalah. Bahkan lebih menggila. Jujur saja, aku jadi gemetar! Merasa telah menemukan saingan, yakni aku, semangat Intan semakin menyala. Semangat untuk mengkampanyekan diri, sekaligus semangat belajar.&lt;br /&gt;Setelah dua malam yang lalu  aku kurang tidur karena PR  Kimia yang menurutku tingkat kesulitannya tinggi, kini dia mengibas-ngibaskan buku PR-nya di kantin yang  telah mendapat paraf dan  nilai sepuluh dari Pak Hamran. Aku yakin, untuk kali ini nilai setinggi itu tak bisa  kugapai. Untungnya, pelajaran Kimia di kelasku, nanti di jam terakhir. Aku masih punya waktu  untuk  menyembunyikan kekalahan.&lt;br /&gt;Tak hanya sampai di situ. Begitu bel  tanda masuk,  Bu Dian  mengawali pelajaran bahasa  Inggris-nya dengan  berita  menyakitkan.&lt;br /&gt;“Dari hasil seleksi, Intan  dari kelas IB  yang berhak ikut debat bahasa Inggris, mewakili sekolah kita.”&lt;br /&gt;Semua mata tertuju ke arahku. Teman-teman kelas memang banyak  menjagokan aku. Bu Dian seolah mengerti arti tatapan yang menghujan ke arahku.&lt;br /&gt;“Memang, grammar dan vocabulary Putri sedikit lebih di atas dari Dian. Tapi Putri  kalah jauh dalam hal pronunciation. Karena ini untuk lomba debat  bahasa Inggris, pronunciation  sangat dibutuhkan kefasihannya. Intan lebih bisa untuk itu!”&lt;br /&gt;Tanpa sadar aku bersandar di bangku. Aku butuh  penopang, tiba-tiba. Intan yang ingin kutaklukkan,  kini disanjung-sanjung di depanku.  Perjuanganku untuk menunjukkan pada Intan, tentang siapa aku sebenarnya,  berakhir kini. Ya, inilah aku yang sebenarnya. Putri sang pecundang!&lt;br /&gt;Di atas langit, masih ada langit. Aku sadar  itu. Tapi aku seperti  tak bisa menerima jika Intan yang ada di atasku. Aku tak suka dengan gayanya yang selalu pamer keunggulan. Andai saja, Intan tak sok pamer seperti itu, aku tak punya hak untuk iri, setinggi apa pun prestasinya. &lt;br /&gt;Kekalahan kali ini, adalah sebuah PR untukku. Ini tak boleh dibiarkan berlanjut terus.  Aku harus ubah strategi, setelah gagal menunjukkan siapa diriku yang sebenarnya di depan Intan. Giliran Intan yang  harus kucari tahu, tentang  siapa dia yang sebenarnya. Mungkin ada sisi negatif tentang dirinya, yang bisa kuangkat  untuk mempermalukan dirinya. Bukan untuk melumpuhkan dia, bagaimana pun aku telah mengaku kalah dalam hal prestasi. Aku cuma ingin dia  mengurangi  kebanggaannya yang terlalu berlebih. Aku ingin dia menyadari dan mau mengakui  kelemahannya, bukan hanya  tahu pamer keunggulan.&lt;br /&gt;Aku  yakin, di balik  keunggulan dan kehebatan yang selalu dipamerkannya, dia pasti menyembunyikan  sebuah kelemahan. Orang sombong hanyalah orang yang menutup-nutupi kekurangannya. Aku yakin itu!&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Hari ini  aku kalah lagi. Semakin aku mencari kekurangan Intan, dia semakin menampakkan kilauannya. Aku  tanpa  aksi.  Menunggu reaksi otakku, untuk menyuruhku  pergi meninggalkan  tempatku berdiri. Tapi mataku semakin asyik melihat pemandangan yang  begitu menakjubkan. Kuperhatikan lagi nomor  dan  blok-nya, tetap saja aku tak salah. Rumah megah yang  kini di depanku adalah rumah Intan.&lt;br /&gt;Keunggulan Intan bertambah lagi. Cantik, pintar, dan  detik ini harus kuakui kalau dia anak orang kaya. Padahal, saat mencari alamat rumahnya, aku berharap, akan mendapatkan gubuk reot dan kumuh. Lalu akan  kuumumkan di sekolah jika Intan  yang sok pamer itu, hanyalah orang comberan. Tas dan sepatu mahal yang dipakainya, hanya dari hasil mengemis orangtuanya, dan banyak  bayangan  hitam lagi tentang Intan, yang detik ini tak satu pun terbukti. Intan benar-benar intan yang tergosok sempurna.&lt;br /&gt;“Cari siapa, Nak? Temannya  Non Intan, ya?”&lt;br /&gt;Aku mengangguk gugup. Pembantu itu membukakan pintu pagar, tanpa kuminta. Padahal aku ingin pergi. &lt;br /&gt;“Mari silakan masuk.  Non Intan lagi ikut  lomba…”&lt;br /&gt;Pembantu tua itu sedang mencari-cari kata untuk lanjutan kalimatnya. Dasar pembantu, dia pasti lupa  dengan lomba  debat bahasa Inggris  yang diikuti  Intan.&lt;br /&gt;“Nggak tau deh lomba apa, yang jelas ada bahasa Inggris-nya.”&lt;br /&gt;Aku tersenyum geli melihat tingkahnya. Aku ingin mengambil langkah pulang, tapi pembantu itu menarik lenganku. Memaksaku masuk.&lt;br /&gt;“Tunggu aja! Non Intan nggak lama kok, katanya! Temanin saya cerita ya! Rumah lagi sepi.”&lt;br /&gt;”Papa dan mama Intan ke mana?”&lt;br /&gt;Wanita setengah baya itu, menarik napas  panjang.&lt;br /&gt;“Jadi kamu nggak tau kalau mama Non Intan sudah meninggal?”&lt;br /&gt;Aku menggeleng. Kali ini napas wanita  yang  sudah membekaskan keriput di wajahnya, terasa berat. Mungkin seberat beban yang harus Intan pikul selama ini. Darinya, kutahu kisah yang tak seharusnya aku tahu. Kini aku mengerti, mengapa Intan selalu berkesan pamer keunggulan.&lt;br /&gt;Di rumahnya, Intan hanya diberi tumpangan  hidup. Tanpa kasih sayang. Papa dan ketiga kakaknya, tak pernah memperhatikan dia. Bahkan sesekali memperlakukannya kasar. Persoalannya sepele, bahkan bagiku tak masuk akal. Kelahiran Intan  dianggap  membawa sial karena mamanya meninggal bersamaan dengan kelahiran Intan.&lt;br /&gt;Intan atau siapa pun pasti tak ingin mamanya meninggal, tak wajar  memikulkan beban pada Intan hanya karena takdirnya yang lahir dengan membawa kematian  buat mamanya.&lt;br /&gt;“Intan  dari  kecil  selalu cari perhatian. Tapi papanya cuek bahkan sering memarahinya. Rapor Intan, jika bukan untuk ditandatangani, jangan harap akan disentuh papanya. Padahal Intan ingin papanya tahu jika dia dapat nilai bagus.”     &lt;br /&gt;Aku pamit sebelum  Intan datang. Bukan  tak berani melihat wajah cerianya, pulang membawa keberhasilan dari lomba debat bahasa Inggris.  Aku tak ingin Intan  tahu kecemburuanku selama ini. Keluar dari pintu gerbang, aku  menoleh  lagi ke rumah  Intan. Sulit  dipercaya, di dalam rumah megah nan luas itu, ada penghuninya  yang berpikir picik, dengan menganggap Intan sebagai anak pembawa sial. &lt;br /&gt; Aku tak menemukan itu sebagai kekurangan pada diri Intan. Tapi sebaliknya, Intan memang pemenang yang tak pernah bisa terkalahkan. Tak banyak, bahkan mungkin hanya Intan seorang, yang mampu mengukir prestasi di antara orang-orang terdekat yang  sama sekali tak pernah mendukungnya. Aku memang bukan sahabat, bukan teman dekat, tapi aku akan mengacungkan jempol untuk Intan, tanpa merasa dikalahkan.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8970134704959434086-963560287040443053?l=masgege.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masgege.blogspot.com/feeds/963560287040443053/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8970134704959434086&amp;postID=963560287040443053' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/963560287040443053'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/963560287040443053'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masgege.blogspot.com/2009/04/cerpen-remaja.html' title='Cerpen Remaja'/><author><name>Gegge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02227405124686698722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/S871hC3hv7I/AAAAAAAAAJw/pjsdP-TQAXw/S220/fb1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SfXEanaXEUI/AAAAAAAAAGA/CyQ15_d1j5w/s72-c/sahabat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8970134704959434086.post-5405258068252573667</id><published>2009-04-27T22:14:00.000+08:00</published><updated>2009-04-27T22:25:35.673+08:00</updated><title type='text'>Epos La Galigo (Termuat di Annida Edisi April 2009)</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SfXARmFJDMI/AAAAAAAAAF4/E9IRM08hRAk/s1600-h/bye.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SfXARmFJDMI/AAAAAAAAAF4/E9IRM08hRAk/s320/bye.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5329377142575271106" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kota I Lagaligo,&lt;br /&gt;Latar Sastra Penuh Sejarah&lt;br /&gt;Oleh: S. Gegge Mappangewa&lt;br /&gt;Luwu biasa juga dikenal sebagai Bumi Sawerigading. Itu karena Sawerigading adalah salah seorang tokoh utama dalam epos I La Galigo.  Seperti halnya, karya sastra yang lain, I La Galigo juga bertemakan cinta. Cinta Sawerigading  yang jatuh pada ladang hati yang tak tepat, yaitu pada   adik kembarnya We Tenriabeng.  Karena ditentang adat, Sawerigading berlayar meninggalkan Tana Luwu menuju daratan   Cina, untuk mencari gadis yang mirip dengan We Tenriabeng, yaitu We Cudai. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Semua orang pasti kenal dengan Tana  Toraja. Tapi Tana Luwu, mungkin sangat sedikit yang  mengenal keberadaan kabupaten  yang  berjarak sekitar 500 KM  dari Makassar ini.   Padahal di Tana Luwu yang berbatasan dengan Tana Toraja inilah, karya sastra terpanjang di dunia, I La Galigo,  berasal. Kalo epos Mahabarata jumlah barisnya antara 160.000-200.000, I La  Galigo bahkan mencapai 300.000 baris panjangnya. (Hmmmm, setebal bantal mungkin ya, kalo dibukukan).  &lt;br /&gt;Luwu biasa juga dikenal sebagai Bumi Sawerigading. Itu karena Sawerigading adalah salah seorang tokoh utama dalam epos I La Galigo.  Seperti halnya, karya sastra yang lain, I La Galigo juga bertemakan cinta. Cinta Sawerigading  yang jatuh pada ladang hati yang tak tepat, yaitu pada   adik kembarnya We Tenriabeng.  Karena ditentang adat, Sawerigading berlayar meninggalkan Tana Luwu menuju daratan   Cina, untuk mencari gadis yang mirip dengan We Tenriabeng, yaitu We Cudai. &lt;br /&gt;Wah, kalo mau berpanjang lebar  tentang I La Galigo, bisa sampe 300.000 baris nih. Nggak  kalah asyiknya kalo kita jalan-jalan menyusuri salah satu kota di Tana Luwu, yaitu Palopo. Awalnya  sih,  kabupaten di Luwu  cuman satu dan berpusat di Palopo sebagai kota administratif. Sekarang, setelah pemekaran, udah terbagi menjadi  empat kabupaten. Tapi tetap aja, Palopo menjadi kota yang paling ramai di  Luwu. &lt;br /&gt;Salah satu obyek wisata yang sering dikunjungi di kota ini adalah Tanjung Ringgit.  Meskipun namanya mirip-mirip dengan   Tanjung  Pinang dan Tanjung Periok, Tanjung Ringgit bukanlah pelabuhan besar. Laut   Tanjung  Ringgit hanya menjadi dermaga yang menghubungkan Palopo  dengan Malangke yang  juga masih wilayah Luwu. Malangke  ini sangat dikenal sebagai penghasil  jeruk manis. Jeruk Malangke, begitu orang biasa menyebutnya.   Tanjung Ringgit  nggak hanya berfungsi sebagai dermaga menuju Malangke, tapi juga bisa ditempati mancing, sekaligus tempat  yang  indah untuk menikmati sunset. Nggak heran,  mulai sore hingga malam, pantai ini  akan berubah menjadi pusat tenda kafe yang menyajikan  berbagai  jajanan khas Palopo. &lt;br /&gt;Selain ke Tanjung Ringgit, kita juga  bisa melepas penat di permandian air terjun Latuppa.  Di akhir pekan, tempat ini biasanya ramai dikunjungi   warga Palopo yang  ingin menikmati sejuknya air sungai Latuppa. Ada  air terjunnya, lho!  Apalagi, setelah puas mandi, pulang bisa bawa oleh-oleh durian. Tempat ini biasanya banyak dikunjungi oleh wisatawan lokal di Sulawesi Selatan kalo abis lebaran.  &lt;br /&gt;Jejak Sejarah di Kota Tua&lt;br /&gt;Selain wisata alam Tanjung  Ringgit dan air terjun Latuppa, Palopo punya tempat  wisata bersejarah.  Salah satunya adalah Mesjid Tua Palopo. Mesjid ini didirikan oleh Datu Payung Luwu XVI Pati Pasaung Toampanangi Sultan Abdullah Matinroe pada tahun  1604 M. Tiang utama mesjid ini menggunakan kayu Cinaduri, sedangkan dindingnya terbuat dari tembok yang masih berbahan perekat  campuran putih telur. So, karena emang langka, mesjid ini  udah dijadikan sebagai bangunan purbakala yang harus dilindungi. Jamaahnya banyak lho! Apalagi kalo Ramadhan, mesjid tua ini  selalu ramai. Saking ramainya, jamaah biasa meluber sampai ke jalan raya. Orang yang berkunjung ke Palopo nggak dianggap ‘sah’ kunjungannya kalo belum ke mesjid tua ini.&lt;br /&gt;Di jantung kota, terdapat tugu bergambarkan badik! Bukan melambangkan premanisme,  tapi simbol perlawanan terhadap penjajah  Belanda.  Namanya Tugu Toddopuli Temmalara! Masih selokasi dengan tugu ini, ada Rumah Datu dan Museum Palopo.   Sesuai dengan namanya, Rumah Datu ini adalah Raja Luwu terdahulu.  Bangunannya terbuat dari kayu jati dengan arsitek rumah adat Luwu. Sekarang ‘keraton’ ini dihuni oleh  keluarga keturunan  Raja Luwu.   Karena ini rumah tinggal para  keluarga Raja Luwu, jadi nggak  terbuka untuk umum. Tapi halamannya sering dimanfaatkan untuk acara pegelaran  seni.  Spesial untuk acara adat, rumah yang sangat dijaga kelestariannya ini bisa dimanfaatkan keseluruhannya.&lt;br /&gt;Di samping bangunan Rumah  Datu terdapat Museum Palopo. Dari arsitekturnya, bangunan ini melukiskan jejak peninggalan jaman Belanda.  Isinya  banyak ‘bercerita’ tentang masa lalu. Mulai dari perlengkapan perang   hingga peninggalan khas Tana  Luwu seperti pelaminan, baju adat dan perabot rumah tangga. Sayangnya, untuk  ngambil foto  di museum ini harus   ada ijin dari pihak pariwisata.&lt;br /&gt;Kota Sejahtera&lt;br /&gt;Palopo juga sangat dikenal sebagai penghasil buah. Durian, rambutan, langsat, dan jeruk, semua melimpah di kota ini! Nggak ketinggalan  sagunya. Karena  sagunya, Palopo dikenal sebagai Kota Kapurung. Kapurung adalah makanan khas  Palopo  yang terbuat dari sagu berkuah yang dicampur dengan sayuran hijau.  Selain buah-buahan, Palopo dikenal sebagai penghasil  cengkeh dan kakao. Jangan heran  jika pertumbuhan ekonomi di kota ini sangat meningkat dibandingkan dengan  kota lain di Sulawesi Selatan. So,  sangat murah kalo ingin belanja buah. Tapi belanja pakaian  dan sembako, harganya  di atas rata-rata. Tapi itu tetap nggak  ngaruh buat warganya yang  punya penghasilan dari perkebunan.&lt;br /&gt;Ya, meski Palopo nggak  punya tempat wisata yang berkelas dunia seperti Tana Toraja, kota ini punya banyak jejak sejarah.  Beberapa artikel menyebutkan, Islam pertama kali masuk di Sulawesi Selatan melalui bumi I Lagaligo ini.   Sayangnya, sastra I Lagaligo yang masih banyak  menganggapnya sebagai mitos ini, tak meninggalkan jejak  kecuali  cerita  I Lagaligo yang berkembang di masyarakat.   Karya sastra yang berbahasa Bugis dan  ditulis dengan huruf Lontara’(aksara Bugis), naskah aslinya berada di Belanda. So, kalo mau melihat naskah asli I La Galigo  jangan berlayar ke Palopo, tapi ke negeri kincir angin itu.*** Jazakillah to Ainil  Rachimi di Palopo &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8970134704959434086-5405258068252573667?l=masgege.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masgege.blogspot.com/feeds/5405258068252573667/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8970134704959434086&amp;postID=5405258068252573667' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/5405258068252573667'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/5405258068252573667'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masgege.blogspot.com/2009/04/epos-la-galigo-termuat-di-annida-edisi.html' title='Epos La Galigo (Termuat di Annida Edisi April 2009)'/><author><name>Gegge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02227405124686698722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/S871hC3hv7I/AAAAAAAAAJw/pjsdP-TQAXw/S220/fb1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SfXARmFJDMI/AAAAAAAAAF4/E9IRM08hRAk/s72-c/bye.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8970134704959434086.post-8058185501867413599</id><published>2009-04-27T21:26:00.000+08:00</published><updated>2009-04-27T22:05:26.939+08:00</updated><title type='text'>MENANTANG ANDREA HIRATA</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SfW7OwIc5rI/AAAAAAAAAFo/MN1RtwpmDP4/s1600-h/MARYAMAH.bmp"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 247px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SfW7OwIc5rI/AAAAAAAAAFo/MN1RtwpmDP4/s320/MARYAMAH.bmp" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5329371596175763122" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;MENANTANG  ANDREA  HIRATA&lt;br /&gt;Oleh: S. Gegge Mappangewa&lt;br /&gt;Saya  punya banyak koleksi buku yang  lembar pertamanya   ditandatangani oleh penulisnya. Mulai dari penulis-penulis teman FLP hingga buku Serial Cinta Anis Matta.  Tapi usai membaca Maryama Karpoov, saya  tidak pernah  kepikiran untuk memburu tanda tangan Andrea Hirata.  Halaman pertama yang biasa kupakai untuk meminta tanda tangan penulis,  malah kuisi dengan tanda tanganku.  Ya, tanda tanganku!  Tapi di atas tanda tangan itu kutulis sebuah catatan untuk Andrea Hirata: Ayahku jauh lebih hebat, Boy! Paling hebat sedunia! Ya,  kutulis seperti itu karena saya  iri dengan Andrea Hirata yang banyak mengangkat ayahnya di Maryamah Karpoov. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;MENANTANG  ANDREA  HIRATA&lt;br /&gt;Saya  punya banyak koleksi buku yang  lembar pertamanya   ditandatangani oleh penulisnya. Mulai dari penulis-penulis teman FLP hingga buku Serial Cinta Anis Matta.  Tapi usai membaca Maryama Karpoov, saya  tidak pernah  kepikiran untuk memburu tanda tangan Andrea Hirata.  Halaman pertama yang biasa kupakai untuk meminta tanda tangan penulis,  malah kuisi dengan tanda tanganku.  Ya, tanda tanganku!  Tapi di atas tanda tangan itu kutulis sebuah catatan untuk Andrea Hirata: Ayahku jauh lebih hebat, Boy! Paling hebat sedunia! Ya,  kutulis seperti itu karena saya  iri dengan Andrea Hirata yang banyak mengangkat ayahnya di Maryamah Karpoov. &lt;br /&gt;Tapi sekali lagi,  ayahku jauh lebih  hebat dari ayah Andrea Hirata.  Akan kuceritakan kehebatan ayahku yang baru saja kulalui bersamanya.  Bukan narsis, cuma ingin membuktikan bahwa ayahku benar-benar hebat! Sekali lagi, Paling hebat sedunia!&lt;br /&gt;Kuawali ceritaku dengan menuliskan profesinya. Ayahku   petani. Sebenarnya dia sudah  pernah ‘pensiun’ dari profesinya itu.  Tinggal di rumah, mengaji, menemani cucunya (anak dari kakak),   dan tak lupa ke mesjid salat berjamaah.  Aku sendiri tak tahu berapa umur ayah sebenarnya.  Yang jelas sudah tua. Mungkin lebih tepatnya disebut renta.  Gaji ‘pensiunnya’  sudah tentu dari  ketujuh anaknya yang semuanya sudah bekerja, ditambah dengan hasil pertanian yang didapatkan dari orang yang menggarap sawahnya. Di bawah rumah panggung kami, tak pernah kosong dari tumpukan gabah. Tak pernah kurang dari sepuluh karung hingga  masa panen tiba lagi.&lt;br /&gt;Musim tanam kali ini, ayah  turun sawah lagi. Dia ingin menggarap sendiri sawahnya.  Meski semua anaknya melarang. Ayah tetap  keukeuh  untuk kerja sawah lagi.   Saat  melewati musim tanam, kakak saya sakit. Cukup parah, hingga harus dibawa ke rumah sakit.  Baru beberapa hari di rumah sakit, ayah dapat kabar lagi dari Palu, Sulawesi Tengah, kalau adiknya (paman saya) sakit parah dan masuk rumah sakit.  Di luar dugaan, ayah memilih  meninggalkan sawahnya yang  sedang antri menunggu untuk dialiri air dari pengusaha  yang biasanya memompakan air dari sungai kampung, juga   meninggalkan anaknya yang sedang terbaring berjuntaian selang infus  rumah sakit. &lt;br /&gt;Itu masih hal kecil untuk dianggap sebagai ayah yang hebat? Cerita memang belum berakhir. Sebagai petani, apalagi di kampung, ayah juga adalah petani  yang buta bahasa.  Bahasa Indonesia ayah pas-pasan. Saat bicara, bahasa Indonesia ayah  terpatah-patah,  sangat-sangat  pasif! Meskipun bisa membaca, itu pun tersendat-sendat. Maklum, ayahku tak tamat SD. Hebatnya, begitu mendengar kabar adiknya sakit di Palu, dia tak berpikir dua kali untuk datang menemuinya.  Padahal begitu banyak sebenarnya  yang harus dipertimbangkan. Sawahnya yang sedang menunggu air, anaknya yang sedang di rumah sakit, perjalanan dari kampungku ke  Makassar yang butuh waktu empat jam perjalanan bis cepat. Padahal,  setiap naik mobil ayah pasti mabok perjalanan hingga muntah. Dan terlebih yang harus dia pertimbangkan, dia buta bahasa, bagaimana mungkin dia masuk bandara internasional Sultan Hasanuddin? Tapi  sekali lagi, dia sangat hebat!&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Di Bandara Sultan Hasanuddin, kulihat duduknya gelisah. Aku berusaha menenangkannya. Aku juga sempat mati akal. Bagaimana ayah yang buta bahasa bisa masuk untuk   memeriksakan tiketnya.  Dia memang sering ke  Palu dengan pesawat, tapi selalu ditemani   salah seorang anaknya. Untungnya, aku punya kenalan cleaning service di bandara. Dengan minta bantuan ke dia, ayah bisa bernapas lega untuk masuk checkin.  Sehabis checkin, ayah kembali ke teras bandara. Duduknya sangat gelisah.  Berkali-kali kutenangkan dengan kalimat bahwa jika pesawatnya akan berangkat, kenalan saya yang cleaning service akan datang menjemputnya. Saya memang  tak mau kalau ayah menunggu di waiting room penumpang. Takutnya, begitu penumpang yang lain beranjak  ke pesawat, dia ikut beranjak, padahal bukan pesawat  ke Palu. Bahkan nomor kursinya pun dia tak tahu. &lt;br /&gt;Beberapa menit sebelum  pesawatnya   boarding,  kenalan saya yang cleaning service datang menjemputnya. Kucium tangannya! Selamat berjuang, Ayah! Dia sangat ragu, dia bahkan memintaku untuk membayar security,  asalkan security loloskan saya masuk untuk mengantarnya masuk ke kabin pesawat. Tapi tentu saja itu tak mungkin.  &lt;br /&gt;Ada haru sekaligus bangga pada ayah.  Tanpa pernah dia sadari, dia yang buta bahasa, telah melahirkan tujuh orang anak. Tiga di antaranya adalah sarjana sastra. Dan saya sendiri  adalah  sarjana teknik, meskipun bukan sarjana sastra tapi saya adalah  penulis yang telah beberapa kali menang lomba menulis tingkat nasional, punya beberapa buku, semua kampus di Makassar, bahkan hampir semua kabupaten di Sulawesi Selatan telah kudatangi untuk memberikan materi kepenulisan.  Dan ayah yang buta bahasa itu, tak sadar jika dia adalah ayah dari seorang penulis. Ayah dari tiga orang sarjana sastra. Dia hanya sadar, bahwa  dia harus pergi  menemui adiknya yang sakit di Palu.&lt;br /&gt;Lalu bagaimana dengan saya? Hanya karena sibuk mengajar, kakakku yang masuk rumah sakit di kampung, yang untuk menemuinya  hanya dengan perjalanan empat jam bis cepat, tak sempat pulang untuk membesuknya.  Satu lagi pelajaran berharga yang ayah didikkan untukku! Jauh sebelum pelajaran ini dia antarkan untukku, telah kutulis di lembaran pertama buku Maryamah Karpoov: Ayahku jauh lebih hebat, Boy! Paling hebat sedunia! Dan lagi-lagi ayah membuktikan di bandara Sultan Hasanuddin malam itu, jika dia memang lebih hebat dari ayah Andrea Hirata!*** &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8970134704959434086-8058185501867413599?l=masgege.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masgege.blogspot.com/feeds/8058185501867413599/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8970134704959434086&amp;postID=8058185501867413599' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/8058185501867413599'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/8058185501867413599'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masgege.blogspot.com/2009/04/market-day.html' title='MENANTANG ANDREA HIRATA'/><author><name>Gegge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02227405124686698722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/S871hC3hv7I/AAAAAAAAAJw/pjsdP-TQAXw/S220/fb1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SfW7OwIc5rI/AAAAAAAAAFo/MN1RtwpmDP4/s72-c/MARYAMAH.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8970134704959434086.post-6538462259444790525</id><published>2009-04-20T21:28:00.000+08:00</published><updated>2009-04-20T21:35:57.061+08:00</updated><title type='text'>SAHABAT-SAHABAT  YANG PERGI</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/Sex5ob2sgaI/AAAAAAAAAFg/TGMU3GoJqeg/s1600-h/bye.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/Sex5ob2sgaI/AAAAAAAAAFg/TGMU3GoJqeg/s320/bye.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5326766194851348898" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : S. Gegge Mappangewa&lt;br /&gt;Kali ini, aku akan bercerita tentang kota  yang selama ini menjadi persinggahanku.  Sekitar lima kilometer sebelum memasuki kota Barru.  Aku selalu singgah di sini, karena hasil ‘perhitungan’ spidometerku, daerah ini  adalah median jarak yang harus kutempuh.  Bagiku, kota yang paling membosankan setiap perjalanan pulangku adalah  Barru. Terlalu panjang! Tapi kali ini, tak begitu panjang. Entah berawal dari mana,  satu per satu sahabat yang pernah ada di kota Barru ini bermunculan menemani perjalananku.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;  SAHABAT-SAHABAT YANG PERGI&lt;br /&gt;Oleh: S. Gegge Mappangewa&lt;br /&gt;Sehari setelah nyontreng, pagi-pagi sekali, aku  bergegas pulang. Rindu pada ayah dan ibu memuncak untuk ditunaikan. Entah, apa namanya. Kekanak-kanakkan, cengeng, atau entah …. Aku  tak pernah bisa bertahan di Makassar  dua bulan, tanpa pulang menemui ayah dan ibu.  Padahal, komunikasi lewat telepon tak pernah putus. Kali ini, Pemilu  yang memberiku kesempatan pulang. &lt;br /&gt;Seperti  biasa, Honda yang kutunggangi tak hanya mengantarku tiba di  pelukan rindu ayah dan ibu, juga selalu mengantarku ke lorong masa lalu dan melambungkanku ke mimpi masa depan. Sepanjang perjalanan  juga akan menjadi lintasan muhasabah.  Makassar – Sidrap, aku butuh waktu lebih kurang lima jam perjalanan, bahkan terkadang lebih karena hampir di setiap perjalanan pulangku, aku selalu menyempatkan untuk singgah  shalat sekaligus tidur.&lt;br /&gt;Kali ini, aku akan bercerita tentang kota  yang selama ini menjadi persinggahanku.  Sekitar lima kilometer sebelum memasuki kota Barru.  Aku selalu singgah di sini, karena hasil ‘perhitungan’ spidometerku, daerah ini  adalah median jarak yang harus kutempuh.  Bagiku, kota yang paling membosankan setiap perjalanan pulangku adalah  Barru. Terlalu panjang! Tapi kali ini, tak begitu panjang. Entah berawal dari mana,  satu per satu sahabat yang pernah ada di kota Barru ini bermunculan menemani perjalananku.&lt;br /&gt;Sahabat pertama yang muncul adalah sosok yang pernah muncul dalam hari-hariku saat masih kuliah dulu. Kami satu kosan. Meski tak terlalu akrab, mungkin sudah dikategorikan sebagai sahabat. Sukri  namanya. Asli Barru! Orangnya rame. Suka  bercanda. Bahkan candanya terkadang keterlaluan. Entah berapa menit, kenangan bersamanya melintas di benakku. Dan saat kenangan  bersamanya berkelebat, teriring doa tulus untuknya.  Doa ketenangan sekaligus kesejukan  pada  raganya yang kuyakin  hanya tersisa tulang berserakan, tapi ruhnya akan tetap terhimpit bumi.   Dia  pergi  secara tragis dalam sebuah kecelakaan yang meremukkan seluruh tubuhnya hingga tubuh itu bermandikan darahnya sendiri. &lt;br /&gt;Terlalu tragis! Aku berusaha membuang kenangan itu. Menyeramkan untuk dikenang, apalagi sekarang aku  pun sedang mengendarai motor. Dulu Sukri kecelakaan saat pulang kampung dengan mengendarai motor, sama dengan yang kulakukan saat ini. Sekali lagi, bayangan itu kutepis. Dan saat layar memoriku  berganti, seorang cewek bermata lembut mengganti sosok Sukri di ingatanku. Seperti halnya Sukri, dia juga  asli Barru. Aku mengenalnya saat pembekalan KKN.  Kami satu  kecamatan. Seniorku di Teknik yang memperkenalkan cewek berkulit  putih lembut itu padaku. Dari tuturnya, kucoba menerka bahwa dia cewek yang juga berhati lembut. &lt;br /&gt;Awalnya  perkenalan itu  ‘kuanginlalukan’ saja. Tapi dalam perjalanan ke  Enrekang (lokasi KKN), ban mobil  kempes. Kami turun istirahat. Dia datang menyodorkan kacang untukku. Kami menikmatinya tanpa suara hingga  bis berangkat lagi. &lt;br /&gt;Kedekatan kami akhirnya berubah menjadi sahabat ketika teman seposko di lokasi KKN, ternyata akrab dengan cewek itu karena satu fakultas di Ekonomi. Hingga suatu kesempatan, posko lagi sepi,  dia transit di poskoku.  Teman seposkoku lagi  ke kota kabupaten.  Sambil menunggu kendaraan yang akan ke poskonya, kami bercerita. Aku sudah lupa apa yang kami cerita. Tak ada yang istimewa. Tapi dari perbincangan kami, kutahu kalau senior yang memperkenalkannya  padaku di acara pembekalan KKN adalah pacarnya. Tapi dari tatapannya, kutahu jika dia menyimpan sesuatu. Dan rahasia itu terbongkar saat seorang cowok, teman seposkonya datang menjemput. Aku berkesimpulan, mereka terjangkit virus cinta lokasi. &lt;br /&gt;Persahabatan kami ternyata tak terputus meski KKN berakhir. Biasa  bertemu di kampus, bahkan terkadang   bertemu  di rumah teman  seposkoku yang   sudah akrab duluan dengannya karena satu fakultas sekaligus bahkan program studi.&lt;br /&gt;Ijinkan aku merahasiakan nama sahabatku itu. &lt;br /&gt;Sahabat itu ternyata punya nasib cemerlang. Tak perlu susah payah cari kerja setelah wisuda, dia diterima kerja di sebuah perusahaan bonafid di Makassar. Jodohnya pun berkilau. Belum setahun kerja dia dilamar, dijodohkan tepatnya dengan seorang pengusaha. Tapi ternyata dia tak bisa menerima itu.  Virus cinta lokasi yang menjangkitinya tak bisa  dia jinakkan. Bahkan seniorku pun  dia tepis. Tapi siapa yang bisa menolak jodoh? Pengusaha   itu adalah jodohnya! Dan mereka harus menikah. Meski  di malam pertamanya, dia melarikan diri dari rumah.  Berlari mencari  lelaki yang  pernah menyuntikkan virus cinta lokasi untuknya.&lt;br /&gt;Berlari dia menjauh. Sejauh mungkin. Tapi  kaki tangan suaminya dapat menemukan dia di  tempat persembunyiannya. Tapi itu belum berakhir.  Hanya beberapa hari bermuka manis di depan suaminya, dia menghilang lagi.&lt;br /&gt;Dan siapa sangka, itu adalah kepergiannya yang terakhir. Dia tak pernah kembali lagi. Dia pulang. Terakhir kudapatkan dia tergeletak, tak berdaya di  ruangan  rumah sakit. Aku dan teman KKN menEmukannya setelah seseorang menelpon  kami untuk ke rumah sakit. Malam itu juga, persahabatan kami berakhir. Dia benar-benar pulang bersama lever yang menyerangnya. Dan perjalanan Sidrap - Makassar  kali ini, tepat di Kabupaten Barru, kukenang sekaligus  kukirim doa untuknya. &lt;br /&gt;Sidrap masih jauh. Masih di Barru. Dua sahabat yang pergi itu membuatku terjaga, kapan giliranku? Kucoba mencari sahabat  di Barru yang pernah hadir di masa lalu, tapi cepat kutepis. Cerita yang akan muncul jauh lebih tragis  dari kisah  Sukri dan cewek bermata lembut  itu.  Tapi  sahabat-sahabat yang  pergi itu  sedikit menguatkanku, tak ada kisah yang kekal.  Semua akan ber-ending…. ***  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8970134704959434086-6538462259444790525?l=masgege.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masgege.blogspot.com/feeds/6538462259444790525/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8970134704959434086&amp;postID=6538462259444790525' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/6538462259444790525'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/6538462259444790525'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masgege.blogspot.com/2009/04/sahabat-sahabat-yang-pergi.html' title='SAHABAT-SAHABAT  YANG PERGI'/><author><name>Gegge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02227405124686698722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/S871hC3hv7I/AAAAAAAAAJw/pjsdP-TQAXw/S220/fb1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/Sex5ob2sgaI/AAAAAAAAAFg/TGMU3GoJqeg/s72-c/bye.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8970134704959434086.post-7076444623026727536</id><published>2009-04-06T21:21:00.000+08:00</published><updated>2009-04-06T21:56:09.923+08:00</updated><title type='text'>Bedah Buku Serial Cinta</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SdoCYjYahNI/AAAAAAAAAFI/7D1dUjSsaTY/s1600-h/serial+cinta.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 143px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SdoCYjYahNI/AAAAAAAAAFI/7D1dUjSsaTY/s320/serial+cinta.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5321568530529420498" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Anis Matta adalah seorang di antara  jutaan penulis yang menyuguhkan cinta untuk pembacanya.  Sebuah buku  yang tak bisa disebut sebagai buku tebal, tapi isinya adalah samudera  yang menyimpan tumpukan mutiara cinta. Samudera yang ombaknya terkadang mengaduk-aduk  perasaan, yang riaknya terkadang  menghembuskan cinta sepoi-sepoi.  Seperti   samudera yang banyak menyimpan spices makhluk, buku ini juga menyimpan  beragam jenis  kisah cinta.  Hingga siapa pun yang  ‘menyelaminya’, bukan tak mungkin salah satu kisah di dalamnya akan membuatnya berkomentar;  GUE BANGET!!!&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;SERIAL MANIS MANTAP*&lt;br /&gt;Oleh: S. Gegge Mappangewa**&lt;br /&gt;Berjuta puisi  cinta telah tercipta sepanjang  peradaban manusia. Cerpen cinta pun begitu, tak mau kalah! Novel, dan banyak lagi karya tulis  yang    mengulik tentang cinta.  Ide cinta adalah aset penulis, mungkin bisa diumpamakan  sebagai sumber daya alam yang dapat diperbarui. Takkan pernah  habis, takkan pernah menemui ending.  Cinta akan selalu hadir mewarnai kisah hidup manusia.&lt;br /&gt;Anis Matta adalah seorang di antara  jutaan penulis yang menyuguhkan cinta untuk pembacanya.  Sebuah buku  yang tak bisa disebut sebagai buku tebal, tapi isinya adalah samudera  yang menyimpan tumpukan mutiara cinta. Samudera yang ombaknya terkadang mengaduk-aduk  perasaan, yang riaknya terkadang  menghembuskan cinta sepoi-sepoi.  Seperti   samudera yang banyak menyimpan spices makhluk, buku ini juga menyimpan  beragam jenis  kisah cinta.  Hingga siapa pun yang  ‘menyelaminya’, bukan tak mungkin salah satu kisah di dalamnya akan membuatnya berkomentar;  GUE BANGET!!!&lt;br /&gt;Kehadiran Serial Cinta yang membawa dalil syair, lagu hingga  ayat, membuat buku ini  enak untuk dinikmati ‘lidah’ siapa pun.  Isinya yang  sangat-sangat  ringkas membuatnya tak akan membosankan, tapi malah  sebaliknya, membuat pembaca  penasaran, atau bahkan  lebih ‘terbalik lagi’, pembaca  merasakan itu sebagai kisah tak sampai.       &lt;br /&gt;Pembiaran&lt;br /&gt; Seperti halnya kebenaran yang harus diungkapkan meski itu pahit. Kepahitan pun harus diungkapkan, jika itu untuk kebenaran. Kepahitan Serial Cinta  justru  terjadi pada  kesalahan-kesalahan kecil yang  terbiarkan. &lt;br /&gt;Ada hal yang tak biasa di  buku, yang penulisnya sudah sangat terbiasa menulis ini. Beberapa kata dibiarkan  tak sempurna hurufnya. &lt;br /&gt;- Antagoni-antagoni harusnya antagonis-antagonis (hal. 3)&lt;br /&gt;- Kenyaman harusnya  kenyamanan (hal. 59)&lt;br /&gt;- Menubuhkannya harusnya menumbuhkannya (hal  63)&lt;br /&gt;- Tantanga harusnya tantangan (hal 66)&lt;br /&gt;- Chamistry harusnya  chemistry (hal 76)&lt;br /&gt;- Confortability harusnya comfortably &lt;br /&gt;-  Tida  harusnya tidak (hal 106)&lt;br /&gt;- Harat harusnya  harta (108)&lt;br /&gt;- Mengelabuhi harusnya mengelabui (hal.116)&lt;br /&gt;- Dll &lt;br /&gt;Bahkan  beberapa huruf yang tertukar posisinya atau bahkan terganti dengan huruf lain, telah mengubah maknanya. Seperti pada  kalimat; Kalau benar hati sang raja (hal.12). Seharusnya kata  kalau adalah galau. Begitu  juga pada kata; keluruhan (hal. 112), sangat tidak nyambung  dengan kalimatnya; Keagungan. Keluruhan. Ketinggian. Karena keluruhan  yang dimaksud adalah keluhuran.  Bahkan yang terparah pada halaman 66;  Orang shalih selalu berada di  garis bekajikan(harusnya; kebajikan)  maksimun dan minum (harusnya minimum). &lt;br /&gt;Pembiaran  lain,  penggunaan awalan  pada kata di mana, di sana, dan di sini. Beberapa kata memang sudah  dengan penulisan yang benar, tapi juga tak sedikit  yang penulisannya bersambung; disana, disini,  dimana ( hal. 130, 173, 186, 187,… .) memang sangat-sangat sepele, tapi itu adalah kaidah untuk membedakan awalan dan  kata depan.&lt;br /&gt;Kesalahan  lain,  beberapa  kata atau kalimat yang  merupakan istilah asing, tidak  dicetak miring.  Ini bukan hal sepele,  karena kaidah  cetak miring ini, sangat memberikan kenyamanan bagi  pembaca.  Contoh  sederhana, siaga dalam bahasa  Bugis berarti  berapa. Sementara  dalam  bahasa Indonesia, siaga berarti  siap sedia. Jika  kata siaga dalam  bahasa Bugis tidak dimiringkan, pembaca yang  tak mengerti  bahasa Bugis akan  merasa tak nyaman.  Contoh  nyata pada  Serial Cinta adalah  kata duat.  Tidak semua  pembaca Serial Cinta, tak seluruh penggemar Anis Matta adalah aktivis dakwah, jadi di antara mereka akan ada  yang tak tahu  jika duat adalah bentuk jamak dari da’i. membaca  kata duat  yang tidak dicetak miring memungkinkan mereka beranggapan kalau kata duat adalah hasil salah cetak seperti halnya beberapa  kata lain yang hurufnya tertukar atau tertinggal. &lt;br /&gt;Serial Manis Mantap&lt;br /&gt;Meski Serial Cinta dihitamkan dengan pembiaran-pembiaran  yang  mengusik  kenyamanan pembacanya, buku ini  tetaplah  berasa manis karena diksinya. Diksi yang hanya bisa dituliskan oleh  penulis yang  berhati romantis religius serupa Anis Matta. Diksi adalah pilihan kata. Ya, pilihan! Penulis Anis Matta  tak mungkin memilih kata semanis itu jika dia tak punya  perbendaharaan kata romantis  nan religius  yang sering didzikirkan dalam tulisannya, dalam ucapannya. Tak hanya diksi manis yang disuguhkan,  pendalaman  filosofis dan  historis di dalamnya,  membuat buku ini  sangat mantap untuk dikonsumsi para sang pencinta. &lt;br /&gt;Dan sekali lagi, setelah membacanya, akan ada seri  dalam buku ini yang membuat pembacanya ‘bersendawa’ dalam hati; Gue Banget!!! Karena memang, buku ini  mengisahkan  semua rasa cinta yang pernah ada.&lt;br /&gt;The last but not least, Jika  orang berpuasa dianjurkan untuk  berbuka dengan yang manis, maka bagi yang ingin memilih bacaan, pilihlah yang manis dan mantap seperti tulisan Anis Matta. Serial Cinta, salah satunya! &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;*Dibawakan pada acara bedah buku Serial Cinta karya Anis Matta, tanggal 22 Februari, di STIE LAN Makassar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8970134704959434086-7076444623026727536?l=masgege.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masgege.blogspot.com/feeds/7076444623026727536/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8970134704959434086&amp;postID=7076444623026727536' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/7076444623026727536'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/7076444623026727536'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masgege.blogspot.com/2009/04/bedah-buku-serial-cinta.html' title='Bedah Buku Serial Cinta'/><author><name>Gegge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02227405124686698722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/S871hC3hv7I/AAAAAAAAAJw/pjsdP-TQAXw/S220/fb1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SdoCYjYahNI/AAAAAAAAAFI/7D1dUjSsaTY/s72-c/serial+cinta.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8970134704959434086.post-3412165836862104009</id><published>2009-04-05T23:04:00.000+08:00</published><updated>2009-04-13T08:52:38.661+08:00</updated><title type='text'>Sekolah Kundang (Cerpen Pemenang I Lomba Menulis cerpen Majalah Annida 2008)</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SeKJ9P0j6EI/AAAAAAAAAFY/D9gcU3lDJpo/s1600-h/kundang.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SeKJ9P0j6EI/AAAAAAAAAFY/D9gcU3lDJpo/s320/kundang.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323969394817361986" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : S. Gegge Mappangewa&lt;br /&gt;Sekali lagi, mungkin karena ini panggilan jiwa. Ada kebesaran jiwa dan kesabaran hati saat menghadapi murid-muridku di SD Kecil, yang tentu saja  cerdasnya jauh tertinggal dibanding dengan murid-muridku di SD swasta  tempatku mengajar di Makassar. Dalam  dua bulan, seingatku aku tak pernah jengkel apalagi sampai marah dan memberi hukuman fisik. Tapi di Makassar, hampir tiap hari bahkan mungkin aku sudah marah memang sebelum masuk kelas. Kalaupun aku tak pernah memberi hukuman fisik, itu karena perlakuan orangtua murid yang  terkadang  anaknya hanya dipelototi karena kesalahannya, sudah  komplain ke sekolah. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;TATAPANNYA  melarangku  pergi.  Biasnya  jauh  berbeda dengan tatapannya dua bulan lalu, saat aku berdiri di depan kelasnya yang berdindingkan papan  lapuk, untuk memperkenalkan diri sebagai guru baru. Beberapa bangku dan meja hampir senasib dengan dindingnya. Sebagian tripleks papan tulisnya pun telah terkelupas. Untung ada gambar Sultan Hasanuddin dan Cut Nyak Dien yang menghiasi dinding, hingga  kelas  itu sedikit berbeda dengan gudang. Pemandangan itu akan kutinggal kini.&lt;br /&gt;”Jangan pergi, Kak!” Bukan hanya tatapan. Kini  hatinya  kudengar merintih. Meski bibirnya takkan pernah sanggup mengucapkan kalimat itu untukku. &lt;br /&gt;Di luar rumah mulai ramai. Murid-muridku yang  tak lebih dari tiga puluh orang dari tiga kelas yang tersedia di sekolahnya, seolah tak ingin  kehilangan kesempatan untuk melepas kepergianku. Kuraih jas almamater, lalu  keluar menemuinya. Rustan,  yang tatapan dan lirih hatinya dari tadi melarangku untuk pergi, mengikuti langkahku dari belakang. &lt;br /&gt;”Kak Galang...!” teriak mereka dari depan  tangga rumah panggung.&lt;br /&gt;Aku berdiri di  puncak tangga. Bukan hanya murid-muridku yang datang, tapi juga orangtuanya, beserta oleh-oleh untukku. Bawang merah, kol, kentang, wortel, dan banyak lagi jenis sayuran  lain. Telah berdiri satu karung  penuh isi, masih tersisa beberapa  sayuran lagi  yang belum  masuk  dalam karung. Kutatap satu per satu. Dua puluh tujuh orang. Semua  hadir untuk melepas  kepergianku.  &lt;br /&gt;”Kak Galang, jangan  lupakan kami ya!” Rustan berucap dari belakangku. &lt;br /&gt;Mereka memang  memanggil kakak padaku. Aku tak mengajarnya memanggil pak guru.  Aku ingin memasuki hati mereka tanpa ada batas. Ada  kasihan yang  mendarahkan perasaanku  saat pertama menemukan mereka  di kelas yang  gaduh karena tak ada guru. Di sebuah dusun terpencil. Di antara perkebunan kopi dan ladang bawang. Di antara harapan mereka untuk menjadi manusia seutuhnya.&lt;br /&gt;Awalnya aku bergidik membayangkan saat harus  ditugaskan di sana. Di sebuah SD Kecil. Kecil karena muridnya hanya kelas satu hingga kelas tiga. Setelah naik kelas empat mereka akan dipindahkan ke satu-satunya sekolah negeri yang ada di Tongko, desa induk. Sekolah ini dibangun karena anak kelas satu hingga kelas tiga masih terlalu kecil untuk menenteng tas menyelusuri bukit, menyeberangi sungai, berjalan kaki sejauh lima kilometer menuju sekolah satu-satunya yang ada di Tongko.  Kalimbua nama dusun ini. Aku rela berpisah dengan teman KKN yang berposko di Tongko setelah mendengar cerita kepala desa tentang SD Kecil yang lebih banyak belajar bermain. Bukan metode active learning, tapi bermain sendiri tanpa guru. &lt;br /&gt;Mungkin inilah yang disebut panggilan jiwa.  Selain  rela berpisah dengan teman-teman posko, tentu saja aku rela jadi guru tanpa bayaran. Padahal di Makassar, di tempatku mengajar, aku hanya berpredikat guru freelance karena masih  harus sibuk dengan kuliah, tapi saat datang mengajukan lamaran sebagai guru Writing Process, aku tak segan-segan menyebut angka gaji yang kuinginkan. Pikirku, semua harus dibeli. Meskipun aku bukan  mahasiswa kependidikan yang berbekal ilmu keguruan, tapi pengalamanku sebagai penulis yang harus dibayar.&lt;br /&gt; Sekali lagi, mungkin karena ini panggilan jiwa. Ada kebesaran jiwa dan kesabaran hati saat menghadapi murid-muridku di SD Kecil, yang tentu saja  cerdasnya jauh tertinggal dibanding dengan murid-muridku di SD swasta  tempatku mengajar di Makassar. Dalam  dua bulan, seingatku aku tak pernah jengkel apalagi sampai marah dan memberi hukuman fisik. Tapi di Makassar, hampir tiap hari bahkan mungkin aku sudah marah memang sebelum masuk kelas. Kalaupun aku tak pernah memberi hukuman fisik, itu karena perlakuan orangtua murid yang  terkadang  anaknya hanya dipelototi karena kesalahannya, sudah  komplain ke sekolah. &lt;br /&gt;Perbedaan yang sangat jauh. Di kota, orangtua menyambut anaknya pulang sekolah tidak dengan pertanyaan, ”Belajar apa tadi di sekolah, Nak?” tapi ”Guru siapa yang  tadi menghukummu, Nak?” Sementara di kampung, orangtua murid yang datang sekolah yang meminta anaknya dihukum bila tidak taat peraturan sekolah apalagi tidak mau belajar.&lt;br /&gt;”Kak Galang, kemarin saya  demam. Nggak masuk sekolah. Padahal kemarin belajar  bilangan ganjil dan  genap. Saya tertinggal dong!” ucap Nuraeni.&lt;br /&gt;Aku menuruni tangga setelah  beberapa lama  membiarkan diri  dengan lamunanku. Semua oleh-oleh telah dikemas dalam karung. Tiga karung setengah. Tiga karung sayur-mayur dan  setengahnya adalah buah alpukat dan segala macam kopi. Biji  kopi yang belum digiling tapi sudah dipanggang, kopi bubuk, bahkan ada biji kopi yang  masih harus dijemur lagi karena baru dipetik  kemarin. Seolah tak ada yang tak mau memberiku oleh-oleh, tanpa pernah berpikir kalau aku tak tahu bagaimana menjemur kopi, apalagi mengelolanya  hingga menjadi kopi bubuk.&lt;br /&gt;”Sangat mudah membedakan bilangan ganjil dan genap,” tatapannya sangat senang menerima pelajaran tambahan itu.&lt;br /&gt;Aku lalu memberi privat pada Nuraeni. Menyuruhnya menghitung dengan sepuluh jari tangan. Hitungan pertama dengan telunjuk  kanan, hitungan kedua pindah ke telunjuk kiri, lalu jari tengah kanan di hitungan ketiga, begitu seterusnya hingga berakhir di ibu jari kiri di hitungan kesepuluh.&lt;br /&gt;”Sekarang menghitung sampai tujuh dengan cara  seperti tadi!”&lt;br /&gt;Nuraeni dengan cepat menghitung sambil menaikkan jari kanan dan jari kiri secara bergantian. Tepat di hitungan ketujuh, tangan kanannya menampilkan empat jari kecuali ibu jari, dan tangan  kirinya dengan tiga jari.&lt;br /&gt;”Sekarang pasangkan jari-jari  yang kanan dengan yang kiri!”&lt;br /&gt;”Jari kelingking kanan nggak ada pasangannya, Kak!” ucapnya sambil menggoyang-goyangkan jari kelingkingnya.&lt;br /&gt;”Itu berarti angka tujuh adalah bilangan ganjil, karena salah satu jari kamu nggak punya pasangan. Kalo semua jari punya pasangan, berarti itu bilangan genap.”&lt;br /&gt;”Tapi jari saya cuma sepuluh. Kalo angkanya 38, gimana?”&lt;br /&gt;”Ambil angka yang terakhir, yaitu delapan!”&lt;br /&gt;Dia kemudian menghitung dengan metode seperti yang kuajarkan. Saat tiba di hitungan kedelapan, di mana tangan kanan dan tangan kirinya menampilkan masing-masing empat jari, kecuali ibu jari, dia memasangkan jari-jari tersebut.&lt;br /&gt;”Semua ada pasangannya. Berarti 38 itu  bilangan genap!” ucapnya. &lt;br /&gt;Dalam lima menit, Nuraeni telah bisa membedakan bilangan ganjil dan bilangan genap. Cara seperti itu sebenarnya tak pernah kudapatkan di bangku sekolah, tapi dulu diajarkan oleh mama saat menemaniku belajar. Mama memang cerdas, selalu mencari cara cepat  saat mengajarku di rumah. Padahal mama bukanlah  guru, tapi tentu saja tetaplah pendidik bagi aku, anaknya.&lt;br /&gt;”Sudah pukul  sebelas!” ucap salah seorang dari orangtua murid.&lt;br /&gt;Aku terjaga. Hari ini aku sudah harus di Tongko sebelum ashar, karena   penutupan sekaligus pelepasan mahasiswa KKN akan dilaksanakan ba’da ashar di  kecamatan. Intania, murid kelas satu yang selalu terlambat datang ke sekolah karena rumahnya yang  jauh dari sekolah, sudah  memperlihatkan kelopak mata yang  penuh dengan air mata. Tapi  belum menangis.&lt;br /&gt;”Kalo Kak Galang mau tinggal di sini, saya nggak akan terlambat lagi ke sekolah. Saya janji akan  berangkat subuh-subuh ke sekolah.”&lt;br /&gt;Kantong air mata yang dari tadi dipertahankan keutuhannya, bocor kini. Rupanya  masih ada bagian dari negeri ini, di mana ilmu masih sangat langka, yang untuk mendapatkannya haruslah mengemis, menangis, seperti yang dilakukan Intania untukku. Padahal Kalimbua bukanlah suku terpinggirkan. Hanya butuh perjalanan lima jam untuk tiba di desa induk. Dan dari desa induk, hanya butuh dua jam untuk tiba di kota kecamatan. Pasar-pasar di Makassar, hampir semuanya mensuplai sayuran dari sini untuk kemudian dijual, bahkan pasarannya hingga ke Kalimantan. Tak cukup sepuluh kilometer dari kota kecamatan, berdiri gapura batas kabupaten, yang bertuliskan ”Selamat Datang Di Tana Toraja” daerah wisata yang terkenal hingga ke mancanegara. Tapi  SD Kecil Kalimbua tak pernah dilirik.&lt;br /&gt;   Akan kuceritakan pada siapa pun bahwa kebanggaan yang paling luar biasa bagi seseorang adalah saat dia begitu berarti bagi orang lain. Tapi kenapa SD Kecil ini sering ditinggalkan oleh gurunya? Akhh, aku lupa  suatu hal. SD Kecil ini berdiri atas swadaya masyarakat, karena keprihatinan mereka  pada anaknya yang masih kecil yang tidak memungkinkan untuk pergi sekolah dengan jalan kaki. &lt;br /&gt;Akhirnya niat masyarakat itu dijembatani  oleh seorang guru yang kemudian mengaku sebagai pemrakarsa berdirinya SD Kecil. Saat yang tepat, karena guru tersebut memang  hanya mencari popularitas  untuk kemudian diprioritaskan dalam kenaikan pangkat. Pihak Diknas, menangkap itu sebagai ide cemerlang. Tapi setelah SD Kecil terbentuk, tak seperti yang diprogramkan. Tiga guru yang bertugas di sana tak ada yang betah. Tentu saja dengan alasan daerahnya yang terisolasi. Toh gaji diterima setiap awal bulan, meski mengajarnya  hanya terkadang akhir bulan sampai awal bulan.&lt;br /&gt;”Saatnya Kak Galang untuk berangkat!” &lt;br /&gt;Aku tahu kalimatku tidak diinginkan. Semua mematung. Sementara kabut tebal yang selalu menyelimuti Kalimbua, mulai menipis pertanda pagi telah beranjak. Di dusun ini, matahari memang terkadang tak muncul berhari-hari. Hanya kabut yang setia membawa dingin. Iklim dingin seperti itu yang membuat   daerah ini kaya akan  sayur-sayuran. Aku memberanikan diri melangkah saat semua mematung menatapku.&lt;br /&gt;”Harusnya Kak Galang tak pernah ada bersama kami.” Nuraeni mengucapkan itu dengan tangis. Dia melepaskan ayam yang terikat kakinya, yang  digendongnya  dari tadi, lalu berlari menumpahkan tangis di pelukan ayahnya.&lt;br /&gt;Ternyata perpisahan ini terlalu melukakan baginya, hingga  berpikir aku lebih baik tak pernah ada di kehidupannya daripada harus datang sesaat lalu pergi.&lt;br /&gt;Kulirik jam di pergelanganku. Melihat kegelisahan itu, Rustan yang dari tadi berdiri di sampingku berlari naik ke rumah. Dia kemudian datang membawakan careel-ku. Rustan memang  paling dekat dengan saya selama ini, karena selama dua bulan  aku menginap di rumahnya. Mungkin karena hampir tiap malam mendengar cerita tentang kuliah dan pekerjaanku sebagai guru freelance hingga dia sangat sadar bahwa aku memang harus pergi.&lt;br /&gt;”Oleh-olehnya gimana?” ucapku saat careel telah memeluk punggungku dari belakang. Ucapan yang sangat terbata, takut semakin melukai perasaan mereka. Tapi bagaimana mungkin aku membawa oleh-oleh sebanyak tiga karung setengah sementara untuk berjalan kaki  tanpa beban pun menuju Tongko  sangatlah berat. &lt;br /&gt;”Ambil oleh-olehnya masing-masing!” perintah Rustan. &lt;br /&gt;Anak ini   punya bakat jadi pemimpin. Padahal dia baru kelas dua, tapi mampu membuat teman-temannya menatapnya sebagai murid paling dewasa di sekolahnya. Aku belum mengerti apa yang akan mereka lakukan. Semua isi karung itu  dikeluarkan dan mereka memegang oleh-olehnya masing-masing.&lt;br /&gt;”Kita antar Kak Galang sampai  ke Tongko!” perintah Rustan.&lt;br /&gt;”Horeee...!”&lt;br /&gt;Kesedihan yang tadi membekukan, kini  cair. Jadilah kami seperti  rombongan karnaval. Jalan berbaris menyusuri  perkebunan kopi dan  ladang sayur-sayuran. Orangtua mereka ikut dari belakang, meski tak bisa  ikut bernyanyi seperti yang sesekali aku lakukan bersama murid-muridku. Lima kilometer dilalui dengan  tawa ceria. Berlarian. Beberapa siung bawang merah  berjatuhan  di pematang, saat anak yang membawanya tergelincir dan jatuh. &lt;br /&gt;Teman-teman posko  menyambut kedatanganku dengan mata melotot. Dia tak pernah menyangka kepergianku dilepas dengan ’karnaval’ panjang seperti itu.  Tak ada lelah di mata mereka. Keceriaan tadi berganti lagi dengan kesedihan. Apalagi bis yang akan membawa kami pergi telah parkir di depan rumah kepala desa.&lt;br /&gt;Di antara sedih, dibantu orangtuanya, mereka memasukkan kembali oleh-oleh itu ke dalam  karung. Nuraeni menyerahkan langsung  ayamnya padaku, tentu saja diiringi air mata. Teman-teman posko yang hendak usil dengan  mengomentari  ayam pemberian itu, jadi kelu. Isak Nuraeni pecah. Aku memeluknya. Kabut datang menyelimuti Tongko, seolah ingin menyembunyikan air mataku.&lt;br /&gt;Tak hanya kabut. Tarian angin  yang selama ini terkadang hanya berhembus sepoi, kini meliuk keras hingga  membuat pohon-pohon yang harusnya  ikut kelu dengan perpisahan ini,  harus ikut menari. Tertiup angin, kabut yang  menggulung dari  Gunung Tongko, tercerai-berai, jatuh satu per satu setelah menipis seperti potongan-potongan kecil  benang putih. Tipis. Menyerupai musim salju.     &lt;br /&gt;”Kalian harus rajin belajar, biar pintar seperti Kak Galang!”&lt;br /&gt;Suaraku seolah  tak terdengar. Aku sadar telah menangis. Mereka menikmati kesedihannya dengan menatapku tiada lepas. Satu per satu mereka datang mencium tanganku, memelukku hingga  bahuku basah  air mata.&lt;br /&gt;”Kak Galang suatu saat akan  kembali ke sini kan?” ucap Rustan. Satu-satunya  murid yang mampu berucap saat memelukku. Yang lain hanya diam. Kerongkongan mereka  hanya mampu mengeluarkan suara tangis yang kadang tertahan, membuat tangis itu terdengar semakin melukakan. &lt;br /&gt;Aku tak bisa menjawab pertanyaannya hingga bis membunyikan klakson. Kulepas jas almamaterku, lalu kupasangkan di tubuh kecil Rustan. Meski dia sangat bahagia dengan pemberian itu, air matanya tetap saja datang mewakili sisi hatinya yang terluka. &lt;br /&gt;Wajah mereka benar-benar hampa akan harapan saat aku melangkah menaiki bis. Mereka masih terlalu kecil untuk merasakan perihnya patah hati. Aku yakin, baginya, ini lebih dari patah hati. Setelah diberi harapan menapak masa depan, mengejar cita-cita, meraih bintang, tiba-tiba kompas yang diharapkannya harus hilang. Air mataku luruh. Lenganku bahkan tak bisa kuangkat untuk membalas lambaiannya, padahal bis sudah beranjak perlahan. Bergerak menjauh dari mereka, semakin jauh. Hingga akhirnya, hanya  ruang di balik dadaku yang mampu mendengar tangis kehilangannya.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Acara pelepasan mahasiswa KKN di kota kecamatan, berlalu begitu saja. Suara tangis murid-muridku masih mengiang jelas. Sosoknya masih terbayang jelas.&lt;br /&gt;”Kamu kenal  dengan orang yang membawa kata sambutan di atas sana?” tanya Fauzi, teman posko yang kebetulan duduk berdampingan denganku.&lt;br /&gt;Aku tak usah menjawab, karena kutahu itu retoris untukku. Sosok itu juga yang mewakili pak camat karena tak sempat hadir, membawa kata sambutan  saat kami baru datang di wilayahnya ini dua bulan lalu.&lt;br /&gt;”Dia itu alumni SD Kecil tempatmu mengabdi dua bulan.”&lt;br /&gt;Aku menatap Fauzi tak percaya, tapi dia meyakinkanku dengan anggukan. Katanya, menurut cerita kepala desa, masih banyak pejabat  kabupaten yang dulunya sekolah di SD Kecil itu, bahkan ada yang sudah menjadi anggota dewan. Bukan karena dulunya SD Kecil itu sekolah unggulan, tapi karena SD Kecil  itu mendidik orang-orang yang berkemauan besar untuk maju. &lt;br /&gt;Tapi mengapa tak ada yang kembali untuk membangunnya? Bukankah SD Kecil itu yang telah membuat mereka  menjadi orang besar? &lt;br /&gt;Sekolah itu telah mereka anggap sebagai ibu yang telah menelantarkannya dulu. Tak bisa memberi ASI yang cukup apalagi  gizi sempurna. Dan giliran mereka sekarang untuk menelantarkan SD Kecil itu. Mungkin mereka telah merasa  berhasil membalas sakit hatinya dengan ’mengutuk’ sekolah itu jadi batu, tak bisa tumbuh besar. Tapi, tanpa pernah mereka sadari, mereka  juga adalah  Pejabat Kundang. Guru-guru yang makan gaji dari sekolah itu, namun tak  pernah mengabdi, juga adalah Guru Kundang. &lt;br /&gt;Itu hanyalah sebagian kecil kedurhakaan, yang tanpa disadari telah membuat bumi ini sering murka.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8970134704959434086-3412165836862104009?l=masgege.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masgege.blogspot.com/feeds/3412165836862104009/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8970134704959434086&amp;postID=3412165836862104009' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/3412165836862104009'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/3412165836862104009'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masgege.blogspot.com/2009/04/sekolah-kundang-cerpen-pemenang-i-lomba.html' title='Sekolah Kundang (Cerpen Pemenang I Lomba Menulis cerpen Majalah Annida 2008)'/><author><name>Gegge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02227405124686698722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/S871hC3hv7I/AAAAAAAAAJw/pjsdP-TQAXw/S220/fb1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SeKJ9P0j6EI/AAAAAAAAAFY/D9gcU3lDJpo/s72-c/kundang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8970134704959434086.post-4538556263965730268</id><published>2009-04-05T14:42:00.000+08:00</published><updated>2009-04-05T14:48:10.224+08:00</updated><title type='text'>Cerita Pagi</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SdhUBQyX2yI/AAAAAAAAAEI/q232UdM8sIc/s1600-h/Cerita+Pagi.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SdhUBQyX2yI/AAAAAAAAAEI/q232UdM8sIc/s320/Cerita+Pagi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5321095340401089314" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : S. Gegge Mappangewa&lt;br /&gt;Mata Imah terbelalak. Terlebih saat  ceritaku berlanjut tentang Mama Denny, tanteku, adik ibuku! Yang  seolah tak ingin memandang ke arahku. Mama yang berkunjung ke rumahnya, disangkanya buat ngutang karena tiba saatnya untuk bayar  uang sekolahku. Aku yang  berkunjung ke sana, dipikirnya minta baju bekas yang mungkin sudah tak layak pakai buat dia. Padahal, maksud kami bukan itu. Kami hanya merasa sebagai  bagian dari keluarga mereka.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: S. Gegge Mappangewa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MASIH   pagi. Perasaan  aku baru memejamkan mata semenit, setelah  bangun shalat subuh tadi. Aku bahkan tertidur dengan mukenah yang masih melekat di tubuhku. Biasanya suara gaduh terdengar di  pondokan ini, setelah  lewat dari jam enam.  Tapi kini, pintuku telah diketuk perlahan awalnya, lalu digedor keras.&lt;br /&gt;“Assalamualaikum! Selamat pagi!” teriak suara itu dari luar.&lt;br /&gt;Aku kenal betul suara itu. Milik  Imah, penghuni  pondokan yang paling ribut, paling seksi, paling lucu, dan entah paling apalagi. Pagi-pagi begini mau apa, ya? Aku bahkan menutup kupingku dengan guling. Gedoran itu semakin tak wajar. Ada lagi yang paling khas dari diri Imah, dia selalu merasa punya ide yang heboh. Jangan-jangan pagi ini dia ingin unjuk kebolehan dengan ide hebohnya yang   terbaru.&lt;br /&gt;Terpaksa aku bangun. Padahal  tidur pagi kali ini amat kubutuhkan sebagai suplemen,  semalam tidurku  agak larut malam karena PR Fisika-ku yang  tumben  tak bisa kuselesaikan  cepat.&lt;br /&gt;“Selamat  pagi,” ributnya setelah kubukakan pintu kamar. “Aku dari Ketok Pintu, acara reality show paling berani! Bisa ya, aku masuk?” lanjutnya dengan gaya host sebuah acara reality show, yang  selalu “mengobrak-abrik” kamar selebritis.&lt;br /&gt;Buset!  Betul-betul cuma iseng, tak ada keperluan apapun! Aku cuma nyengir, lalu kembali membuang tubuhku di tempat tidur.&lt;br /&gt;“Pemirsa, aku udah berhasil masuk ke kamar Lely. Yuk, kita lihat setiap penjuru kamar  bintang sinetron yang lagi naik  pohon ini, eh naik daun,” &lt;br /&gt;“Nggak lucu!” ketusku sambil menutup telinga dengan guling.&lt;br /&gt;Imah tetap  beraksi. Kudengar dia ceplas-ceplos, menerangkan seluruh isi kamarku. Mulai dari meja belajar  yang  berdampingan dengan lemari pakaian yang katanya, terlalu kecil untuk siswa  SMA sepertiku. Meski kesal, aku kagum juga dengan   ceplas-ceplosnya  yang persis dengan presenter Okky Lukman.&lt;br /&gt;“Pemirsa di rumah, mau tahu apa aja isi lemari Lely? Yuk, kita buka!”&lt;br /&gt;Kudengar engsel pintu lemariku berderit. Tapi  aku belum juga menggubrisnya. Toh, tak  ada  barang  rahasia di dalamnya.&lt;br /&gt;“Woooww…!” Tiba-tiba dia berteriak. Memaksaku untuk bangkit dari tempat tidur.  Dompetku sudah ada  berada di tangannya.&lt;br /&gt;“Jangan dibuka, Mah!”&lt;br /&gt;“Ternyata isinya, ada kartu perpustakaan  sekolah, kartu perpustakaan wilayah, kartu member  taman bacaan. Nggak salah deh kalo Si Lely ini jadi bintang pelajar tiap  tahunnya. Tapi jangan salah, kartu ATM tetap ada lho!”&lt;br /&gt;Aku  tak bisa menghalangi aksinya, dia selalu berhasil menghindar setiap aku mendekat untuk mengambil  dompetku.&lt;br /&gt;“Dan pemirsa di rumah,” ucapnya seolah menghadap ke sebuah kamera. “Ternyata Lely bintang pelajar kita ini, fans berat sama  Denny. Itu  lho,  pendatang baru di dunia sinetron.” lanjutnya sambil memperlihatkan  foto Denny yang memang sengaja kusimpan di dompetku.&lt;br /&gt;Melihat foto Denny, air mataku tiba-tiba meluruh begitu saja.  Imah langsung  menghentikan aksinya. Bahkan mendekat ke arahku dengan wajah yang menampakkan penyesalan yang mendalam.&lt;br /&gt;“Sori, Ly!  Aku cuma main-main. Nggak bermaksud  melanggar privacy kamu. Lagian, nge-fans sama Denny, menurutku hal yang wajar. Denny bintang sinetron, cakep, tajir. Yang nggak wajar, kalau orang seperti kita ini mimpi jadi pacarnya, atau malah teman dekatnya!”&lt;br /&gt;Aku menghapus air mataku. Mengambil dompetku dari tangan Imah.&lt;br /&gt;“Kamu mau maafin aku kan?”&lt;br /&gt; Imah tak punya salah, aku yang terlalu cengeng mungkin. Tapi aku janji, ini air mata terakhirku untuk Denny. Meski aku juga  merasa punya quantum semangat beberapa kali lipat, setiap habis melihat foto Denny.&lt;br /&gt;“Jujur, akhir-akhir ini  aku ingin  dekat sama kamu, tapi aku nggak tahu bagaimana caranya,” ungkapnya lagi.&lt;br /&gt;Aku  bisa mengerti, jika Imah ataupun teman kostku yang lain tak punya banyak waktu untuk bersamaku. Hampir seluruh waktuku yang di luar jam sekolah, kuhabiskan  bersama buku-buku pelajaranku. Aku tak punya waktu untuk ngerumpi, apalagi  nongkrong di teras untuk cuci mata setiap ada cowok lewat. Aku selalu merasa lebih aman  di kamar sendiri. &lt;br /&gt;Untungnya sikap dinginku itu tidak diartikan negatif teman-teman. Mungkin karena aku tetap menyempatkan diri untuk senyum,  menyapa, bahkan dengan senang hati membantu mereka menyelesaikan tugas-tugas dari sekolah. Jadi tidak sedikit pun ada kesan sombong yang kutampakkan, dan memang aku bukan orang seperti itu. Aku  bahkan membenci orang-orang yang merasa  dirinya punya segala-galanya, lalu menyombongkan diri.&lt;br /&gt; Apalagi, alasanku cukup  meyakinkan, aku harus belajar. Lebih banyak belajar! Dan alasan itu punya hasil yang memuaskan,  medali bintang pelajar tetap bisa kupertahankan.&lt;br /&gt;“Ly, boleh kan aku curhat ke kamu?”&lt;br /&gt;Belum juga  kuiyakan permintaannya, dia sudah bertutur panjang. Mulai dari  cowoknya  yang tiba-tiba minta putus, hingga  hubungan mama-papanya, yang  sedang  kacau.&lt;br /&gt;“Di rumah nggak ada  kedamaian, Ly! Kamu mungkin nggak tahu, aku ngekost di sini, bukan untuk hemat biaya transpor atau karena  jauh dari kampung. Aku orang Jakarta asli. Rumahku di  Pondok Indah. Aku ngekost di sini, karena ingin lebih dekat dengan orang lain. Punya banyak teman. Ingin berbagi!”&lt;br /&gt;Aku mungkin terlalu egois selama ini. Tak pernah mau berpikir tentang orang sekitarku. Tanpa kusadari, Imah butuh teman dan selama ini aku lebih akrab dengaan diriku sendiri, dengan permasalahanku sendiri, tanpa pernah berniat untuk membaginya, ataupun meminta orang  untuk membagi kesedihannya padaku.&lt;br /&gt;Aku terjaga  kini, menerima kesedihan orang lain, bukan menambah beban tapi  justru meringankan karena ternyata menyadarkanku bahwa semua orang punya masalah. Aku ingin meraih pundak Imah, untuk berbagi, tapi suara dari luar kamar meneriakkan namaku. Aku dapat telpon dari Denny.&lt;br /&gt;“Denny siapa, Ly!”&lt;br /&gt;“Denny bintang sinetron itu,” ucapku santai.&lt;br /&gt;“Dia nelpon kamu?” tanyanya heran.&lt;br /&gt;Aku mengangguk, lalu berlari keluar, meninggalkan dia dalam keadaan bingung. Aku memang tak pernah cerita tentang  Denny. Aku masih lebih suka menyimpannya sendiri, dan menyimpannya sebagai semangat untukku.&lt;br /&gt;“Ada perlu apa Denny nelpon kamu?” tanyanya saat aku pulang dari menerima telepon.&lt;br /&gt;“Dia ngajak aku buat temanin belanja. Adiknya yang cewek, yang baru aja  lolos audisi jadi penyanyi beken, juga ikut!”&lt;br /&gt;“Kalian akrab?” Imah semakin bingung.&lt;br /&gt;Akrab? Aku juga bingung mau jawab apa. Haruskah aku jujur tentang Denny? Harusnya begitu, Imah  baru saja menceritakan masalahnya untukku, kini giliranku.&lt;br /&gt;“Denny itu  saudara sepupuku….”&lt;br /&gt;Mata Imah terbelalak. Terlebih saat  ceritaku berlanjut tentang Mama Denny, tanteku, adik ibuku! Yang  seolah tak ingin memandang ke arahku. Mama yang berkunjung ke rumahnya, disangkanya buat ngutang karena tiba saatnya untuk bayar  uang sekolahku. Aku yang  berkunjung ke sana, dipikirnya minta baju bekas yang mungkin sudah tak layak pakai buat dia. Padahal, maksud kami bukan itu. Kami hanya merasa sebagai  bagian dari keluarga mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi kok, Denny dan adiknya menelpon kamu untuk menemaninya belanja?”&lt;br /&gt;“Karena   mereka  mau memperlihatkan bagaimana  bebasnya  mereka memakai uang.”&lt;br /&gt;Bukan sekali aku diajak untuk menemani mereka belanja. Tidak tanggung-tanggung,  mereka beli baju lima pasang  saat kutemani  belanja. Tidak pernah sekali pun menawarkan  sepasang untukku, meskipun sebenarnya aku tidak berminat. Sebagai upah menemani jalan, aku terkadang dibekali roti bakar yang dibelinya di  kaki lima. Seolah menurutnya, sepupu dengan mereka yang  selebritis,  sudah anugerah besar untukku.&lt;br /&gt;“Tapi kenapa kamu mau menyimpan foto Denny dalam dompetmu?”&lt;br /&gt;Bukan untuk kubanggakan, bahwa aku ini sepupunya. Tapi  untuk memberiku semangat. Setiap melihat fotonya, aku selalu terpacu untuk menjadi yang terbaik. Aku tak boleh terus-terusan dianggapnya sampah. Aku harus mengangkat diriku sendiri! Aku yakin, untuk menjadi orang yang dibanggakan, diidolakan, tidak harus dengan menjadi selebritis.&lt;br /&gt;Imah manggut-manggut. Aku tak tahu   apa yang ada di pikirannya saat meninggalkan kamarku. Tapi tak lama kemudian, dia datang lagi.&lt;br /&gt;“Aku pamit dulu, Ly! Aku tiba-tiba rindu pada Mama dan  Papaku. Aku nggak boleh lari dari masalah. Aku harus punya semangat untuk menghadapinya, menyelesaikannya! Aku bangga pada kamu, Lily. Aku mengidolakanmu!” ucapnya dalam pelukku. Menangis!&lt;br /&gt;Aku ikut menangis. Mungkin aku telah menjelek-jelekkan Denny, tapi itulah yang terjadi, itulah yang dia perlakukan untukku. Kusimpan menjadi obat pemacu semangat. Tanpa dendam, tanpa  benci!***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8970134704959434086-4538556263965730268?l=masgege.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masgege.blogspot.com/feeds/4538556263965730268/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8970134704959434086&amp;postID=4538556263965730268' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/4538556263965730268'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/4538556263965730268'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masgege.blogspot.com/2009/04/cerita-pagi.html' title='Cerita Pagi'/><author><name>Gegge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02227405124686698722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/S871hC3hv7I/AAAAAAAAAJw/pjsdP-TQAXw/S220/fb1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SdhUBQyX2yI/AAAAAAAAAEI/q232UdM8sIc/s72-c/Cerita+Pagi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8970134704959434086.post-3556678129969183408</id><published>2009-04-05T14:35:00.000+08:00</published><updated>2009-04-05T14:51:11.334+08:00</updated><title type='text'>Kado Termahal</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SdhUzFIzMdI/AAAAAAAAAEQ/EkNeLDK-6Zg/s1600-h/kADO+TERMAHAL.bmp"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 264px; height: 241px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SdhUzFIzMdI/AAAAAAAAAEQ/EkNeLDK-6Zg/s320/kADO+TERMAHAL.bmp" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5321096196267389394" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh: S. Gegge Mappangewa&lt;br /&gt;Kecelakaan pagi itu, membuatku kehilangan segala harapan. Jika tak sedih melihat mama yang selalu murung, SMA-ku bahkan tak ingin kuselesaikan. Saya benar-benar tak bisa melangkah, di atas kursi rodaku. Seolah semua orang yang melihatku, mencibir dan menertawai. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Oleh: S. Gegge Mappangewa&lt;br /&gt;INI  bulan kedua, saya menunggu kedatangan Benny. Suratnya yang terakhir, tiga  bulan lalu, bercerita tentang rencana kepulangannya dari Jepang.  Untuk menemuiku. Tentu saja dengan janji memberi kado untukku. &lt;br /&gt;Ada kebohongan yang kusimpan rapi, katanya. Dia selalu dihantui mimpi buruk tentangku. Lalu kenapa dia tak juga pulang hingga kini? Mungkin saja dia telah tahu, kebohongan yang memang selalu tersembunyi rapi untuknya. Saya tak pernah bisa mengungkap  kebohongan itu dalam suratku, meski seribu sinyal telah diterima Benny sebagai kecurigaan.&lt;br /&gt;Mengapa kamu tak pernah balas emailku, mengapa harus  via surat, sebegitu sibukkah kamu hingga tak bisa menyempatkan diri ke warnet? Dan seribu tanya lagi, yang hanya bisa kujawab dengan diam. Saya tak ingin menjadi beban pikiran Benny. Saya tahu betul, bagaimana besar perhatian Benny terhadapku. Begitu pun saya padanya. Sebagai sahabat, kami memang telah menunjukkan kesetiaan masing-masing.&lt;br /&gt;Untuk pertama kalinya, kudengar suara Benny terisak lewat telepon, saat dengan terpaksa saya harus mengundurkan diri untuk pertukaran pelajar ke Jepang. Saya ingin sekali melihat air matanya, tapi  sungguhlah tak mungkin. Pihak kedutaan Jepang, langsung mengkarantinakan Benny, setelah menyelesaikan interview  dan tes tertulisnya, saat itu. &lt;br /&gt;Tes saat itu sebenarnya, cukup bergengsi. Dari ratusan peserta yang ikut tes dari awal, hanya saya dan Benny yang lolos, dan itu hanya akan dipilih satu orang. &lt;br /&gt;“Saya yakin kamu yang akan berangkat, Radar!”  ucapnya semalam sebelum  ikut tes. &lt;br /&gt;“Dengan alasan apa?”&lt;br /&gt;“Kamu satu  level di atasku, di kursus Bahasa Jepang. Pengenalan Kanji-mu hampir menyamai orang Jepang asli.”&lt;br /&gt;“Kamu juga nggak mungkin lolos hingga seleksi akhir, jika  nggak ada yang  istimewa dari kamu.”&lt;br /&gt;Dia terdiam. Malam itu, dia gelisah sekali. Sangat! Saya bahkan menyalakan AC kamar, karena kupikir dia sedang  kepenatan. Hanya semenit AC berhembus, dia mematikannya. Gelisahnya tak juga padam. Semakin menjadi. Bahkan sesekali kulihat tatapannya, menancap ke arahku, lalu terbang liar saat tatapan itu kubalas dengan  diam. &lt;br /&gt;Saya bisa mengerti. Benny adalah tumpuan harapan orangtuanya.  Satu-satunya! Adik-adiknya yang masih kecil, masih butuh perjalanan panjang, untuk mencapai cita-citanya. Benny sendiri pun, sebenarnya terancam tak bisa  kuliah setelah lepas SMA. Papanya yang hanya Pegawai Negeri Sipil, tak bisa berbuat banyak, karena mamanya yang  sakit-sakitan.&lt;br /&gt;Ikut pertukaran pelajar, adalah jalan alternatif untuk mengurangi sedikit beban orangtuanya. Apalagi, jika dianggap sukses, proyek pertukaran pelajar itu, dilanjutkan dengan  pemberian beasiswa, untuk melanjutkan kuliah gratis di Jepang. Tentu saja, Benny semakin menggila. Cita-citanya untuk kuliah di Teknik Mesin, sedikit menemui  celah.&lt;br /&gt;Tapi salahkah saya, bila datang menutup celah itu? Menjadi saingan tunggalnya di  program pertukaran pelajar itu? Orangtuaku memang mampu membiayai kuliahku, tapi adalah kebanggaan tersendiri yang akan kupersembahkan sebagai anak kepada orangtuanya, jika saya berhasil ke Jepang. &lt;br /&gt;Apalagi, orang-orang di sekitar telah menganggap keluarga kami, sebagai keluarga berantakan. Kak Intan yang bulan lalu masuk penjara karena  terbukti sebagai pengguna dan pengedar drugs. Kak Farid yang  kerjanya  ikut balapan liar, mabuk dan terkadang tak pulang dalam sebulan. Di rumah, hanya ada saya. Belajar dan belajar, untuk membuktikan pada mama dan papa, bahwa masih ada saya yang bisa dia banggakan pada orang lain.&lt;br /&gt;“Saya pulang  dulu, Radar,” ucapnya. Masih gelisah.&lt;br /&gt;“Tengah malam gini?”&lt;br /&gt;Dia mengangguk. Gugup! Tatapannya masih menyapu sekilas di wajahku, saat dia menyerahkan STNK dan kunci motorku, yang tadi siang dipinjamnya. &lt;br /&gt;“Motormu udah kumasukkan di garasi,” katanya sambil berlalu pergi.&lt;br /&gt;“Sampai jumpa besok, di tempat tes.”&lt;br /&gt;Langkahnya terhenti. Berbalik ke arahku, lalu mengangguk sekali. Ada kesan lirih dalam anggukan itu. &lt;br /&gt;Sepulangnya, gelisah Benny, menular ke jiwaku. Saya tak bisa tidur. Di benakku, ada Benny yang  akan tersenyum, meski harus terluka dengan kemenanganku besok. Seperti halnya Benny, saya juga merasa yakin bahwa saya-lah yang akan berangkat ke Jepang, mengikuti pertukaran pelajar itu. Dan Benny akan, tertinggal, bahkan tak bisa melanjutkan kuliah tahun depan setelah lulus SMA.&lt;br /&gt;Saya harus mengalah! Itu yang  akhirnya menjadi obat penenang jiwaku. Tak ada lagi gelisah.  Saya masih punya banyak kesempatan untuk  membuktikan pada orang lain, juga pada mama dan papa, bahwa saya lain dari Kak Intan ataupun Kak Farid, yang hanya bisa memberi kesusahan.&lt;br /&gt;Besok pagi, saya akan sengaja terlambat ke tempat tes. Saya tahu betul, etos kerja orang Jepang, yang seolah mendewakan waktu, hingga tak senang dengan orang yang tak menghargai detak jarum detik.  Ini adalah keputusan. Tak boleh berubah. Bujukku pada batinku sendiri, yang masih berat untuk menerima keputusan itu. &lt;br /&gt;Besok paginya. Rencana keterlambatanku, berjalan lancar. Saya bahkan tak pernah lagi melihat wajah Benny, hingga saat ini. Saya tak pernah tiba di tempat tes. Saya tiba-tiba terkurung di dunia sepi ini. Dunia sebatas langkah gelindingan ban kursi rodaku. &lt;br /&gt;Kecelakaan pagi itu, membuatku kehilangan segala harapan. Jika tak sedih melihat mama yang selalu murung, SMA-ku bahkan tak ingin kuselesaikan. Saya benar-benar tak bisa melangkah, di atas kursi rodaku. Seolah semua orang yang melihatku, mencibir dan menertawai. &lt;br /&gt;“Radar, kenapa kamu nggak ikut tes? Kamu nggak apa-apa, kan? Panitia pertukaran pelajar, bekerjasama dengan pihak sekolahku, sepakat untuk langsung menerbangkanku ke Jakarta sekarang juga, untuk ikut pelatihan, bersama peserta  dari provinsi lain.”&lt;br /&gt;Kalimat Benny itu, kudengar  saat saya masih terbaring di rumah sakit. &lt;br /&gt;“Saya menabrak truk yang melintasi cepat dari arah berlawanan,” ucapku  setegar mungkin, agar dia tak gelisah memikirkanku. ”Tapi nggak terlalu parah,” lanjutku dengan air mata yang menitik, saat seorang perawat datang membawakan kursi roda untuk tubuhku yang sebelah tungkai kakinya telah diamputasi.&lt;br /&gt;Tak ada kalimat dari Benny. Bisu. Entah siapa, saya atau dia yang duluan meletakkan horn telepon. Hingga saat itu, saya kehilangan asa. Trauma. Motor yang kupakai saat kecelakaan pun, kurelakan jadi besi tua di kantor polisi.&lt;br /&gt;Tapi mengapa Benny tak juga datang, hingga kini? Saya ingin melihat dia menangis melihat keadaanku. Padanya, saya akan berbagi duka tanpa ragu dia akan menertawaiku. Untuknya, saya akan persembahkan kado termahal, yakni kesediaanku untuk mengalah saat ikut seleksi pertukaran pelajar dulu. Meski akhirnya nasib buruk memaksaku untuk harus tetap tinggal di Makassar.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Saya mulai  jenuh menunggu kedatangan Benny. Berlembar-lembar suratnya, yang bercerita tentang Negeri Sakura, telah berkali-kali kubaca. Demi sedikit mengobati rinduku yang memuncak  sejak dua bulan lalu. Sejak dia berjanji akan pulang di liburan musim dingin. &lt;br /&gt;“Betul ini rumah Pak Galang Wijaya?”&lt;br /&gt;Saya mengangguk lemah. Polisi datang lagi ke rumah. Tetangga pasti pada mencibir lagi. Jangan-jangan Kak Farid lagi yang  membuat masalah di luar, dan harus berurusan dengan polisi. Untung saja,  mama dan papa, tak ada di rumah. Saya kasihan melihat mama yang seolah  trauma dengan polisi. Harapanku untuk membuat dia tersenyum bangga dengan kesuksesanku, harus berakhir kecewa  di atas kursi roda. &lt;br /&gt;Kedua polisi itu mengamati kursi rodaku, juga kakiku yang tak sama panjang. Saya jadi tersinggung dengan tatapan itu. Tapi saya bisanya apa? Rasa tak percaya diriku, kumat lagi.&lt;br /&gt;“Atau kamu putra Pak Galang yang kecelakaan beberapa bulan lalu. Radar?”&lt;br /&gt;Saya mengangguk.&lt;br /&gt;“Kami yang  menangani masalah Adik.”&lt;br /&gt;“Masalah apa? Papa telah menyelesaikan semua kewajiban mengenai peristiwa kecelakaan itu. Tentang motorku yang belum juga diambil, saya yang melarangnya…”&lt;br /&gt;“Itulah masalahnya,” salah seorang dari polisi itu, langsung memotong kalimatku. “Dari penyelidikan kami, motor yang Adik  pakai, sebelumnya sengaja dirusak dengan memutuskan tali rem. Peristiwa itu bukan murni kecelakaan, ada seseorang yang mendalanginya.”&lt;br /&gt;Dadaku berdebar tak karuan. Bayangan Benny yang selalu hadir sebagai sahabat sejati untukku, kini hadir sebagai malaikat maut. Inikah  jawaban dari gelisahnya, semalam sebelum kejadian itu? Inikah alamat dari firasat buruk  yang selalu kuterka dari tatapannya? Inikah gunanya sahabat? Kesedihan menjalar bebas masuk ke relung hatiku. Ini sedih yang terdalam, luka yang terperih. Lebih dalam dan jauh lebih perih, dibanding saat pertama kutahu, sebelah tungkai kakiku telah teramputasi.&lt;br /&gt;“Papa dan mama saya nggak ada di rumah,” ucapku lalu langsung berbalik dengan kursi rodaku.&lt;br /&gt;Ada perih mengiris, saat mataku terhalang kabut, memandangi kursi roda yang kutumpangi. Kursi roda ini, kado termahal dari seorang sahabat bernama Benny. Kado ini takkan kulupa, diberikan padaku demi kebahagiaannya. Lebih mahal dari harga kematian. &lt;br /&gt;Harga mati untuk takdirku. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8970134704959434086-3556678129969183408?l=masgege.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masgege.blogspot.com/feeds/3556678129969183408/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8970134704959434086&amp;postID=3556678129969183408' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/3556678129969183408'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/3556678129969183408'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masgege.blogspot.com/2009/04/kado-termahal.html' title='Kado Termahal'/><author><name>Gegge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02227405124686698722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/S871hC3hv7I/AAAAAAAAAJw/pjsdP-TQAXw/S220/fb1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SdhUzFIzMdI/AAAAAAAAAEQ/EkNeLDK-6Zg/s72-c/kADO+TERMAHAL.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8970134704959434086.post-3562155004776214750</id><published>2009-04-05T14:29:00.000+08:00</published><updated>2009-04-05T14:55:13.097+08:00</updated><title type='text'>Apel Merah</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SdhVv6jX6pI/AAAAAAAAAEY/YFOuVdzgvFo/s1600-h/APEL+MERAH.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 286px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SdhVv6jX6pI/AAAAAAAAAEY/YFOuVdzgvFo/s320/APEL+MERAH.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5321097241398078098" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : S. Gegge Mappangewa&lt;br /&gt;Sebenarnya dia tak keberatan, lelaki kumal itu  menjadikan emperan tokonya sebagai rumah,  seandainya  tak ada ikatan masa lalu antara mereka. Dia tak  keberatan mantan suaminya itu mengetuk kembali pintu hati yang telah dibantingnya keras,  andai  lelaki kumal itu tak pernah menelantarkan cintanya. Sulit. Luka cinta memang selalu sulit untuk disembuhkan, teramat sulit untuk dimaafkan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Oleh: S. Gegge Mappangewa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GERIMIS  merintik. Tak terdengar tik…tik…tik…. Hanya  laksana potongan benang halus  yang terbang dari langit malam, hingga yang kelihatan hanya yang tersorot lampu jalanan. Pengendara motor yang sesekali masih melintas tengah malam, mempercepat  laju motornya. Takut, rinai gerimis berubah menjadi hingar-mengguyur-kuyup! &lt;br /&gt;Wanita setengah baya itu, sejam yang lalu mengintip  dari  balkon  rumahnya. Bukan mengintip  gerimis. Tak ada pengendara motor yang diintainya. Anak lelakinya yang biasa pulang tengah malam, pun membawa kunci sendiri dan tak perlu ditunggui.&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini  dia diresahkan oleh lelaki kumal tak berbaju yang sering tidur di emperan rukonya, hingga pagi. Awalnya, anaknya yang pulang tengah malam, bercerita jika lelaki misterius itu tertidur di depan pintu masuk rukonya. Tapi tak digubrisnya. Namanya juga gelandangan! Terlalu kejam jika untuk emperan pun, dia tak mau berbagi.&lt;br /&gt;Tapi saat pagi menjelang dan dia hendak membuka toko kelontongannya, lelaki itu masih  tertidur tepat di depan pintu. Berbantalkan lengan, tanpa alas apa pun, lelaki itu masih tetap juga ngorok. Arus lalu lintas di depan  ruko, mulai  mengalir. Deru mesin, klakson, teriakan kondektur mencari penumpang, tak satu pun mengganggu tidurnya. Bukan hanya nyamuk, beberapa lalat lebih memilih bertengger di tubuhnya daripada  mencari makan di tempat sampah yang tak jauh dari tempatnya meringkuk.&lt;br /&gt;Matanya masih tajam mengawasi gelandangan itu. Pintu rukonya belum terbuka sempurna. Sebuah tahi lalat di pipi kiri lelaki itu, membuka semua file masa lalunya yang pernah  dia hapus paksa. File itu ternyata  masih tertahan di sebuah recycle bin. Tahi lalat di pipi kiri itu, menjadi pengungkit masa lalunya. Sakit lagi. Meski  sebelumnya memang tak pernah dia rasakan bersenang-senang. Dia merakit sendiri. Merangkak, bangun  dan menegarkan diri saat dia terjatuh. Hingga dia bangkit lagi seperti kini.&lt;br /&gt;Sebotol air mineral jualannya, diraih lalu ditumpahkan di atas  kepala gelandangan itu. Byurrr! Gelandangan yang ternyata juga tak waras itu, bangkit dan berlari dari tempatnya. Terkekeh, bicara sendiri tanpa ada yang tahu makna bicaranya. Tapi matanya, jelas menyorot  tajam  ke wanita yang baru saja menyiram tubuhnya. &lt;br /&gt;“Pergi!”&lt;br /&gt;Dia berlari kencang, saat wanita itu  mengusirnya dengan suara  penuh amarah. &lt;br /&gt;Malam ini, wanita itu mengintipnya dari balkon. Gelandangan gila itu, mengais-ngais tempat sampah. Sisa makanan  dikumpul lalu dilahapnya dengan tangan kumal. Di bawah sorot lampu jalan yang berada tepat di atasnya, lelaki itu  menikmati gerimis yang tak juga  reda, pun tak berubah deras. Lelaki itu terdengar seperti mengigau, sesekali.&lt;br /&gt;Harapnya, lelaki itu hanya kebetulan mangkal di depan rukonya. Tapi menelusuri lembaran masa lalu, sepertinya mustahil  jika itu sebuah kebetulan.  Ini Makassar. Lelaki itu  terakhir dilihatnya, ditinggalkan tepatnya,   di  Surabaya. &lt;br /&gt;Dia ingin menyangkal. Membantah  kata hatinya jika lelaki itu mantan suaminya, tapi bukan hanya tahi lalat, pemilik tubuh kumal dan kurus itu masih menyisakan jejak masa lalu dari tatapannya. Dia tak ingin masa lalu itu kembali padanya. Bukan karena  lelaki itu telah gila dan jadi gelandangan, tapi karena lelaki  itu juga pernah membuatnya  mendekati gila. Baginya, itu karma. Dulu dia  yang diterlantarkan dengan kehadiran istri kedua, istri simpanan, selingkuhan, dan entah wanita jenis apalagi yang dihadirkan untuk melukainya. &lt;br /&gt;Untungnya dia masih punya ruko warisan  orangtua, tempatnya berpulang. Hingga dia bisa menjadi single parent buat anaknya  yang kini kuliah di universitas swasta. &lt;br /&gt;Kemiripan anak semata wayang itu  dengan papanya, sering mengingatkan dia pada  suaminya. Tapi itu tak membangkitkan rindunya, ataupun  menyentuh luka hatinya. Dia malah semakin ingin membuktikan pada semua orang bahwa tanpa suami, dia bisa menghidupi anaknya. Menuruti semua keinginan anaknya, mulai dari pakaian yang mengikuti trend, hingga masuk dalam komunitas pemilik Moge (Motor Gede). Satu  keinginan anaknya yang tak pernah terkabul hingga kini, tentang siapa sebenarnya  papanya?&lt;br /&gt;Anaknya sering bertanya tentang itu, tapi jawabnya selalu air mata. Sebagai anak, tentulah dia tak ingin terus-terusan melihat mamanya menangis. Tapi sayang,  dia salah mengambil langkah. Terkadang  pergi pagi - pulang malam, dengan alasan    banyak tugas kuliah, tapi dia menenangkan pikiran di depan botol minuman keras. Dia kecewa pada mamanya yang tak pernah memberinya jawaban tentang papanya.   &lt;br /&gt;Gerimis  reda. Wanita itu hendak masuk, membiarkan  lelaki dari masa lalunya itu,  meringkuk di depan rukonya. Tapi suara motor anaknya yang pulang tengah malam, menghalangi langkahnya untuk beranjak.&lt;br /&gt;Dari balkon, jelas sekali, lelaki itu menghampiri  anaknya.&lt;br /&gt;“Ridha, kamu jangan mau disentuh olehnya!” teriaknya dari atas balkon.  &lt;br /&gt;Anaknya hanya  tersenyum. Untuk yang pertama kalinya dia  meragukan ketulusan hati  mamanya. Biasanya, mamanya yang selalu mengajarkan dia untuk tidak sombong apalagi bersikap angkuh pada  siapa pun. Atau orang gila dan gelandangan adalah pengecualian? Anaknya yang tak tahu masalah, hanya menggeleng. &lt;br /&gt;Wanita  itu berlari   dari balkon, turun untuk meleraikan anaknya dari pegangan lelaki kumal itu. Bukan takut tertulari kuman, tapi takut jika lelaki itu menjawab pertanyaan anaknya yang selama ini menjadi rahasia hidupnya. &lt;br /&gt;“Masuk cepat! Kamu nggak jijik melihat dia? Kamu bisa tertular  penyakit gilanya. Cepat cuci tangan yang bersih, kulihat kamu tadi menyambut uluran tangannya.”&lt;br /&gt;Prakkk!&lt;br /&gt;Pintu ruko tertutup keras. Lelaki kumal itu tersentak. Anaknya keheranan.  Di matanya, perlakuan mamanya lebih gila dari lelaki tak waras tadi. Dia takut. Sangat takut. Anaknya akan mengenali papa yang selama ini  dicarinya dalam tanya. Bertahun-tahun  dia menjalani hidup sendiri, mengalihkan seluruh cinta yang dimilikinya pada  putra tunggalnya. Tapi kini, lelaki yang menurutnya manusia terbejat itu,  datang   untuk mengacaukan suasana, setelah sebelumnya dia  dengan santainya memporak-porandakan keadaan.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Bulan mengintip. Bintang mengintai. Tentulah malam remang.  Wanita itu  gamang. Ragu. Tapi dia tak ingin mengubah keputusannya. Sebuah apel merah, yang telah disuntikkan racun tikus, dibuangnya ditempat sampah. Tentu saja, bukan untuk dimakan tikus, tapi untuk lelaki yang pernah masuk dalam kehidupannya itu. Dia masih ingat, lelaki yang jadi target pembunuhannya itu, sangat suka dengan apel merah.  &lt;br /&gt;Pikirnya, kalaupun mati tepat di depan rukonya, orang tak akan curiga.  Paling juga orang berpikir, mati karena sakit. Lagi pula, siapa yang akan mengurus  dan memperdulikan orang gila seperti dia, untuk diotopsi, diselidiki kematiannya. Keluarganya? Dia  takkan gila jika masih punya orang yang peduli padanya. Pemerintah? Negeri ini  masih banyak urusan. Kematiannya bahkan dianggap mengurangi sedikit masalah.  &lt;br /&gt;  Sebenarnya dia tak keberatan, lelaki kumal itu  menjadikan emperan tokonya sebagai rumah,  seandainya  tak ada ikatan masa lalu antara mereka. Dia tak  keberatan mantan suaminya itu mengetuk kembali pintu hati yang telah dibantingnya keras,  andai  lelaki kumal itu tak pernah menelantarkan cintanya. Sulit. Luka cinta memang selalu sulit untuk disembuhkan, teramat sulit untuk dimaafkan.&lt;br /&gt;Dia merapatkan telinga di pintu rukonya saat sebuah langkah terdengar dari luar. Lelaki bejat itu, pikirnya. Saat  terdengar suara seperti mengigau. Dia mulai berani menggedor pintu, pikirnya. &lt;br /&gt;“Ini yang terkahir kalinya kamu menggedor pintu rumahku! Aku punya apel merah kesukaanmu dulu. Itu untukmu. Pengantar tidurmu!” lanjut batinnya, penuh benci.&lt;br /&gt;“Ma, buka pintu!”&lt;br /&gt;Mama? Bencinya semakin  membuncah. Seperti minuman bersoda dalam kaleng, dikocok lalu dibuka tutupnya. Muncrat! Tapi dia mempertahankan bencinya  untuk tidak meluncur dulu. Dia biarkan terkocok oleh suara-suara igauan lelaki dari  balik pintu rukonya. &lt;br /&gt;Suara igauan itu, kini  reda. Berganti suara sampah kertas yang berserakan.&lt;br /&gt;“A…pel  me..rah…”  &lt;br /&gt;Wanita itu  tersenyum. Senyum pengantar  kematian buat lelaki   yang selama ini dicintainya.&lt;br /&gt;“Sedikit pahit, tapi enak!”&lt;br /&gt;Dasar gila! Umpat batinnya, masih tersenyum, sambil berlalu ke tempat tidur.  Dia  butuh istirahat  yang cukup untuk perannya sebagai orang yang tak tahu apa-apa, besok pagi, saat tubuh lelaki  itu didapatkan kaku di depan rukonya.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Pintu rukonya ramai digedor orang. Dia masih menyempatkan diri bercermin. Melatih wajahnya  untuk tak menampakkan muka  gugup, tanpa dosa saat dia berhadapan dengan orang-orang yang mungkin saja mencurugainya. Merasa  telah menghayati peran,  dia beranjak. &lt;br /&gt;Begitu pintu terkuak, orang-orang yang berkerumun, memberi jalan untuknya. Seorang lelaki  terbujur kaku, meski sangat mirip, tapi dia yakin jika  dia bukan lelaki sasaran racun tikusnya. Dia meradang, saat  lelaki yang ingin dibunuhnya semalam, kini berdiri di seberang jalan,  dengan mata sembab.&lt;br /&gt;Mayat lelaki yang di depannya kini, adalah putra tunggalnya. Semalam pulang dari pesta minuman keras. Mabuk. Mengingau. Melahap apel merah untuk papanya, saat mamanya tak membukakan pintu untuknya.&lt;br /&gt;Lelaki di seberang jalan, masih menatapnya  tajam. Seolah dia menunggu di sana. Di dunia lain. Dunia para orang gila. Dunia orang-orang yang tak bisa menerima kenyataan. Kehilangan  putra tunggalnya, akan mengantar dia ke dunia itu.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8970134704959434086-3562155004776214750?l=masgege.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masgege.blogspot.com/feeds/3562155004776214750/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8970134704959434086&amp;postID=3562155004776214750' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/3562155004776214750'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/3562155004776214750'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masgege.blogspot.com/2009/04/apel-merah.html' title='Apel Merah'/><author><name>Gegge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02227405124686698722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/S871hC3hv7I/AAAAAAAAAJw/pjsdP-TQAXw/S220/fb1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SdhVv6jX6pI/AAAAAAAAAEY/YFOuVdzgvFo/s72-c/APEL+MERAH.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8970134704959434086.post-4234662952466076703</id><published>2009-04-05T14:21:00.000+08:00</published><updated>2009-04-05T15:05:32.957+08:00</updated><title type='text'>Dewi Penolong</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SdhYC5vGPAI/AAAAAAAAAEo/cwhJteATrTo/s1600-h/DEWI+PENOLONG.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 229px; height: 299px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SdhYC5vGPAI/AAAAAAAAAEo/cwhJteATrTo/s320/DEWI+PENOLONG.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5321099766619585538" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh: S. Gegge Mappangewa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUASANA  rumah sakit cukup ramai. Lalu lalang perawat dan  tim medis lainnya yang berseragam putih bersih, seolah tak  terlihat di mata Neno. Dia ragu  pada keputusan yang sejak dari rumah tadi, telah bulat. Dia merasa telah menghianati persahabatannya dengan Hanna, jika dia melakukan apa yang kini ada di benaknya.&lt;br /&gt;Persahabatan? Mungkin lebih dari itu! Neno merasa, Hanna  banyak membantunya. Sejak memutuskan untuk tidak menerima bantuan apapun dari Mama dan Papanya, hidupnya  bergantung pada Hanna. Mulai dari biaya makan hingga uang yang digunakannya tiap hari, semua berasal dari uang saku Hanna yang juga  didapatkan dari orangtuanya yang pas-pasan pula.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ini bulan ketiga dia membuang diri. Entah sampai kapan dia harus bertahan. Bulan depan dia harus membayar SPP. Selama ini, kalau pun uang Hanna cukup untuk hidup berdua, itu karena mereka berhemat. Selain uang  untuk makan dan keperluan sekolah, tak ada biaya lain yang keluar.&lt;br /&gt;Ego Neno belum juga reda. Setiap bulan saldo rekeningnya bertambah dua  kali lipat dari sebelumnya. Tapi sedikit pun dia tak ada niat untuk mengambil uang pemberian Mama dan Papanya. Dia mengecek saldo via ATM,  bukan untuk tahu jumlahnya, tapi untuk memastikan bahwa Mama dan Papanya  telah resmi cerai.&lt;br /&gt;Saldo yang dua kali lipat itu, cukup sebagai bukti bahwa Mama dan Papanya tak bisa akur. Mama juga Papanya, mungkin kasihan pada Neno atau mungkin cuma ajang promosi agar Neno mau memilih satu di antara mereka. Mama atau Papa! Mereka berdua   saling ingin membuktikan cintanya pada Neno, dengan tetap mentransfer uang untuknya. Sayang sekali, Neno tak butuh itu. Dia ingin  buktikan pada Mama dan Papanya, jika dia akan  pergi dari rumah dan tak akan kembali, juga tak butuh apapun, bila Mama dan Papanya tak rujuk kembali.&lt;br /&gt;Neno merasa segalanya telah hancur. Semuanya telah terlanjur. Jadi buat apa pulang ke rumah? Hanya melukakan jika tahu yang bertahan di rumah itu, Mama atau Papanya. Saking tak inginnya berhubungan lagi dengan Mama dan Papanya, kartu teleponnya dia buang, ponsel pun dia jual untuk biaya hidup sehari-hari. &lt;br /&gt;Susah memang. Apalagi  saat seperti ini,  kondisi tubuhnya tak fit dan dia butuh uang  untuk berobat. Uang dari mana? Dari Hanna? Neno cukup mengerti jika itu terlalu memberatkan, meskipun rumah sakit  yaang ditujunya bukanlah rumah sakit swasta yang biayanya bisa mencekal leher. Padahal dulu, Neno punya dokter keluarga. Tinggal telepon, dokter datang mengetuk pintu. Sekarang? Dia masih ragu di antara keramaian rumah sakit.&lt;br /&gt;Semalam dia mendapatkan  kartu identitas berobat milik Hanna. Tanpa sengaja. Saat dia asyik membersihkan laci meja belajar dari kertas-kertas  yang tak berguna. Tinggal di kamar kos adalah hal yang baru  buat Neno, makanya setiap hari dia mencari kesibukan meskipun itu hanya dengan membersihkan kamar.&lt;br /&gt;“Ini kartu berobat kamu, Han?”&lt;br /&gt;Hanna merenung lama sebelum menjawab pertanyaan itu. Itu pun dengan anggukan.&lt;br /&gt;“Aku pinjam ya? Akhir-akhir ini maag-ku kambuh. Pakai kartu ini, aku bisa bebas dari biaya adminitrasi. Lagian dokter nggak mungkin  tahu kalau aku  menyalahgunakan kartu orang lain. ”&lt;br /&gt;“Ja…jangan! Kartu itu sudah kadaluarsa. Mak…maksudku nggak  terpakai lagi.”&lt;br /&gt;Neno tentu saja heran dengan kegugupan Hanna. Selama ini, barang apapun  milik Hanna,  bebas dia pakai. &lt;br /&gt;“Kalau cuma maag, nggak usah ke rumah sakit. Cukup makan teratur. Atau paling juga sembuh dengan minum obat yang beredar di apotek. Usahakan jangan terlalu banyak mikir! Tau nggak, stress bisa bikin maag kambuh?” lanjut Hanna lagi.&lt;br /&gt;Neno tak berucap apa-apa lagi. Dia  bahkan tak curiga sedikit pun dengan kegugupan Hanna.&lt;br /&gt;Tapi tadi, saat  Hanna  keluar dan maag-nya kambuh lagi. Dia nekat membawa lari kartu berobat itu. Satu hal yang tak bisa dilakukan Neno selama  memisahkan diri dari orangtuanya, adalah minum obat yang bukan resep dokter. Pikirnya, Hanna tak akan marah hanya karena persoalan dia melanggar larangannya untuk tidak memakai kartu berobat itu. &lt;br /&gt;Kini, setelah tiba di rumah sakit, di antara perih lambungnya, dia tiba-tiba berpikir jika apa yang dilakukannya kini adalah bukti pengkhianatan. Dan dia tak ingin itu. Dia tak mungkin mengkhianati Hanna yang telah memberinya tumpangan  hidup. Padahal kalau dilihat dari segi ekonomi, Hanna bukanlah orang yang pantas untuk menerima dan mau menghidupinya untuk jangka waktu yang tak tentu. Hanya kebaikan hati-lah yang membuat Hanna punya kesempatan   berbuat baik, untuk menolong!&lt;br /&gt;Hanna juga tahu jika Neno punya uang di  bank, hasil transfer dari Mama dan Papanya. Tapi dia tak menginginkan apalagi menuntut Neno untuk  membuang egonya, lalu  menerima bantuan Mama dan Papanya. Bahkan bukan hanya sekali, Hanna menceramahi Neno agar tak menyimpan dendam pada Mama  dan Papanya.&lt;br /&gt;“Aku bukan bosan ataupun nggak mau menampung kamu lagi. Aku hanya ingin kamu baikan dengan Mama dan Papa kamu. Gimanapun, mereka orangtua kamu. Mereka pasti punya alasan sehingga memilih cerai.” &lt;br /&gt;Kalimat itu sering diperdengarkan Hanna. Hingga saat ini, masihlah sebatas mengalun di indera dengar Neno, dia belum bisa menanamkannya di hati.&lt;br /&gt;Neno menghempas napasnya keras. Dia membalikkan tubuh dari keramaian rumah sakit. Dia ingin pulang. Membiarkan  perih melilit lambungnya. Dia tak ingin mengkhianati Hanna. Dia harus meminta ijin kembali pada Hanna untuk menggunakan kartu itu. Memang kelihatannya sepele, tapi sekecil apapun persoalan, jika hati merasa dikhianati, biasanya susah diobati. &lt;br /&gt;“Mungkin ada yang bisa kami  bantu?” tegur seorang perawat yang dari tadi memperhatikan dia melamun.&lt;br /&gt;Neno ingin menggeleng, tapi perawat itu terlanjur melihat kartu berobat di tangannya.&lt;br /&gt;“Mau berobat? Sini saya bantu.”&lt;br /&gt;Neno seakan tak punya daya selain dari kekuatan  perawat yang  menarik lengannya ke meja resepionis. Dia mengikut saja.&lt;br /&gt;“Sering sakit perut, mual…” ucap Neno saat ditanya.&lt;br /&gt;“Silakan antri di bagian gastroentritis. Dari sini lurus, tepat di ujung  koridor, belok kiri!” jelas perawat yang bertugas di meja resepsionis sambil menyerahkan nomor antrian.&lt;br /&gt;“Terima kasih!” ucapnya pada resepsionis, juga pada perawat yng mengantarnyaa barusan.&lt;br /&gt;Sebenarnya Neno ingin mengambil jalan lain untuk pulang ke rumah, tapi tepat di ruangan  gastroentritis, nomor antriannya langsung disebut dan dipersilakan masuk. Neno menurut saja.&lt;br /&gt;Selesai membayar uang pemeriksaan yang  tak sampai sepuluh ribu, dia masuk menemui dokter yang bertugas. Senyum ramah dokter itu sedikit  mnghapus kerinduan pada Mama dan Papanya yang biasa mengeluarkan uang ratusan ribu  untuk penyakit maag-nya. Kini…? Tak sampai sepuluh ribu! Itu pun berat buatnya dan harus menyalahgunakan kartu Hanna demi menghindar dari biaya adminitrasi  pembuatan kartu.&lt;br /&gt;“Hanna?”&lt;br /&gt;“Iya, Dok!” Neno mengangguk tegas meski dokter mengerutkan kening seolah tahu bahwa dia bukan pemilik kartu yang sebenarnya.&lt;br /&gt;“Maaf, saya nggak hapal dengan semua pasienku.”&lt;br /&gt;Dari buku pemeriksaan Neno mengintip jika Hanna pernah berobat di ruangan ini. Itu berarti, Hanna juga punya keluhan pada lambung dan usus. Dia mulai menyadari kebodohannya. Mengapa dia  tak pernah berpikir jika bisa saja dokter mengenali Hanna jika sering berobat di rumah sakit ini, apalagi di bagian gastroentritis ini.&lt;br /&gt;“Maag-ku semakin parah, Dok.” keluh Neno cemas. &lt;br /&gt;Dokter menatapnya tajam. Nyali  Neno  berkerut. Pikirnya lagi, masih menyesali kebodohan,  bukan tak mungkin Hanna yang cantik, meninggalkan kesan  di hati dokter muda yang kini menatapnya. Jadi mustahil untuk membohonginya jika dia adalah Hanna.&lt;br /&gt;“Jadi kamu masih yakin jika penyakit kamu itu maag? Tiga bulan yang lalu saya  sudah bilang, gejala yang kamu rasakan kemungkinan besar bukan maag tapi gagal ginjal.”&lt;br /&gt;Neno tentu saja kaget mendengar semua itu. Hanna ternyata masih menyimpan rahasia untuknya. Apa untungnya? Harusnya Hanna berterus terang agar dia bisa membantunya mencari solusi.&lt;br /&gt;“Tiga bulan lalu, saya konsul kamu ke ahli bedah, karena saya yakin ginjal kamu sudah rusak parah. Tidak semua sakit perut adalah gejala maag. Saya   tahu kamu tak punya uang banyak, aku bahkan meminta teman di bagian bedah untuk nggak membebani kamu uang check up.  Tapi kamu nggak pernah check up ke sana.&lt;br /&gt;Lagi pula, jika kamu positif gagal ginjal, pihak rumah sakit  memberi keringanan bahkan gratis berobat bagi keluarga yang tidak mampu seperti kamu, asal punya surat pengantar dari RT setempat. Kamu masih mau hidup, kan? Jika benar ginjal kamu yang rusak, dan sejak tiga bulan lalu kamu biarkan begitu saja, kamu nggak punya banyak kesempatan lagi…”&lt;br /&gt;Air mata Neno mengalir.  Tak pernah dia sangka, jika sahabat yang  telah menyelamatkannya selama ini, ternyata lebih butuh  uluran tangan. Terjawab sudah mengapa Hanna tak ingin meminjamkan kartu identitas berobatnya. Hanna  menyimpan rahasia hidup yang tak ingin seorang pun tahu, hingga hidupnya berakhir sekali pun.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;“Kamu mulai nggak jujur, No.” serang Hanna saat Neno telah berdiri di ambang pintu kamar kosnya.&lt;br /&gt;Tak mendapatkan kartu berobatnya di laci meja belajar, membuat Hanna yakin jika Neno tak mengindahkan larangannya untuk tidak memakai barang miliknya itu.&lt;br /&gt; “Terlebih kamu, Han. Kamu bahkan membiarkan dirimu menderita sendiri, tanpa mau membaginya…”&lt;br /&gt;“Ja...jadi…”&lt;br /&gt;“Kalau kamu nggak ingin membagi keluhmu untukku, mengapa kamu mau mendengarku mengeluh,  menolongku, padahal kamu sendiri lebih membutuhkan?” Suara Neno meninggi.&lt;br /&gt;Hanna yang tadi kecewa dan emosi pada sikap Neno, sepertinya sibuk mencari alasan.&lt;br /&gt;“Kamu nggak tahu…”&lt;br /&gt;“Aku tahu kamu nggak punya uang, Hanna. Aku  datang mengeluh dan minta bantuan padamu, bukan karena aku menganggap kamu anak orang kaya yang bisa menyelamatkanku, tapi karena aku tahu bahwa kamu mau menolong siapa pun…”&lt;br /&gt;“Neno…”&lt;br /&gt;“Han,” Neno tak memberi kesempatan. “Jika  kamu bisa menolongku, meski kamu dalam keadaan susah, mengapa aku nggak? Mengapa kamu meragukanku?”&lt;br /&gt;Neno terdiam sesaat. Memberi kesempatan air matanya untuk turun, tapi tak mmberi kesempatan Hanna untuk bicara.&lt;br /&gt; “Selama ini aku egois, nggak bisa menerima  keputusan cerai Mama dan Papaku. Tapi sekarang nggak. Penyakit maag membuatku   insyaf, terjaga. Bahwa sebagai anak, aku nggak mungkin melepaskan diri dari  orangtuaku.”&lt;br /&gt;Neno mengeluarkan kantongan hitam berisi uang yang baru saja  ditariknya dari ATM. Hanna tercengang menyaksikan  itu. Dia tak pernah  menyangka, Neno akan membuang harga dirinya, melepas egonya untuk tidak menerima bantuan Mama dan Papanya, hanya karena dia. &lt;br /&gt;“Kamu harus sembuh, Hanna. Ini baru sebagian dari  saldo di rekeningku. Aku nggak mau kehilangan kamu. Jika masih kurang, aku nggak akan berpikir dua kali untuk  menelpon Mama dan Papaku. Aku nggak mau mempertahankan ego, lalu membiarkan seorang sahabat sepertimu pergi dariku.”&lt;br /&gt;Hanna membatu. Pelukan Neno pun seolah tak kuasa dibalasnya. Selama ini, Hanna menyembunyikan penyakitnya karena tak ingin menyusahkan orang lain, termasuk Mama dan Papanya di kampung. Dia tak pernah protes, mengapa Tuhan mengirimkan penyakit  untuknya. Dia bahkan  yakin jika itu cara Tuhan  untuk memintanya berbuat baik tanpa mengharap pamrih. &lt;br /&gt;Tapi kini, seorang dewi  yang baru saja dia bantu mengepakkan sayap patahnya, mengulurkan tangan untuk menolong. Dia terharu, ingin menolak. Tapi dewi penolong itu mengajaknya untuk terbang bersama. Disadarinya, setiap orang berkesempatan  menolong, asalkan  punya hati yang tulus. Dan  hanya hati tuluslah yang akan dibayar pamrih, jika bukan sekarang, Maha Penolong menjanjikan sebuah hari pembalasan.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8970134704959434086-4234662952466076703?l=masgege.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masgege.blogspot.com/feeds/4234662952466076703/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8970134704959434086&amp;postID=4234662952466076703' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/4234662952466076703'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/4234662952466076703'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masgege.blogspot.com/2009/04/dewi-penolong.html' title='Dewi Penolong'/><author><name>Gegge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02227405124686698722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/S871hC3hv7I/AAAAAAAAAJw/pjsdP-TQAXw/S220/fb1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SdhYC5vGPAI/AAAAAAAAAEo/cwhJteATrTo/s72-c/DEWI+PENOLONG.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8970134704959434086.post-3741603188364237658</id><published>2009-04-05T14:10:00.000+08:00</published><updated>2009-04-05T15:10:43.365+08:00</updated><title type='text'>Sebagai Sahabat</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SdhZVM2PUfI/AAAAAAAAAEw/Awzd4AAGqv4/s1600-h/SEBAGAI+SAHABAT.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 164px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SdhZVM2PUfI/AAAAAAAAAEw/Awzd4AAGqv4/s320/SEBAGAI+SAHABAT.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5321101180499087858" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;ENTAH!  Mungkin itu jawabku, jika ditanya kapan luka akibat kepergian Wilo, terlupakan di hatiku. Ya, terlupakan! Karena dulu aku mengangapnya sembuh, namun kini  luka lagi. Dengan perih yang sama,  sakit yang serupa!&lt;br /&gt;Tak salah jika waktu adalah  obat paling mujarab, terampuh untuk merawat luka. Tidak dengan siapa-siapa, tidak  dengan ke mana, luka itu terawat sendiri bahkan terlupakan bersama waktu yang semakin beranjak. Kesedihan tertinggal setapak demi setapak, bersama mengeringnya air mata setetes demi setetes. Lalu berganti senyum, bahkan tawa, hingga berubah seperti kini. Seperti   Ifah yang kini! Ifah tanpa masa lalu tentang Wilo.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun kuakui, aku terluka lagi kini. Tak akan membuatku menangis. Wilo bahkan tak boleh tahu jika kemarin aku terluka. Yang dia harus tahu, aku tertawa bahkan  melompat kegirangan saat berhasil mengusirnya dari hatiku.&lt;br /&gt;“Kamu kurusan!” ucapnya setelah membiarkanku kembali ke masa lalu bersamanya.&lt;br /&gt;“Ya, mungkin karena aku terlalu berambisi  kuliah di Perguruan Tinggi Negeri, dengan  Fakultas Kedokteran, pula. Apalagi saat ambisi itu terkabul, aku  masih punya banyak mimpi. Aktif di organisasi, misalnya. Entah kenapa, aku merasa semakin sempurna dengan keadaanku saat berorasi di depan teman mahasiswa,” Panjang lebar aku bicara, demi menutupi keadaan yang sebenarnya terjadi sejak kepergiannya.&lt;br /&gt;“Jadi bukan karena menyesal telah  mencampakkanku?”&lt;br /&gt;Aku tergelak. Bahkan menggeleng lantang meski hatiku merasa terpojok, seperti kedapatan nyolong dengan barang bukti di tangan.&lt;br /&gt;“Wilo! Kalau aku menyesal karena telah mencampakkanmu, aku bisa aja kembali. Kapan aja, termasuk sekarang. Karena kutahu kamu akan terus mengharapku. Jadi buat apa aku rela berkurus-kurus hanya untuk  menyesalinya.”&lt;br /&gt;Aku tak berani menatapnya saat kalimat  barusan kuucap. Kalimat yang telah menganggapnya sebagai cowok yang tak punya harga apa-apa, tak   berarti sedikit pun. Padahal, begitu banyak cewek yang  hanya mampu menelan ludah saat berangan memiliki Wilo yang cakep. Cewek harus punya  plus tersendiri untuk bisa mendekati Wilo. Terutama karena Wilo sedikit  dingin, bahkan berkesan berwibawa di permukaan. &lt;br /&gt;“Terima kasih jika kamu mengerti bahwa aku masih mencintaimu hingga kini.”&lt;br /&gt;Terhempas hatiku oleh badai  tiba-tiba. Kucoba menenangkan gemuruh itu. Jika tidak, aku takut malah terbujuk untuk kembali padanya. Tidak! Tolong aku, Tuhan! Ya, hati  yang tadi terhempas, kini tiba-tiba  bersimpuh  memohon. Aku menggeleng lagi, lantang! Saat kubayangkan  wajah  Erin terperangah mendengar kabar bahwa aku dan Wilo jadian.&lt;br /&gt;“Wilo…Wilo! Harusnya  waktu yang memisahkan kita selama ini, membuatmu   lupa padaku. Apa susahnya, sih? Anggap aja aku enggak pantas untukmu. Terlalu tinggi untuk kau gapai, atau apa aja yang bisa membuatmu menyerah!”&lt;br /&gt;Aku  mengambil langkah pergi. Tanpa pamit! Berlama-lama dengannya, malah membuat luka lama itu lebih perih dari sebelumnya. Siapa sih yang bisa jauh dari Wilo, apalagi sampai mendapatkan penggantinya. Tidak ada! Bukan buta karena cinta, tapi memang semua yang kucari ada pada diri Wilo. Sayang, bukan hanya aku yang mendambanya. Ada Erin sahabatku!&lt;br /&gt;Kudengar langkahnya memburu dari belakang. Bersama kalimat-kalimatnya yang  membuatku  ingin berbalik memeluknya. Tapi Erin? Aku tetap melangkah, meski saat tiba di tempat parkir, saat masuk dalam rongga Avanza-ku, aku belum bisa  memutar kunci  kontak lalu kabur.  Aku bersandar di jok, di luar dia berdiri tanpa berani masuk mobil sebelum kubukakan pintu.&lt;br /&gt;Curi  lirik, kulihat dia bersandar di pintu mobil. Mungkin dia yakin aku akan keluar dan menemuinya untuk bicara. Aku  masih mematung. Hanya tatapanku yang kuterbangkan cepat saat dia menangkapku tengah menatapnya. Tatap yang…? Aku tak tahu, perasaan  apa yang ada di balik dadaku kini. Wilo semakin cakep, lebih berwibawa! Lalu ke mana  Erin?&lt;br /&gt;“Erin sering mencarimu,”&lt;br /&gt;Suaranya kudengar dari luar, masih bersandar di pintu mobil. Suara itu membuatku menangis. Aku telah melukai dua orang sekaligus. Wilo dan Erin!  Padahal semua kulakukan demi kebahagiaan keduanya. Aku tak sanggup menyaksikan tatapan Erin  hampa meski  bibirnya menuturkan kalimat yang penuh luapan kegembiraan.&lt;br /&gt;“Kamu jadian dengan Wilo? Apa aku bilang, dia akan lebih memilihmu. Selamat deh!”&lt;br /&gt;Jika aku bukan sahabatnya, jika aku tak mengenalnya sejak di bangku SD, aku tak akan  mampu membaca kesedihannya saat menuturkan kalimatnya. Padahal dia tersenyum, bahkan tertawa saat itu. Berahun-tahun aku berbagi  tawa dengannya, baru kali itu kulihat tawanya hanya di bibir. Tak ada di matanya!&lt;br /&gt;Aku tak  berani mengakui jika aku lebih cantik dari Erin. Tapi   bisa kupastikan jika Wilo  menjatuhkan pilihannya padaku hanya karena  Erin yang  punya masa lalu hitam dalam keluarganya. Saat  itu, hampir semua siswa  mencemohkannya, kecuali aku dan Wilo.  Erin bahkan pernah memutuskan  berhenti sekolah, hanya karena tak tahan mendengar gunjingan di sekolah. Tentang papanya yang terlibat affair dengan seorang selebritis.&lt;br /&gt;Perihnya lagi, sosok papanya yang sering turun tangan  dalam baksos sekolah, termuat di mading karena jasanya. Berganti dengan kliping  tentang affair itu. Entah siapa yang mengedarkan kliping itu, guru atau siswa. Karena setahuku, banyak  guru yang mengincar posisi papa Erin sebagai kepala sekolah. Juga banyak  siswa yang iri dengan  kepintaran Erin.&lt;br /&gt;Aku ingin berbagi. Tapi tak tahu harus bagaimana, menjadi pelabuhan tangisnya, tentu saja tak cukup. Kurasakan berat mata ini memandang dukanya, tentulah lebih berat buat dia yang memikulnya. Aku ingin bebuat sesuatu untuk meringankan bebannya, tapi sekali lagi, aku tak tahu harus bagaimana.&lt;br /&gt;Saat  kudapatkan luka kehilangan di matanya saat aku jadian dengan Wilo barulah kusadar bahwa Wilo  bisa membuatnya bahagia. &lt;br /&gt;Aku ingin  merasakan bagaimana perihnya saat Erin sahabatku, terkucil dari pergaulan, memendam luka karena kehilangan sosok papanya yang  selalu dibangga-bangakannya. Satu-satunya cara untuk merasakan luka itu, hanya dengan membangga-banggakan Wilo lalu mencampakkannya.&lt;br /&gt;Perih sekali!  Saat aku harus memulai eksekusi itu. Menghina Wilo habis-habisan di depan  umum, bahkan menamparnya! Bukan hanya Wilo yang  tak percaya dengan perubahanku, tapi  semua orang. Ifah yang manis berubah sinis, antagonis bahkan memandang  rendah semua orang. Satu tujuanku, aku ingin dikucilkan! Merasakan  derita Erin dulu. Dan seperti yang kuduga, Wilo melarikan cintanya ke Erin. Tujuanku pun tercapai!&lt;br /&gt;Meski luka itu perih menyerang, aku tak menyesal dengan tindakan bodohku. Bukankah itu yang kuinginkan, merasakan  luka yang pernah  mendera sahabatku. Paling tidak, di antara kelukaan itu, aku telah merasakan diriku menjadi sahabat  yang sempurna, sejati! Meski di mata semua orang, aku telah berubah sombong!&lt;br /&gt;Jika ada  yang tahu, betapa  perihnya luka yang kurasa mungkin akan mengangkat jempol untukku! Tapi aku tak ingin itu, aku tak ingin Wilo atau siapa pun tahu. Kutakut Wilo semakin memburuku, meninggalkan Erin kembali!&lt;br /&gt;“Erin ingin berbuat sesuatu untukmu. Demi mengembalikan kamu menjadi Ifah yang manis, lembut. Tidak seperti sekarang, angkuh! Tapi Erin, juga aku tak tahu harus berbuat apa. Bahkan tak mengerti, apa yang membuatmu berubah sedrastis itu.”&lt;br /&gt;Entah pada menit kapan Wilo masuk ke rongga mobilku. Aku tak menyadarinya! Juga seperti tanpa sadar saat tanganku meraih handle pintu di sampingnya dan berucap kasar.&lt;br /&gt;“Silakan keluar dari mobilku. Aku mau pergi!”&lt;br /&gt;“Ifah! Katakan, apa yang membuatmu  seperti ini…”&lt;br /&gt;“Seperti apa? Inilah aku yang sebenarnya. Ifah yang tahun ini lulus masuk Kedokteran, tanpa gugup bicara di  mimbar mahasiswa, bahkan bisa ganti mobil tiap hari. Dan mungkin bulan depan akan masuk dalam jajaran idola remaja, karena baru kemarin aku terjaring  audisi untuk jadi bintang. &lt;br /&gt;Jadi enggak cukupkah semua itu untuk kubanggakan, kusombongkan? Dan enggak cukupkah membuatmu mengerti bahwa kamu bukan levelku. Kamu pantasnya dengan Erin, puteri kepala sekolah yang terkucil karena dosa papanya?”&lt;br /&gt;Berat sekali kulihat Wilo  mengambil langkah turun dari mobilku. Aku ingin mengakhiri sandiwara ini. Aku tersiksa. Aku menangis! Tapi sebagai sahabat aku tak ingin melukai Erin lagi. Karena kutahu pasti, jika Wilo tahu aku terluka karena mencampakkannya, dia akan membuatku kembali bertekuk lutut di depannya. Aku tak mau itu!&lt;br /&gt;Demi kamu,  Erin! Bisik hatiku sambil memutar kunci kontak,  lalu mengakselarasi mobilku. Melaju cepat, meninggalkan debu jalanan yang terbang mengotori wajah putih Wilo!&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8970134704959434086-3741603188364237658?l=masgege.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masgege.blogspot.com/feeds/3741603188364237658/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8970134704959434086&amp;postID=3741603188364237658' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/3741603188364237658'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/3741603188364237658'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masgege.blogspot.com/2009/04/sebagai-sahabat.html' title='Sebagai Sahabat'/><author><name>Gegge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02227405124686698722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/S871hC3hv7I/AAAAAAAAAJw/pjsdP-TQAXw/S220/fb1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/SdhZVM2PUfI/AAAAAAAAAEw/Awzd4AAGqv4/s72-c/SEBAGAI+SAHABAT.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8970134704959434086.post-8939102827711660950</id><published>2008-01-22T23:08:00.000+08:00</published><updated>2008-01-22T23:13:59.539+08:00</updated><title type='text'>CUPIDER-MAN 3G  SEGERA BERAKSI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_2rQwjRlvnNw/R5YH9SbMbQI/AAAAAAAAABw/jGQf4bT64lA/s1600-h/cupiderman.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_2rQwjRlvnNw/R5YH9SbMbQI/AAAAAAAAABw/jGQf4bT64lA/s320/cupiderman.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5158319172698795266" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;William Shakespeare berkata, “Apalah arti sebuah nama.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Yusuf berkata, “Jangan panggil gue Ucup. Panggil gue Yusuf. Titik!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Hehe. Ucup, eh, Yusuf emang nggak setuju ama perkataannya William Shakespeare.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia sebel banget kalo namanya diganti Ucup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gara-gara namanya berubah jadi Ucup, dia sering banget ketiban sial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan cuma ketiban sial, tapi tampangnya lama-lama jadi mirip Ucup Bajaj Bajuri!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena nggak mau terus-terusan dianggap sebagai Ucup Bajaj Bajuri, dia akhirnya langsung pergi ke toilet umum yang sepi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lho? Kok, ke toilet? Mau ngapain? Mau nangis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah. Dia ke toilet mau siaran radio.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lho, siaran radio kok di toilet?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hehehe. Maksudnya, dia ke toilet itu mau berubah jadi Cupiderman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cupiderman? Cupiderman yang jadi penyiar radio itu? Cupiderman yang kocak abis itu? Cupiderman yang kalo siaran sering banget bikin orang ketawa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iya. Bener banget. Kok bisa tahu, ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya iyalah, secara gitu lho, hare gene nggak kenal Cupiderman?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berarti buku ini pasti kamu beli, dong?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya iyalah, secara gitu lho!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ih, kok ngomongnya gitu terus? Secara gitu lho, secara gitu lho?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya iyalah, secara…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stop! Mendingan beli aja bukunya sekarang. Okay?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat membaca. Selamat tertawa.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8970134704959434086-8939102827711660950?l=masgege.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masgege.blogspot.com/feeds/8939102827711660950/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8970134704959434086&amp;postID=8939102827711660950' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/8939102827711660950'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8970134704959434086/posts/default/8939102827711660950'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masgege.blogspot.com/2008/01/cupider-man-3g-segera-beraksi.html' title='CUPIDER-MAN 3G  SEGERA BERAKSI'/><author><name>Gegge</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02227405124686698722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2rQwjRlvnNw/S871hC3hv7I/AAAAAAAAAJw/pjsdP-TQAXw/S220/fb1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_2rQwjRlvnNw/R5YH9SbMbQI/AAAAAAAAABw/jGQf4bT64lA/s72-c/cupiderman.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry></feed>
