4.6.09

Anjing Kudisan

ANJING KUDISAN
Oleh : S. Gegge Mappangewa*
PULANG. Kudapatkan lagi rumah panggung yang pernah kutempati menapak masa kecil. Seperti biasa. Setiap pulang, rindu tak akan beranjak dari hatiku sebelum kucium tangan ayah dan ibu. Tapi setiap sudut kosong. Hanya kursi sudut yang tak terawat diselimuti debu halus. Tiga kamar berdinding tripleks, semua tak ada yang terkunci sekaligus tak berpenghuni. Aku hanya mencari ayah atau ibu. Bukan kursi sudut. Bukan kamar kosong. Dan memang tak ada penghuni lain di rumah ini kecuali mereka. Kelima anaknya, termasuk aku, semua sudah punya kerja dan tinggal di kota yang berbeda.

Aku mencari keluar. Kudapatkan jejak di lego-lego)1. Gelas kopi ayah masih meninggalkan ampas. Tak jauh darinya, gelas teh ibu masih menyisakan separuh isi. Masih seperti dulu. Setiap habis subuh, mereka mengisi pagi dengan upacara minum teh. Aku yakin, kini topik paginya adalah cerita rindu pada kelima anaknya. Tubuh serenta itu sebenarnya tak boleh disiksa rindu. Tapi keempat anaknya yang telah berkeluarga dan tinggal di luar Sulawesi, hanya bisa bertemu lewat sinyal ponsel. Dan aku yang terdekat di Makassar dan belum terikat garis keluarga, selalu diutus untuk pulang setiap bulannya untuk menuai rindu mereka.
Ada banyak hal yang tak bisa kulupa tentang ayah. Lelaki terhebat. Lelaki terbijak. Kalimat-kalimatnya sederhana tapi sangat filosopis. Dia tak hanya mengajariku berpijak, tapi juga mengajakku menatap masa depan yang lurus. Kalimat-kalimat ayah tak terbantahkan zaman. Saat kecilku dia pernah mengajariku untuk tidak terlalu percaya pada siapa pun dalam masalah uang. Menurutnya, selama perutnya masih menghadap ke depan, maka makhluk itu akan tergoda oleh uang. Dan apa yang terjadi kini, begitu banyak politikus yang membawa lari uang negara. Semua orang seolah mendewakan uang, kecuali jika itu adalah binatang. Dan memang perut binatang tak ada yang di depan, semua menghadap ke bawah.
Ayah juga yang mengajariku tentang persahabatan. Bahwa sahabatlah yang paling tahu kekurangan dan kelebihan kita. Dan jangan pernah percaya padanya, karena sahabatlah yang paling berpeluang melukai saat lengah sedikit saja.
Meski begitu, ayah tak mendidikku untuk selalu curiga pada siapa pun. Tidak! Ayah hanya ingin aku tak terlena pada dua hal, yakni uang dan sahabat! Dua-duanya punya kans untuk menghadiahkan luka mematikan.
“Dari tadi datang, Nak?"
Lelaki terhebat itu kini berada di puncak tangga, menatap keberadaanku yang terpaku melihat gelas kopinya. Tatapan matanya telah mampu kubalas, tapi kalimat tanyanya masih kubiarkan menggantung. Aku pernah iri pada ayah Andrea Hirata yang banyak sekali masuk dalam cerita Tetralogi Laskar Pelangi. Tapi mendapatkan senyum ayah kali ini, membuatku berani bertaruh bahwa ayahku lebih hebat dibanding ayah Andrea Hirata. Ayahku jauh lebih hebat, Boy! Batinku sambil membayangkan Andrea Hirata tersenyum penuh kekalahan.
Lelaki yang kini berdiri di depanku, tak punya ijazah. Tapi dia bisa mewujudkan mimpinya untuk berpose di samping anak-anaknya yang menggunakan toga wisuda. Aku terkadang cemas. Jika ayah yang tak pernah sekolah bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga sarjana, berarti aku harus lebih dari itu untuk anak-anakku kelak.
“Padi kita diserang tikus!” ucapnya sambil menguapkan keringat dengan kibasan topi kerucutnya.
Entah kenapa, kepulanganku kali ini membawa rindu yang lain dari biasanya. Hingga untuk berucap pun susah. Aku sibuk mengatur suasana hati yang semakin terkagum-kagum pada pesona ayah.
“Ibu di mana?” Akhirnya suaraku keluar juga menembus udara.
“Kamu ingat anjing kudisan yang selalu dilempari anak-anak?”
Anjing kudisan? Untuk lima kali interval pulang kampung, ayah sering bercerita tentang anjing kudisan yang sering jadi bahan mainan anak-anak. Dilempari batu, bahkan digiring ke sungai kemudian dijatuhkan ke air. Tapi apa hubungannya ibu dengan anjing kudisan itu?
Setahuku, anjing kudisan itu tiba-tiba saja muncul di tengah kampung. Tak ada yang tahu siapa pemiliknya. Tubuh kurusnya yang penuh luka kudisan, ditempati kutu bersarang, bahkan matanya pun tak pernah berhenti mengeluarkan kotoran. Tak ada yang sudi anjing itu lewat di depan rumahnya apalagi untuk memberinya sisa makanan basi. Semua tak ada yang peduli. Baginya hanyalah lemparan yang pantas! Anjing itu bahkan tak pernah lagi menggonggong. Hanya terkadang menyeringai menahan sakit lalu memaksa diri untuk berlari saat dihadiahi lemparan.
“Anjing kudisan itu meninggal ya?”
Ayah menggeleng. “Malah sebaliknya!”
Keriput ketuaan ayah berpindah sejenak di keningku. Dan ayah memuluskannya kembali dengan melanjutkan ceritanya.
“Anjing kudisan itu menghilang!”
Aku ingin tertawa keras. Tapi urung. Bukan takut ayah tersinggung. Tapi aku belum tahu, apa hubungannya ibu dengan hilangnya anjing kudisan itu. Dan ketika cerita tentang anjing kudisan itu berlanjut, lagi-lagi aku mengagumi ayah dan mengangkatnya sebagai lelaki terhebat.
Anjing kudisan itu menghilang setelah menggigit tiga anak kecil yang melemparinya dengan batu. Dan ketiganya meninggal dalam tiga hari berturut-turut. Anehnya, saat warga mencarinya, anjing kudisan itu tak tertemukan!
Dalam benakku, aku yakin, ibu sedang ke rumah warga yang anaknya meninggal karena digigit anjing kudisan itu. Tapi setelah kubuatkan secangkir kopi, ternyata cerita anjing kudisan itu menyimpan ledakan di ending-nya. Dan ending itu dia bisikkan padaku saat yakin tak ada orang yang melintas depan rumah. Tak ada orang lain yang mendengarnya.
“Anjing kudisan itu sembunyi di semak-semak, tak jauh dari rumah. Ibumu sedang mengantarkan makanan untuknya.”
Mataku membola. Bagaimana mungkin ayah dan ibu yang dari kecil tak mengijinkanku menyentuh anjing karena najis, kini memelihara anjing kudisan yang juga dicari-cari warga kampung? Harusnya anjing itu dibunuh!
“Saat pertama mendapatkannya di semak-semak, aku sudah ingin membunuhnya dengan memukulkan sebatang kayu. Tapi kamu tahu apa yang terjadi…?”
Ayah menggantung kalimatnya. Dia sadar kalau suaranya terlalu keras. Takut ada orang lain yang mendengarnya.
“Saat kuayunkan kayu ke arahnya, anjing itu mengangkat kaki depannya, seperti orang yang memelas. Ayah tak sampai hati!” lanjutnya setengah berbisik.
“Binatang tak berdaya pun, jika disakiti terus akan melawan!” ucapku.
“Bukan itu yang ayah ingin kamu jadikan pelajaran. Tapi, binatang pun jika sudah memelas dan mengangkat tangan, beri dia kesempatan!”
Aku menghempaskan napas yang tiba-tiba menyesakkan dadaku. Ayah terlalu hebat dariku. Dari siapa pun!***
)1Lego-lego(Bugis) : Serambi depan rumah panggung.


0 komentar: